Search for:
Sang Mutiara dari Dua Mutiara Tanah Banjar

 Dari kota Martapura, salah seorang ulama yang terkenal namanya bagi masyarakat Banjar ‎‎(Martapura) dan masyarakat Bangil (Pasuruan) khususnya, adalah Al-‘Alim Al-Fadhil Syekh Muhammad Syarwani bin ‘Abdan bin Yusuf bin Ahmad bin Sholih bin Thohir bin Syamsuddin bin Sa’idah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari.

Seorang ulama yang alim dan tawadhu’. Keluasan dan ketinggian ilmu beliau diakui, sehingga ‎banyak orang yang belajar dan menuntut ilmu kepada beliau, termasuk pula para kiyai yang ada di ‎Kota Pasuruan, Bangil dan sekitarnya. Semasa hidupnya, beliau menjadi referensi bagi para guru agama ‎dan masyarakat dalam memecahkan berbagai permasalahan keagamaan. ‎

Beliau dilahirkan di Kampung Melayu Ilir Martapura. ‎Tidak diketahui secara pasti kapan tanggal kelahiran beliau, dari beberapa catatan yang ada hanya ‎dituliskan tahun kelahiran beliau 1915 M/1334 H.‎

Guru Bangil terlahir dari keluarga yang agamis dan dikenal luas oleh masyarakat Martapura sebagai ‎‎‘keluarga alim.  Ayahnya bernama H. Muhammad Abdan bin H. Muhammad Yusuf, sedangkan ‎ibunya bernama Hj. Mulik. Guru Bangil mempunyai 7 orang saudara kandung: H. Ali, Hj. Intan, Hj. Muntiara, Abd. Razak, Husaini, Acil, dan H. ‎Ahmad Ayub. Selain mempunyai saudara sekandung yang berjumlah 7 orang, Guru Bangil juga mempunyai ‎saudara seayah, di antaranya adalah Abd. Manan dan H.M. Hasan.‎
Syekh Syarwani Abdan atau yang lebih ‎akrab dipanggil dengan sebutan Guru Bangil adalah cicit buyut dari ulama terkenal di seantero Asia ‎dan Saudi Arabia‎ Syekh Arsyad Al-Banjari(Datuk Kelampayan) yang dikenal aktif berdakwah dan berjuang tanpa pamrih.Beliau sendiri juga merupakan kerabat dari Ulama Karismatik Banjar KH.Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani(Guru Sekumpul).

Menurut silsilahnya, Guru Bangil merupakan zuriat ke-8 dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ‎dari istri Al-Banjari yang kedua, yang bernama Tuan Bidur. Moyang Guru Bangil yang bernama ‎Sa’idah adalah anak dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Tuan Bidur. Sa’idah memiliki ‎saudara tiga orang, yakni ‘Alimul ‘Allamah Qadhi H. Abu Su’ud, ‘Alimul ‘Allamah Qadhi ‎H. Abu Na’im, dan ‘Alimul ‘Allamah Khalifah H. Syahabuddin.‎

Keilmuan dan kiprah keagamaan beliau telah memberikan sumbangsih besar ‎terhadap ‎pembangunan mental spiritual umat, tidak hanya di daerah kelahiran beliau Kota ‎Martapura dan ‎sekitarnya, akan tetapi juga di Kota Bangil (Pasuruan).‎ Karenanya, bagi ‎masyarakat Banjar dan masyarakat Bangil, nama Guru Bangil, ‎pendiri Pondok Pesantren Datu ‎Kalampayan di Kota Bangil Kabupaten Pasuruan Jawa Timur ‎tidaklah asing lagi‎.‎

Sejak kecil beliau sudah terbina ‎iman tauhid dan hati yang bersih untuk bermunazat kepada Dzat Yang Maha Agung dan Suci.‎ Pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama yang dirasakan oleh Guru Bangil. ‎Berdasarkan catatan H. Abu Daudi dalam bukunya, “Maulana Syekh Muhammad Arsyad ‎al-Banjari: Tuan Haji Besar”, sejak kecil Guru Bangil sudah dikenal sebagai seorang yang memiliki ‎himmah kuat untuk belajar dan menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Beliau dikenal sebagai ‎anak yang rajin dan tekun dalam belajar, sehingga disayangi dan disenangi oleh guru-guru beliau. ‎Terlebih-lebih beliau berasal dari dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang agamis dan ‎‎kota “Serambi Mekkah”, Martapura.
Pendiri pondok pesantren datu kalampayan Bangil ini, pada usia mudanya mendalami ilmu agama di pondok pesantren Darussalam martapura pimpinan syekh Kasyful Anwar Al-Banjari yang merupakan paman beliau sendiri.Beliau juga belajar dengan para Alim Ulama terkenal lainnya di Kota Martapura.‎

Dari sejumlah ulama besar yang hidup pada waktu itu, antara lain kepada ‘Alimul Fadhil Qadhi H.M. Thaha, dan ‘Alimul Fadhil ‎H. Isma’il Khatib Dalam Pagar, Martapura.‎Beliau juga pernah belajar ilmu agama dengan Guru Mukhtar Khatib, di mana menurut cerita yang ‎berkembang, beliau belajar sambil mengayuh jukung (perahu).

Setelah cukup banyak belajar ilmu agama di Martapura, Guru Bangil pada usia yang masih muda berkeinginan untuk menuntut ilmu dan mendapati Kota Bangil sebagai ‎tujuan memperdalam ilmu.Dengan meninggalkan daerah asalnya Martapura menuju pulau Jawa dan memutuskan untuk ‎bermukim di Kota Bangil.

Selama beberapa tahun di kota Bangil, beliau sempat belajar dan berguru pada ulama-ulama ‎terkenal di kota Bangil dan Pasuruan antara lain ‎KH. Muhdar Gondang Bangil, KH. Abu Hasan Wetan Angun Bangil, KH. Bajuri Bangil dan KH. ‎Ahmad Jufri Pasuruan.‎

Menginjak usia 16 tahun, Tuan Guru Syekh Syarwani Abdan Al Banjari dengan dasar keilmuan yang tinggi berangkat ke Tanah Suci Mekkah Al Mukarramah untuk menuntut ilmu kepada ulama besar di sana, bersama saudara sepupu beliau yakni Syekh Al-Mufassir walmuhaddits Anang Sya’roni Arif‎ dalam pengawasan dan bimbingan penuh paman beliau sendiri yakni Al ‘Allimul ‘Allamah Tuan Guru Muhammad Kasyful Anwar yang pada saat itu juga sedang bermukim di Mekkah.

Selama di Mekkah, Guru Bangil menuntut berbagai cabang ilmu agama dengan beberapa orang guru, di antaranya adalah kepada  ‘Alimul ‘Allamah Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Syekh Umar Hamdan, dan ‘Alimul ‘Allamah H. Muhammad Ali bin Abdullah Al-Banjari.Di samping itu, Guru Bangil juga belajar dan mengkaji ilmu kepada Syekh Sayyid Alwi al-Maliki, Syekh Muhammad Arabi, Syekh Hasan Massyath, Syekh Abdullah Bukhori, Syekh Saifullah Andagistani, Syekh Syafi’i Kedah, Syekh Sulaiman Ambon, dan Syekh Muhammad Ahyad Al-Buguri Al-Batawi. Abu Nazla menambahkan bahwa selama di Mekkah, Guru Bangil dan Guru Anang Sya’rani Arif juga belajar kepada Syekh Bakri Syatha dan Syekh Muhammad Ali bin Husien al-Maliki.
Beberapa tahun bermukim di Mekkah,berbagai cabang ilmu agama telah dikaji dan dipelajari oleh Guru Bangil. ‎Banyak pula silsilah sanad, ilmu dan amal yang beliau terima. Salah satu cabang ilmu yang ‎menonjol yang dikuasai oleh Guru Bangil adalah ilmu tasawuf. Di bidang ilmu tasawuf ini, Guru ‎Bangil telah menerima ijazah tarekat Naqsabandiyah dari ‘Alimul ‘Allamah Syekh Umar ‎Hamdan dan ijazah tarekat Sammaniyah dari ‘Alimul ‘Allamah H. Muhammad Ali bin Abdullah ‎al-Banjari. Ijazah tarekat Idrisiyah diterima dari ‘Alimul ‘Allamah Syafi”i bin Shalih ‎al-Qadiri.

Beliau dikenal sebagai murid utama dan khalifah dari guru besar bidang tasawuf, Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi untuk Tanah Jawa (Indonesia). Dari Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi inilah Guru Bangil banyak belajar dan mengkaji ilmu, khususnya tasawuf.Tidak mengherankan jika kemudian Guru Bangil menjadi seorang ulama yang wara, tawadhu’ dan khumul, hapal Al Quran serta menghimpun antara syariat, tarekat, dan hakikat.

Guru Bangil juga merupakan salah seorang guru tasawuf dari ‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. ‎Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau hangat disapa dengan sebutan  Guru Sekumpul.
Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari dan Al ‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru Anang ‎Sya’rani Arif dikenal oleh gurunya sebagai murid yang tekun dan menghabiskan waktunya ‎untuk menuntut ilmu agama.”Guru-guru mereka sangat sayang karena melihat bakat dan kecerdasan ‎mereka berdua”,demikian yang tergambar dalam Manaqib Guru Bangil berkenaan dengan ‎semangat dan ketekunan dua saudara sepupu tersebut dalam dan selama menuntut ilmu.
Keadaan dan ketekunan mereka berdua selama menuntut ilmu di Mekkah juga diibaratkan, “Siang ‎bercermin kitab dan malam bertongkat pensil”.Sehingga wajar jika kemudian dalam beberapa ‎tahun saja mereka berdua mulai dikenal di Kota Mekkah dan mendapat julukan “Dua Mutiara dari ‎Banjar”. Bahkan mereka berdua mendapat kepercayaan untuk mengajar selama beberapa tahun di ‎Masjidil Haram (Mekkah) atas bimbingan Syekh Sayid Muhammad Amin kutbi.

‎ Setelah Lebih dari 10 tahun lamanya menimba ilmu di tanah suci Makkah al-Mukarromah, Al ‎Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari dan Al Alimul Allamah Tuan Guru Anang Sya’‎rani Arif Al Banjari pulang ke Indonesia pada tahun 1941. Setelah berada di tanah air beliau menggelar pengajian ‎majelis ta’lim di rumah dan mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Sekembali dari Kota Mekkah al-Mukarramah, Guru Bangil pernah ditawari untuk menduduki ‎jabatan Qadhi di Martapura, namun jabatan tersebut beliau tolak. Beliau lebih senang berkhidmat ‎secara mandiri dalam dunia pendidikan, dakwah, dan syiar Islam, di mana muthala’ah, halaqah ‎dakwah, ta’lim (mengajar), dan menulis (menghimpun) risalah menjadi aktivitas rutin beliau ‎sehari-hari.‎

Setelah kurang lebih berdiam selama 5 tahun di Martapura, Guru Bangil kemudian memutuskan untuk hijrah ke Kota Bangil pada tahun 1946 menyusul keluarga yang telah terlebih dahulu berdiam di sana.‎

Di Kota Bangil inilah, Guru Bangil dikawinkan dengan Hj. Bintang binti H. Abdul Aziz ketika ‎berusia lebih dari 30 tahun. Hj. Bintang masih terhitung dan memiliki hubungan keluarga dengan ‎beliau, karena Hj. Bintang adalah anak paman beliau, yang berarti saudara sepupu. Dari ‎perkawinannya dengan Hj. Bintang binti H. Abd. Aziz ini, Guru Bangil mendapatkan beberapa ‎orang anak, di antaranya: KH. Kasyful Anwar, Zarkoni, Abd. Basit, Malihah, dan Khalwani.‎
Setelah isteri beliau yang pertama (Hj. Bintang) meninggal dunia, beliau kemudian kawin lagi ‎dengan Hj. Gusti Maimunah. Dari perkawinannya dengan Hj. Gusti Maimunah ini beliau ‎mendapatlan beberapa orang anak lagi, di antaranya adalah Hj. Imil, Noval, Didi, Yuyun, dan ‎Mahdi.

Isteri beliau yang ketiga adalah Hj. Fauziah. Dari perkawinan dengan Hj. Fauziah ini, beliau ‎mendapatkan beberapa orang anak pula, di antaranya adalah M. Rusydi, Abd. Haris, dan ‎Busra.Menurut keterangan Ustadz H. Mulkani jumlah anak beliau keseluruhan adalah 28 orang.‎

KH. Kasyful Anwar, anak Guru Bangil dari perkawinan beliau dengan Hj.Bintang  yang merepukan anak tertua beliau inilah yang menjadi generasi penerus dalam melaksanakan ‎aktivitas pendidikan dan dakwah serta pengelolaan Pondok Pesantren Datu Kalampayan di Kota ‎Bangil hingga sekarang. Di samping itu beliau juga tercatat sebagai seorang dosen tetap pada ‎Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.‎

Sewaktu di Kota Bangil, Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari tidak mau membuka pengajian dikarenakan begitu tawadhunya beliau dan menyadari bahwa Bangil bukan wilayah Beliau. Namun para Alim Ulama di Jawa Timur menyadari dan mengetahui ketinggian ilmu dan Waranya Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari,sehingga bagaimanapun beliau menyembunyikan ilmu dan amal beliau namun diketahui jua oleh Alim Ulama Jawa Timur.

Setelah beberapa tahun berdiam di kota Bangil, Guru Bangil mulai mengajar dan mengabdikan ilmunya secara luas kepada masyarakat setelah mendapatkan restu dari Kyai Hamid Pasuruan yang merupakan ulama Sepuh pada waktu itu.
Di samping muthala’ah dan membuka pengajian, Guru Bangil juga mendirikan sebuah pondok pesantren untuk kaji duduk ilmu-ilmu agama yang diberi nama “Pondok Pesantren Datuk Kalampayan” pada kurang lebih tanggal 27 Rajab 1390 H/sekitar bulan September 1970 an‎. Santri-santrinya kebanyakan berasal dari Kalimantan, terutama dari Kalimantan Selatan. Diantara ‎santri yang pertama kali belajar belajar di Pondok Pesantren ini adalah Syekh Muhammad As’ad bin ‎Alimul Fadhil Qadhi H. Muahmmad Arfan Al Banjari Dalam Pagar Martapura.‎
Pondok Pesantren tersebut langsung ditangani sendiri oleh Guru Bangil. Beliau juga aktif dan tanpa ‎kenal lelah mengajarkan ilmu kepada para santri, sekalipun dalam keadaan sakit. Malam hari pun ‎diisi dengan berbagai kegiatan amaliyah, halaqah, dan muthala’ah. Sehingga, banyak para santri ‎beliau yang kemudian menjadi orang alim dan tersebar diberbagai daerah, baik di Kalimantan, Jawa, ‎Sumatera, dan lain-lain untuk meneruskan perjuangan Islam. Di antara ‎waktu beliau banyak dihabiskan untuk mengajar, muthala’ah, dan ibadah. ‎
Menurut santri-santrinya, Guru Bangil adalah sosok seorang guru yang bisa memahami dengan baik ‎kemampuan, karakter dan bakat santri-santrinya. Sehingga mereka merasa dididik sesuai dengan ‎kemampuan mereka masing-masing.‎

Di samping menguasai ilmu pengetahuan agama yang dalam, Guru Bangil juga mempunyai keahlian ilmu bela diri(silat). Keahlian dalam ilmu bela diri ini juga Beliau ajarkan kepada santri-santrinya sebagai bekal bagi mereka untuk berdakwah melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Salah seorang santri beliau yang mewarisi dengan baik ilmu bela diri ini adalah (Alm.)Guru Masdar Balikpapan.
Di luar pengajaran beliau di pondok pesantren, beliau juga membuka mejelis-majelis ilmu untuk masyarat. Dalam mengajar, Guru Bangil biasanya tidak panjang lebar menjabarkan dan menjelaskan suatu ‎permasalahan, beliau hanya menyampaikan apa yang ada dalam kitab dan telah dibahas secara ‎panjang lebar oleh ulama penulis kitab. Sehingga, ketika ada yang bertanya atau mengajukan suatu ‎permasalahan, beliau menjawabnya tidak dengan pendapatnya sendiri, tetapi beliau tunjukkan dan ‎mengutip dari pendapat para ulama dengan menyebutkan kitab-kitabnya.‎
Guru Bangil juga aktif menulis berbagai risalah agama berupa pelajaran dan pedoman praktis dalam ‎memantapkan keyakinan dan amaliah beragama masyarakat. Satu di antara risalah beliau yang ‎sangat terkenal, dicetak, dan beredar secara luas di tengah-tengah masyarakat adalah buku yang ‎berjudul “Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli Al-Istiqamah” (Simpanan berharga bagi orang yang istiqomah). Risalah ini berisi pembahasan tentang ‎masalah talqin, tahlil, dan tawassul.‎

Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli Al-Istiqamah adalah salah satu karya tulis Guru Bangil yang paling ‎populer, karena pembahasan yang ada di dalamnya. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun ‎‎1967. Buku ini juga pernah berhenti dicetak karena ada oknum yang ‎memperjualbelikannya untuk mengambil keuntungan pribadi, sedangkan Guru Bangil tidak mau karya beliau ini ‎diperjual belikan.

‎“Sesungguhnya dicabut ilmu itu oleh Allah Swt dengan kewafatan ulama”.

Setelah sekian banyak ‎mencetak kader ulama dan berkhidmat dalam dakwah, meningkatkan ilmu dan amal bagi ‎murid-murid dan masyarakat luas.Akhirnya pada hari senin malam selasa tanggal 13 Shofar 1410/ 11 September 1989, sekitar jam ‎‎19.00 beliau dipanggil kepangkuan Allah SWT diusia ke 74 tahun, dimakamkan di pemakaman Al-Haddad di Dawur, Kota Bangil‎, dekat Qubah ‎Makam Al Habib Muhammad bin Ja’far al-Haddad.‎ Makam beliau sering ‎diziarahi oleh masyarakat Muslim dari berbagai penjuru daerah, tak terkecuali dari Kalimantan ‎Selatan.

Guru Bangil sendiri banyak meninggalkan contoh yang patut untuk diteladani, beliau meninggalkan kebaikan yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kehadiran beliau di tengah masyarakat Banjar dan Bangil terasa sangat luar biasa. Untuk memperingati dan mengingat jasa-jasa beliau, serta untuk mengikuti jejak dan perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam, saban tahun, yakni setiap tanggal 12 Shafar diadakan haul. Guru Bangil, yang selalu dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai, terutama jamaah dari Kalimantan serta murid-murid beliau.

CERITA TENTANG KETAWADHUAN DAN KEWARAAN SYEKH SYARWANI ABDAN

Siapa yang tidak mengenal ketawadhuan dan kearifan Beliau dalam menegakkan Dakwah Islam dan ‎menyejukkan jutaan hati Hamba Allah agar selalu Mengingat-NYa. Sungguh Orang yang berjalan ‎untuk mencari ilmu dan mendatangi Majelis Ilmu yang beliau pimpin mendapatkan karunia ‎dari-Nya.‎

Guru Bangil di mata guru-gurunya memang dikenal sebagai seorang murid yang cerdas, namun ‎beliau sendiri tidak mau menampakkan kecerdasan tersebut, beliau selalu sederhana dan bahkan ‎merendahkan hati, sehingga banyak orang yang tidak tahu tentang beliau. Cerita tentang kedatangan ‎beliau di Bangil dan tidak mau membuka pengajian karena penghormatan terhadap ulama yang ada ‎di sana merupakan bukti kuat bahwa beliau adalah seorang yang tidak suka menyombongkan diri, ‎sebaliknya bersikap hormat dan selalu rendah hati. Bahkan untuk menutupi ketinggian ilmunya ‎setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di Mekkah, selama tinggal di Bangil beliau menutupi diri ‎dengan menjadi pedagang. Beliau juga tidak merasa kecil hati untuk belajar dan menuntut ilmu ‎kepada para ulama yang ada di Kota Bangil dan Pasuruan.‎

Menurut cerita salah seorang dari muridnya, dalam salah satu tausiyahnya (agar tidak sombong) Guru Bangil juga pernah berkata dan menyatakan bahwa beliau bukanlah orang cerdas sebagaimana yang disangkakan orang, beliau hanya rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga etika belajar, hormat dengan guru dan tawakkal kepada Allah.

Guru Bangil adalah seorang yang pandai menyembunyikan diri (tidak suka pamer, sombong, atau takabbur), walaupun memiliki ilmu agama yang luas. Selama menuntut ilmu di Mekkah sampai mendapat julukan “Mutiara dari Banjar”, pernah mengajar di Masjidil Haram, namun beliau tetap rendah hati dan sederhana, sehingga di awal-awal berdiamnya beliau di Kota Bangil, banyak orang yang tidak mengetahui siapa beliau sebenarnya, kecuali sesudah diberitahu oleh Kyai Hamid yang merupakan Kyai Sepuh di Kota Pasuruan.

Diantara bukti dari kewaraan  Guru Bangil adalah enggannya beliau untuk karya tulisnya diperjual-belikan, itulah sebabnya beberapa risalah yang ‎beliau himpun hanya ditulis dan beredar secara terbatas, karena tidak dicetak. Buku Al-Dzakhirat ‎al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah yang tersebar secara luas itupun beliau izinkan untuk dicetak atas ‎amal jariyah seorang donator, sehingga dibagikan secara gratis kepada masyarakat.‎

Dalam masalah kehidupan Guru Bangil dikenal sebagai seorang ulama yang sangat zuhud. Beliau ‎pernah diberi hadiah mobil dan rumah mewah, tetapi semua itu ditolak beliau. Sampai meninggal ‎dunia beliau tidak meninggalkan harta kepada anak cucu beliau. Beliau sangat hati-hati dalam hal-hal ‎keduniawian.
Menurut pengakuan Abah Guru Sekumpul, Guru Bangil mempunyai kepribadian yang sangat ‎sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga tidak banyak yang tau bahwa beliau adalah ‎seorang ulama besar. Berpakaian sangat sederhana, bahkan beliau tidak mempunyai lemari pakaian ‎khusus dan ranjang di kamarnya, pakaian beliau hanya numpang di bagian lemari kitabnya. Beliau ‎ulama yang telah mengambil jalan Khumul, yaitu menjauh dari keramaian, tidak suka dan berharap ‎kepada kemasyhuran/ketenaran. Sampai-sampai Syekh KH.Abdul Hamid Pasuruan mengatakan: ‎‎“Saya ingin sekali seperti KH.Syarwani, dia itu alim tapi mastur (tertutup/tersembunyi), tidak ‎masyhur. Kalau saya sudah terlanjur masyhur, jadi saya sering kerepotan karna harus melayani ‎banyak orang/tamu. Menjadi masyhur itu tidak mudah, bebannya berat. Kalau KH.Syarwani itu ‎enak, jadinya tidak banyak didatangi orang”‎
Pernah Suatu ketika sekelompok ulama/kiayi berkumpul dan hendak memperdalam ilmu agama ‎kepada KH.Abdul Hamid, lalu beliau menolak dan menganjurkan untuk bertemu dengan KH.Bangil, ‎akhirnya mereka berangkat menuju rumah Kiyai Bangil dengan mempersiapkan sejumlah pertanyaan ‎untuk mengetahui seberapa dalam kah ilmu Guru Bangil itu. Ketika mereka sampai di rumah Guru ‎Bangil, sang guru sedang duduk sambil membaca sebuah kitab. Di awal pembicaraan dan sebelum ‎mereka mengajukan pertanyaan, guru bertanya lerlebih dahulu,:” Kalian kesini ingin bertanya ini ‎dan itu kan???????” sambil menunjuk kitab yang masih dibukanya itu.‎ Kejadian itu membuat kaget sekelompok kiyai itu dan mereka yakin bahwa guru bangil disamping ‎mempunyai ilmu agama yang luas juga mempunyai mata batin/kasyaf yang kuat. Setelah itu mereka ‎meminta guru untuk membuka majlis bagi mereka, namun beliau tidak langsung meng-iya-kannya, ‎tetapi menanyakannya kepada KH.Abdul Hamid dan setelah KH.Abdul Hamid menyetujuinya, baru ‎guru bangil memenuhi permintaan mereka untuk membuka majlis.‎

KIPRAH DAN PEMIKIRAN SYEKH SYARWANI ABDAN

Sebagai seorang ulama, beliau mampu memberikan solusi dan sekaligus memecahkan masalah di ‎masyarakat beliau. Hal ini terbukti ketika masyarakat hendak memperluas bangunan masjid di Kota ‎Bangil yang tidak mencukupi lagi untuk menampung jamaah. Sementara, ada kendala atau ‎permasalahan yang membuat ulama-ulama dan tokoh masyarakat Bangil pada waktu itu bingung ‎mencari solusinya, karena areal tanah yang hendak dijadikan perluasan masjid terdapat kuburan. ‎Maka, masyarakat pun akhirnya mereka meminta pendapat dan pemikiran Guru Bangil berkenaan ‎dengan masalah tersebut, apakah masjid bisa diperluas walaupun di atas tanah bekas kuburan atau ‎bagaimana? Dengan berpedoman kepada pendapat para ulama terdahulu Guru Bangil membolehkan. ‎Sehingga, berdasarkan pendapat Guru Bangil, masalah tersebut akhirnya dapat terpecahkan, sehingga ‎perluasan pembangunan masjid Bangil pun dapat diteruskan.‎

Buku beliau yang berjudul Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah ini ditulis oleh Guru Bangil atas ‎permintaan masyarakat Bangil karena adanya pernyataan-pernyataan dari tokoh-tokoh muda pemikir ‎agama yang kontradiktif dengan pemahaman keagamaan masyarakat pada waktu itu, dan sering ‎menganggap mudah (remeh) urusan agama, sehingga menimbulkan pertanyaan dan perbedaan ‎pendapat di kalangan masyarakat. ‎

Hal ini terlihat di dalam tulisan beliau yang tertera di ‎bagian penutup buku tersebut.‎ “Akhirnya tidak lupa penulis menasehatkan di sini agar angkatan-angkatan muda dari kalangan ‎umat Islam di Indonesia ini dalam rangka menilai suatu perkara agama itu, jangan anggap mudah ‎atau dipermudah, tapi hendaknya di-tanyakan langsung kepada yang betul-betul mengetahui tentang ‎urusan agama jika sekiranya saudara tidak mengetahui. Dan selanjutnya penulis mengharapkan ‎jangan sampai ada atau menimbulkan hina menghina sehingga membawa akibat yang tidak ‎diinginkan”.‎

Menurut beliau, buku ini ditulis sekadar untuk menangkis serangan yang dilancarkan tokoh-tokoh ‎muda pemikir agama yang secara sembrono memberikan fatwa-fatwa seolah-olah para alim ulama ‎kita yang terdahulu telah memberikan jalan yang sesat kepada kita.Tulisan ini sama sekali bukanlah ‎hasil dari penafsiran penulis sendiri tetapi hasil dari pemikiran ulama-ulama besar kita yang telah ‎mengambil dasar-dasar menurut rel yang sebenarnya sesuai dengan ajaran Islam.

Dari karya tulis beliau yang satu ini juga kita dapat melihat kiprah beliau dalam menghapus keraguan-keraguan atau perselisihan-peselisahan masyarakat terhadap satu dua hukum yang sering diperdebatkan pensyari’atannya.
Di dalam buku ini beliau memaparkan pendapat-pendapat beliau mengenai hukum talqin, tahlil dan tawassul‎. Menurut beliau, talqin, bacaan doa dan sedekah untuk mayit serta tawassul diperbolehkan dan tidak ‎bertentangan dengan syariat Islam asalkan sesuai dengan kaedah yang dicontohkan oleh ulama.‎ Karena pada dasarnya semuanya itu berdiri diatas dalil-dalil agama yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan.
Santri/Murid-murid beliau,antara lain adalah:‎

‎1. ’Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Sekumpul Martapura, ‎Pendiri Majelis Taklim Ar-Raudhah Sekumpul.‎

‎2. K.H. Prof. Dr. Ahmad Sjarwani Zuhri, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Syekh ‎Muhammad Arsyad al-Banjari, Balikpapan.‎

‎3. K.H. Muhammad Syukri Unus, Pimpinan Majelis Taklim Sabilal Anwar al-Mubarak, Martapura.‎

‎4. K.H. Zaini Tarsyid, Pengasuh Majelis Taklim Salafus Shaleh Tunggul Irang Seberang, Martapura ‎‎(selain sebagai murid, K.H. Zaini Tarsyid juga merupakan anak menantu Guru Bangil).‎

‎5. K.H. Ibrahim bin K.H. Muhammad Aini (Guru Ayan), Rantau.‎

‎6. K.H. Ahmad Bakri (Guru Bakri), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin, Gambut.‎

‎7. K.H. Asmuni (Guru Danau), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aman, Danau Panggang, Amuntai.‎

‎8. K.H. Sayfi’i Luqman, Tulungagung (Jawa Timur).‎

‎9. K.H. Abrar Dahlan, Pimpinan Pondok Pesantren di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, ‎Kalimantan Tengah.‎

‎10. K.H. Muhammad Safwan Zahri, Pimpinan Pondok Pesantren Sabilut Taqwa, Handil 6, Muara ‎Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.‎

Terus ikuti kami di akun-akun media sosial kami :

Website : https://ppihadhramaut.com/

Instagram : @ppihadhramaut

Youtube : PPI Hadhramaut Channel

RINDU

Rindu,,,
Sudah terpupuk dari dulu,,,
Semenjak ku tahu akan keberkahanmu,,,
Ribuan jejak kaki Auliya telah berpijak di tanahmu,,,
Darimu Ulama tersebar di seluruh penjuru,,,
Rindu,,,,
Sudah tak terbendung tuk bertemu,,,
Untaian doa telah merajut di setiap waktu,,,
Walau raga jauh darimu,,,
Tapi hati kan selalu melekat denganmu,,,
Tarim al-Ghonnaau,,,,
*Oleh: Muhammad Sirojul Munir.

Terus ikuti kami di akun-akun media sosial kami :
Instagram : @ppihadhramaut
JEJAK KERAMAT MASJID SEGAFF NAPAK TILAS ATAP PARA WALI
Di area pasar kota Tarim, tepatnya ujung timur laut berdiri tegak masjid klasik yang menjadi kebanggaan dan yang disakralkan masyarakat Tarim, yang dibangun oleh seorang ulama’ dan wali Allah Agung di masa itu. Meski tempatnya agak terpencil masjid ini tidak pernah sepi dikunjungi setiap harinya karena keistimewaan yang dimilikinya, dari yang sekedar menunaikan shalat lima waktu ataupun beriktikaf dan melantunkan ayat-ayat al-Quran.
Secara geografis, masjid ini berada tepat di utara masjid Ba Buthainah Rubath Tarim, hanya terpisah dengan jalan dan halaman luar masjid. Di sisi timurnya terdapat bangunan Darul Faqih Majlis Ifta’ Tarim, yang bertetangga dengan Masjid Ba ‘Alawi.
Sejarah Pembangunan
Masjid ini didirikan oleh Syekh Abdurrahman bin Muhammad as-Saqqaff pada tahun 678 H. yang dikenal sebagai atap para wali di masanya. Beliau banyak mendirikan masjid-masjid, baik di kota Tarim maupun di luar Tarim. Beliau diketahui mendirikan masjid sebanyak jumlah putra beliau yang berjumlah 12 orang, setiap terlahir satu orang putra, beliau akan mendirikan masjid, dan masjid-masjid itu masih berdiri hingga sekarang.
Di antara ke dua belas masjid yang beliau dirikan, masjid Segaf adalah yang pertama beliau bangun, dan yang paling sering beliau kunjungi hingga beliau wafat, sehingga lebih dikenal dengan julukan beliau: As-Saqqaff (Atap Para Wali). Seperti pangkat beliau diantara para wali pada waktu itu.
Arsitektur Masjid
Sebagaimana umumnya masjid-masjid kota Tarim, struktur masjid ini sepenunhnya menggunakan tanah liat tidak jauh berbeda dari masjid lain di kota ini dengan arsitektur khas ala Masjid Nabawi tempo dulu.
Ukurannya yang mungil hanya berkisar 200 M. persegi dan menaranya yang kecil tidak begitu tinggi semakin menambah kewibawaan masjid ini. Bagian dalamnya juga nampak sederhana dengan balutan kapur putih di setiap dindingnya, dan hamparan karpet hijau sederhana yang bermotif Mihrab di lantainya, sentuhan khas ala masjid klasik semakin menambah keanggunan masjid ini.
Sebenarnya masjid ini terdiri dari dua masjid, bagian kanan adalah masjid Bajabhan yang baru dibangun 400 tahun setelah masjid Segaff, sedangkan bagian kiri adalah masjid Segaff, karena jaraknya yang berdekatan kemudian kedua msjid ini disatukan hingga menjadi satu nama: Masjid Segaff
Dari arah timur terdapat dua pintu pendek yang berhadapan langsung dengan gang sempit, pintu sebalah kanan menuju masjid Bajabhan, sedangkan yang sebela kiri menuju masjid Segaff.
Jika kita mamsuk melalui pintu masjid Bajabhan, di dekat pintu sebelah kiri akan kita dapati Barrodah atau mesin air dingin untuk minum. Konon tempat tersebut dulunya adalah jabiyah (kolam kecil) tempat Syekh Abdurrahman as-Segaff mandi dan berwudhu’. Pada bagian luar masjid Bajabhan di sisi kirinya terdapat dua pintu menuju masjid Segaff, dari bagian dalamnya juga terdapat dua yang sama, pintu depan di Shaff pertama dan di Shaff tengah, di bagian masjid ini terdapat empat tiang besar
Sementara sebelah kanan masjid Bajabhan adalah kamar mandi dan Jabiyah, yang juga bisa dilalui dari bagian dalam masjid.
Di masjid Segaff sendiri sekilas nampak sederhana dari struktur bangunannya, hanya terdapat enam tiang besar di bagian depan dan tengah, dan tiga di belakang sisi kiri. Bagian tengah dan belakang masjid ini tidak beratap. di sisi pintu utama masjid ini terdapat satu menara kecil dan sebuah tangga menuju lantai dua yang berada di atas masjid Bajabhan dan Shaff bagian depan dan tengah masjid ini, yang biasanya digunakan saat acara Khatam di saat lantai bawah tidak sanggup menampung para jamaah. Lantai dua ini tidak beratap, hanya terpasang kipas dan lampu.
Ada satu pintu unik di masjid ini, tepatnya di ujung Shaff depan, pintu ini begitu kecil sehingga harus merunduk untuk melewatinya, dan hanya digunakan di saat acara-acara besar seperti Khatam di bulan Ramadhan dan bulan Syawal, di saat masjid tidak sanggup menampung para jamaah yang hadir, agar makmum yang berada di luar masjid shalatnya sah.
waktu itu masjid tidak lagi mampu menampung jamaah, sehingga para petinggi Habaib bermusyawarah membahas tentang renovasi masjid, namun diantara mereka tidak ada melakukannya karena wibawa Syekh Abdurrahman As-Segaff pendiri masjid. Di saat mereka tengah bingung tidak menemukan jalan keluar, Habib ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Husain al-Masyhur yang saat itu sedang berdzikir di masjid, tiba-tiba beliau memukulkan tasbih beliau ke tembok tersebut, dengan satu kali pukulan tembok itupun bolong selebar satu untaian tasbih, lalu dibuatlah pintu kecil dari tembok tersebut.
Habib ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Husain al-Masyhur adalah waliyullah Majdzub yang kebetulan seorang tunanetra, pengarang kitab monumental Bughyah al-Mustarsyidin, beliau juga menjabat sdbagai ketua mufti Tarim di kala itu, sehingga orang-orang merasa lega dan menemukan jalan keluar.
Kegiatan Masjid
Masid-masjid Tarim yang berjumlah ratusan tidak hanya difungsikan sebagai tempat shalat, tapi juga sebagai tempat belajar dan berlangsungnya kegiatan-kegiatan keagamaan seperti maulid dan Khatam. Masjid-masjid itu memiliki agenda dan kegitan rutin, baik itu tahunan, bulanan dan harian. Pun demikian dengan masjid ini, memiliki kegiatan rutin yang tidak pernah absen, meski di bulan bulan Ramadhan maupun hari raya.
Kegitan rutin harian masjid ini adalah tadarusan al-Quran bil ghaib/tanpa melihat, yang hanya boleh diikuti oleh para Hafizh yang berlangsung setelah Shalat Maghrib. Masjid ini juga dikenal dengan masjid “Ratib”, karena setiap malam senin dan kamis digelar  Hadhrah As-Saggaff yang sudah masyhur dan sudah berjalan lebih dari 600 tahun yang selalu sesak dihadiri oleh masyarakat Tarim maupun luar Tarim. Di masa penjajahan Atheis kegiatan rutin ini sempat fakum karena dilarang selama beberapa tahun, dan dihidupkan kembali oleh Habib Muhammad bin Alwi bin Umar al-Idrus atau yang dikenal dengan sebutan al-Habib Sa’ad (W 1432 H.). pada 21 Ramadhan 1400 H. bertepatan dengan malam perayaan doa’ Khatmil Quran yang biasa diselenggarakan di masjid ini setiap tahunnya dan terus bejalan hingga saat ini.
Sedangkan kegiatan tahunan adalah acara Khatam pada malam 21 Ramadhan, dan 8 Syawal. Kegiatan ini selalu ramai disesaki para jamaah yang hadir, baik itu orang Tarim sendiri maupun luar Tarim, seperti Seiun, Hauthah, dan daerah terdekat seperti Bur, Husaisah dan Masilaih serta para pelajar dari berbagai mancanegara terutama Indonesia. Para jamah sampai meluber ke jalan-jalan.
Keistimewaan Masjid
Berbicara tentang Tarim tidak ada habisnya, bagaimana tidak, napak tilas para wali agung masih begitu terasa, bahkan sampai sekarang masih banyak terdapat wali yang tidak nampak. Di Tarim Barokah dan Sirr tidak hanya bisa dijumpai di masjid-masjidnya, bahkan di jalanannya, tidak  mengherankan karena tidak ada sejengkal tanahpun di kota ini  kecuali telah dipijaki oleh kaki-kaki para kekasih Allah SWT.
Terlebih lagi bila kita membahas masjid-masjidnya, tempat di mana para kekasih Allah SWT. bermesra-ria denganNya, tanpa menghiraukan hiruk-pikuk dunia, bermunanjat agar tidak menimpakan petaka terhadap ummat Nabi Muhammad SAW. sudah tidak diragukan lagi keberkahan dan Sirrnya.
Syekh Abdurrahman bin Muhammad as-Saqqaf berkata tentang masjid ini: “Saya tidak membangun masjid-masjidku kecuali empat Imam berada di keempat sudutnya, dan Rasulullah SAW. di arah kiblatnya”.
Sebagaiman umumnya masjid-masjid yang didirikan oleh para Sayyid marga Ba’alawi, dan masjid-masjid kota Tarim, masjid ini juga memiliki kelebihan tentang arah kiblatnya yang betul-betul pas100% mengarah ke Ka’bah.
Di masjid ini juga rutin diadakan Tadarus al-Quran Bil Ghaib yakni dengan tanpa melihat, Tadarusan ini hanya boleh diikuti oleh para Hafizh. Uniknya mereka tidak hanya hafal ayat-ayatnya, tapi juga hafal Hizib-Hizibnya (bagian di mana harus berhenti untuk dilanjutkan oleh peserta selanjutnya, atau yang lebih dikenal dengan Maqra’ kalau di Indonesia).
Kegiatan ini pertama kali dilaksanaka oleh Habib Idrus bin Alwi al-Idrus semenjak 40 tahun yang lalu, sewaktu beliau menjadi takmir masjid ini. Beliau bermimpi Syekh Abdurrahman bin Muhammad As-Saqqaf shalat dan mengimami beliau di masjid ini. Setelah salam Syekh Abdurrahman As-Saqqaf menyuruhnya untuk melaksanakan kegiatan taddarus al-Quran bil-Ghaib.
Pada malam senin dan kamis selalu digelar pembacaan Hadhrah Saqqaff dengan iringan tabuhan rebana disertai irama dengan nada khas Tarim yang membuat hati pendengarnya bergetar karena kekuatan Sirr yang terkandung pada setiap bat-bait syair yang disenandungkan.
Syarfiah Maryam putri Syekh Abdurrahman as-Saqqaf berkata: “Siapa yang mempunyai Hajat datanglah ke masjid ayahku pada malam Hadhrah dan berdiri di anatara tiang tempat biasanya ayahku duduk dan tempat orang-orang yang mendengarakan, lalu memohon kepada Allah SWT. agar mengabulkan hajatnya, Insya Allah hajatnya tersebut akan terkabul”.
Konon masjid ini tidak pernah sepi dari Rijalul Ghaib menurut kesaksian orang-orang Sholeh.
Jabiyah masjid ini meiliki kelebihan mengobati gatal-gatal. Pernah ada se-seorang yang tidak percayan dengan yang namanya Karomah dan barokah, atau bisa dikatakan dia terjangkit aliran W…..i. Orang ini Allah SWT. uji dengan penyakit gatal-gatal yang tidak bisa disembukan sehingga menjalar dan menyebabkan luka di sekujur tubuhnya.
Meski sudah berulang kali dia mendatangi dokter namun tidak hasilnya nihil, lalu ada salah satu orang soleh menyarankan agar dia mandi di kolam masjid Segaf, tapi orang ini enggan mengikuti petunjuknya, hari demi hari berlalu penyakitnya bertambah parah. Setelah dia putus asa diapun mencoba mengikuti petunjuk orang shaleh tersebut. Keesokan harinya dia dapati luka dan gatal-gatal yang menimpanya mengering dan sembuh perlahan. Berkat kejadian tersebut orang ini bertaubat dari kayakinannya tersebut.
Konklusi
Semua masjid pasti memiliki kelebihan dari tempat lain, di manapun itu, terlebih masjid-masjid yang selalu didatangi oleh orang-orang sholeh yang dekat dengannNya sehingga diangkat menjadi kekasihnya. Bagaimana tidak menjadi istimewa tempat-tempat di mana mereka bersimpuh menangis di keheningan malam. Bukankah kita dianjurkan berpindah tempat ketika melakukan Shalat Sunah agar tempat-tempat itu menjadi saksi kelak bahwa kita pernah shalat di situ. Begitupun para kekasih Allah SWT., mana mungkin tempat-tempat itu melupakan begitu saja kalau mereka pernah shalat di sana. Tempat-tempat itu seolah berbisik memamerkan diri: “wahai para makhluk, saksikanlah, kekasih Allah SWT. Fulan telah menempatiku untuk beribadah”. Inilah diantara kelebihan lain di kota para wali ini yang sangat jarang ditemui di daerah lain.

Terus ikuti kami di akun-akun media sosial kami :

Website : https://ppihadhramaut.com/

Instagram : @ppihadhramaut

Youtube : PPI Hadhramaut Channel

Ukhuwah

Ini adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani.

Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.

Dengan hati yang berat, Ali menghimpun pasukan. Ketika dia sampai di perbatasan Basra, di satu tempat yang bernama Alzawiyah, dia turun dari kuda. Dia melakukan shalat empat rakaat. Usai shalat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan air matanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdo’a: “Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, yang memelihara bumi dan apa-apa yang ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik ‘arasy nan agung. Inilah Basra. Aku mohon kepada-Mu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bay’ah-ku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslim.”

Ketika kedua pasukan sudah mendekat, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah ibn Abbas menemui pemimpin pasukan pembangkang, mengajak bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-‘,,sahabatnya, sambil mengangkat Al-Qur’an di tangan kanannya: “Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama Al-Qur’an. Jika tangannya terpotong peganglah Al-Qur’an ini dengan tangan yang lain; jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh.”

Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, tak seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan Al-Qur’an kepada anak muda itu, “Bawalah Al-Qur’an ini ke tengah-tengah mereka. Katakan: Al-Qur’an berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian.”

Tanpa rasa gentar dan penuh dengan keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat Al-Qur’an dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil Al-Quran dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslim. Akhirnya orang pun menebas lehernya.

Pejuang perdamaian ini rubuh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali ibn Abi Thalib. Ali mengucapkan do’a untuknya, sementara air matanya deras membasahi wajahnya. “Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian memulai menyerang mereka. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan merusak tubuh orang yang terbunuh. Bila kalian mencapai perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan memasuki rumah tanpa izin, janganlah mengambil harta mereka sedikit pun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mencemoohkan kamu. Jangan mengecam pemimpin mereka dan orang-orang saleh di antara mereka.”

Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu’awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur’an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal.

Sumber: Islam Aktual. Jalaluddin Rakhmat. Mizan, Jakarta 1991

74 Mahasiswa Indonesia Raih Gelar Sarjana di Universitas Al Ahgaff Yaman.

WISUDA adalah momen yang sangat dinanti-nanti oleh seseorang setelah perjuangan panjang menjalani studinya sebagai mahasiswa.
Momen yang pada hari itu semua rasa menjadi satu, antara tangis dan tawa melebur. Tangis haru kebahagiaan, tawa riang kegembiraan. 
Hal itulah yang dirasakan Mahasiswa angkatan 19 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al-Ahgaff Yaman pada Senin, (16/07).
Acara wisuda dimulai sejak sesudah magrib pukul 18.30 KSA berakhir hingga pukul 24.00 KSA yang berlangsung di Auditorium Fakultas tersebut itu.
Turut berhadir pada acara tersebut Rektor Universitas Al Ahgaff, Prof. Al Habib Abdullah Baharun, dewan guru, serta para tamu undangan.



Sebelum acara wisuda dimulai, para mahasiswa terlebih dahulu melantunkan maulidunnabawi dengan penuh kekhusyuan, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian acara wisuda, yang dimulai dengan pembukaan, pembacaan Al Quran oleh Muhammad Yahya, pembacaan Hadits Nabawi oleh Abdul Fattah Ibrahim Assomaliy, dilanjutkan dengan sambutan dari mahasiswa semester akhir yang diwakilkan oleh Syamsuddin bin Hamzah, tak ketinggalan juga sambutan dari Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Ustadz Abdullah bin Awadh bin Sumaith, dilanjutkan sambutan serta pesan-pesan dari Rektor Universitas Al Ahgaff, Prof. Al Habib Abdullah Baharun. Sampai pada acara puncak, penyebutan nama nama wisudawan disertai dengan penyerahan plakat kehormatan oleh Rektor Universitas Al Ahgaff kepada para wisudawan dan penyerahan penghargaan kepada peraih nilai imtiyaz (Summa Cumlaud).
Dalam sambutannya, Prof. Al Habib Abdullah Baharun berpesan kepada para wisudawan agar nantinya tatkala sudah kembali kedaerah masing-masing, para alumni saling bersinergi, bahu membahu serta mempererat hubungan sesama alumni guna memudahkan dakwah di daerahnya masing-masing.
“Kepada para alumni diharapkan membentuk suatu wadah alumni Al Ahgaff di daerahnya masing-masing, dan saling bahu membahu guna memudahkan dakwah di daerah masing-masing”. Ungkap beliau.
Total tahun ini berjumlah 104 orang dari berbagai negara, 74 diantaranya berasal dari Indonesia, mereka orang orang pilihan yang berhasil melewati seleksi ketat ala Universitas Al-Ahgaff dari jumlah awal sekitar 200 orang terseleksi menjadi 104 orang.


Acara diakhiri dengan makan bersama dan foto-foto bersama para dosen-dosen serta beberapa hiburan seperti nasyid, pembacaan syair-syair. [Gamal Abd Nasir]

RSS
Follow by Email
YouTube
Instagram
Telegram
WhatsApp