Search for:
Tarim, Kota Kecil Penuh Ilmu dan Amal

Bila disebut nama Tarim, sang pencinta yang asyik tidur akan terbangun.

Bila disebut kalam ulama Tarim, hati yang mati kering kerontang akan tersirami dan kembali hidup segar.

Bila diperdengarkan cerita tentang Tarim, sang pencinta akan berdatangan, duduk khusyuk mendengarkan dengan penuh kekaguman.

Bila disebut hikmah bumi Tarim, orang akan berlarian serasa ingin sekali menginjakkan kaki di sana, di bumi penuh keberkahan tersebut.

Tarim, kota kecil yang besarnya tidak lebih luas dari sebuah kecamatan di Indonesia ini, namanya sangat tersohor di antero alam. Siapa yang tidak kenal Tarim, kota yang masyhur dengan sebutan kota seribu wali ini menjadi kota favorit para penuntut ilmu dari belahan dunia untuk menuntut ilmu di sana.

Tarim Al Ghanna terkenal dengan banyaknya para  wali disana sampai – sampai kota mungil ini digelari dengan sebutan kota seribu wali, mengingat saking banyaknya wali – wali Allah yang ada di sana. Selain itu, kota Tarim juga terkenal dengan kilau cahaya ilmunya, tidak heran,bisa dibilang kota Tarim ini merupakan pabriknya mufti Syafi’iyah (Mufti Madzhab Syafii). Di Tarim sendiri terdapat banyak peninggalan manuskrip – manuskrip kitab karya ulama terdahulu, itu menjadi bukti bahwa sejak dulu kota Tarim memang kaya akan budaya keilmuan.

Sebagai kota kebudayaan Islam dan juga kota ilmu, Tarim memiliki banyak lembaga keilmuan yang siap untuk menjaga dan mengembangkan warisan keilmuan dari para leluhurnya, serta siap untuk mencetak generasi ulama dan mufti (ahli fiqih)  yang akan menyebar keseluruh penjuru alam. Dari banyaknya lembaga pendidikan yang ada di Tarim, di antaranya; Rubat Tarim, Darul Musthofa, Kuliyyah Syariah (Universitas Al Ahgaff), Ma’had Al Idrus, kubbah Muroyyam, Darul Ghuroba, Kuliyyah Al Washothiyah (Universitas Al Washotiyyah), Rubat Al Imam Al Muhajir, Daaruzzahra’ (untuk perempuan), Daarul Faqih Al Muqoddam (untuk perempuan), dll. Bisa dibayangkan betapa menakjubkannya kota kecil yang besarnya tidak lebih dari kecamatan yang ada di Indonesia ini dipadati dengan lembaga – lembaga pendidikan yang berkualitas dan bertaraf internasional.

Di samping itu, kota mungil yang mulia ini juga memiliki adat acara rutinan yang tak kalah padatnya. Mulai dari acara rutinan harian, mingguan, bulanan sampai tahunan.

Sedikit gambaran tentang padatnya kegiatan penduduk tarim setiap harinya, setiap Senin pagi sesudah isyraq mereka biasanya menghadiri pembacaan kitab Ihya ulumiddin oleh para habaib (plural: Habib) dan masyaikh (plural: Syeikh) bertempat di kubah Habib Abdullah Al Aydrus di pemakaman Zanbal, satu jam sebelum Ashar juga ada kegiatan Rouhah yang dipimpin oleh Al Habib  Ahmad bin Abdullah bin Syihab yang bertempat di Zawiyah Syeikh Ali bin Abi Bakar Assakran, sesudah Magribnya juga ada pembacaan maulid  Ad Diba’i, bertempat di masjid As Surur, di waktu yang sama di masjid Jami’ Tarim juga ada pembacaan kumpulan kalam Al Habib Abdullah bin Husein bin Thohir yang dibacakan oleh Grand Mufti Tarim; Al Habib Ali Masyhur, sesudah Isya’nya juga ada pengajian kitab Assunanul Kubro oleh Assyeikh Muhammad bin Ali Ba’udhon di masjid Bin Sahl, di waktu yang sama juga ada pengajian Tafsir Al Quran oleh Al Habib Umar bin Hafidz yang bertempatkan di halaman Darul Musthafa, itu baru hari senin loo.. !

Lanjut ke hari Selasa, sesudah sholat Shubuh, di Tarim, kita bisa langsung memanjakan rohani kita dengan mengikuti pembacaan Hadhrah Basaudan oleh para Habaib dan Masyaikh di Ribat Tarim, sesudah Isyraq juga ada pengajian di Zawiyah Syeikh Salim Bafadhol yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad bin Ali Al Khotib, sesudah Asharnya ada pembacaan Hadhrah Basaudan di rumah Habib Abdurrahman Al Masyhur yang dipimpin oleh Habib Ali Masyhur, di waktu yang sama, di kubah Al Habib Abu Bakr Basymeleih di pemakaman Zanbal juga diadakan pembacaan Hadhrah Basaudan yang dipimpin oleh para Habaib dan Masyaikh Tarim.

Lanjut ke hari Rabu, sesudah Isyraq, kita bisa langsung ikut pelajaran Madras di Ribat Tarim yang di pimpin oleh Al Habib Jailani Assyathiri dan Al Habib Abu Bakar Muhammad Balfaqih, sesudah Dzhuhur jam 2 siang waktu setempat sampai waktu Ashar, ada pembacaan kitab Safinatunnaja dan juga pembacaan Hadis oleh Habib Abu Bakar bin Sumaith di kediaman Beliau, untuk sesudah Asharnya, ada pengajian kitab Yaqutunnafis oleh Habib Ali Masyhur yang bertempatkan di rumah Habib Abdurrahman Al Masyhur, sesudah Isya’ juga ada pembacaan Hadhrah Al Imam Assegaff di Masjid Assegaff, selain itu di tempat lain, tepatnya di Darul Musthafa juga ada Jalsatul Arbi’aa oleh Habib Umar bin Hafidz.

Di hari Kamis, sesudah sholat Shubuh ada Khataman Al Quran di Masjid Ali Ba’alawi, Masjid Al Muhdhor, Darul Musthafa dan di berbagai masjid lainnya yang ada di Tarim, sesudah Isyraqnya ada pembacaan Shahih Bukhori di masjid Ba’alawi, satu jam sebelum Ashar juga ada pengajian oleh Al Habib Ahmad bin Abdullah Bin Syihab di Zawiyahnya Syeikh Ali bin Abi Bakr Assakran, dan setengah jam setelah Ashar juga ada pembacaan kitab Risalah Adab Sulukil Murid dan kitab Attanbih oleh Habib Abu Bakar Muhammad Balfaqih di Zawiyah Masjid Ba’alawi, sesudah Maghrib juga ada pembacaan kitab Arrisalah Al Jami’ah oleh Ustadz Ahmad bin Muhammad Ba’udhon di masjid Sahl, di Darul Musthafa juga ada pembacaan Maulid Addhiya’ullami yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafiz, sedangkan di masjid Jami’ Tarim, juga ada pembacaan maulid Addiba’i yang dipimpin oleh Habib Ali Masyhur, sesudah Isya’nya juga ada pengajian kitab Riyadhusshalihin oleh Syeikh Muhammad bin Ali Ba’udhon di masjid Sahl, untuk sesudah maulid juga ada pembacaan Hadhrah Imam Al Haddad oleh Munshib Al Habib Hasan bin Umar Al Haddad.

Lanjut ke hari Jumat, Sesudah Isyraq hari Jumat orang Tarim biasanya hadir ziarah berjamaah ke pemakaman Zanbal, Furaith, dan Akdar dengan dipimpin oleh para Habaib dan Masyaikh Tarim, sesudah selesai Sholat Jumat, di Bait Al Hadhrah ada pembacaan Hadhrah Imam Al Haddad yang dipimpin oleh Habib Hasan bin Umar Al Haddad, sesudah Ashar di rumah Al Habib Alwi bin Syihab dan juga di Ribat Tarim di adakan Rouhah, untuk Rouhah di Ribat Tarim berlanjut hingga sesudah maghrib. Sesudah Magrib hari Jumat, ada pengajian kitab Muqoddimah Hadhramiyah, Al Arbain Annawawiyyah, dan Ahammul Wajibat wal Mandubat di mesjid  Tashiluttho’ah yang dipimpin oleh Syeikh Thoha, sesudah Isya’nya, Syeikh Toha juga memberikan pengajian kitab Umdatussalik di masjid Babthiynah Ribat Tarim.

Untuk hari Sabtu, sesudah Isyraq ada Madras yang dipimpin oleh Habib Jailani Assyathiri atau Habib Abi Bakar Muhmammad Balfaqih yang bertempat di Ribat Tarim.

Pada hari Ahad, Pagi setelah Isyraq ada pengajian di Zawiyah Syeikh Salim Bafadhol yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad Ali Al Khatib, sesudah Dzuhur sekitar jam 2 siang waktu setempat ada pembacaan hadis dan pengajian kitab Safinatunnaja yang dipimpin oleh Habib Abu Bakar bin Sumaith yang bertempat di rumah beliau, sesudah Isya’nya ada Hadhrah Segaff yang bertempat di masjid Assegaff.

Nah , apa yang telah saya sebutkan di atas hanya sebagian dari majelis serta pengajian yang ada di Tarim, masih banyak majelis – majelis serta pengajian lainnya yang belum saya sebutkan. Bisa kalian bayangkan betapa super menakjubkannya, kota semungil Tarim dengan kegiatan yang super padat itu.

Gelar Tarim sebagai kota kebudayaan Islam, saya rasa sangatlah pantas, kota yang kaya akan keilmuan, budaya, dan masjid, kota yang penuh dengan tata krama dan adab. Maka tidaklah berlebihan kalau Al Imam Ahmad bin Abil Hubb pernah berujar : “Andai saja mereka melihat hakikat kota Tarim, maka mereka akan mengatakan, syurga dunia adalah Tarim”. Selain itu Al imam Al Qutb Abdullah Al Haddad juga pernah mengatakan : ‘’Andai saja engkau mengeluarkan seluruh hartamu untuk mengunjungi kota Tarim, maka apa yang engkau dapatkan akan lebih banyak daripada apa yang engkau keluarkan”.

Jadi, untuk menceritakan tentang kesempurnaan kota Tarim maka tidak akan ada habisnya, walaupun lautan menjadi tintanya dan bumi menjadi kertasnya, maka tidaklah cukup untuk melukiskan tentang kesempurnaan kota Tarim ini. Sungguh betapa sangat sempurnanya kota Tarim ini. Mulai dari para wali – walinya, ulama – ulamanya, lautan ilmunya, lautan hikmahnya, keindahan tata krama penduduknya, dan semua yang berbau tentang Tarim akan membuat para pecintanya terkagum – kagum dan semakin larut dengan cintanya.

(Oleh : Gamal Abdul Nasir)

Terus ikuti kami di akun-akun media sosial kami :

Website : https://ppihadhramaut.com/

Instagram : @ppihadhramaut

Youtube : PPI Hadhramaut Channel

Telegram : PPI Hadhramaut

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali
Oleh: Muhammad Rofiqul Firdausi al-Waadi al-Maduri, Mahasiswa tingkat dua Universitas Al-Ahgaff Syari’ah wal-Qanun, Tarim, Yaman*
Di balik hiruk-pikuk jantung kota Tarim, berjejer tempat-tempat ibadah umat Islam yang tak kalah melimpahnya dengan toko-toko dan kios-kos masyarakat yang mengais rezeki yang bertebaran di mana-mana. Umumnya masjid-masjid itu sudah dibangun sejak berabad-abad silam, dan masing-masing memiliki sejarah dan peran penting dalam membentuk karekter ikhlas dan para figur dai’ yang tersebar ke seantero dunia, termasuk diantaranya Indonesia.
            Ya, siapa yang tak mengenal kota Tarim. Kota di mana nenek moyang para Wali Songo berasal, kota yang punya ikon Ilmu amal dan akhlak, kota di mana bersemayam ribuan wali Allah yang tidak mengenal urusan dunia dan tak begitu peduli selain terhadap ibadah belajar dan dakwah.
Karena pada diri masyarakatnya sejak dulu sudah tertanam prinsip mulia tersebut, tak mengherankan jika masjid-masjid tak sanggup menampung mereka untuk shalat dan acara-acara belajar-mengajar, maka didirikanlah masjid-masjid yang menfasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut. Termasuk kegiatan rutin maulid dan lainnya yang sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim. Masjid-masjid itu tak lain dari sumbangsih para ulama dan dermawan dan yang berlomba-lomba menyumbangkan harta dan mewakafkan tanah mereka sebagai tabungan akherat. Mereka lebih mengutamakan keuntungan akherat daripada kesenangan dunia yang semu.
Masjid Ba’alawi
Tidak jauh dari pasar tradisioanal kota tarim, berdiri kokoh masjid yang disegani oleh seluruh penduduk lokal maupun non lokal; Masjid Ba’Alawi. Bukan karena kemegahannya tapi karena sejarah dan bekas tempat di mana para ulama’ dan wali-wali agung bersimpuh, menyentuhkan dahi meraka di tanah itu, mengadu dan bermesra-ria dengan sang pencipta. Bekas-bekas itu masih terasa sampai saat ini. Arsitektur bangunannya yang klasik dan sederhana seakan menambah kewibawaan masjid ini seperti kebanyakan masjid-masjid kota Tarim lainnya yang hanya berstruktur tanah liat dan air sebagaimana ciri khas kota tarim. Meski begitu masjid-masjid di kota ini tetap kokoh berabad-abad usianya.
Fisik masjid
Secara kasat mata tak ada yang istimewa dari masjid ini, dilihat dari arsitekturnya masjid yang berdiameter kurang lebih lima puluh meter persegi, dan ketinggian sekitar empat meter ini jauh lebih megah dan menarik daripada kebanyakan masjid di negara kita kita. Dari arah timur tampak menaranya yang mungil ala klasik dan tiga pintu. Satu pintu menuju ruang utama masjid, dua pintu menuju ruang istirahat, tiga pintu di utara dan barat (satu pintu menuju kamar mandi, dan dua pintu menuju ruang istirahat), dan dua pintu dari arah selatan yang keduanya menuju ruang istirahat.
Bagian dalam masjid
Di bagian dalamnya terdapat tiga ruangan, ruang kanan sisi utara sebelah barat terdapat kamar mandi untuk wudhu’ dan buang air kecil, (untuk toilet ada di sebelah utara masjid dibangun terpisah). Di sebelah timurnya terdapat emperan dalam, dan di sebelah kiri ruang tengah akan kita jumpai emperan luas tempat menginap para tamu Allah SWT untuk beristirahat.
Sedangkan ruang tengah terbagi dua, bagian dalam dan luar, Di bagian luar ruang tengah inilah biasanya shalat berjamaah dilaksanakan. Ruang inti bagian dalam hanya dipakai ketika acara-acara besar. Meski begitu tetap diperkenankan bagi siapa saja yang ingin beriktikaf dan membaca al-quran. Di bagian dalam ini ada tempat-tempat yang sering di duduki para pembesar habaib hingga bagian tersebut terkenal dengan nama para habaib yang biasa menempatinya, di antaranya:
  1. Bagian depan pojok kiri
Dikenal dengan tempat mustajabnya doa. Bagian tersebut dulunya adalah tempat shalat Sayyidina al-Faqihil Muqoddam. Bahkan sampai sekarang banyak orang yang antri bergantian untuk sholat ditempat tersebut karena ingin mengambil barokah
  1. Tiang Ma’surah (berbentuk spiral)
Yaitu tempat bersandarnya al-Faqihil Muqoddam. Bisa juga disebut tiang plintir karena seperti baju yang melintir karena di putar. Konon asal mula tiang tersebut dulu ketika Syekh Umar Muhdhor merobohkan Masjid Ba’alawi, beliau ingin membuat tiang yang di sandari Faqihil Muqoddam dengan corak yang berbeda, tapi beliau ragu sehingga di tunda pembuatannya. Esoknya ketika beliau ke masjid ternyata tiang bangunan tersebut sudah berbentuk melintir seperti spiral, konon karena pada malam harinya tiang tersebut dikelilingi oleh para malaikat sehingga melintir sampai sekarang.
  1. Pintu Khidir
Di dekat tiang ma’suroh ada pintu yang terkenal dengan pintu Nabi Khidir AS. karena seringnya orang sholeh melihat Nabi Khidir AS. lewat pintu di tersebut, terutama pada waktu Ashar hari Jum’at, hingga banyak yang mengatakan :
“Jika ingin bertemu Nabi Khidir tunggu di pintu tersebut, yang pertama kali keluar setelah Sholat Ashar di hari Jum’at itulah Nabi Khidir”. Wallahu A’lam.
  1. Kayu di Shof belakang
Di shof paling belakang tepatnya di bagian tengah ada kayu yang tingginya kurang lebih 35 cm yang tak lain merupakan tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Idrus ketika menjadi pemimpin para Habaib Ba’alawi (Naqib Sadah al-Ba’alawi).
  1. Batu di dinding dekat menara
Dulunya adalah tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Haddad Shohiburrotib (penyusun Ratibul Haddad), beliau duduk di belakang karena beradab dengan orang-orang yang lebih tua yang berada di masjid tersebut.
Pembangunan
            Menurut sejarah masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh marga Sadah Ba ‘Alawi, salah satu marga  Ahli Bait. Didirikan oleh Imam Agung Sayyid ‘Ali bin ‘Alwi Khali’ Qasam, cicit al-Imam Al-Muhajir yang besambung kepada Sayyidina Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatihimah binti Rasulullah SAW. pada tahun529 H. Dengan bahan material yang berkualitas karena diambil dari sebuah desa tempat kakek al-Habib Ali Kholiq Qosam yaitu desa Bait Juber, tak lain karena tanah di desa Bait Juber berwarna merah, sangat kuat dan bagus sekali untuk bahan bangunan di banding tanah di daerah lain. Tanah dari desa Bait Juber ini di angkut dengan dokar (pada saat itu adalah alat paling canggih dan moderen untuk mengangkut barang) karena letaknya kira-kira 13 km dari kota Tarim.
Renovasi
Masjid ini mengalami dua kali renovasi. Pertama; di masa putra al-Habib Ali Kholi’ Qosam yaitu al-Habib Muhammad Shohibul Mirbat, beliau semakin menyempurnakan bangunan dan merpercantik masjid yang dibangun oleh ayah beliau sebelum beliau berpindah ke daerah Dhofar (Oman).
Yang kedua: oleh al-Habib Umar Muhdhor yaitu bangunan yang ada sampai zaman sekarang ini. Al-Habib Umar Muhdhor membangun Masjid Ba’alawi di awal abad ke 9 Hijriyah setelah beliau menjadi Naqib Sadah al-Ba’alawi (ketua marga Ba ‘Alawi) pada tahun 821H. Inisiatif dari Habib Umar Muhdhor ini disebabkan melihat keadaan masjid yang tidak layak lagi karena sudah tua termakan usia dan hampir roboh, dikarenakan telah berdiri sejak 300 tahun yang lalu (bila di hitung dari zaman Habib Umar Muhdhor), maka beliau mengumpulkan para pembesar habaib untuk bermusyawaroh tentang pembangunan masjid tersebut, namun mereka tidak menyetujui.
Meski demikian, dengan melihat kemaslahatan yang lebih besar Habib Umar Muhdhor akhirnya nekat dan memanggil tukang dari daerah Mahro (daerah dekat ibu kota Shan’a) yang terkenal dengan tukang-tukang handal untuk merobohkan Masjid Ba’alawi. Ketika hari Jum’at di saat para habaib berangkat Sholat Jum’at di Masjid Jami’ Tarim (tidak semua masjid di tarim digunakan untuk shalat Jumat, dulu penduduk Tarem kalau Sholat Jum’at jam 8 pagi sudah ada di masjid Jami’ dan pulang kira-kira jam dua siang, karena setelah sholat mereka masih berdzikir, membaca al-Qur’an dan sholawat) dan ketika mereka pulang dari masjid mereka temukan masjid Ba’alawi telah roboh dan rata dengan tanah kecuali tembok bagian depan masjid dan mihrab pengimaman, pada akhirnya mereka pasrah dengan keputusan beliau.
Setelah menyelesaikan pembangunan al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman as-Seggaf naik ke loteng masjid dengan mengangkat kaki kanannya lalu meletakkannya, mengangkat kaki satunya dan meletakkannya kembali. Beliau melakukan ini beberapa kali. Menurut sebagian habaib hal tersebut adalah gerakan kaki yang dilestarikan hingga saat ini dan sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim, yaitu ” ar-Rozih ” tarian kaki yang diiringi senanandung syair berisi pujian dan doa ). Dengan  rasa gembira yang di penuhi doa pada Allah SWT. al-Habib Umar Muhdhor berkata seraya  menghentakkan tongkatnya :
هذا بناي إلى يوم القيامة معاد با يتغير إن شاء الله
Insya Allah bagunanku ini tidak akan pernah berubah dan akan tetap kokoh sampai hari kiamat.
Perluasan masjid
Masjid Ba’alawi mengalami beberapa kali perluasan tanpa merubah substansi dasar bangunan yang telah direnovasai oleh Habib Umar Muhdhor. Diantaranya oleh al-Habib Alwi as-Tsamin bin Abu Bakar al-Khered pada bagian pintu masuknya. Beliau juga menambahkan sebuah menara yang tak begitu tinggi, hanya berukurang sekitar lima meter. Begitu juga al-Habib Ahmad Bajahdab. Beliau menambahkan sebuah tempat untuk belajar mengajar di samping kanan masjid.
Diantara kelebihan masjid Ba ‘Alawi
Hingga saat ini, khusunya pada hari Jumat sore waktu sholat Ashar banyak sekali yang hadir untuk sholat di masjid ini meskipun dalam keadaan sakit mereka tetap berusaha menyempatkan diri sholat Ashar berjamaah di Masjid Ba’alawi. Sampai disebutkan dulu orang-orang yang sakit biasanya mengendarai keladainya menuju Masjid Ba’alawi demi ikut shalat Ashar berjamaah di sana, hingga konon keledai yang ada di luar Masjid Ba’alawi mencapai 80 ekor, karena kehadiran Nabi Khidhir AS. di waktu itu.
Para pendahulu sampai sekarang sangat menjaga adab di Masjid Ba’alawi, bahkan mereka tidak berani memakai habwa (sejenis ikat pinggang yang biasanya dipakai sebagai penahan lutut saat duduk) dan juga menselonjorkan kaki. Masjid Ba’alawi juga sangat terjaga dari perkara khilafiyah (perselisihan ulama’), bahkan dari lintas madzhab sekalipun, mereka sangat menjaga dari melakukan suatu hal yang masih diperselisihkan kebolehannya, bahkan kesunahannya, seperti Shalat Sunnah qabliyah Maghrib, potret-memotret dan rekaman video. Oleh karenanya tak pernah kita jumpai gambar atau foto Masjid ini dari bagian dalam, karena para ulama masih berselisih tentang hukum kamera, hal ini tak lain demi menghomati dan menghargai para pengikut seluruh Madzhab diantara keempat Madzhab.
Ketika malam hari Masjid Ba’alawi sangat makmur, banyak orang datang untuk menghidupkan malam dengan tahajud dan membaca al-Quran. Al-Habib Alwi bin Syihab berkata:
” Lampu di Masjid Ba’alawi tidak di matikan ketika malam hari karena banyaknya orang yang ibadah “. Bahkan para imam-imam Masjid di kota Tarim berangkat ke Masjid Ba’alawi , dan ketika menjelang subuh mereka kembali ke masjid mereka masing-masing. Para jamaah duduk sampai waktu terbitnya matahari, ketika jama’ah sholat subuh pulang, di luar masjid sudah banyak yang antri untuk masuk masjid, begitu juga ketika waktu Dhuha tiba kira kira jam 8 sampai jam 10,  tempat wudu’ masih penuh karena antri untuk melaksanakan Sholat Dhuha.
Tak sedikit yang mendapatkan Sirr (pangkat kewalian) orang Sholeh di masjid ini. Diantaranya Al-Habib Abdullah al-Haddad mendapat maqom al-Habib Abdullah al-Idrus di Masjid Ba’alawi. Bahkan ada seorang habaib mendapatkan “hal” (derajat) para wali di Masjid Ba’alawi lalu ia berkata : “Ya Allah ikutkan teman-temanku yang ada di masjid ini sehingga mereka keluar dari masjid semuanya menjadi wali.”
Konklusi
Segala hal dan suasana yang ada di masjid ini betul-betul membawa kita seolah berada di masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW. Karena suasananya yang hening dan tenang, tak pernah terdengar sekalipun suara obrolan seputar dunia. Tak salah bila salah seorang Arifin mengapresiasi masjid ini: “Aku pernah bermukim di Makkah al-Mukarromah, dan aku menemkan kenyamanan dan ketentraman yang luar biasa serta suasana yang begitu menggugah jiwa. Ketika aku sampai di Tarim dan singgah di masjid Ba ‘alawi, aku dapati ketentraman dan kenyamanan yang seperti itu, begitupula aku mendapatinya di Masjid Syekh Umar Muhdhor, dan Masjid Muhammad Hasan Jamal al-Lail”.
‘Ala Kulli Hal, masih banyak keindahan dan keistimewaan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mengunjunginya. Begitu sulit menguraikannya, apalagi hanya sebatas  ungkapan tulisan. Semua ini tak lepas dari karunia Allah yang dianugrahkan pada masjid ini, yang jarang kita dapati di masjid lain, dengan menjadikannya tempat faforit para Wali-Nya.
Cukuplah kiranya gambaran kecilnya dengan untaian Sya’ir Habib ‘abdullah bin Syihab Rahimahullah:
Mereka adalah para kaum yang dikala malam membentangkan tirainya
menyingkirkan selimut mereka
dan tidak tertipu dengan kenikmatan dan kemegahan tempat tidurnya
Tetapi rindu dengan kehangatan tiang-tiang masjid sebagi tempat untuk bersimpuh dengan bersujud pada Sang Pencipta
melantunkan al-Qur’an dengan penghayatan menjadi irama yang indah
ditengah keheningan malam yang gulita memenuhi seruan Sang Pencipta.
Di masjid Bani Zahro terdapat sirr yang begitu agung
karena telah di pijak oleh kaki Sayyidina Al-Faqihil Muqoddam
begitu kuberharap dikala bersujud di masjid itu
tubuhku menyentuh bagian yang telah mereka duduki
hingga aku mendapat keagungan berkat mereka
Betapa banyak kaki-kaki mulia telah memijakinya
Orang-orang mulia shaleh dan terkemuka
malam harinya bersimpuh berderaian air mata
di tempat sujudnya
betapa banyak hamba yang singgah
mereka adalah pewaris serta penerus Sang Nabi SAW.
Ahad 03/08/1438 H. | 30/04/2017 M.
Istana Peninggalan Kerajaan Al Katirie di Kota Seiyun Hadhramaut Yaman

Keberadaan Istana Qasr/Castle Kerajaan di pusat Kota Seiyun, sebagai bukti yang tak terbantahkan bahwa kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan di zaman dahulu. Dan bahkan, jika berbincang Seiyun sebagai pusat pemerintahan, sejarah Qasr tentunya tidak boleh terlewatkan.
Istana tanah yang memiliki tinggi 34 meter dan luas 5460 meter persegi tersebut, selain dikenal dengan sebutan Istana al-Katiri, nama dinasti yang berkuasa paling lama ini juga dikenal dengan nama Qasr al-Dawil yang berarti istana kuno; Qasr al-Tsawrah yang berarti Istana Revolusi. Dengan bersamaan runtuhnya kolonialisme Inggris sekitar era tahun 60-an, berakhir pula kekuasaan Dinasti al-Katiri.
Pada tahun 1984, istana ini dialih fungsikan menjadi sebuah museum, yakni museum penyimpanan benda-benda purbakala. Selain itu juga menjadi pusat kebudayaan masyarakat Seiyun, yang juga merupakan babakan sejarah panjang dinasti al-Katiri yang telah terekam dalam buku Tarikh al-Dawlah al-Katiriyyah, atas karya Muhammad ibn Hisyam.
Saat memasuki setiap ruangan yang ada di dalam Istana setinggi tujuh lantai ini, para rombongan serasa sedang memasuki dunia lain. Misalnya saja saat berada di lantai dua, para pengunjung dapat menikmati berbagai macam peninggalan yang antik dari peradaban Seiyun sebelum Masehi, seperti mata uang kuno, alat pencaharian serta bebatuan ukir yang antik dan unik dengan usia ribuan tahun. Konon katanya benda-benda tersebut memiliki fungsi istimewa dalam dinamika keseharian masyarakat saat dulu kala.
Di lantai tiga, terdapat alat-alat pertanian yang dipajang, alat untuk bercocok tanam dan peralatan untuk berperang. Kemudian lantai empat dijadikan sebagai museum foto yang merekam dokumentasi masyarakat Seiyun selama puluhan tahun. Begitu pun dengan lantai-lantai lainnya yang juga memiliki kekhususan tersendiri.

Sedangkan bagi para pengunjung yang datang ke Kota Seiyun yang terburu-buru dan tidak memiliki waktu banyak, tidak perlu merasa khawatir. Sebab saat ini telah disediakan bioskop mini di dalam Istana yang dapat memutar film singkat tentang peradaban Negeri Yaman secara umum dan Seiyun secara khusus. (Jihadul Muluk)

أهمية أصول الفقه للمقلد وكيفية تعامله مع قواعده في يومنا الراهن
أهمية أصول الفقه للمقلد وكيفية تعامله مع قواعده في يومنا الراهن
(المحاضر: د. عبد الله عبد القادر العيدروس)
✔ هل علم أصول الفقه خاص للمجتهد فقط وليس المقلد بحاجة إلى تعلمه؟
يقولون إن علم أصول الفقه في يومنا الحاضر صار من العلوم التي نضحت واحترقت، فلا يستدل به في وقتنا الحالي. وهذه -بوجهة نظري- مصيبة عظيمة فيه. لأن علم أصول الفقه هو الأس الذي ينبني عليه اجتهادات الفقهاء الأربعة. كما عرفنا أن علم أصول الفقه هو دلائل الفقه الإجمالية وطرق استفادتها ومستفيدها. والمقلد هو الشخص الذي يأخذ كلام غيره من غير دليل.
وبهذا التعريف الشائع يظهر تفريق بين المجتهد والأصولي والمقلد. وكأن المقلد لا ينبغي أن ينظر على علم أصول الفقه لأنه في النهاية أصول الفقه دلائل والتقليد أخذ لقول آخرين من غير دليل. فكيف للمقلد أن يهتم بالدليل وهو لا يحتاج إلى النظر بالدليل؟
من أين جاءت هذه الفكرة؟ لما كثرت الكتب الفقهية المؤلفة من الشروح والاختصارات والحواشي صار العلماء يكتفي بنقل الأقوال والأحكام من كتاب إلى كتاب آخر. ويقولون بأن باب الاجتهاد قد أغلق ومفاتحه قد رمي في البحر. حتى يصير في ذهن الطالب أنه لا يستطيع أن يفكر في استنباط حكم جديد في الزمان الذي يعيشه فضلا عن أن يهتم بأن يصل إلى مرتبة الفقيه.
✔ المقلد أقسام ، فليس كلهم على مرتبة واحدة
بادئ ذي بدء لا بد أن نحقق أولا أن المقلد أقسام، ليس كلهم على مرتبة واحدة. وإلا فسنحكم بأن الصحابة في زمان النبي أيضا من المقلدين كنحن. لأنهم أخذوا الحكم من النبي صلى الله عليه وسلم بدون الدليل. فالمقلد أقسام وهناك ما يسمى بمجتهد المذهب وهو من المقلد، أيضا مجتهد الفتوى وهو من المقلد. لو لم نقسم كما هذا صار طالب العلم المقلد خائفا من الاجتهاد. فصار متعلم علم الفقه وعلم أصول الفقه كنسخة الكتاب فقط، بمعنى أنهم تعلموا العلوم فقط لحفظ الكتب ولحفظ التراث. مع أن علم أصول الفقه هو للعمل وللتطبيق له في الواقع العملي.
لو رأينا ما حدث بعد القرن العاشر: هناك ما يسمى بالتنقيح الثاني للشيخين الرملي وابن حجر، حيث رجح الأقوال ويقيس بالمصلحة، لكن ذلك لا يخرجهم عن المذهب، وهما من المقلد للمذهب الشافعي. وأحيانا يثبت الحكم لمسألة جديدة بدليل المصحلة ودليل القياس ودليل شد الذرائع. وكذلك نجد في فتاوى العلماء في عصرنا من يجتهد مثل ذلك. مع أنهم في النهاية ما زالوا مقلدا. لكنهم قدروا على حل المسائل التي تتداول في عصرهم بالقياس والنظير وأخذ المقابل.
فلذلك لو اجتمع في شخص علم أصول الفقه والقواعد الفقهية ومقاصد الشريعة انتهى المعنى لتحقيق أي نهضة من نهضات الإسلام. وإن وقع هناك أخطاء في تأليف أصول الفقه لكن يتحسن بمرور الزمان. وسيتضح ذلك بالنظر إلى تطور علم أصول الفقه. سنجد أين المراحل التي تسبب التأخر والضعف في علم أصول الفقه.
✔ فائدة علم أصول الفقه وعلم القواعد الفقهية وعلم مقاصد الشريعة
إن علم أصول الفقه يوجه التفكير الإسلامي، والتعامل مع الناس، ويرتب الأفكار في حل القضايا الشرعية. وهو أيضا سبب في توحيد منهجية التفكير للمذاهب الأربعة، حيث يترتب أن هناك أدلة متفق عليها وأدلة مختلف فيها. وهو أيضا أداة أولى للاجتهاد الفقهي.
أما علم القواعد الفقهية قال السبكي: من أراد أن يملك الفقه يضبطه بالقواعد. لأنك إذا ربطت القاعدة ربطت الفروع الفقهية. ولا بد أن نتعلم كيف ندرس أصول الفقه كما من أجلها أنشئ ، مثل في مسألة كيف نعرف علة تحريم الخمر فنحكم ونقيس على المشروبات الأخرى التي خفيت فيها علة الخمر.
فمثل هذه القضايا المعاصرة والمتجددة نستطيع أن نعرفها من خلال علم أصول الفقه. وأيضا عندما تعارضت المصلحة في الأحكام ، نستطيع أن نعرف من خلال فن مقاصد الشريعة. من خلال هذا الدليل الإجمالي ، نستطيع كفقيه وعالم أن ننظر وترجح المصالح والمفاسد. فهذه العلوم الثلاثة لا يفصل بعضها من بعض. قبل عرض الدليل أمام المستفتي يمكنك أن تقنعهم بسبب أصول الفقه ثم بعد ذلك ترجع إلى الكتب الفقهية لدعم ذلك الرأي.
قال الإمام الشوكاني بإن الاجتهاد في العصر الحاضر أحوج بالنسبة إلى الزمان السابقة، لأن الآن العلوم والكتب والتراث منتشرة في العالم وسهل الوصول والحصول عليها. لكن سبب تأخرنا من الزمان السابق هو الضعف والكسل ، فلذلك اعتبر الباب كأنه قد أغلق.
في السنن النبوية ،ستجد هناك كان الصحابة إذا أراد أن يحكم في مسألة فقهية معينة جمعوا الناس من الفقهاء للاجتهاد الجماعي حتى يصلوا إلى الحكم الشرعي، وهذا مثل المجمع الفقهي في يومنا الحاضر.
✔ أسباب تدوين علوم أصول الفقه
كان في فترة التاريخ الأولي العلماء يستنبطون مسألة فقهية دون منهجية واضحة للاستنباط ، فتجد للمجتهد عدة أقوال في مسألة واحدة. فجاء الشافعي لترتيب ذلك في قواعد تربط الاستنباط في تعامل الناس بالنصوص. فألف كتاب الرسالة.
ارتكز في كتابه “الرسالة” على أمرين : مبحث المعاني ومبحث دلالة الألفاظ. يتطرق إلى مبحث الحروف ولا اللغة من حيث هي اصطلاحية أم توقيفية ، بل تكلم عن مبحث المعاني ودلالة الألفاظ كالأمر والنهي والمجمل والمبين . لا يتكلم عن أصول الدين، لأن الغرض حينئذ مجرد وضع المنهج الفكري الفقهي للاستنباط. أما غير ما لم يكتبه الشافعي هو لا يحتاج إلى كتابته لأنه من الأمور التي قد علمت بالضرورة.
نمط المتقدمين مركز في هذه المباحث. فمتى امتزج علم أصول الفقه مع علم الكلام؟ جاء في القرن الثالث الامتزاج في فن أصول الفقه بأصول الدين أو علم الكلام. وهذا بسبب نشاط المعتزلة الذين ينشرون الشبهة فردهم أهل السنة بتأليف الردود في مبحث علم الكلام. ولقوة المعتزلة في علم الكلام حيث سلط الدولة بذلك ، فاضطر علماء أهل السنة بالكلام على علم الكلام وعلم اللغة وعلم الحديث، وصار أصول الفقه كعلم الخلاف ، في كل مسألة من مسائلها خلاف بين الأشعري والمعتزلي. أين علاقته بالاستنباط؟
بسبب هذا صار علم أصول الفقه الذي هو منهج عملي ينتقل إلى منهج فلسفي. دخله علم الكلام فتكلم فيه عن علم المنطق. وكذلك دخل عليه العلوم الغيبية التي تكلمت عن أمور الآخرة التي لا دخل لها في الاستنباط. فصار في ذهن طلاب العلم أن تعلم علم أصول الفقه هو تعلم الأشياء غير واقعية وليس فيها فائدة مهمة.
✔ مرحلة التجديد في أصول الفقه:
وقع التجديد في علم أصول الفقه لا في أصول الفقه ، فألف العز بن عبد السلام القواعد الفقهية ، يتكلم عن أمور منها المصالح والمفاسد وبين منهجية الترجيح وكيفية الاستنباط من دون الكلام على علم الكلام. ثم جاء بعد ه الإمام الشاطبي فألف كتابه المسمى بـ”الموافقات” فأبعدت كل شيء لا يتعلق بوظيفة أصول الفقه في الاستنباط وجرده ذلك كله. وميز بين المسائل الأصولية واللغوية. نعم إن الأصولي يحتاج إلى علم اللغة ، لكن الأحسن لا يجمع هذين الفنين في علم واحد. فمن أراد أن يتعلم علم اللغة فليرجع إلى كتب اللغة.
ثم جاء بعد ذلك الإمام الشوكاني في كتابه إرشاد الفحول ، يرى أن الاجتهاد في الراهن أيسر من الزمان القديم ، لأن السنة والتفاسير كلها مدونة ، فيرى أن كلام بعضهم بأن باب الاجتهاد مغلق كلام لا ينبغي أن يثار.
✔ وظائف علم أصول الفقه

علم أصول الفقه لها وظيفة. أولا: تفسيرية ، من خلالها يعطي لنا منهج متكامل لفهم نصوص الشرع كالقرآن والسنة. وذلك من خلال الكلام على دلالة الألفاظ، والمطلق والمقيد، والأمر والنهي، والعام والخاص، والمنطوق والمفهوم.

ثانبا: ضبط قواعد الاستنباط ، عن طريق تبيين عن أبحاث مبحث الأدلة كيف نرجحها وكيف نجمعها.
ثالثا: وضع طرق الاستنباط ، مجردة عن علوم أخرى لا علاقة لها بعلم أصول الفقه.
رابعا: ترشيدية ، لأن النصوص قليلة والوقائع كثيرة ، فنحتاج إلى القواعد المنهجية العقلية المستندة إلى نصوص ، فيمكن أن نستنبط بها الأحكام الشرعية في كل المسائل الحديثة التي توجه إلينا اليوم.
فجاء القياس ، ومسالك العلة ، والترجيح بين العلل.
كثير من العلماء الذين أبعدوا مسألة الجدل من علم أصول الفقه. كالإمام الشعراني مثلا ، كان اختصر جمع الجوامع فحذف كل المسائل المتعلقة بالجدل ، أثبت كيفية مسالك العلة ثم قوادح العلة التي تؤثر في صحة العلة. لا يتكلم عن مسألة الجدل.
فصار بذلك كله في ذهن الطالب أن هذا العلم كأنه علم جامد. واعتبره علما غير واقعي. لأنه كأنه مجرد الكلام عن علم الخلاف بين المجتهد. والمقلد لا دخل له بذلك كله. فركز في التفريق بين علم أصول الفقه من حيث هي علم عملي لا فلسفي ولا جدلي. وأيضا لا بد علينا أن نتعلم علم أصول الفقه مع علم القواعد الفقهية وعلم مقاصد الشريعة حيث بذلك كله نستطيع أن نحل مسائل جديدة توجه إلينا في يومنا الحاضر.
* والله أعلم *


فرصة السؤال والجواب:

✔ محي الدين: كيف نفتي اليوم مع تطبيق علم أصول الفقه؟

ج: لا بد بالآلة ، بنقل الكلام للمتقدمين ، أما بالمسألة التي لم يتكلم بها السابقون ..فالمفتي اليوم لا يمكن أن يدرك بجميع المسائل كلها ، فالأحسن أن نستفيد كثيرا بما يسمى بالمجامع الفقهية ، حيث اجتمع فيه كثير من أصحاب المهنة المختلفة. وأيضا بفقه النفس التي تحصل بالممارسة ، -راجع ما قد كتبه الشيخ بافضل- حيث يبين ويدرك كيف يستنبط الأحكام الفقهية ،

✔ الجفري: هل باب الاجتهاد مغلق في جميع المسألة الأصولية ، والفروعية ؟ أو فقط في الأصولية؟

ج: الجزئية لا يغلق الباب للاجتهاد فيها ، وذلك بالقياس ،

✔ القدري: كيف طريقة العلاج للتعصب في تطبيق أصول الفقه ؟ لأنهم اختلفوا ولم يرد أن يجتمع بعضهم بعضا في رأي واحد مع أنهم فهموا علم أصول الفقه وعلم مقاصد الشريعة؟ لماذا لم يجتمع في المجمع الفقهي؟

ج: ظهر من الجدل والخلاف التعصب ، فالإخلاص في الاجتهاد هو العلاج. كما قاله الشافعي بأنه يحب أن يظهر الحق على المعترض لا منه ، فالعصبية تحصل من النفس، ومن الهوى ، فيحكم بما أراده، لا ما أراده الله ، لأن أصول الفقه هي منهج فكري شرعي ، كل الأدلة ستصل إلى الحكم ، إلا أن يعكره النفس ، وكثير ذلك بسبب السياسة ، لأمر سياسي ، وذلك أمر خطير لأنه من معاني حديث من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار. ولا سيما لو كان ذلك بإلغاء النص الواضح فأخذ الحكم الذي يوافق هواه.

Sekilas Tentang Kejurnalistikan

1.   Pentingnya Menulis
  • Tampil di era digital mendominasi bentuk tulisan
  •  Dengan tulisan, penulis menjadi guru di berbagai penjuru
  • Menulis adalah bekerja untuk keabadian
  •  Tulisan adalah senjata
  • Meningkatkan daya kritis dan kejelian berfikir 
  • Pemegang senjata musti disegani
2.   Pengertian Jurnalisme
Arti jurnalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar dan sebagainya. Hal-hal yang berkaitan dengan jurnalisme dikatakan jurnalistik.
3.   Pengertian Reportase dan Berita
Reportase dalam KBBI memiliki dua arti, pertama: pemberitaan, pelaporan, kedua: laporan kejadian.
Sedangkan berita adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta yang menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa.
Sebuah berita yang baik ialah berita yang memiliki nilai, dicirikan antara lain:
1. Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
2. Berita itu tidak biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum, menarik.
3. Aktual: terbaru, belum “basi”.
4. Informatif.
5. Berdampak luas.
6. Sesuai fakta tanpa opini.
7. Penting: pengaruh bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
 8. Tulisan tidak terlalu panjang dan bertele-tele. 
 

A.Unsur Berita

    5 W + 1 H
                (1) What – Apa yang terjadi dalam suatu peristiwa?
                (2) Who – siapa yang terlibat di dalamnya?
                (3) Where – di mana terjadinya peristiwa itu?
                (4) When – kapan terjadi, pukul berapa dimulai dan berakhir.
                (5) Why – mengapa peristiwa itu terjadi?
                (6) How – bagaimana terjadinya?
    B. Pendekatan dalam reportase
    – Wawancara narasumber.
    – Observasi ke lapangan
    – Riset dokumentasi, baik melalui buku, majalah maupun media online.
    C. Langkah Sebelum Menulis Reportase atau Berita
    – Hadir langsung saat peristiwa
    – Analisis kejadian
    – Jika kegiatan berupa seminar ilmiah maka pahami dulu tema yang akan dikaji
    – Siapkan alat perekam
    – Jeli pada poin yang disampaikan narasumber
    D. Langkah awal menulis reportase
    1. Membuat judul singkat, padat dan menarik.
    2. Mengumpulkan data 5W 1H.
    3. Membuat kerangka berita.
    4. Memformat dan membentuk tulisan.
    – Biasanya paragraf awal dan terakhir dituliskan hasil dari 5W
    – Isi berita memaparkan 1H
    – Menyuplik perkataan narasumber. 
    Jika cuplikan secara tekstual maka setiap kata yang ditulis harus sesuai dengan apa yang diucapkan narasumber, tanpa tambahan, pengurangan maupun perubahan. Boleh juga menyuplik secara tidak tekstual namun harus sesuai dengan maksud narasumber, dan cuplikan tersebut menjadi tanggung jawab penulis.
    4.   Tips menulis reportase dengan baik
    A. Perhatikan kaidah EYD/PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia)
    salah satu faktor yang memengaruhi kualitas sebuah tulisan adalah kerapian dan kesesuaian tulisan pada kaidah-kaidah yang telah diatur dalam PUEBI. Berikut beberapa aturan singkat sesuai PUEBI yang banyak dijumpai di sebuah tulisan. 
    (a). Huruf kapital.
    Huruf kapital atau huruf besar dipakai untuk:
    – Huruf pertama kata pada awal kalimat.
    – Huruf pertama pada sebuah nama orang, nama tahun, bulan, hari, dan nama wilayah geografis. Huruf kapital tidak dipakai untuk kata bin pada nama orang. Misalnya: Abdullah bin Muhammad.
    – Huruf pertama semua kata di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti, di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
    – Huruf pertama unsur singkatan nama gelar dan pangkat. Misalnya: B.Sc. bachelor of science, S.Pd. sarjana pendidikan.
    (b). Titik-koma
    Tanda titik dipakai pada akhir sebuah kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya: Ayahku tinggal di Surabaya.
    Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian. Misalnya: Saya membeli buku, pena dan tinta. Juga dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimatnya jika anak kalimat mendahulu induk kalimat. Misalnya: Kalau ada undangan, saya akan datang.
    Penulisan titik dan koma tidak boleh dipisahkan spasi dari kata sebelumnya, dan harus diberi spasi untuk kata setelahnya.
    (c). Penulisan kata depan di, ke dan dari.
    Kata depan di yang digunakan pada kata tempat dan waktu berbeda dengan kata di yang digunakan untuk kata pasif. Penggunaan kata di untuk kata tempat dan waktu harus dipisah dengan spasi, karena di tersebut adalah kata tersendiri. Lain halnya dengan di dalam kata pasif, maka harus digandeng dengan kata kerja tersebut.
    Contoh: Zaid dipukul oleh Amar di Masjid.
    Kata depan ke dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepadadan daripada.
    Contoh: Zaid berangkat ke Bandung pagi tadi.
    B. Tidak sembarang menyingkat kata.
    Dalam tulisan resmi atau artikel, penulis tidak diperkenankan menyingkat kata dengan sembarangan. Setiap kata harus ditulis dengan ejaan yang sempurna. Misalnya: Zaid adalah tmnku yg baik. 
    C. Atur panjang paragraf.
    Salah satu hal yang membuat tulisan mempunyai nilai adalah kerapian tulisan dengan panjang tiap paragraf yang selaras dan teratur. Sebagian penulis ada yang membatasi tulisan di setiap paragrafnya dengan berapa puluh kata, sekian baris dan sebagainya.
    D. Atur panjang setiap kalimat.
    Membaca itu seperti maraton. Yang mengatur kecepatan lari dan nafas dalah penulis. Maka sebagai penulis, kita musti atur panjang lintasan dan ritme bacaan. Beri kesempatan pembaca untuk mengatur nafasnya. Sebuah kalimat yang terlalu panjang, atau dengan peletakan titik-koma yang tidak beraturan, akan membuat para pembaca merasa cepat letih, bosan dan ngos-ngosan.
    E. Atur jalannya alur tulisan.
    Agar tulisan berasa mengalir, perlu disajikan dengan alur yang rapi dan runtut. Hal ini bisa diatur sejak penyusunan kerangka tulisan, atau dengan mengulang-ulang kembali membaca tulisan sebelum dipublikasikan.
    F. Tidak banyak mengulang diksi kata yang sama.
    Salah satu hal yang mengurangi kualitas tulisan adalah banyaknya satu diksi kata yang terulang dengan jarak yang berdekatan. Maka, usahakan dalam satu paragraf singkat tidak terjadi satu diksi yang terulang. Perbanyak perbendaharaan kata yang sinonim untuk modal tulisan Anda. Seperti kata adalah, ialah, merupakan, yaitu, yakni dsb. Ketika, saat, pas, sedangkan, sementara dll.
    5. Apa yang harus diperhatikan seorang reporter
    1. Sering baca reportase atau tulisan orang lain.
    2. Kembangkan kualitas baca.
    3. Serap kosakata saat membaca.
    4. Biasakan buka KBBI.
    5. Belajar gaya kepenulisan.
    6. Fahami alur fikir penulis sebuah tulisan.
    7. Belajar cara menyetir pembaca.
    8. Patuhi kode etik jurnalistik.
    9. Gunakan bahasa penyampaian yang sopan.
    6. Contoh Reportase
    Seminar Ilmiah Fikih Kontemporer Angkat Tema Virus HIV/AIDS
    Tarim – Kamis malam (9/3) seminar ilmiah seputar fikih kontemporer digelar di Auditorium Universitas Al-Ahgaff Tarim Yaman. Acara ini digelar atas kerjasama pengurus PPI Hadhramaut-Yaman, PCI NU Yaman, FMI Yaman dan Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Al-Ahgaff. 
    Dua dosen senior Al-Ahgaff hadir mengisi seminar kali ini, Sayyid Dr. Mosthafa bin Smith sebagai narasumber utama, dan Sayyid Dr. Mohammad bin Abdul Qader Al-Aydrus yang juga merupakan Direktur Institut Ilmu Hadits Darul Ghuraba Tarim sebagai narasumber kedua sekaligus pembanding.
    Seminar ini fokus membahas bagaimana sikap seorang ulama fikih mampu menghadapi permasalahan kontemporer yang belum pernah terjadi dan tidak tertulis di kitab-kitab ulama terdahulu. Dalam hal ini, Dr. Mohammad Alaydrus menekankan bahwa seorang ulama seharusnya mampu mengkaji hal-hal baru yang terjadi di masanya, tidak hanya mengeluarkan fatwa halal dan haram, namun juga memberikan sebuah solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
    Sebagai penunjang, disajikan pula sebuah makalah ilmiah berjudul “Faskh an-Nikah bi Fairus al-Aidiz” karya riset narasumber utama Sayyid Dr. Mosthafa bin Smith. Dalam makalah itu, Dr. Mosthafa memaparkan kajian jikalau salah satu dari pasangan suami istri dinyatakan positif mengidap virus HIV/AIDS apakah pasangannya mempunyai hak khiyar untuk memutus akad nikahnya ataukah tidak.
    HIV merupakan sebuah virus berbahaya yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh hingga menyebabkan kondisi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yaitu lemahnya sindrom kekebalan tubuh. Sampai saat ini para ilmuwan belum berhasil menemukan obat yang dapat menyembuhkan pengidapnya secara total. 
    Virus ini oleh Dr. Mosthafa dianalogikan dengan penyakit Judzam (Lepra) dan Barosh (Kusta) dengan titik temu sama-sama virus atau penyakit berbahaya, dapat menular pada pasangan maupun anaknya, serta menjadi faktor terhalanginya hubungan suami istri.
    Dengan demikian, seorang suami atau istri yang dinyatakan positif berpenyakit HIV/AIDS atau baru mengidap virus HIV belum sampai tahap sindrom AIDS, maka pasangannya mempunyai khiyar dan berhak untuk memutus hubungan pernikahan, bahkan jika ia yakin akan tertular maka haram baginya berhubungan badan.
    Seminar ilmiah kali ini berjalan penuh antusias dari ratusan peserta yang terdiri dari para mahasiswa Al-Ahgaff dari berbagai negara, juga para pelajar lain dari luar Al-Ahgaff. Acara dimulai pukul 20.30 sampai 23.30 KSA dan ditutup dengan sesi doa serta penyerahan sertifikat penghargaan kepada kedua narasumber yang diserahkan oleh Taufan Azhari selaku ketua PPI Hadhramaut-Yaman. (Azro)
    Limitasi Pemikiran Ijtihad Dalam Ranah Islam

    Oleh : Musthofa Al Muhdhor

    Prolog.
    Agama Islam menyerukan pemeluknya untuk senantiasa bertafakkur tentang segala ciptaan Allah SWT supaya dapat menghantarkan mereka kepada derajat keimanan yang kuat. Dalam hal berpikir, Islam juga memberikan kebebasan; alasannya ialah supaya seseorang dapat menemukan hingga membedakan mana yang benar dan mana yang salah, baik dan buruk, haq dan bathil, sehingga seseorang bisa menjalani kehidupan sesuai dengan fitrahnya yang sejati, serta sejalan dengan kodratnya sebagai ciptaan Allah.

    Jenis pemikiran jelas beragam dan berbeda-beda. Ada yang disebut “pemikiran politik”, ada juga jenis “pemikiran sosial” dan juga ada yang dinamakan “pemikiran agama” (dalam konteksnya kali ini yaitu Islam). “Pemikiran agama” inilah yang akan menjadi objek utama ulasan yang bersama akan kita bahas apa-apa yang ada di dalamnya.

    Sebagai mana yang dikatakan DR. Amjad Rhosid dalam mendefinisikan pemikiran Islami, : pemikiran Islami tidak lain ialah kumpulan hukum-hukum akidah/aqodiyah dan fiqh/fiqhiyyah yang telah ditetapkan teks-teks (An Nusush) syariat, maupun pengambilan hukum tersebut secara nash (teks) atau istinbath (penggalian hukum) yang melalui jalan para imam-imam mujtahid. Jelasnya dengan dhowabith (batasan-batasan) istidlal (pencarian dalil) dan istinbath (penggalian hukum) yang telah lumrah didalam bidang ilmu usuluddin dan usul fiqh. Maka pemikiran yang keluar dari standar dua bidang ilmu tadi, tidaklah bisa dikatakan dari pemikiran islam. Walau dengan segala upaya apapun seorang pemikir tersebut membungkus pemikirannya dengan baju dan bungkus syariat Islam. Itulah yang disebut akar kesesatan.

    Dhowabit/batasan-batasan dalam pemikiran Islam atau lebih tepatnya pemikiran ijtihad di dalam Islam adalah sebuah pembahasan yang sangat esensial dan krusial untuk digali, terlebih disampaikan isinya untuk golongan pelajar ataupun awam sekalipun. Dari judul makalah ini yang telah kita baca, ada maksud dari kata “pemikiran” setelah diterjemahkan ke arti yang lebih khusus; yaitu “pendapat/ro’yun” yang digagas dalam ranah komando dan otoritas Islam.

    Sudah jelas pemikiran yang tidak dibawah kendali atau kontrol Islam tidaklah mungkin mengadopsi batasan-batasan yang diatur dalam pemikiran Islam. Dan sebaliknya, apabila pemikiran tersebut dibawah kekuasaan/sultah islam, maka wajib kembali kepada dhowabith pemikiran yang ditentukan dan diridhoi Islam. Apalah arti menisbatkan suatu pemikiran kepada Islam bila pada kenyataannya pemikiran tersebut justru mendobrak dan membongkar prinsip-prinsip dasar Islam?

    Seperti yang saya sebutkan tadi, sudah tidak asing lagi bagi seorang muslim bahwasannya Agama Islam, berkenaan dengan universalitas hukum-hukumnya, telah membuka pintu “berfikir” secara luas dan menyerukan – bahkan mewajibkan – kepada umatnya untuk mengetahui Sang Pencipta dan hakikat-hakikat Islam. Islam tidaklah mengekang akal-akal manusia untuk berfikir, namun, di samping itu semua Islam memberikan pagar-pagar di semua lini kehidupan secara umum dalam hal berfikir dan melangkah, yang tidak boleh sedikitpun dilewati. Itu semua karena satu hal yang memang tidak dapat dipungkiri; bahwa esensi manusia condong ingin memuaskan hawa nafsunya. Sehingga kecondongan tersebut dapat menjalar pada perbuatan zalim dan pelanggaran hak-hak yang bukan miliknya. Oleh karena adanya kecenderungan pada hal yang dapat memicu kerusakan, Islam memberi “pagar” yang dapat memberi tanda bagi manusia tentang batasan-batasan melangkah yang tidak boleh dilanggar.

    Makalah ini akan membahas secara parsial mengenai beberapa poin masalah. Pertama mengenai dhowabit/batasan-batasan pemikiran umum (semua jenis pemikiran). Kedua mengenai pembahasan mujtahid dan dowabit ijtihad didalam islam.

    Pembahasan.

    A. Batasan utama untuk semua ilmu dan pemikiran.
    Di zaman melenium ini, kian semarak seruan tentang “kebebasan berfikir” di semua bidang kehidupan. Terlebih di dalam pemikiran agama yang kian melenceng (menurut saya). Bisa jadi hal itu berasal dari faktor kacaunya keadaan umat saat ini, hingga menyebabkan pudarnya personalitas dan jati diri Islam di muka umum. Serta banyaknya fatwa-fatwa melenceng yang beterbangan di tengah masyarakat yang menjadikan wajah Islam kian tercoreng.

    Oleh karena itu saya kira penting untuk mengawali pembahasan ini dengan tiga dhowabit/batasan-batasan esensial, yang pada ketiganya harus terikat semua jenis pemikiran, yaitu :

    Pertama harus berkomitmen dan berpegang dengan kaidah-kaidah ilmu yang dibahas dan dipelajari dengan catatan yang ditentukan oleh para pakar di setiap bidang ilmu. Kemudian yang kedua harus berkomitmen sesuai adab ketika bersama lawan yang berbeda pendapat. Karena kebebasan dalam berpikir bukan berarti bebas untuk berbicara yang tidak layak. Terakhir yang ketiga adalah tidak melampaui yurisdiksi. Karena kebebasan dalam berpikir bukan berarti sama dengan keharusan terlaksananya pendapat pribadi, dan memaksa yang lain untuk mengikuti pendapatnya.

    Tiga batasan diatas bukanlah khusus untuk jenis pemikiran Islam, akan tetapi untuk semua yang berpendapat dalam suatu masalah atau lainnya. Pembahasan tersebut akan lebih dalam dan bercabang apabila kita memasuki kategori “pemikiran ijtihad islami”.

    B. Mujtahid dan dhowabit ijtihad

    i. Latar Belakang

    Ijtihad merupakan sebuah media elementer yang sangat besar peranannya dalam konstruksi hukum-hukum Islam (Fiqh). Tanpa peran ijtihad, mungkin saja konstruksi hukum Islam tidak akan pernah berdiri kokoh seperti sekarang ini dan ajaran Islam tidak akan mampu menjawab tantangan zaman dengan berbagai problematikanya. Dengan demikian, ijtihad adalah sebuah keniscayaan dalam Islam.

    Namun harus pula diakui bahwa ijtihad merupakan faktor utama pemicu perbedaan pendapat dan kontradiksi hukum antar ulama. Pertentangan yang selama ini berlangsung dikalangan fuqaha misalnya, adalah akibat perbedaan metodologi ijtihad yang mereka gunakan. Tapi justru dari situlah khazanah keilmuan Islam terlihat begitu kaya dan anggun di tengah polemik intelektual yang variatif dan semarak. Dan hal itu tidak perlu disesalkan, sebab perbedaan metodologi yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat mendapat legitimasi syariat.

    ii. Definisi
    Para ulama usul fiqh mendefinisikan seorang mujtahid, diantaranya Syaikhul Islam Zakariya Al Anshary didalam kitabnya Lubbul Usul. ialah : seorang yang baligh, aqil, mempunyai kemampuan dalam menggali hukum, faqihunnafsi (sangat memahami maksud-maksud dari perkataan),yang mengetahui dalil-dalil aqli (akal), menguasai standard ilmu-ilmu alat seperti nahwu, shorof, maaniy, dan bayan, mengetahui ilmu Usul Fiqh dan apa-apa yang berhubungan dengan hukum-hukum dari Al Qur’an dan Assunnah walaupun ia tidak hafal secara keseluruhan.

    Syaikhul Islam juga menambahkan kategori lainnya dalam seorang mujtahid : mengetahui ijma-ijma ulama terdahulu, mengetahui nasikh Mansukh, mengetahui sebab-sebab turun ayat, mengetahui khabar mutawatir dan aahad, mengetahui sahih sebuah hadis dan selainnya dari hasan dan dhaif,mengetahui derajat para perawi hadist .

    Barangsiapa yang terkumpul di dalam dirinya kategori di atas ia bisa disebut seorang mujtahid yang mempunyai keahlian dalam menggali dan meneliti hukum-hukum syariat. Bahkan wajib baginya berijtihad dan haram baginya bertaqlid (mengikuti) mujtahid lainnya, walaupun di dalam masalah ini terdapat khilaf ulama. Karena kewajibannya di dalam syariat ialah menggunakan pemikirannya di dalam nushus (teks-teks) dan adillah (dalil-dalil) untuk menggali hukum syariat,oleh karena itu ia dilarang untuk mendudukan dirinya di jajaran awam.

    Dan sebaliknya, barangsiiapa yang tidak memenuhi kategori mujtahid, haram baginya annadzar (meneliti) kepada dalil-dalil dalam segi istinbath (menggali hukum), karena apabila ia tetap menggalinya tanpa dibarengi kategori seorang mujtahid maka hasilnya fasid (rusak) dan tidak dianggap. Al Imam Syatibi mengatakan dalam kitabnya Al Muwafaqat yang membagi kategori ijtihad yang terjadi di dalam syariat7 : ijtihad yang terjadi di dalam syariat ada dua kategori, pertama : ijtihad yang diakui/mu’tabar secara syariat, ialah yang datang dan dibentuk dari ahlinya yang memenuhi syarat-syarat ijtihad. Yang kedua : ijitihad yang tidak diakui/mu’tabar,ialah yang datang dari bukan ahlinya dan tidak memenuhi syarat-syarat ijtihad. Karena pada hakikatnya ia hanya sebuah pendapat/ro’yun yang dilapisi dengan hawa nafsu dan maksud tertentu serta membuta di dalam tujuan. Maka setiap pendapat yang berbentuk seperti ini tidaklah ragu lagi ketidak absahannya di dalam syariat,karena ia telah bertentangan dengan kebenaran/haq yang Allah firmankan didalam AlQur’an:

    وأن احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم

    “dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Maidah ; 49)

    Kelompok kategori yang kedua yang disebutkan oleh Syatibiy di atas adalah kelompok yang menjeratkan diri mereka ke dalam kesesatan dalam mengemban syariat, karena kesembronoan mereka terhadap syariat muthoharo. Kelompok ini juga pernah disinggung oleh Imam Syafii didalam kitab Risalahnya : “orang yang memaksakan dirinya untuk mengatakan atas hal yang ia tidak ketahui dan ia mantapkan,tatkala pendapatnya itu cocok dengan kebenaran tanpa sepengetahuannya, itu semua masih tergolong tidak terpuji (mahmudah), terlebih dengan pendapatnya yang salah, itu sangatlah tidak bisa ditoleran lagi”

    Selain syarat-syarat untuk seorang mujtahid dalam menggali hukum yang telah disebutkan di atas, disana ada beberapa batasan-batasan/dhowabit yang harus dipenuhi tatkala terjun kelautan nushus (teks-teks) yang mulia (baca: alqur’an dan hadis) dalam penggalian hukum. Walaupun, tidak semua dhowabit yang akan disebutkan ini menunjuk untuk seorang mujtahid,akan tetapi itu semua disyaratkan dan harus dipatuhi untuk semua kategori mujtahid, baik itu merupakan mujtahid mutlaq atau yang dibawahnya, bahkan untuk semua yang mendalami ilmu syariat (terlebih fiqh) harus berhenti dihadapan batasan-batasannya tatkala ingin menggali hukum “baru” atau pendapat yang kembali kedalam ranah Islam.

     iii. Batasan-batasan/dhowabit ijtihad
    Banyak orang yang menyerukan ke kancah umum – terlebih pada golongan pelajar – dengan kata “kebebasan berfikir dalam ber-ijtihad” /huriyatul fikri Al ijtihadiy, dan dibarengi dengan kekosongan mereka dari yang dinamakannya dhowabit fikri (batasan-batasan pemikiran) di dalam Islam, sehingga berdampak menimbulkan guncangan yang cukup kuat di ranah Islam dan agama lainnya secara umum. Berikut ini adalah batasan-batasan yang tidak boleh dibobol oleh si-pemikir islam secara umum, terlebih untuk seorang mujtahid (dari berbagai kategorinya) untuk melalaikan batasan-batasan tersebut. Kita akan sebutkan garis-garis besarnya dari batasan-batasan itu, sehingga kedepannya harus ada elaborasi yang lebih luas lagi untuk pembahasan ini.

     Mungkin akan kita sebutkan sepuluh poin/batasan penting untuk pemikiran ijtihad di dalam islam :

    1) Wajibnya mengutarakan dalil dari seseorang yang mencurahkan pendapatnya atau pemikirannya di bidang tertentu. Kalau tidak seperti itu, pendapat dan pemikirannya tidaklah bernilai sedikitpun secara ilmiah. Sebagaimana yang telah tertera didalam bidang ilmu diskusi/munadzarah :

     إن كنت ناقلا فالصحة, أو مدعيا فالدليل

     Kaidah tersebut sudah menjadi sesuatu yang aksioma. Dalil bukanlah hanya semata-mata hawa nafsu yang diikuti, akan tetapi apabila dikaitkan dengan pemikiran beragama, dialah dasar-dasar pemikiran dan keagamaan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam serta disepakati oleh akal yang sehat.

    2) Mengetahui sebab-sebab ilmu. Yang dimaksudkan dengan ilmu disini,ialah ilmu yang pasti (qot’i) yang tidak mungkin berubah. Sebab-sebabnya ada tiga : akal, khabar shadiq,dan panca indra yang sehat (pendengaran, pengelihatan,penciuman,rasa,dan sentuhan). Yang dimaksudkan dari khabar shadiq,ialah khabar yang pasti benarnya,maupun itu khabar yang mutawair (khabar yang diriwayatkan oleh banyak orang) seperti Al-Qur’an dan hadis nabi yang sampai derajat mutawatir, atau juga khabar yang tersebar ditengah-tengah masyarakat sampai ke darajat mustahil mereka sepakat berbohong dalam menukil khabar tersebut. Adapun khabar aahad (yang diriwayatkan oleh satu orang) tidaklah termasuk dari sebab-sebab ilmu (walaupun nantinya wajib mengamalkan khabar tersebut dengan kriteria tertentu).

    Inilah yang dikatakan didalam kitab “Aqoid AnNasafiyah” :

    أسبابه ثلاثة: الحواس السليمة والخبر الصادق ونظر العقل

    “dan sebab-sebabnya (ilmu) ada tiga : panca indra yang sehat, khabar shadiq, akal”

    Imam Al Tiftizaniy juga menerangkan setalah paragraph diatas dalam syarahnya, bahwa ilmu yang di hasilkan dari “ilham” tidaklah bisa disebut dari faktor-faktor ilmu.

    Batasan ini bisa diartikan, tidaklah diterima pemikiran atau pendapat yang bertentangan dengan ilmu yang diperoleh dengan salah satu sebab-sebab ilmu diatas, begitu juga tidak bisa diterima mentah-mentah dari seseorang yang mengutarakan pendapatnya atau pemikirannya yang ia dapat bukan dari salah satu faktor ilmu diatas.

    3) Mengetahui referensi yang mu’tabarah (diakui) untuk menggali hukum syar’i. Serta mengetahui syarat-syarat dan batasan-batasan/dhawabit setiap dari referensinya.
    Referensi yang disepakati didalam Islam,ialah : Al-Qur’an, Assunnah, Al Ijma’, dan Al Qiyas. Walaupun disana ada segelintir kelompok yang mengingkari qiyas, akan tetapi pendapat mereka tidaklah berpengaruh dalam kesepakatan para ulama. Dan untuk mengetahui batasan-batasan/dhowabit disetiap referensi di atas, bisa dikaji didalam bidang ilmu ushul fiqh.

    Di sana juga ada beberapa dalil-dalil yang terdapat khilaf dikalangan ulama islam, dengan begitu siapa yang menganggapnya sebagai dalil,ia harus mengikuti disiplin dari setiap dalil-dalil tersebut.

    Hal ini yang di dendangkan oleh Al Imam Al Izz Bin Abdussalam di dalam kitabnya “Qawaidlul Ahkam fiI Masolihul Anaam” :

    لا حكم إلا له فأحكامه مستفادة من الكتاب والسنة والإجماع والأقيسة الصحيحة والاستدلالات الدعتبرة

    Maksud dari batasan/dhawabit diatas adalah, barang siapa yang menginginkan berijtihad untuk menggali hukum syar’i sedangkan sandaran dari ijtihadnya itu tidak kembali ke dalil-dalil yang disepekati oleh mayoritas orang Islam ataupun ke dalil-dalil yang terdapat perbedaan pendapat didalamnya, maka pendapatnya itu tidak bisa diterima bahkan tidak ditoleh sedikitpun, karena ia mengambil jalan selain jalan yang diambil orang-orang mu’min. sebagaimana yang difirmankan Allah swt :

    ( ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الذدى ويتبع غير سبيل الدؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا )

    “dan barang siapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia kedalam Jahannam,dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (An Nisa ;115)

    Ini juga menjelaskan kepada kita, bahwa ijtihad tidaklah bisa kecuali dari dalil-dalil yang diambil darinya hukum halal dan haram, dan juga seorang yang melakukan ijtihad/mujtahid diharuskan mengetahui dalil-dalil tersebut, tatkala ia tidak menemukan jawaban dari satu hukum yang akan dia tetapkan, maka baginya berhenti dan tidak memaksakan dengan mengatakan perkataan yang tidak ada sandarannya ataupun makna yang serupa dengan dalil tersebut, hal inilah yang disepakati para ulama terdahulu ataupun sekarang.

    Tidak sampai di situ, bahkan siapa yang berijtihad dengan menggunakan dalil-dalil di atas akan tetapi tanpa membarenginya dengan aturan dari setiap dalil tersebut, maka tetaplah pendapatnya itu tidak bisa diterima terlebih diikuti. Dalam lubang inilah seorang alim banyak terpeleset tatkala menggali hukum. Dan yang lebih harus ditegaskan lagi adalah sangat dilarang untuk menciptakan referensi atau kaidah baru dalam menggali hukum,karena semua kaidah dan dhawabit yang tertera di thurats islami tidaklah dibentuk kecuali setelah penelitian yang sangat ekstra, dengan mempertimbangkan segala yang dibutuhkan untuk seorang yang ingin menggali hukum. sebab menciptakan metode baru dalam menggali hukum sangatlah susah dan hampir mustahil.

    4) Mengambil ilmu dengan dalil-dalil di atas, ditangan para ulama yang mahir di dalam bidang ilmu agama, dalam segi mempraktekan kaidah-kaidahnya ataupun menjabarkan masalah-masalah rumitnya. Karena siapapun yang mempelajari ilmu agama tanpa arahan atau ajaran dari seseorang yang mahir didalam bidang ilmu tersebut, tidaklah bisa dipercaya pemahamannya itu, sebagaimana seseorang tidak percaya tatkala berobat kepada seseorang yang mempelajari buku-buku kedokteran sendiri dan tanpa arahan dari dokter yang mahir, maka terlebih tidaklah layak sesorang menerima suatu hukum agama yang akan menentukan perjalanannya di akhirat kelak, dari seseorang yang tidak jelas asal usul atau sanad belajarnya.

    Walaupun di sana terjadi perbedaan pendapat, dalam kemungkinan mendapatkan ilmu tanpa seorang guru. Kita tidak mengingkari dalam segi kemungkinan, akan tetapi dalam segi kebiasaan di alam ini tidaklah didapatkan ilmu kecuali dengan guru, inilah yang disepakati secara global walaupun nantinya terjadi perbedaan pendapat. Dan mereka (para ulama) bersepakat bahwa seorang yang jahil (bodoh) sangatlah membutuhkan guru yang mengajarinya ilmu atau amal. Banyak ulama yang mengatakan : sesungguhnya ilmu di dalam diri para ulama, yang kemudian ilmu itu dipindahkan ke dalam kitab-kitab, dan tetaplah kunci-kunci ilmu tersebut diambil dari tangan-tangan ilmu.

    5) Mengetahui tentang dalil-dalil dan usulnya pun tidak cukup didalam diri mujtahid tatkala ingin menggali hukum syar’i. disana ada yang diharuskan yang disebut dengan “faqihun nafsi” (sangat memahami maksud-maksud dari perkataan). Karena selainnya tidak mampu untuk menggali hukum yang dimaksudkan dari ijtihad.

     Al Imam Haramain berkata didalam kitabnya Al Burhan :

    ثم يشترط وراء ذلك كله فقه النفس فهو رأس مال المجتهد ولا يتأتى كسبه فإن جبل على ذلك فهو الدراد وإلا فلا يتأتى تحصيله بحفظ الكتب

    “dan dibalik itu semua disyaratkan juga “fiqhun nafsi” ialah modalnya seorang mujtahid,dan hal tersebut tidak bisa dicari, apabila ada sesorang yang diberikan tabiat fiqhun nafsi maka itulah yang diinginkan,apabila tidak demikian maka tidak dapat dihasilkan dari kitab-kitab”

    6) Mampu membedakan hukum-hukum yang bisa di diijtihadkan dengan yang tidak bisa diperbuat kecuali tasliim (menerima) atas hukum Allah yang ditetapkan oleh salah satu dalil-dalil yang disepakati diatas. Karena hukum syariat ada yang menerima perbedaan pendapat didalamnya dan ada yang tidak bisa diubah. Maka medan ijtihad hanya di hukum-hukum yang menerima penta’wilan atau perbedaan pendapat, bukanlah medannya di hukum-hukum yang sudah pasti/tsawabit.

    Dengan seperti itu, kita harus mengetahui apa barometer bahwa hukum tersebut menerima ta’wil dan tidaknya. Al Imam Ghozali mendefiniskan al mujtahid fiih (medan ijtihad) :

    كل حكم شرعي ليس له دليل قطع

    “setiap hukum syar’i yang tidak mempunyai dalil qhot’i (pasti)”

    Yang dimaksudkan dari hukum syar’i di dalam definisi adalah; yang bukan hukum aqliyat (ilmu akidah) karena di dalam ilmu akidah tidak diperbolehkan adanya perbedaan pendapat,dan orang yang berijtihad didalam ilmu akidah apabila ijtihadnya salah ia berdosa.
    Adapun dengan kata-kata “hukum yang tidak mempunyai dalil qhot’i” di dalam definisi di atas, guna untuk mengeluarkan hukum-hukum yang diambil dari dalil qhot’i, seperti sholat lima waktu,zakat,dan selainnya dari hukum-hukum yang diketahui oleh ummat islam dengan dharurah (tanpa harus susah payah dan diketahui dengan sendirinya),yang seperti itu bukanlah medan untuk berijtihad.

    Syekh Yusuf Qhardhawi memperluas medan ijtihad di dalam definisinya : setiap mas’alah yang syar’i dan tidak ada dalilnya secara qhot’I di dalam segi tetapnya (tsubut) atau maknanya (dalalah). Maupun itu dari permasalahan tentang ilmu akidah atau far’iyah (sekunder) yang amaliyah.

    Definisi yang dikatakan Syekh Yusuf Qhardhawi senada dengan apa yang diucapkan Syekh Ibn Taimiyah di dalam fatawi-nya (fatwa-fatwa), tatkala menjelaskan seorang mujtahid yang berijtihad di dalam satu masalah dan ijtihadnya salah,maka Allah akan mengampuninya, maupun itu di masalah akidah atau fiqhiyah

    Dalam masalah ini D. Amjad Rhosyid membagi dua bagian dalam mensyarahkan dari referensi medan ijtihad :

    pertama, ada masalah-masalah yang diketahui didalam agama Islam dengan dharurah (tanpa harus susah payah dan diketahui dengan sendirinya),setidaknya masalah itu tidak mungkin samar hukumnya sekalipun itu bagi orang awam terlebih ulama, seperti kewajiban solat lima waktu, puasa ramadhan, keharaman zina, khamer, menyakiti orang tua, semua masalah tersebut apabila ada yang mengingkari hukumnya, maka ia dihukumi kafir (keluar dari islam) walaupun dengan alasan ijtihad, karena ia mendustakan Allah dan RasulNya SAW.

    Kedua, masalah-masalah yang didapat dari dalil-dalil yang disepakati ulama,akan tetapi tidak secara dharurah untuk mengetahuinya, perlu adanya penggalian hukum didalam masalah tersebut,seperti keharaman dalam hukum menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah orang lain, dan juga ada masalah ghaybiyat (metafisika) seperti masalah melihat Allah swt untuk orang-orang mukmin diakhirat kelak, adanya shirat (jembatan diatas api neraka), mizan (timbangan amal), azab kubur dan nikmatnya. Seorang yang mengingkari hukum-hukum tersebut setelah berijtihad dengan dalil-dalinya akan dihukumi mubtadi’ (bid’ah :membuat suatu yang baru didalam islam),akan tetapi tidak dihukumi kafir.

    Walhasil bagi seorang yang ingin menggali hukum dari dalil-dalinya haruslah ekstra dalam melihat semua dalil yang tertuju ke masalah tertentu, tidak menta’wilkan dengan mengikuti hawa nafsunya, karena terkadang seorang mujtahid beranggapan bahwa dalil yang ia pegang harus dita’wilkan dan tidak dibawa kedzohirnya (kulit depannya), akan tetapi realitanya sangatlah berbeda dengan apa yang di sangkanya, sehingga menariknya kedalam bahaya dan bisa dikategorikan tindakan pidana atas teks/nash yang mulia.

    7) Memahami hubungan antara akal dan wahyu (Al Qur’an dan Sunnah). Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada hukum disyariat islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang pasti dan kuat, bertentangan dengan hukum akal sehat yang bersifat pasti. Bahkan syariat islam keseluruhannya sependapat dan cocok dengan hukum akal.
    Para ulama usul menjelaskan bahwa pertentangan dianatara dua hal yang qhoti’ itu mustahil, maupun dari segi kemungkinannya atau terjadinya. Sebagaimana yang dikatakan Syaikhul islam didalam kitabnya Ghayatul Wusul :

    يمتنع تعادل قاطعين , أى تقابلهما بأن يدل كل منهما على منافى ما يدل عليه الآخر اذ لو جاز ذلك لثبت مدلولذما فيجتمع الدتنافيات
    فلا وجود لقاطعين متنافيين عقليين أو نقليين أو عقلي ونقلى والكلام فى النقليين حيث لا نسخ

    “tidak boleh adanya pertentangan diantara dua hal yang qhot’I,yang artinya,pertentangan diantara keduanya dengan mentiadakan dari dua hal tersebut apa yang dikatakan hal satunya, karena apabila itu mungkin maka akan tetap makna dari kedua hal tersebut,sehingga berkumpul lah kedua hal yang saling mentiadakan. Oleh karena itu tidaklah mungkin adanya kedua hal yang qhat’I dan bertentangan,keduanya itu maupun berupa secara hukum akal,atau akal dan nash, ataupun juga dua hal tersebut berupa nash selagi tidak ada nasekh (penghapusan hukum dengan hukum lainnya)”

     Oleh karena itu sangatlah penting untuk seseorang yang menggali hukum untuk mengkoloborasikan antara akal dan teks, apabila terdapat pertentangan diantaranya (dalam segi dzohirnya), maka ia diwajibkan untuk menelitinya lagi,karena pertentangan yang dilihatnya,karena sebab kurangnya teliti didalam menggali hukum hukum tersebut,atau juga yang bertentangan dengan akal tersebut hadis dhaif (lemah) atau maudhu’ (yang bukan perkataan nabi dan dinisbat kepadanya). Walaupun dikeadaan pertentangan akal dan hadis dhaif atau aahad,harus mengedepankan hukum akal yang qhat’i.

    Inti dari masalah diatas, tidaklah dikedepankan hukum akal yang qhat’i atas nash kecuali tatkala bertentangan yang tidak bisa dihindari dan dengan hadits-hadits tertentu yang ada beberapa masalah didalam riwayatnya.

    8) Memahami hubungan/alaqoh diantara Alqur’an dan hadis. Hal yang sudah lumrah sekali bahwasanya Al Qur’an tidak meninggalkan sedikitpun hukum untuk manusia didalam kehidupan mereka,kecuali telah dijelaskan didalamnya,alqur’an juga meletakan dasar-dasar hukum yang sangat luas dalam ilmu akidah ataupun fiqh,sehingga perlunya tafsiran atas dasar-dasar tadi untuk mengetahui maksud dari perkataan sang pencipta alam. Allah swt pun memberikan tugas penjelasan hukum apa yang belum dijelaskan alqur’an atau sudah dijelaskan akan tetapi tidak secara gamblang. Allah swt berfirman dalam hal ini :

    وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون

    “dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an,agar kamu menerangkan pada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (An Nahl ;44)
    Tidak sampai disitu tugas hadits nabawi, akan tetapi ia juga berhak memberikan hukum baru kepada ummat manusia,dan hukum tersebut juga wajib dipatuhi seperti kewajiban mematuhi apa yang datang dari alqur’an, Allah juga menjadikan ta’at kepada nabi saw adalah bentuk ta’at kepadaNya. Sebagaimana juga sebaliknya, menentang untuk tidak mengikutinya adalah maksiat yang sangat besar.

    Dari situ kita memahami kepentingan hadits nabawi untuk diketahui seorang mujtahid,tidak bisa ditoleran tatkala seorang yang ingin menggali hukum dan meninggalkan hadits dengan beranggapan bahwa alqur’an cukup untuk penggalian hukum.

    9) Memahami hubungan/alaqah antara teks-teks syariat dan maslahat. Seorang yang meneliti makna-makna alqur’an dan hadits akan menemukan dasar yang luas, yang dibangun diatasnya hukum islam, yaitu menarik maslahat dan mencegah mafsadah.
    Imam Izzuddin Ibn Abdusalam mengatakan intisari dari memahami alqur’an dan hadits : barang siapa yang memahami maksud-maksud dari alqur’an dan hadis akan mengetahui bahwasanya semua yang diperintahkan didalamnya hanya dengan maksud menarik maslahat dan mencegah mafsadah (keburukan).

    Banyak sekali ayat-ayat alqur’an atau hadis yang menunjukaan bahwa syariat datang dengan membawa maslahat untuk manusia dan mencegah madlorot dari mereka. Seperti firman Allah swt :

    إن هذا القرآن يهدي للتي هي أقوم ويبشر الدؤمنين الذين يعملون الصالحات أن لذم أجرا كبيرا

    “ sesungguhnya Alqur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al-Isra ;9)
    Di ayat lain Allah juga berfirman :

    ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين

    “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-nahl:89)

    Dari ayat-ayat diatas bisa disimpulkan bahwa syariat Islam mengandung apa-apa yang baik untuk ummat manusia, berisi maslahat bagi mereka di dunia maupun di akhirat, serta mencegah kerusakan dan keburukan dari mereka, baik untuk individu maupun secara umum dalam kehidupan mereka.

    Dengan semua itu juga kita memahami bahwa yang menentukan maslahat bukanlah akal manusia semata, karena syariatlah yang lebih mengetahui maslahat bila dijajarkan oleh akal manusia. Allah swt berfirman :

    والله يعلم المفسد من المصلح

    “dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan” (Al-Baqarah ;220)

    Maka tidak mungkin disana terdapat hukum yang bertentangan dengan maslahat manusia. Kaidah besar yang dikutip dari haditspun menguatkan permasalahan ini :

    لاضرر ولا ضرار

    “Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain”
    Apabila disana terdapat hukum yang membawa bahaya untuk manuisa, maka tidak dianggap hukum itu dari syariat, karena syariat dibangun dengan keadilan dan rahmat allah terhadap hamba-hambanya.

    Bisa dikatakan tatkala ada teks/nash yang bertentangan dengan maslahat yang mu’tabarah (dianggap), maka seorang yang mendapatkan hal tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan. Pertama,orang tersebut menerjang teks alqur’an atau hadits tanpa membawa metode yang sah,ia hanya menunggangi hawa nafsunya dalam berinteraksi dengan teks yang mulia. Dalam keadaan seperti ini jelas sekali,bahwa pengakuannya atas pertentangan teks dengan maslahat tidak bisa di terima/mardud.

    Kedua,tidak mengetahui akan maslahat yang diakui dan diterima oleh syariat,bahkan samar untuknya jalan untuk mengetahui maslahat yang diakui syariat tersebut,terlebih dengan mentarjih (memenangkan) diantara dua maslahat dan dua mafsadah (kerusakan). Dalam hal seperti ini wajib baginya untuk mencari akan maslahat dihukum atau masalah tersebut,sudah pasti, dengan jalan yang diakui ulama dalam pengambilan maslahat. Maslahat yang diakui dengan syariat dan cara mendapatkan hal tersebutpun diambil dari dalil-dalil syar’I, ialah alqur’an hadits, ijma’ dan qiyas,serta pengambilan dalil yang benar metodenya. Hal inilah yang dikatakan oleh Imam Ibn Abdussalam didalam qhawaidnya.

    Maka bisa disimpulkan siapa yang melegalkan suatu yang haram atau mengharamkan hal yang halal dengan pengakuan adanya maslahat yang dicomot dari akalnya, maka pendapat tersebut tidak bisa diterima; karena hanyalah syariat yang lebih tau dan lebih berhak untuk maslahat atau kemadharatan manusia.

    10) Wajib mengetahui cara pentartiban dalil-dalil ketika melakukan operasi untuk menghasilkan hukum. Al Imam Ghazali di dalam kitabnya Al Mustashfa mengatakan bahwa seorang yang ingin menggali hukum hendaknya menertibkan dalil-dalil syar’i, maka pertama ia harus melihat di hukum-hukum ijma’ ulama. Apabila ia mendapatkannya, maka baginya untuk meninggalkan melihat ke nash-nash Alqur’an atau hadits,karena kedua itu bisa dinasikh (hapus). Lain halnya dengan ijma’, apabila mendapatkan teks yang bertentangan dengan ijma’, maka hal tersebut adalah dalil bahwa nash tersebut telah dinasikh, dengan alasan ummat tidak akan bersepakat atas kesalahan.

    Kemudian melihat nash Alqur’an dan hadits yang mutawatir,dan mengedepankan kedua dalil tersebut atas dalil lainnya. Setelah itu beranjak ke hadits-hadits aahad sesuai derajatnya,dengan mengedepankan hadits shahih atas hadits hasan atau dhaif. Kemudian barulah ia beranjak kedalil qiyas.

    Pentartiban diatas adalah pentartiban dalam segi derajat dalil-dalil tersebut. Maupun pentertibannya secara maknanya, ia harus mendahulukan nash (yang tidak ada kemungkinan makna selain lafadz tersebut) atas yang zhahir (yang memungkinkan bermakna selain makna lafadz tersebut), hendaknya ia juga melihat kepada nahs-nash yang umum,karena mengamalkan nash yang bersifat umum sebelum mendapatkan yang menkhusukannya diperbolehkan,setelah itu mencari dalil-dalil yang menkhusukan dalil umum tadi.

    Walhasil wajib kepada sorang yang ingin menggali hukum mencari dalil yang paling tinggi derajatnya,dengan memperhatikan khilaf ulama usul terhadap dalil-dalil dari segi kuat dan lemahnya.

    Al Imam Abu Bakar Al Baqilaani menjelaskan diantara kesalahan seorang yang menggali hukum syar’I diantaranya, tidak tepat dalam pentartiban dalil-dalil syar’I,dengan mengedepankan dalil yang harus di akhirkan, dan sebaliknya.

    KETIKA CINTA BERTAHMID

    (Oleh : Ricky Faishal —Ricky Ibnsidiq— Koordinator Dept. Pendidikan dan Dakwah PpiH)
    Dahulu kala, ada seorang pemuda, pencinta, dan penyanyang. Tuhan anugerahkan padanya sosok wanita yang baik dan cantik. Ia selalu bermimpi dengan wanita itu akan menggapai semuanya berdua tanpa campurtangan keluarga besarnya.
    Hari-harinya diisi dengan canda tawa, senyum si wanita dan perhatian yang mungkin tidak semua orang dapatkan. Rasa syukur terus mengalir, membahasi lidahnya dengan kalimat tahmid. Ia sadar bahwa Tuhan memberinya anugerah yang besar.
    Suatu hari ia bertanya, “Sayang, sudikah kau menerima keadaanku?
    Sayang dengarkan aku, Jika aku tak sudi aku tidak akan pernah melangkah sejauh ini.”
    Lelaki itu menjawab, “Jika benar kau sudi menerimaku, tolong jaga aku, sayangi aku, cintai aku, urusi aku, jangan kau lepas genggaman tanganku! Aku akan menggenggam tanganmu sekuat aku menyanyangimu,” jawab si wanita.
    ***
    Kawan, cinta tak pernah mengenal apa itu rupa. Ketika hati mulai memupuk gunung-gunung rasa, cinta akan menjadi bagian tertinggi gunung itu.
    Pemuda itu sadar bahwa dirinya tak bisa berjanji banyak, ia hanya bisa membuktikannya, karena ia yakin janji bisa kita ingkari, tapi bukti tak dapat disangkal. Ia mencintainya dengan bukti, bukan dengan janji.
    Sang wanita menangis melihat keluh, rintih sang pemuda memperjuangkannya. Cucuran air mata tak tertahan, hidung memerah seraya hatinya menggerutu, “Bodoh jika aku lepaskan ia, lebih bodoh lagi jika aku menyakitinya. Tuhan! jaga ia untukku.”
    Sembahan doa, rangkaian kata berserah padaNya selalu mengalir, harinya tak lepas dari syukur karena dihadiahkannya seorang pemuda baik. Pemuda itu tersenyum, menebar apa yang ia miliki dari kebahagiaan memeluknya, menggenggam tangannya tak terlepaskan.
    Sadar, bahwa hati mereka terikat satu dengan lainnya, menyatu, melebur dalam rasa, bercampur bak pasir terhimpit bebatuan.
    KISAH PUTRI INGGRIS YANG MELIHAT SAYYIDAH KHADIJAH
    Hadhramaut – Alhamdulillah. Setelah berminggu-minggu berada di luar negeri dalam rangka berdakwah, Al Habib Umar bin Hafidh kini telah tiba kembali ke Tarim, Hadhramaut. Kamis malam (16/11), beliau juga bisa ikut hadir ke majelis maulid Baginda Rasulullah saw yang digelar saban malam Jumat di pesantrennya, Darul Musthafa, Tarim.
    Seperti biasanya, setelah pembacaan maulid, acara diisi dengan mau’idhah hasanah, atau hanya sekadar berbagi cerita dakwah oleh murid-muridnya habib. Tak hanya murid pribumi, pidato juga diisi oleh murid-muridnya dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
    Malam Jumat lalu, ada kisah menarik yang diceritakan oleh salah satu pembicara asal Bangladesh. Ia berkisah tentang seorang anak kecil yang melihat langsung Sayyidah Khadijah ra. secara kasatmata. Berikut kisahnya:
    Sebuah kisah nyata dari keluarga kecil di Brithania. Dimana hiduplah seorang ayah dengan istri dan dua anaknya yang masih kecil, laki-laki dan perempuan. (Anak perempuannya itu sebut saja namanya Bella. –tambahan Reporter)
    Setiap harinya, sang ayah selalu istikamah membacakan kisah sirah Nabi Muhammad saw setiap kali mereka ingin tidur malam. Dan kepada anak gadisnya, ia selalu menceritakan sosok serta kehidupan isteri Rasulullah saw tercinta, Sayyidah Khadijah.
    Hingga tiba suatu hari mereka sekeluarga berkesempatan untuk berziarah ke makam Rasulullah saw di Madinah Al Munawwarah. Sang ayah berkata kepada anak gadisnya yang masih kecil itu, “Nak, itu adalah makamnya Sayyidah Khadijah.”
    Si gadis kecil itupun berjalan menuju makamnya Sayyidah Khadijah.
    Ia berdiri menghadap makam.
    Tak dinyana, air mata pun bercucuran mengalir di pipi yang imut itu. Ya, ia menangis terharu.
    Sepulangnya ke hotel tempat keluarga itu menginap, si Bella langsung berlari kaget masuk ke kamar orang tuanya, sambil berteriak, ia berkata, “Papa, aku tadi melihat Sayyidah Khadijah di kamarku!” (Wallahu ‘alam)
    ***
    Bulan Rabiul Awal sudah di depan mata. Setiap umat muslim memiliki cara masing-masing untuk menyambutnya dan merayakannya. Secara global, sikap mereka dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan; membolehkan atau tidak membolehkan. Tergantung dari cara pandang dan masyarakat sekitar mereka dalam menanggapi bulan yang mulia ini.
    Ada yang sudah mulai menyingsingkan lengan, menyiapkan rentetan planning ini dan itu, lengkap dengan kalkulasi dana, waktu dan tempat. Dan ada juga yang masih belum ngeh, cuek dan belum ingin merasakan kebahagiaan dari datangnya angin bulan Rabiul Awal ini. Namun, apapun itu, tentu sebagai umat muslim, umatnya Nabi Muhammad saw, kita sangat menginginkan beribu kebaikan di bulan ini. Menambah amal kebaikan di dunia, tempat persinggahan untuk menuju akhirat.
    Sudah seharusnya kita teliti, apa saja yang bisa kita lakukan dalam event Rabiul Awal ini, tentu diantaranya dengan menjadikan hadirnya bulan mulia ini sebagai alarm pengingat, mengingat bahwa di bulan ini kita perlu merefresh ingatan kita, anak-anak kita tentang sirah kehidupan nabi Muhammad Saw. Dengan harapan kita bisa meneladani perilaku dan akhlak beliau.
    ***
    > Tidakkah kita ingin merasakan manisnya kebahagiaan memiliki anak saleh dan salehah seperti Bella di atas?! Dan tidakkah kita ingin anak-anak kita menjadi anak yang dicintai oleh Nabi Muhammad saw beserta keluarganya? Sudahkah kita mengenalkan siapa itu sosok Nabi Muhammad saw beserta istri, keluarga serta sahabat-sahabatnya kepada anak-anak kita?!
    > Di bulan Rabiul Awal ini lah, mari kita jadikan ia sebagai event alarm pengingat untuk kembali mengkaji kisah sirah Rasulullah teragung itu. Semoga Allah tanamkan di setiap hati kita, anak-anak kita rasa bahagia dalam menyambut bulan yang penuh mulia ini; bulan kelahiran serta wafatnya Sayyidil Wujud, Nabi Muhammad saw.
    Semoga Allah bekalkan di hati kita, anak-anak kita rasa rindu untuk melihat wajah nabi Muhammad saw di dunia sebelum di akhirat. Amin Allahumma amiin. (Bayu Maulana Edi — El-Bayu Assallaatoh)
    Mahasiswa Magister Al-Ahgaff Launching Dua Buku Sekaligus
    Tarim – Setelah seminggu lalu dua penulis Indonesia melaunching karya-karyanya, kali ini, Jumat malam (17/11)lalu, kembali diadakannya peluncuran dua buku sekaligus dari satu penulis. Acara yang diprakarsai oleh Departemen Pendidikan dan Dakwah (DepDikDak) PPI Hadhramaut itu berlangsung tertib di mushalla bawah sakan Dakhily, Universitas Al Ahgaff.
    Turut hadir Ketua DepDikDak, Ricky Faishol, staff-staffnya, para tamu undangan, serta audiens yang memadati mushala dimaksud.
    Acara peluncuran dimulai jam 20.30. Dimoderatori oleh Sdr. Suhaimi dengan mempersilakan langsung kepada penulis yang sekaligus narasumber di malam itu juga.
    Adalah Yunalis bin Abdul Gani (Yunalis Abgan) mahasiswa jenjang magister Univ. Al-Ahgaff program Ushul Fikih. Di awal pembicaraannya, putra asal Aceh itu menjelaskan kronologi penulisan kedua buku itu, ‘Hadhramaut, Negeri Impian’ dan ‘Tanyakan Aku Seputar Madzhabmu’. Keduanya merupakan karya-karyanya yang ia hasilkan dalam beberapa bulan terakhir ini.
    Sesi pertama berlangsung bedah buku ‘Hadhramaut Negeri Impian’ selama sekitar 45 menit. Setelah itu berlanjut ke buku kedua, ‘Tanyakan Aku Seputar Madzhamu’. Ada beberapa keistimewaan buku kehadhramautan ini dibanding buku-buku seputar Hadhramaut lainnya. Tidak hanya traveling saja, atau biografi ulama saja, namun juga menyatukan tiga unsur sekaligus; traveling, biografi ulama dan sejarah.
    “Dengan buku ini (Hadhramaut negeti impian, red) pasti pembaca akan bisa membayangkan bahwa Hadhramaut ini negeri yang diimpikan banyak orang”, ujarnya.
    Sedangkan buku kedua merupakan buku berisi tanya-jawab seputar Madzhab Imam As-Syafi’i. Selain itu, juga disertakan dengan biografi singkat para ashabul wujuhnya Imam Syafi’i. Di akhir sesi, acara juga diisi dengan pembagian doorprieze berhadiah dua buku kepada para audiens. Acara berjalan lancar dan para hadirin penuh antusias itu ditutup pada pukul 22.00 KSA.
    Mabruk alf mabruk, sdr. Yunalis Abgan atas launchingnya. Semoga semakin melejit semangatnya dalam menghasilkan karya-karya lainnya. Amiin (Ppi)
    Institut Darul Ghuraba Tarim Wisuda Puluhan Pelajar Asal Indonesia
    Tarim – Lembaga pendidikan Ilmu Hadits Institut Darul Ghuraba mewisuda lebih dari 20 pelajar asal Indonesia pada Sabtu malam (4/11). Acara prosesi wisuda ini dipimpin langsung oleh pimpinan tertinggi (Mudir Aam) lembaga Dr. Habib Abu Bakar Al-Adeni bin Ali Al-Masyhur beserta Pimpinan Institut (Amid Ma’had) Sayyid Dr. Mohammad bin Abdul Qader Alaydrus.
    Acara ini dihadiri juga oleh para tamu kehormatan seperti Sayyid Abdullah Awadh bin Sumaith Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff, Habib Thohir Al-Haddar guru senior Darul Musthofa, juga tokoh pakar hadits Sayyid Dr. Alawi Syihab dan ulama lainnya.
    Di Institut Darul Ghuraba ini kurikukumnya lebih memfokuskan pada kajian Ilmu Hadits, baik secara dirayah maupun riwayah, juga kajian Shahih Muslim maupun Shahih Bukhari dengan sanad guru yang menyambung sampai Rasulullah Saw. Ilmu-ilmu hadits itu disinergikan pula dengan mata kuliah Fiqih Transformasi (kitab Nubdzah Sughra) agar pelajar mampu menghadapi problematika kontemporer umat Islam zaman sekarang.
    Di lembaga ini, mayoritas para peserta didik yang mendominasi adalah mahasiswa Universitas Al-Ahgaff Tarim. Memang salah satu keistimewaan Al-Ahgaff Tarim adalah memberi kesempatan dan kebebasan mahasiswanya untuk kuliah atau belajar tambahan di lembaga lain. Maka tak heran, banyak dari mahasiswa Al-Ahgaff yang tidak hanya kuliah di Al-Ahgaff saja, namun juga kuliah dan belajar di lembaga lain seperti Institut Darul Ghuraba dalam ilmu Hadits, Institut Al-Aydrus dalam Qiraat Sab’ah, Ribat Tarim dalam Fiqih dan lainnya.
    Habib Abubakar Al-Adeni dalam sambutannya menegaskan bahwa; sungguh beruntung para pelajar yang ada di lembaga ini, mereka dididik langsung oleh guru pengajar yang tidak hanya memiliki gelar akademik saja, tapi juga memiliki sirr nubuwah (berkah kenabian) dengan sanad yang menyambung langsung sampai Rasulullah Saw.
    “Pencuri (atau pencopet) itu para pelajar yang mengambil ilmu hanya secara zahirnya saja, tanpa menggubris ruhnya. Padahal Islam datang membawa ruh ilmu itu. Kalau hanya ilmu secara zahirnya saja orang munafiq juga punya”, ujar Habib Abubakar dengan bahasa Arab di sela-sela sambutannya.
    Beliau merupakan pimpinan dari 9 lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai kota di provinsi Hadhramaut, seperti Universitas Al-Wasathiyah, Institut Darul Ghuraba dan Ribat Imam Al-Muhajir Husaisah. Beliau juga merupakan peletak pertama ilmu Fiqih Transformasi yang dikenal dengan Fiqih Tahawwulat. Selain sosok seorang pemikir Islam, beliau juga merupakan penulis produktif sekaligus penyair handal. Hampir setiap harinya beliau mencipta beberapa bait syair yang di tiap bulannya dikumpulkan menjadi satu buah buku Diwan (kitab kumpulan syair).
    Usai berjalannya rangkaian acara dan prosesi wisuda, para hadirin beserta tamu kehormatan dihidangkan menu ramah tamah, lalu didendangkan beberapa qasidah syair khas Hadhramaut. Acara yang dimulai pukul 19.00 KSA hingga pukul 22.30 KSA ini berjalan lancar dan ditutup dengan doa akhir majelis di penghujung acaranya.
    (Azro)
    RSS
    Follow by Email
    YouTube
    Instagram
    Telegram
    WhatsApp