Search for:
74 Mahasiswa Indonesia Raih Gelar Sarjana di Universitas Al Ahgaff Yaman.

WISUDA adalah momen yang sangat dinanti-nanti oleh seseorang setelah perjuangan panjang menjalani studinya sebagai mahasiswa.
Momen yang pada hari itu semua rasa menjadi satu, antara tangis dan tawa melebur. Tangis haru kebahagiaan, tawa riang kegembiraan. 
Hal itulah yang dirasakan Mahasiswa angkatan 19 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al-Ahgaff Yaman pada Senin, (16/07).
Acara wisuda dimulai sejak sesudah magrib pukul 18.30 KSA berakhir hingga pukul 24.00 KSA yang berlangsung di Auditorium Fakultas tersebut itu.
Turut berhadir pada acara tersebut Rektor Universitas Al Ahgaff, Prof. Al Habib Abdullah Baharun, dewan guru, serta para tamu undangan.



Sebelum acara wisuda dimulai, para mahasiswa terlebih dahulu melantunkan maulidunnabawi dengan penuh kekhusyuan, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian acara wisuda, yang dimulai dengan pembukaan, pembacaan Al Quran oleh Muhammad Yahya, pembacaan Hadits Nabawi oleh Abdul Fattah Ibrahim Assomaliy, dilanjutkan dengan sambutan dari mahasiswa semester akhir yang diwakilkan oleh Syamsuddin bin Hamzah, tak ketinggalan juga sambutan dari Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Ustadz Abdullah bin Awadh bin Sumaith, dilanjutkan sambutan serta pesan-pesan dari Rektor Universitas Al Ahgaff, Prof. Al Habib Abdullah Baharun. Sampai pada acara puncak, penyebutan nama nama wisudawan disertai dengan penyerahan plakat kehormatan oleh Rektor Universitas Al Ahgaff kepada para wisudawan dan penyerahan penghargaan kepada peraih nilai imtiyaz (Summa Cumlaud).
Dalam sambutannya, Prof. Al Habib Abdullah Baharun berpesan kepada para wisudawan agar nantinya tatkala sudah kembali kedaerah masing-masing, para alumni saling bersinergi, bahu membahu serta mempererat hubungan sesama alumni guna memudahkan dakwah di daerahnya masing-masing.
“Kepada para alumni diharapkan membentuk suatu wadah alumni Al Ahgaff di daerahnya masing-masing, dan saling bahu membahu guna memudahkan dakwah di daerah masing-masing”. Ungkap beliau.
Total tahun ini berjumlah 104 orang dari berbagai negara, 74 diantaranya berasal dari Indonesia, mereka orang orang pilihan yang berhasil melewati seleksi ketat ala Universitas Al-Ahgaff dari jumlah awal sekitar 200 orang terseleksi menjadi 104 orang.


Acara diakhiri dengan makan bersama dan foto-foto bersama para dosen-dosen serta beberapa hiburan seperti nasyid, pembacaan syair-syair. [Gamal Abd Nasir]

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali
Oleh: Muhammad Rofiqul Firdausi al-Waadi al-Maduri, Mahasiswa tingkat dua Universitas Al-Ahgaff Syari’ah wal-Qanun, Tarim, Yaman*
Di balik hiruk-pikuk jantung kota Tarim, berjejer tempat-tempat ibadah umat Islam yang tak kalah melimpahnya dengan toko-toko dan kios-kos masyarakat yang mengais rezeki yang bertebaran di mana-mana. Umumnya masjid-masjid itu sudah dibangun sejak berabad-abad silam, dan masing-masing memiliki sejarah dan peran penting dalam membentuk karekter ikhlas dan para figur dai’ yang tersebar ke seantero dunia, termasuk diantaranya Indonesia.
            Ya, siapa yang tak mengenal kota Tarim. Kota di mana nenek moyang para Wali Songo berasal, kota yang punya ikon Ilmu amal dan akhlak, kota di mana bersemayam ribuan wali Allah yang tidak mengenal urusan dunia dan tak begitu peduli selain terhadap ibadah belajar dan dakwah.
Karena pada diri masyarakatnya sejak dulu sudah tertanam prinsip mulia tersebut, tak mengherankan jika masjid-masjid tak sanggup menampung mereka untuk shalat dan acara-acara belajar-mengajar, maka didirikanlah masjid-masjid yang menfasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut. Termasuk kegiatan rutin maulid dan lainnya yang sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim. Masjid-masjid itu tak lain dari sumbangsih para ulama dan dermawan dan yang berlomba-lomba menyumbangkan harta dan mewakafkan tanah mereka sebagai tabungan akherat. Mereka lebih mengutamakan keuntungan akherat daripada kesenangan dunia yang semu.
Masjid Ba’alawi
Tidak jauh dari pasar tradisioanal kota tarim, berdiri kokoh masjid yang disegani oleh seluruh penduduk lokal maupun non lokal; Masjid Ba’Alawi. Bukan karena kemegahannya tapi karena sejarah dan bekas tempat di mana para ulama’ dan wali-wali agung bersimpuh, menyentuhkan dahi meraka di tanah itu, mengadu dan bermesra-ria dengan sang pencipta. Bekas-bekas itu masih terasa sampai saat ini. Arsitektur bangunannya yang klasik dan sederhana seakan menambah kewibawaan masjid ini seperti kebanyakan masjid-masjid kota Tarim lainnya yang hanya berstruktur tanah liat dan air sebagaimana ciri khas kota tarim. Meski begitu masjid-masjid di kota ini tetap kokoh berabad-abad usianya.
Fisik masjid
Secara kasat mata tak ada yang istimewa dari masjid ini, dilihat dari arsitekturnya masjid yang berdiameter kurang lebih lima puluh meter persegi, dan ketinggian sekitar empat meter ini jauh lebih megah dan menarik daripada kebanyakan masjid di negara kita kita. Dari arah timur tampak menaranya yang mungil ala klasik dan tiga pintu. Satu pintu menuju ruang utama masjid, dua pintu menuju ruang istirahat, tiga pintu di utara dan barat (satu pintu menuju kamar mandi, dan dua pintu menuju ruang istirahat), dan dua pintu dari arah selatan yang keduanya menuju ruang istirahat.
Bagian dalam masjid
Di bagian dalamnya terdapat tiga ruangan, ruang kanan sisi utara sebelah barat terdapat kamar mandi untuk wudhu’ dan buang air kecil, (untuk toilet ada di sebelah utara masjid dibangun terpisah). Di sebelah timurnya terdapat emperan dalam, dan di sebelah kiri ruang tengah akan kita jumpai emperan luas tempat menginap para tamu Allah SWT untuk beristirahat.
Sedangkan ruang tengah terbagi dua, bagian dalam dan luar, Di bagian luar ruang tengah inilah biasanya shalat berjamaah dilaksanakan. Ruang inti bagian dalam hanya dipakai ketika acara-acara besar. Meski begitu tetap diperkenankan bagi siapa saja yang ingin beriktikaf dan membaca al-quran. Di bagian dalam ini ada tempat-tempat yang sering di duduki para pembesar habaib hingga bagian tersebut terkenal dengan nama para habaib yang biasa menempatinya, di antaranya:
  1. Bagian depan pojok kiri
Dikenal dengan tempat mustajabnya doa. Bagian tersebut dulunya adalah tempat shalat Sayyidina al-Faqihil Muqoddam. Bahkan sampai sekarang banyak orang yang antri bergantian untuk sholat ditempat tersebut karena ingin mengambil barokah
  1. Tiang Ma’surah (berbentuk spiral)
Yaitu tempat bersandarnya al-Faqihil Muqoddam. Bisa juga disebut tiang plintir karena seperti baju yang melintir karena di putar. Konon asal mula tiang tersebut dulu ketika Syekh Umar Muhdhor merobohkan Masjid Ba’alawi, beliau ingin membuat tiang yang di sandari Faqihil Muqoddam dengan corak yang berbeda, tapi beliau ragu sehingga di tunda pembuatannya. Esoknya ketika beliau ke masjid ternyata tiang bangunan tersebut sudah berbentuk melintir seperti spiral, konon karena pada malam harinya tiang tersebut dikelilingi oleh para malaikat sehingga melintir sampai sekarang.
  1. Pintu Khidir
Di dekat tiang ma’suroh ada pintu yang terkenal dengan pintu Nabi Khidir AS. karena seringnya orang sholeh melihat Nabi Khidir AS. lewat pintu di tersebut, terutama pada waktu Ashar hari Jum’at, hingga banyak yang mengatakan :
“Jika ingin bertemu Nabi Khidir tunggu di pintu tersebut, yang pertama kali keluar setelah Sholat Ashar di hari Jum’at itulah Nabi Khidir”. Wallahu A’lam.
  1. Kayu di Shof belakang
Di shof paling belakang tepatnya di bagian tengah ada kayu yang tingginya kurang lebih 35 cm yang tak lain merupakan tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Idrus ketika menjadi pemimpin para Habaib Ba’alawi (Naqib Sadah al-Ba’alawi).
  1. Batu di dinding dekat menara
Dulunya adalah tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Haddad Shohiburrotib (penyusun Ratibul Haddad), beliau duduk di belakang karena beradab dengan orang-orang yang lebih tua yang berada di masjid tersebut.
Pembangunan
            Menurut sejarah masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh marga Sadah Ba ‘Alawi, salah satu marga  Ahli Bait. Didirikan oleh Imam Agung Sayyid ‘Ali bin ‘Alwi Khali’ Qasam, cicit al-Imam Al-Muhajir yang besambung kepada Sayyidina Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatihimah binti Rasulullah SAW. pada tahun529 H. Dengan bahan material yang berkualitas karena diambil dari sebuah desa tempat kakek al-Habib Ali Kholiq Qosam yaitu desa Bait Juber, tak lain karena tanah di desa Bait Juber berwarna merah, sangat kuat dan bagus sekali untuk bahan bangunan di banding tanah di daerah lain. Tanah dari desa Bait Juber ini di angkut dengan dokar (pada saat itu adalah alat paling canggih dan moderen untuk mengangkut barang) karena letaknya kira-kira 13 km dari kota Tarim.
Renovasi
Masjid ini mengalami dua kali renovasi. Pertama; di masa putra al-Habib Ali Kholi’ Qosam yaitu al-Habib Muhammad Shohibul Mirbat, beliau semakin menyempurnakan bangunan dan merpercantik masjid yang dibangun oleh ayah beliau sebelum beliau berpindah ke daerah Dhofar (Oman).
Yang kedua: oleh al-Habib Umar Muhdhor yaitu bangunan yang ada sampai zaman sekarang ini. Al-Habib Umar Muhdhor membangun Masjid Ba’alawi di awal abad ke 9 Hijriyah setelah beliau menjadi Naqib Sadah al-Ba’alawi (ketua marga Ba ‘Alawi) pada tahun 821H. Inisiatif dari Habib Umar Muhdhor ini disebabkan melihat keadaan masjid yang tidak layak lagi karena sudah tua termakan usia dan hampir roboh, dikarenakan telah berdiri sejak 300 tahun yang lalu (bila di hitung dari zaman Habib Umar Muhdhor), maka beliau mengumpulkan para pembesar habaib untuk bermusyawaroh tentang pembangunan masjid tersebut, namun mereka tidak menyetujui.
Meski demikian, dengan melihat kemaslahatan yang lebih besar Habib Umar Muhdhor akhirnya nekat dan memanggil tukang dari daerah Mahro (daerah dekat ibu kota Shan’a) yang terkenal dengan tukang-tukang handal untuk merobohkan Masjid Ba’alawi. Ketika hari Jum’at di saat para habaib berangkat Sholat Jum’at di Masjid Jami’ Tarim (tidak semua masjid di tarim digunakan untuk shalat Jumat, dulu penduduk Tarem kalau Sholat Jum’at jam 8 pagi sudah ada di masjid Jami’ dan pulang kira-kira jam dua siang, karena setelah sholat mereka masih berdzikir, membaca al-Qur’an dan sholawat) dan ketika mereka pulang dari masjid mereka temukan masjid Ba’alawi telah roboh dan rata dengan tanah kecuali tembok bagian depan masjid dan mihrab pengimaman, pada akhirnya mereka pasrah dengan keputusan beliau.
Setelah menyelesaikan pembangunan al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman as-Seggaf naik ke loteng masjid dengan mengangkat kaki kanannya lalu meletakkannya, mengangkat kaki satunya dan meletakkannya kembali. Beliau melakukan ini beberapa kali. Menurut sebagian habaib hal tersebut adalah gerakan kaki yang dilestarikan hingga saat ini dan sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim, yaitu ” ar-Rozih ” tarian kaki yang diiringi senanandung syair berisi pujian dan doa ). Dengan  rasa gembira yang di penuhi doa pada Allah SWT. al-Habib Umar Muhdhor berkata seraya  menghentakkan tongkatnya :
هذا بناي إلى يوم القيامة معاد با يتغير إن شاء الله
Insya Allah bagunanku ini tidak akan pernah berubah dan akan tetap kokoh sampai hari kiamat.
Perluasan masjid
Masjid Ba’alawi mengalami beberapa kali perluasan tanpa merubah substansi dasar bangunan yang telah direnovasai oleh Habib Umar Muhdhor. Diantaranya oleh al-Habib Alwi as-Tsamin bin Abu Bakar al-Khered pada bagian pintu masuknya. Beliau juga menambahkan sebuah menara yang tak begitu tinggi, hanya berukurang sekitar lima meter. Begitu juga al-Habib Ahmad Bajahdab. Beliau menambahkan sebuah tempat untuk belajar mengajar di samping kanan masjid.
Diantara kelebihan masjid Ba ‘Alawi
Hingga saat ini, khusunya pada hari Jumat sore waktu sholat Ashar banyak sekali yang hadir untuk sholat di masjid ini meskipun dalam keadaan sakit mereka tetap berusaha menyempatkan diri sholat Ashar berjamaah di Masjid Ba’alawi. Sampai disebutkan dulu orang-orang yang sakit biasanya mengendarai keladainya menuju Masjid Ba’alawi demi ikut shalat Ashar berjamaah di sana, hingga konon keledai yang ada di luar Masjid Ba’alawi mencapai 80 ekor, karena kehadiran Nabi Khidhir AS. di waktu itu.
Para pendahulu sampai sekarang sangat menjaga adab di Masjid Ba’alawi, bahkan mereka tidak berani memakai habwa (sejenis ikat pinggang yang biasanya dipakai sebagai penahan lutut saat duduk) dan juga menselonjorkan kaki. Masjid Ba’alawi juga sangat terjaga dari perkara khilafiyah (perselisihan ulama’), bahkan dari lintas madzhab sekalipun, mereka sangat menjaga dari melakukan suatu hal yang masih diperselisihkan kebolehannya, bahkan kesunahannya, seperti Shalat Sunnah qabliyah Maghrib, potret-memotret dan rekaman video. Oleh karenanya tak pernah kita jumpai gambar atau foto Masjid ini dari bagian dalam, karena para ulama masih berselisih tentang hukum kamera, hal ini tak lain demi menghomati dan menghargai para pengikut seluruh Madzhab diantara keempat Madzhab.
Ketika malam hari Masjid Ba’alawi sangat makmur, banyak orang datang untuk menghidupkan malam dengan tahajud dan membaca al-Quran. Al-Habib Alwi bin Syihab berkata:
” Lampu di Masjid Ba’alawi tidak di matikan ketika malam hari karena banyaknya orang yang ibadah “. Bahkan para imam-imam Masjid di kota Tarim berangkat ke Masjid Ba’alawi , dan ketika menjelang subuh mereka kembali ke masjid mereka masing-masing. Para jamaah duduk sampai waktu terbitnya matahari, ketika jama’ah sholat subuh pulang, di luar masjid sudah banyak yang antri untuk masuk masjid, begitu juga ketika waktu Dhuha tiba kira kira jam 8 sampai jam 10,  tempat wudu’ masih penuh karena antri untuk melaksanakan Sholat Dhuha.
Tak sedikit yang mendapatkan Sirr (pangkat kewalian) orang Sholeh di masjid ini. Diantaranya Al-Habib Abdullah al-Haddad mendapat maqom al-Habib Abdullah al-Idrus di Masjid Ba’alawi. Bahkan ada seorang habaib mendapatkan “hal” (derajat) para wali di Masjid Ba’alawi lalu ia berkata : “Ya Allah ikutkan teman-temanku yang ada di masjid ini sehingga mereka keluar dari masjid semuanya menjadi wali.”
Konklusi
Segala hal dan suasana yang ada di masjid ini betul-betul membawa kita seolah berada di masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW. Karena suasananya yang hening dan tenang, tak pernah terdengar sekalipun suara obrolan seputar dunia. Tak salah bila salah seorang Arifin mengapresiasi masjid ini: “Aku pernah bermukim di Makkah al-Mukarromah, dan aku menemkan kenyamanan dan ketentraman yang luar biasa serta suasana yang begitu menggugah jiwa. Ketika aku sampai di Tarim dan singgah di masjid Ba ‘alawi, aku dapati ketentraman dan kenyamanan yang seperti itu, begitupula aku mendapatinya di Masjid Syekh Umar Muhdhor, dan Masjid Muhammad Hasan Jamal al-Lail”.
‘Ala Kulli Hal, masih banyak keindahan dan keistimewaan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mengunjunginya. Begitu sulit menguraikannya, apalagi hanya sebatas  ungkapan tulisan. Semua ini tak lepas dari karunia Allah yang dianugrahkan pada masjid ini, yang jarang kita dapati di masjid lain, dengan menjadikannya tempat faforit para Wali-Nya.
Cukuplah kiranya gambaran kecilnya dengan untaian Sya’ir Habib ‘abdullah bin Syihab Rahimahullah:
Mereka adalah para kaum yang dikala malam membentangkan tirainya
menyingkirkan selimut mereka
dan tidak tertipu dengan kenikmatan dan kemegahan tempat tidurnya
Tetapi rindu dengan kehangatan tiang-tiang masjid sebagi tempat untuk bersimpuh dengan bersujud pada Sang Pencipta
melantunkan al-Qur’an dengan penghayatan menjadi irama yang indah
ditengah keheningan malam yang gulita memenuhi seruan Sang Pencipta.
Di masjid Bani Zahro terdapat sirr yang begitu agung
karena telah di pijak oleh kaki Sayyidina Al-Faqihil Muqoddam
begitu kuberharap dikala bersujud di masjid itu
tubuhku menyentuh bagian yang telah mereka duduki
hingga aku mendapat keagungan berkat mereka
Betapa banyak kaki-kaki mulia telah memijakinya
Orang-orang mulia shaleh dan terkemuka
malam harinya bersimpuh berderaian air mata
di tempat sujudnya
betapa banyak hamba yang singgah
mereka adalah pewaris serta penerus Sang Nabi SAW.
Ahad 03/08/1438 H. | 30/04/2017 M.
Mahasiswa Magister Al-Ahgaff Launching Dua Buku Sekaligus
Tarim – Setelah seminggu lalu dua penulis Indonesia melaunching karya-karyanya, kali ini, Jumat malam (17/11)lalu, kembali diadakannya peluncuran dua buku sekaligus dari satu penulis. Acara yang diprakarsai oleh Departemen Pendidikan dan Dakwah (DepDikDak) PPI Hadhramaut itu berlangsung tertib di mushalla bawah sakan Dakhily, Universitas Al Ahgaff.
Turut hadir Ketua DepDikDak, Ricky Faishol, staff-staffnya, para tamu undangan, serta audiens yang memadati mushala dimaksud.
Acara peluncuran dimulai jam 20.30. Dimoderatori oleh Sdr. Suhaimi dengan mempersilakan langsung kepada penulis yang sekaligus narasumber di malam itu juga.
Adalah Yunalis bin Abdul Gani (Yunalis Abgan) mahasiswa jenjang magister Univ. Al-Ahgaff program Ushul Fikih. Di awal pembicaraannya, putra asal Aceh itu menjelaskan kronologi penulisan kedua buku itu, ‘Hadhramaut, Negeri Impian’ dan ‘Tanyakan Aku Seputar Madzhabmu’. Keduanya merupakan karya-karyanya yang ia hasilkan dalam beberapa bulan terakhir ini.
Sesi pertama berlangsung bedah buku ‘Hadhramaut Negeri Impian’ selama sekitar 45 menit. Setelah itu berlanjut ke buku kedua, ‘Tanyakan Aku Seputar Madzhamu’. Ada beberapa keistimewaan buku kehadhramautan ini dibanding buku-buku seputar Hadhramaut lainnya. Tidak hanya traveling saja, atau biografi ulama saja, namun juga menyatukan tiga unsur sekaligus; traveling, biografi ulama dan sejarah.
“Dengan buku ini (Hadhramaut negeti impian, red) pasti pembaca akan bisa membayangkan bahwa Hadhramaut ini negeri yang diimpikan banyak orang”, ujarnya.
Sedangkan buku kedua merupakan buku berisi tanya-jawab seputar Madzhab Imam As-Syafi’i. Selain itu, juga disertakan dengan biografi singkat para ashabul wujuhnya Imam Syafi’i. Di akhir sesi, acara juga diisi dengan pembagian doorprieze berhadiah dua buku kepada para audiens. Acara berjalan lancar dan para hadirin penuh antusias itu ditutup pada pukul 22.00 KSA.
Mabruk alf mabruk, sdr. Yunalis Abgan atas launchingnya. Semoga semakin melejit semangatnya dalam menghasilkan karya-karya lainnya. Amiin (Ppi)
Institut Darul Ghuraba Tarim Wisuda Puluhan Pelajar Asal Indonesia
Tarim – Lembaga pendidikan Ilmu Hadits Institut Darul Ghuraba mewisuda lebih dari 20 pelajar asal Indonesia pada Sabtu malam (4/11). Acara prosesi wisuda ini dipimpin langsung oleh pimpinan tertinggi (Mudir Aam) lembaga Dr. Habib Abu Bakar Al-Adeni bin Ali Al-Masyhur beserta Pimpinan Institut (Amid Ma’had) Sayyid Dr. Mohammad bin Abdul Qader Alaydrus.
Acara ini dihadiri juga oleh para tamu kehormatan seperti Sayyid Abdullah Awadh bin Sumaith Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff, Habib Thohir Al-Haddar guru senior Darul Musthofa, juga tokoh pakar hadits Sayyid Dr. Alawi Syihab dan ulama lainnya.
Di Institut Darul Ghuraba ini kurikukumnya lebih memfokuskan pada kajian Ilmu Hadits, baik secara dirayah maupun riwayah, juga kajian Shahih Muslim maupun Shahih Bukhari dengan sanad guru yang menyambung sampai Rasulullah Saw. Ilmu-ilmu hadits itu disinergikan pula dengan mata kuliah Fiqih Transformasi (kitab Nubdzah Sughra) agar pelajar mampu menghadapi problematika kontemporer umat Islam zaman sekarang.
Di lembaga ini, mayoritas para peserta didik yang mendominasi adalah mahasiswa Universitas Al-Ahgaff Tarim. Memang salah satu keistimewaan Al-Ahgaff Tarim adalah memberi kesempatan dan kebebasan mahasiswanya untuk kuliah atau belajar tambahan di lembaga lain. Maka tak heran, banyak dari mahasiswa Al-Ahgaff yang tidak hanya kuliah di Al-Ahgaff saja, namun juga kuliah dan belajar di lembaga lain seperti Institut Darul Ghuraba dalam ilmu Hadits, Institut Al-Aydrus dalam Qiraat Sab’ah, Ribat Tarim dalam Fiqih dan lainnya.
Habib Abubakar Al-Adeni dalam sambutannya menegaskan bahwa; sungguh beruntung para pelajar yang ada di lembaga ini, mereka dididik langsung oleh guru pengajar yang tidak hanya memiliki gelar akademik saja, tapi juga memiliki sirr nubuwah (berkah kenabian) dengan sanad yang menyambung langsung sampai Rasulullah Saw.
“Pencuri (atau pencopet) itu para pelajar yang mengambil ilmu hanya secara zahirnya saja, tanpa menggubris ruhnya. Padahal Islam datang membawa ruh ilmu itu. Kalau hanya ilmu secara zahirnya saja orang munafiq juga punya”, ujar Habib Abubakar dengan bahasa Arab di sela-sela sambutannya.
Beliau merupakan pimpinan dari 9 lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai kota di provinsi Hadhramaut, seperti Universitas Al-Wasathiyah, Institut Darul Ghuraba dan Ribat Imam Al-Muhajir Husaisah. Beliau juga merupakan peletak pertama ilmu Fiqih Transformasi yang dikenal dengan Fiqih Tahawwulat. Selain sosok seorang pemikir Islam, beliau juga merupakan penulis produktif sekaligus penyair handal. Hampir setiap harinya beliau mencipta beberapa bait syair yang di tiap bulannya dikumpulkan menjadi satu buah buku Diwan (kitab kumpulan syair).
Usai berjalannya rangkaian acara dan prosesi wisuda, para hadirin beserta tamu kehormatan dihidangkan menu ramah tamah, lalu didendangkan beberapa qasidah syair khas Hadhramaut. Acara yang dimulai pukul 19.00 KSA hingga pukul 22.30 KSA ini berjalan lancar dan ditutup dengan doa akhir majelis di penghujung acaranya.
(Azro)
—OKTI X 2017—

“Dinamai apa kira-kira, ketika sebuah isu sensitif, menyudutkan, profokatif, kemudian -dengan bantuan media- menasional? Sepertinya kita semua semakin familiar dengan hal-hal ini. Namun pernahkah kita berusaha mencari ide solutifnya? Atau paling tidak mereka-reka apa sebab dan gejala dininya?”
Kali ini PCINU Yaman dan PPI Hadhramaut menyelenggarakan Olimpiade Karya Tulis Ilmia (OKTI) ke-10 dengan mengangkat tema “Membangun Kerukunan dengan Nilai-Nilai Spiritualitas” lewat ajang kepenulisan ini, kami ingin mengajak semua mahasiswa dan santri, untuk urun andil mengangkat nilai-nilai spiritualis yang sejak lama dihayati bangsa Indonesia untuk mempersatukannya.
Mariii ikutkan karyamu!!!!
🎁Apresiasi: 🎁💱💱
Juara I: Rp. 2.000.000 + Piagam Penghargaan
Juara II: Rp. 1.750.000 + Piagam Penghargaan
Juara III: Rp. 1.500.000 + Piagam Penghargaan
10 naskah terbaik akan dibukukan
📬📚*Ketentuan Lomba📚📬
1. Peserta OKTI X adalah pelajar aktif se-Indonesia, Timur Tengah dan Afrika baik mahasiswa ataupun santri.
2. Peserta harus menggunakan tema yang sudah ditentukan.
3. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) naskah.
4. Naskah ditulis dengan Bahasa Indonesia sesuai standart EYD dengan font Times New Roman, size font 12, spasi 1.15, ukuran kertas A4, dan margin top, bottom, left, right masing masing 3cm.
5. Naskah berbentuk artikel atau makalah dengan memuat satu halaman judul (disertai nama asli peserta dan tempat domisili) satu halaman pendahuluan, 4-8 isi, satu halaman kesimpulan dan saran serta satu halaman daftar pustaka.
6. Naskah asli peserta bukan plagiat, saduran, atau terjemahan, belum dipublikasikan di media manapun, dan tidak sedang diikut sertakan dalam perlombaan lain.
7. Naskah yang dikirim menjadi hak panitia OKTI X.
8. Penilaian meliputi 70% isi dan 30% metodelogi penulisan.
9. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
📑*Metodelogi Pengiriman📑
1. Peserta mengirimkan naskah melalui email ke oktiyaman2017@gmail.com dengan subjek (OKTIX/Judul Naskah/Nama penulis/ Negara Domisili/Nama lembaga belajar). contoh: (OKTI X/Islam dan Nasionalisme/ISMAIL ZAYYADI/YAMAN/UNIV, AL AHGAFF).
2. Peserta mengirimkan dua file (Naskah dan Biodata Penulis disertai nomor HP, Nama Lembaga Belajar dan alamat domisili) dalam attachment bukan di badan email.
📱*Contact Person📱
– Taufan Azhari: +967 772 949 196 (wa)
– Badrul Huda: +967 776 072 763 (wa)
– Riki Faisol: +967 772 376 618 (wa)
– Ismail Zayyadi: +967 715 132 576 (wa)
👥 Event ini didukung oleh:
PPI Yaman, PPI Timteng dan Afrika, PPI Dunia serta AIS Nusantara.
info Lebih Lanjut
www.ppihadhramaut.com
www.nuyaman.com
FP: PCINU Yaman , PPI Yaman, PPI Hadhramaut 2017.
IG: PCINU Yaman , PPI Yaman, PPI Hadhramaut.
TAK PERNAH DIHADIRI KBRI, SANG SAKA MERAH-PUTIH TETAP BERKIBAR DI HADHRAMAUT

Yaman – Jauh dari bumi pertiwi, tak menyurutkan semangat pelajar Indonesia di Provinsi Hadhramaut untuk mencintai NKRI, salah satu caranya dengan merayakan HUT RI ke-72, Kamis (17/08).
Yang sangat disayangkan, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Yaman yang saat ini berdomisili di Salalah, Oman, tidak menghadiri perayaan itu, meski begitu, namun sang saka merah-putih tetap berkibar.
“Iya Kang, sudah empat tahun kita rayakan kemerdekaan di Bumi Sejuta Wali ini, namun tak pernah sekalipun dihadiri pihak KBRI. Kalau ditanya kenapa, ada aja alasannya.” Ujar salah seorang pelajar yang dengan khidmat mengikuti serangkaian acara malam itu.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut-Yaman, bekerjasama dengan PCI NU Yaman, FMI Yaman, FLP Hadhramaut, AMI Al-Ahgaff dan organisasi lainnya.
Pesta rakyat ini dibuka dengan upacara bendera yang dilaksanakan di lapangan Univ. Al-Ahgaff, kota Tarim. Upacara yang dimulai pukul 20.30 waktu Yaman ini sukses dihadiri para pelajar Indonesia lintas lembaga. Tampak Sang Saka Merah Putih berkibar gagah di langit Yaman disambut dengan hormat para hadirin dan diiringi lagu kemerdekaan yang sarat dengan kesyahduan.
Inspektur upacara, KH. M. Faiz Nur Khalis, Lc, MA., menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia yang telah berumur 72 tahun ini adalah hadiah dan anugerah dari Allah yang wajib dijaga dan wajib disyukuri.
“Di negeri seribu wali ini (Yaman, red), kami masyarakat Indonesia menyatakan akan kecintaannya, dan selalu mendoakan tanah air tercinta, NKRI harga mati, dan bersyariah seperti yang diharapkan para ulama pejuang terdahulu”. Ujar kyai yang merupakan salah seorang pendiri Cabang Istimewa NU di Yaman ini.
NKRI ini, lanjutnya, jika berjalan sesuai syariat Islam maka siapapun warganya tidak akan ada yang tertindas, meskipun ia non muslim, sebab Islam mengajarkan semua manusia akan pentingnya nilai toleransi.
Sementara dari ketua PPI Hadhramaut, Taufan Azhari, sangat mengapresiasi khidmat para panitia acara, juga antusias para pelajar Indonesia yang hadir di acara itu.
“Saya sangat berterimakasih pada semua pelajar Indonesia di Yaman, atas kehadiran dan partisipasinya, lebih-lebih untuk para panitia, semoga semuanya dibalas kebaikan oleh Allah”, ujar Taufan di tengah-tengah sambutannya.
Rangkaian acara dikemas begitu menarik. Pesta rakyat ini diramaikan dengan bazar makanan khas nusantara, penampilan Pencak Silat, Tari Jafin dan pada sesi terakhir pembagian hadiah Gebyar Lomba Agustusan yang diadakan PPI Hadhramaut sejak awal bulan Agustus lalu. Dalam hal ini, Keramat Jatim, organisasi pelajar Indonesia asal Jawa Timur keluar sebagai juara umumnya.
Sedangkan dalam bazar makanan, tampak beberapa aneka menu makanan khas tiap daerah di Nusantara tersajikan di stan-stan yang telah disediakan panitia. Para pelajar Indonesia dari setiap provinsinya berlomba-lomba menyajikan menu masakan khas asal daerahnya. Ada Mie Ayam, Bakso, Soto Ayam, Pecel, Gado-Gado, Lontong Opor, Sate, Bakwan, Pisang Goreng dan juga aneka minuman seperti Es Teh dan Sup Buah.
Acara pesta rakyat ini berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali, dimulai pukul 19.30 sampai pukul 24.00 waktu Yaman. Hut NKRI, dari Yaman, untuk NKRI. ()
Klarifikasi berita Pemulangan 2 ( dua )Pelajar Indonesia :

Klarifikasi berita Pemulangan 2 ( dua )Pelajar Indonesia :

Depres PPI Yaman dengan ini mengklarifikasi berita pemulangan Evakuasi 2 WNI yang di beritakan terlantar. Bahwasanya 2 WNI tersebut adalah 2 Mahasiswa Indonesia yang telah selesai menempuh program Studi S1 di Universitas Al Ahgaff Hadhramaut Yaman dan bahwasanya TIDAK BENAR berita yang telah di muat di website : kemlu.go.id yang menyatakan bahwasanya 2 ( dua ) Pelajar tersebut terlantar. Memang salah satu dari mahasiswa yang pulang tersebut dalam keadaan sakit ( M. Mahsun ) dan di temani oleh salah satu Mahasiswa ( Ahmad Anas ) . Namun kedua Mahasiswa tersebut memang telah menyelesaikan studinya di Universitas Al Ahgaff dan mendapat Bachelors of Science .
Demikian Kami sampaikan klarifikasi ini agar bisa di maklumi oleh Seluruh WNI dimanapun berada dan meminta kepada KBRI Sana’a untuk meluruskan berita yang telah di muat di website kementrian Luar Negeri tersebut.
Terima Kasih.
Cengkok Khas Habib Syekh Membuat Nostalgia Pelajar Indonesia
“Rasane koyo neng Indonesia yo.” Ucap salah satu pelajar Indonesia yang menghadiri acara Hadhramaut Bershalawat pada Jumat malam, 28 Juli 2017.
Seusai kedatangan tamu besar yang mengisi seminar kebangsaan di bulan Syawal kemarin, warga Indonesia yang berdomisili di wilayah Tarim dan sekitarnya kembali kedatangan tamu agung lainnya pada bulan Dzulqo’dah kali ini. Beliau adalah Habib Syekh Bin Abdul Qodr Assegaf, salah satu Habib yang begitu digandrungi masyarakat Indonesia dengan cengkok suara khas yang dimiliknya.
Kedatangan beliau ke Ribath Imam Muhajir, Husaisah kali ini merupakan suatu bentuk kehormatan bagi persatuan pelajar Indonesia (PPI) Yaman dan persatuan pelajar Indonesia (PPI) wilayah Hadhramaut. Karena, beliau telah berkenan memenuhi undangan untuk mengisi acara Hadhramaut Bershalawat sebagai bentuk sambutan momentum kemerdekaan Indonesia yang ketujuhpuluh dua sekaligus doa bersama untuk keselamatan saudara-saudara seiman kita yang ada di Palestina.
Acara Hadhramaut Bershalawat ini sendiri sukses diselenggarakan atas kerjasama PPI Yaman, PPI Hadhramaut, PCINU Yaman, FMI Yaman, AMI Al-Ahqaff dan organisasi-organisasi daerah pelajar Indonesia yang ada di Yaman. Bahkan, tak segan Habib Syekh memuji kesuksesan acara ini meskipun sebenarnya acara tersebut bisa digolongkan sebagai acara yang begitu mendadak.
Pada pukul 19.20 KSA, Maulana Kamal, mahasiswa Universitas Al-Ahqaff yang berasal dari Banjar membuka acara tersebut dengan runtutan susunan acara sebagai berikut : 1. Pembukaan. 2. Pembacaan ayat suci Al-Quran, 3. Sambutan, 4. Pembacaan Maulid dan Qasidah, 5. Doa, 6. Menyanyikan lagu Indonesia raya dan diakhiri dengan penutup.
Sebelum acara dibuka dengan rotib Al-fatihah oleh habib Muhammad dari Ribath Husaisah, beliau berwasiat kepada segenap hadirin yang ada untuk senantiasa bertakwa kepada Allah.Pun demikian beliau juga berwasiat untuk selalu mengikuti perintah Allah dan juga Rasulillah. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa ulama-ulama Hadhramaut sejak zaman Al-Faqih Al-Muqoddam sudah banyak yang melakukan perjalanan ke Hindia. Lalu ke malaya. Baru setelah itu ke Indenosia. Sehingga mereka punya keturunan di sana.
Setelah pembukaan, seperti biasa pembacaan tilawah Al-Quran dilantunkan oleh Imam Rahmatullah, mahasiswa universitas Al-Ahqaff yang berasal dari Lombok. Sementara itu, Jihad Muluk selaku sekertaris jendral PPI Yaman mewakili segenap panitia menyampaikan sambutannya pada acara tersebut.
Habib Syekh pada akhirnya menyapa para hadirin dengan suara merdunya setelah sambutan tersebut. Beliau menyampaikan perasaan senangnya yang luar biasa karena mampu berjumpa dengan warna negara Indonesia dengan jumlah yang luar biasa banyaknya pada kunjungan beliau ke Hadhramaut kelima kalinya ini. karenanya, beliau meminta hadirin untuk ikut berteriak mendendangan shalawat bersamanya. Karena sebagaimana filosofi orang Jepang, di mana teriakan akan membuat lebih bersemangat, beliau meminta untuk tidak hanya sekedar medengatkan. Karena dalam mendengarkan tersebut, hanya telinga saja yang mendapatkan manfaatnya,
Sebagai tembang pembuka, habib Muhammad bin Hadi, cucu beliau menyanyikan lagu qod kafani robbi dengan suara anak-anaknya. Tentu saja, hal ini membuat decak kagum dari penonton. Karena di usia yang sedemikian kecilnya itu, ia sudah percaya diri bernyanyi di hadapan khalayak ramai. Setelah itu, satu demi satu habib Syekh mendendangkan shalawat dan qosidah-qosidah andalannya. Dan tentu saja, pelajar Indonesia yang ada di convention hall Habib Abdul Qodir Al-Idrus tersebut hanyut dalam susasana sebagaimana wajarnya. Jiwa-jiwa Syekher Mania yang sempat lama terpendam, kembali hidup bergembira bersama sang Habib mendendangkan shalawat-shalawat kepada kakek beliau, nabi Muhammad S.A.W.
Di sela-sela qosidahnya, beliau berpesan kepada segenap pelajar Indonesia yang ada Yaman, untuk terus-menerus menuntut ilmu, terus-menerus mencari keberkaha selagi masih di Yaman, di negeri leluhur beliau. Beliau juga meminta hadirin untuk sering-sering mengunjungi guru dan habaib yang ada di sini juga meminta petunjuk dari mereka.
Pada akhir acara, beliau memuji sound sistem dan grup hadroh mahasiswa universitas Al-Ahqaff atas penampilan mereka. Beliau tak segan memberi mereka julukan Syekher mania kepada mereka.
Beliau juga meminta untuk di doakan agar dapat sering-sering mampir ke Hadhramaut, paling tidak setahun dua kali. Karena beliau sendiri mengatakan “Ruh saya di sini meskipun raga saya di Indonesia. Karena di sinilah tempatnya ruhaniyah.”
Acara ditutup dengan pembacaan doa untuk keselamatan saudara-saudara kita di tanah quds, Yerussalem dan kesuksesan acara penyambutan momentum proklamasi Indonesia ketujuhpuluh dua yang nantinya akan diselenggarakan oleh PPI Yaman dan PPI wilayah Hadhramaut.
PENGUMUMAN PENDAFTARAN S2 FAKULTAS SYARIAH WAL QANUN UNIVERSITAS AL AHGAFF TARIM


Berdasarkan ketetapan Dewan Tertinggi S2 dan Dewan Tertinggi Universitas, yang dilaksanakan di Kota Mukalla pada hari Ahad dan Senin, 16-17 Juli 2017 tentang pembukaan S2 Fakultas Syariah dan Qanun jurusan Fiqh dan Ushul dengan masa belajar 2 tahun untuk lulusan Fakultas Syariah Univ. Al Ahgaff dan 3 tahun untuk lulusan Fakultas Syariah selain Univ. Al Ahgaff, maka bagi yang ingin mendaftar harap memenuhi persyaratan sbb :

1. Pendaftar adalah lulusan Fakultas Syariah dengan nilai tidak kurang dari predikat “Jayyid”.
2. Wajib mengikuti ujian muqabalah.
3. Tidak di-DO dari universitas.
4. Membayar infaq sebesar 1000 $ Dollar Amerika.

Berkas persyaratan yang harus dipenuhi:

1. Mengisi formulir pendaftaran.
2. Foto kopi Ijazah SMA/MA/Sederajat terlegalisir.
3. Foto kopi Ijazah S1 terlegalisir.
4. Foto kopi hasil nilai S1 terlegalisir.
5. Foto kopi KTP/PASSPORT
6. Surat rekomendasi dari suatu instansi perusahan jika pendaftar adalah karyawan.
7. Surat rekomendasi dari Lembaga Pelajar Asing untuk pelajar pendatang dari luar Yaman di lembaga tertentu.
8. Pas foto 6×4 sebanyak 6 lembar.
9. Diserahkan dengan map.
10. Uang pendaftaran sebesar 15.000 RY

CP : 00967-5-513224
Pendaftaran dibuka mulai dari tanggal 30 Juli 2017.

RSS
Follow by Email
YouTube
Instagram
Telegram
WhatsApp