Search for:
Tarim, Kota Kecil Penuh Ilmu dan Amal

Bila disebut nama Tarim, sang pencinta yang asyik tidur akan terbangun.

Bila disebut kalam ulama Tarim, hati yang mati kering kerontang akan tersirami dan kembali hidup segar.

Bila diperdengarkan cerita tentang Tarim, sang pencinta akan berdatangan, duduk khusyuk mendengarkan dengan penuh kekaguman.

Bila disebut hikmah bumi Tarim, orang akan berlarian serasa ingin sekali menginjakkan kaki di sana, di bumi penuh keberkahan tersebut.

Tarim, kota kecil yang besarnya tidak lebih luas dari sebuah kecamatan di Indonesia ini, namanya sangat tersohor di antero alam. Siapa yang tidak kenal Tarim, kota yang masyhur dengan sebutan kota seribu wali ini menjadi kota favorit para penuntut ilmu dari belahan dunia untuk menuntut ilmu di sana.

Tarim Al Ghanna terkenal dengan banyaknya para  wali disana sampai – sampai kota mungil ini digelari dengan sebutan kota seribu wali, mengingat saking banyaknya wali – wali Allah yang ada di sana. Selain itu, kota Tarim juga terkenal dengan kilau cahaya ilmunya, tidak heran,bisa dibilang kota Tarim ini merupakan pabriknya mufti Syafi’iyah (Mufti Madzhab Syafii). Di Tarim sendiri terdapat banyak peninggalan manuskrip – manuskrip kitab karya ulama terdahulu, itu menjadi bukti bahwa sejak dulu kota Tarim memang kaya akan budaya keilmuan.

Sebagai kota kebudayaan Islam dan juga kota ilmu, Tarim memiliki banyak lembaga keilmuan yang siap untuk menjaga dan mengembangkan warisan keilmuan dari para leluhurnya, serta siap untuk mencetak generasi ulama dan mufti (ahli fiqih)  yang akan menyebar keseluruh penjuru alam. Dari banyaknya lembaga pendidikan yang ada di Tarim, di antaranya; Rubat Tarim, Darul Musthofa, Kuliyyah Syariah (Universitas Al Ahgaff), Ma’had Al Idrus, kubbah Muroyyam, Darul Ghuroba, Kuliyyah Al Washothiyah (Universitas Al Washotiyyah), Rubat Al Imam Al Muhajir, Daaruzzahra’ (untuk perempuan), Daarul Faqih Al Muqoddam (untuk perempuan), dll. Bisa dibayangkan betapa menakjubkannya kota kecil yang besarnya tidak lebih dari kecamatan yang ada di Indonesia ini dipadati dengan lembaga – lembaga pendidikan yang berkualitas dan bertaraf internasional.

Di samping itu, kota mungil yang mulia ini juga memiliki adat acara rutinan yang tak kalah padatnya. Mulai dari acara rutinan harian, mingguan, bulanan sampai tahunan.

Sedikit gambaran tentang padatnya kegiatan penduduk tarim setiap harinya, setiap Senin pagi sesudah isyraq mereka biasanya menghadiri pembacaan kitab Ihya ulumiddin oleh para habaib (plural: Habib) dan masyaikh (plural: Syeikh) bertempat di kubah Habib Abdullah Al Aydrus di pemakaman Zanbal, satu jam sebelum Ashar juga ada kegiatan Rouhah yang dipimpin oleh Al Habib  Ahmad bin Abdullah bin Syihab yang bertempat di Zawiyah Syeikh Ali bin Abi Bakar Assakran, sesudah Magribnya juga ada pembacaan maulid  Ad Diba’i, bertempat di masjid As Surur, di waktu yang sama di masjid Jami’ Tarim juga ada pembacaan kumpulan kalam Al Habib Abdullah bin Husein bin Thohir yang dibacakan oleh Grand Mufti Tarim; Al Habib Ali Masyhur, sesudah Isya’nya juga ada pengajian kitab Assunanul Kubro oleh Assyeikh Muhammad bin Ali Ba’udhon di masjid Bin Sahl, di waktu yang sama juga ada pengajian Tafsir Al Quran oleh Al Habib Umar bin Hafidz yang bertempatkan di halaman Darul Musthafa, itu baru hari senin loo.. !

Lanjut ke hari Selasa, sesudah sholat Shubuh, di Tarim, kita bisa langsung memanjakan rohani kita dengan mengikuti pembacaan Hadhrah Basaudan oleh para Habaib dan Masyaikh di Ribat Tarim, sesudah Isyraq juga ada pengajian di Zawiyah Syeikh Salim Bafadhol yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad bin Ali Al Khotib, sesudah Asharnya ada pembacaan Hadhrah Basaudan di rumah Habib Abdurrahman Al Masyhur yang dipimpin oleh Habib Ali Masyhur, di waktu yang sama, di kubah Al Habib Abu Bakr Basymeleih di pemakaman Zanbal juga diadakan pembacaan Hadhrah Basaudan yang dipimpin oleh para Habaib dan Masyaikh Tarim.

Lanjut ke hari Rabu, sesudah Isyraq, kita bisa langsung ikut pelajaran Madras di Ribat Tarim yang di pimpin oleh Al Habib Jailani Assyathiri dan Al Habib Abu Bakar Muhammad Balfaqih, sesudah Dzhuhur jam 2 siang waktu setempat sampai waktu Ashar, ada pembacaan kitab Safinatunnaja dan juga pembacaan Hadis oleh Habib Abu Bakar bin Sumaith di kediaman Beliau, untuk sesudah Asharnya, ada pengajian kitab Yaqutunnafis oleh Habib Ali Masyhur yang bertempatkan di rumah Habib Abdurrahman Al Masyhur, sesudah Isya’ juga ada pembacaan Hadhrah Al Imam Assegaff di Masjid Assegaff, selain itu di tempat lain, tepatnya di Darul Musthafa juga ada Jalsatul Arbi’aa oleh Habib Umar bin Hafidz.

Di hari Kamis, sesudah sholat Shubuh ada Khataman Al Quran di Masjid Ali Ba’alawi, Masjid Al Muhdhor, Darul Musthafa dan di berbagai masjid lainnya yang ada di Tarim, sesudah Isyraqnya ada pembacaan Shahih Bukhori di masjid Ba’alawi, satu jam sebelum Ashar juga ada pengajian oleh Al Habib Ahmad bin Abdullah Bin Syihab di Zawiyahnya Syeikh Ali bin Abi Bakr Assakran, dan setengah jam setelah Ashar juga ada pembacaan kitab Risalah Adab Sulukil Murid dan kitab Attanbih oleh Habib Abu Bakar Muhammad Balfaqih di Zawiyah Masjid Ba’alawi, sesudah Maghrib juga ada pembacaan kitab Arrisalah Al Jami’ah oleh Ustadz Ahmad bin Muhammad Ba’udhon di masjid Sahl, di Darul Musthafa juga ada pembacaan Maulid Addhiya’ullami yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafiz, sedangkan di masjid Jami’ Tarim, juga ada pembacaan maulid Addiba’i yang dipimpin oleh Habib Ali Masyhur, sesudah Isya’nya juga ada pengajian kitab Riyadhusshalihin oleh Syeikh Muhammad bin Ali Ba’udhon di masjid Sahl, untuk sesudah maulid juga ada pembacaan Hadhrah Imam Al Haddad oleh Munshib Al Habib Hasan bin Umar Al Haddad.

Lanjut ke hari Jumat, Sesudah Isyraq hari Jumat orang Tarim biasanya hadir ziarah berjamaah ke pemakaman Zanbal, Furaith, dan Akdar dengan dipimpin oleh para Habaib dan Masyaikh Tarim, sesudah selesai Sholat Jumat, di Bait Al Hadhrah ada pembacaan Hadhrah Imam Al Haddad yang dipimpin oleh Habib Hasan bin Umar Al Haddad, sesudah Ashar di rumah Al Habib Alwi bin Syihab dan juga di Ribat Tarim di adakan Rouhah, untuk Rouhah di Ribat Tarim berlanjut hingga sesudah maghrib. Sesudah Magrib hari Jumat, ada pengajian kitab Muqoddimah Hadhramiyah, Al Arbain Annawawiyyah, dan Ahammul Wajibat wal Mandubat di mesjid  Tashiluttho’ah yang dipimpin oleh Syeikh Thoha, sesudah Isya’nya, Syeikh Toha juga memberikan pengajian kitab Umdatussalik di masjid Babthiynah Ribat Tarim.

Untuk hari Sabtu, sesudah Isyraq ada Madras yang dipimpin oleh Habib Jailani Assyathiri atau Habib Abi Bakar Muhmammad Balfaqih yang bertempat di Ribat Tarim.

Pada hari Ahad, Pagi setelah Isyraq ada pengajian di Zawiyah Syeikh Salim Bafadhol yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad Ali Al Khatib, sesudah Dzuhur sekitar jam 2 siang waktu setempat ada pembacaan hadis dan pengajian kitab Safinatunnaja yang dipimpin oleh Habib Abu Bakar bin Sumaith yang bertempat di rumah beliau, sesudah Isya’nya ada Hadhrah Segaff yang bertempat di masjid Assegaff.

Nah , apa yang telah saya sebutkan di atas hanya sebagian dari majelis serta pengajian yang ada di Tarim, masih banyak majelis – majelis serta pengajian lainnya yang belum saya sebutkan. Bisa kalian bayangkan betapa super menakjubkannya, kota semungil Tarim dengan kegiatan yang super padat itu.

Gelar Tarim sebagai kota kebudayaan Islam, saya rasa sangatlah pantas, kota yang kaya akan keilmuan, budaya, dan masjid, kota yang penuh dengan tata krama dan adab. Maka tidaklah berlebihan kalau Al Imam Ahmad bin Abil Hubb pernah berujar : “Andai saja mereka melihat hakikat kota Tarim, maka mereka akan mengatakan, syurga dunia adalah Tarim”. Selain itu Al imam Al Qutb Abdullah Al Haddad juga pernah mengatakan : ‘’Andai saja engkau mengeluarkan seluruh hartamu untuk mengunjungi kota Tarim, maka apa yang engkau dapatkan akan lebih banyak daripada apa yang engkau keluarkan”.

Jadi, untuk menceritakan tentang kesempurnaan kota Tarim maka tidak akan ada habisnya, walaupun lautan menjadi tintanya dan bumi menjadi kertasnya, maka tidaklah cukup untuk melukiskan tentang kesempurnaan kota Tarim ini. Sungguh betapa sangat sempurnanya kota Tarim ini. Mulai dari para wali – walinya, ulama – ulamanya, lautan ilmunya, lautan hikmahnya, keindahan tata krama penduduknya, dan semua yang berbau tentang Tarim akan membuat para pecintanya terkagum – kagum dan semakin larut dengan cintanya.

(Oleh : Gamal Abdul Nasir)

Terus ikuti kami di akun-akun media sosial kami :

Website : https://ppihadhramaut.com/

Instagram : @ppihadhramaut

Youtube : PPI Hadhramaut Channel

Telegram : PPI Hadhramaut

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut mempersembahkan : “SAYEMBARA CERITA MINI Internasional (SCMI) ke-4

Demi memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,  PPI Hadhramaut menyelenggarakan sayembara cerita mini (SCM). Dengan tema
“1945 KE 2045, SAMPAI INDONESIA EMAS”.
.
Ketentuan Lomba
1. Peserta adalah warga Negara Kesatuan Republik  Indonesia
2. Merupakan karya orisinil penulis, bukan saduran copy paste maupun plagiat dan belum pernah dimuat dalam media massa maupun elektronik, serta tidak dalam proses pengajuan ke media maupun penerbit manapun dan belum pernah memenangkan sayembara serupa
3. Sub tema bebas, namun diharapkan mampu memberikan inspirasi atau pesan moral kepada pembaca
4. Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi
5. Panjang maksimal naskah 2 halaman, kertas A4, font Times New Roman, size 12, spasi 1.25, 6. batas margin atas (top) 3 cm, kanan (right) 3 cm, kiri (left) 3 cm bawah (bottom) 3 cm
7. Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia sesuai kaidah EYD / EBI
8. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan batas pengiriman 31 Juli-30 September 2018
9. Share info sayembara ini di Facebook / IG lengkap beserta posternya, dan meng-tagg minimal 25 teman anda dengan mencantumkan akun FB PPI Yaman, FB Pelajar Hadhramaut & IG ppihadhramaut.
10. Meng-like Fanspage Ppi Hadhramaut
11. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat
.
Kriteria Penulisan
Isi dan Motivasi                 : 60 Poin
Metodologi Penulisan    : 40 Poin
.
Cara Pengiriman Naskah
1. Peserta mengirimkan naskah melalui E-mail scmi4yaman@gmail.com dengan subyek : SCMI4/(judulnaskah)/(nama penulis)/(negaratinggal) contoh : SCMI4/UntukmuIndonesia/Ahmad/Yaman.
2. Naskah yang dikirimkan dilampirkan dalam dua file, satu file berisi Cerita Mini yang dilombakan (tanpa mencantumkan nama penulis dalam tulisan cerita mini) dan satu file berisi Biodata Penulis (teks. 50 kata, No WA, E-mail, dan alamat rumah) file yang dikirimkan dilampirkan dalam attachment, bukan di badan E-mail.
3. Pemenang sayembara akan diumumkan pada hari Senin 05 November 2018, di Fanspage Ppi Hadhramaut dan akun Facebook Tim Pelaksana (PPI Yaman, Pelajar Hadhramaut, dan FLP Hadhramaut)
Hadiah & Apresiasi
1. Juara I              : Rp. 1.250.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
2. Juara II             : Rp. 1.000.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
3. Juara III            : Rp. 750.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
4. 50 Nominator Terbaik :
                                  Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Naskah Di Bukukan
5. Seluruh Peserta Akan Mendapatkan Sertifikat (.JPEG).
.
Contact Person :
+967 773 626 176
Ulinnuha / Ketua Panitia SCMI4
.
Informasi lengkap kunjungi di :
www.ppihadhramaut.com
Facebook : Pelajar Hadhramaut
E-mail : scmi4yaman@gmail.com

PARA PEMBURU BAROKAH

PARA PEMBURU BAROKAH
[Ramadhan Kedua di Negeri Para Wali]
Oleh : Fuad Syarif (Santri Madrasah Al Aidrus Tarim, Hadhramaut, Yaman)
Beberapa hal yang tidak saya jumpai di negeri kelahiran saya (Indonesia) ketika memasuki bulan suci Ramadhan. Dan ini salah satu alasan membuat saya betah tinggal di Kota Para Wali (Tarim). Ingin rasanya berlama-lama menetap di Kotanya Al Faqih Al Muqaddam. Namun, apa daya…
Pertama, shalat tarawih bisa seratus rakaat. Bahkan lebih. Selain shalat witir, jadwal shalat tarawih diatur antara beberapa masjid besar seperti Masjid Jami’, Masjid Ba Alawi, Masjid as Segaff, Masjid Brum, Masjid Al Muhdhar, Masjid Syekh Aly, dan masjid besar lainnya. Waktunya dirancang bergantian untuk memungkinkan masyarakat shalat tarawih berpindah-pindah dari masjid satu ke masjid yang lain. Shalat tarawih berjalan mulai dari masuk waktu isya sampai hampir subuh. Awal menjalankan shalat seratus rakaat terasa capek dan malas, melihat para jamaah mulai dari anak muda sampai kakek-kakek yang tidak bisa shalat berdiri begitu semangat, rasa capek dan malas saya hilang mengikuti derasnya arus kekhusukan pada jamaah.
Kedua, mengakhirkan shalat dzuhur hingga hampir jam 14:00. Hal ini disebut “Ibrâd” seperti tertulis dalam Kitab Busyrâ al Karîm :
ويسن التأخير عن أول الوقت للإبراد بالظهور دون الجمعة… في الحر الشديد.
“Disunnahkan mengakhirkan Shalat Dzuhur lil ibrad (agar mendapat ke-adem-an) di keadaan yang sangat panas, kesunnahan ini tidak berlaku untuk Shalat Jum’at.”
Juga disebutkan dalam Matan Zubad : 225
وسنّ الإبراد بفعل الظهر # بشدة الحر بقطر الحر
“Disunnahkan Ibrad pada shalat dzuhur, karena panas menyengat di daerah gersang.”
Ibrâd bisa diartikan menunda shalat Dzuhur hingga panas agak reda. Ibrâd hanya bisa dilaksanakan di Negara Arab atau tempat bercuaca panas extreme, dan tidak sunnah diterapkan di Indonesia dengan ciri khas iklim tropis.
Ketiga, istirahat pada awal malam. Setelah shalat maghrib dan shalat tasbih kebanyakan warga Tarim langsung tidur sejenak, kemudian bangun diawal waktu isya dan tidak tidur lagi sampai usai shalat subuh. Tapi sebagian, banyak yang tidak tidur sepanjang malam.
Keren…! Waktu jadi berbalik 180°. Siang jadi malam, malam jadi siang. “Tidur setelah shalat maghrib itu hukumnya makruh karena menyerupai tidurnya orang Yahudi, kecuali di bulan Ramadhan.” (Hb Salim asy Syatiri)
Keempat, semangat para jamaah melaksanakan shalat tarawih “mengalahkan robot”. Pemandangan ini membuat para Thalabah (santri) dari luar negeri khususnya Indonesia “MALU” untuk meninggalkan shalat tarawih seratus rakaat ini, karena puluhan lansia ‘cacat fisik’ saja masih semangat dan belum pernah absen. Ada yang tak bisa berjalan, hingga harus digotong menggunakan sajadah oleh empat anak cucunya. Ada yang menggunakan kursi roda listrik. Ada yang mendesain motornya seperti mobil mini, dan ikut shalat tarawih di dalam mobil mininya. Ada shalat dengan duduk di kursi. Ada yang tidak bisa duduk tahiyat akhir, dsb. Namun, kekurangan mereka tidak menjadi penghalang untuk ikut shalat tarawih.
Jika orang tua dengan beragam “cacat fisik” masih mampu melaksanakan shalat tarawih ini, bagaimana dengan kita orang yang masih segar bugar seperti ini?
Seakan mereka sudah melihat langsung pahala yang dijanjikan Allah pada mereka, hingga kekurangan fisik tidak menghalangi mereka untuk memburu barokah.
Labirin Dongeng

By: Rumaisah Murobbiyah Aulia’*

   Kakek tua itu sedang berdiri menghadap salah satu sisi gubuknya yang sengaja diberi lubang sebagai sarana pergantian udara. Tubuhnya masih tegap, luka beberapa waktu silam itu sepenuhnya telah mengering. Ia rasakan silir-silir angin lembut beraroma pantai tiada henti menimpa kehampaannya. Pandangannya terbuang jauh, dan sekosong pikirannya yang sedang berlabuh pada suatu perihal. Sayup-sayup diantara lamunannya ia mendengar ombak laut yang sedang bergemuruh menambah pekat suasana hatinya yang bagai tak pernah lagi disinari mentari.
   Lagi-lagi aku benar, dalam pikirannya, ada Ara sedang berlarian di pantai dengan tawa khasnya yang membuat seluruh gigi gerahamnya tampak. Ia sedang bermain bersama kawan-kawannya di tepi pantai, sekop plastik mainan dan tiga ember plastik yang sudah bocor sana-sini dengan ukuran yang berbeda untuk membuat istana kecil dari pasir pantai. Tangan-tangan kecil yang lincah memainkan pasir setengah basah agar itu seperti tiada kenal lelah. Pun kedua pasang kakinya yang turut membantu menepuk tumpukan pasir  yang sudah ia bentuk sedemikian rupa sebagai pondasi istana.
   Tiada seorang pun tinggal bersama kakek selain Jarwo, seekor kucing yang ia temukan di jalanan sekitar tiga bulan lalu. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan sepulang menyerahkan naskah ke sebuah penerbit menuju rumah lamanya. Di tengah perjalanan ketika sedang melewati sebuah gang kecil, ia mendengar rintihan kucing yang sangat lirih. Dicarinya sumber rintihan tersebut dan ia dapati seekor anak kucing terpeleset ke dalam selokan. Tanpa berpikir panjang, segera ia ambil kucing itu dari selokan untuk ia rawat di rumah.
   Oh iya, perkenalkan, panggilanku Bam –dan akhir-akhir ini aku tahu itu adalah kependekan dari Bambang ketika Bu Priyo tak sengaja memanggilku dengan nama itu sehingga membocorkan nama yang entah mengapa Mbah Suryo rahasiakan dariku dan entah dari mana Bu Priyo tahu nama itu. Kami semua tinggal di sebuah tempat paling menyenangkan di dunia. Sebuah tempat dimana semua tokoh dari dongeng-dongeng ciptaan Mbah Suryo berkumpul.
   Sebuah tempat teramat luas yang di dalamnya terdapat labirin-labirin beribu cabang yang pada setiap ujung lekukannya adalah ruang tinggal bagi seluruh tokoh dari sebuah dongeng, dan setiap ada dongeng baru, akan muncul cabang lekukan labirin baru. Hal paling menyenangkan –bagiku dari tempat ini adalah sebidang lapangan besar yang dapat memuat seluruh penduduk, dimana kami dapat melihat bahkan merasakan apapun yang sedang kakek alami dari sebentuk layar lebar.
   Tiga bulan lalu ruang tinggalku baru saja Mbah Suryo selesaikan. Aku tinggal sendiri, sebab di sana tertulis bahwa aku adalah seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara. Aku tinggal di bagian paling ujung yang berbatasan langsung dengan lapangan besar. Sebelah utara dari ruang tinggalku merupakan rumah Bu Priyo. Sebelah timur ada rumah si kembar Joko Jaki, selatan si bujang pengangguran Aryadi, dan barat, sebuah cabang baru yang ujungnya masih kosong.
   Dua pekan setelah Mbah Suryo menyelesaikan kisahku, tumbuh sebuah cabang labirin baru di barat rumahku. Waktu berlalu dan dari cabang itu mulai terlihat siapa calon penghuninya. Ara. Nama yang begitu indah bagi kami. Semua orang bergembira atas kabar baik tentangnya. Aku pun semakin tidak sabar mempunyai teman bermain baru, seorang gadis kecil periang meski ia harus kehilangan penglihatannya sejak kecil. Setiap hari kami berkumpul di lapangan besar untuk mencari tahu tentangnya. Ya, semua orang, setiap hari sampai sebuah tragedi memilukan terjadi.
   Sudah lama Mbah Suryo ingin tinggal di tepi pantai di daerah pinggiran kota, merasakan nyanyian ombak dan daun kelapa ditemani semilir angin beraroma amis khas laut yang segar sambil menumbuhkan cabang labirin dongengnya. Ia kumpulkan lembar demi lembar hasil buah pikirannya dari penerbit hingga akhirnya ia berhasil membangun sebuah gubuk sederhana nan nyaman di tepi pantai.
   Sore itu ia berjalan sambil menenteng tas pakaian terakhir menuju mobil bak yang sudah penuh oleh barang-barangnya. Di belakangnya, Jarwo berlarian kecil berusaha mengimbangi langkah kakek. Baru beberapa langkah ia berjalan, tak disangka sebuah mobil melintas cepat dari arah timur. Mbah Suryo yang sudah kehilangan kesigapannya pun jatuh terguling-guling di tanah sambil memeluk tas pakaiannya hingga ia berhenti tertambat tiang listrik, sekitar dua meter dari tempat berdirinya semula. Kepalanya terbentur tiang listrik, seluruh kekuatannya hilang.
   Dengan seluruh yang tersisa ia berusaha mengerjapkan kedua matanya, mencari-cari Jarwo yang mengkhawatirkannya. Namun hasilnya nihil, ia tak menemukan apapun dalam penglihatannya. Hanya gelap yang ia rasakan. Jarwo menjerit sejadinya di telinga kiri Mbah Suryo yang telah kehilangan penglihatannya.
Sejak saat itu semua orang enggan berkumpul lagi di lapangan besar. Mereka tak tega melihat kondisi Mbah Suryo yang setiap hari semakin kehilangan semangat hidupnya. Bukan kisah Ara yang tak berujung yang paling kami sesalkan –sungguh bagaimanapun Ara sudah melakat pada hati kami, mengalir bersama darah kami, melainkan rasa penyesalan karena kami tak dapat berbuat apa-apa untuknya.
   Setiap hari aku masih mendatangi lapangan besar, memantau bagaimana kondisi Mbah Suryo sambil memikirkan benar-benar tiadakah jalan bagi kami meredam kesedihan Mbah Suryo. Andai saja aku bisa masuk ke dalam tubuh Jarwo, apapun kulakukan untuk merawat dan meredakan kesedihannya. Mbah Suryo akhirnya merasa apa yang dirasakan Ara. Dan betapa sulitnya menjadi gadis penyandang tunanetra yang senantiasa riang gembira seperti Ara.
   Suatu pagi ketika aku sedang berada di lapangan besar, aku melihat Jarwo mengeong sambil kaki depannya menggerakkan badan Mbah Suryo yang tampaknya tedang tertidur. “Sudahlah Jarwo, biarkan Mbah beristirahat,” ujarku kesal padanya dalam hati.
   Tapi lama kelamaan aku merasa ada hal tidak beres terjadi. Deg! “Mengapa ia tak kunjung bangun dari tidurnya?” Aku bergegas lari dan mengetuk pintu Bu Priyo untuk memberitahukan ini padanya. Kabar ini seketika menyebar ke seluruh penjuru labirin hingga semua orang kini berkumpul di lapangan besar. Labirin dongeng Mbah Suryo dihujani tangisan. Penciptanya sudah tiada.
   Semua orang menangis juga terheran-heran, “Mengapa kami tak pergi juga bersamamu, Mbah? Sudikah kiranya engkau maafkan kami yang tak mampu berbuat apa-apa ini? Kami harap cukup bagimu dengan kami selalu hidup memberi pelajaran bagi para penikmat dongengmu, Mbah Suryo kami.”
***
______________
*Biodata Penulis:
Gadis bernama Rumaisah Murobbiyah Aulia’ ini sedang menyelesaikan S1 Studi Islam di Universitas Ibn Tofail, Kenitra, Maroko. Tiga tahun lalu ia meninggalkan rumahnya di Jl. A. Yani Pereng 124 Taman, Sepanjang, Sidoarjo untuk menuntut ilmu di negeri Seribu Benteng. Ia dapat dihubungi melalui email rumaisah.ma@gmail.com atau +212 627 254 551.
Gagal Bukan Berarti Berakhir

By: Imam Abdullah El-Rashied*
Itu semua bermula sejak kelas 4 SD ungkapku padanya. Saat itu Wali Kelas kami menyuruh agar semua siswa menuliskan cita-citanya dalam selembar kertas dilengkapi dengan deskripsi sedetail mungkin. Awalnya aku menuangkan beberapa paragraf akan masa depanku yang cukup fantastis. Kudongkrak gaya imajinasiku dan coba tuk menggambarkan masa depan yang cemerlang. Aku tulis dalam harap besarku kelak aku ingin menjadi seorang Profesor, membuat banyak penemuan termasuk membuat mesin waktu.
Setelah aku membolak-balikkan kertas yang aku corat-coret, ada sedikit keraguan menimpaku. Aku rasa sangatlah mustahil jika suatu saat aku akan mampu membuat “Mesin Waktu,” sebuah mesin untuk menjelajah masa, baik masa yang telah berlalu maupun masa yang akan datang. Ini adalah efek kebanyakan nonton film, tegurku dalam hati.
Waktu yang diberikan Pak Guru tinggal 30 menit lagi akan berakhir. Deskripsi masa depanku yang sudah apik aku tuliskan, kata demi kata aku hapus dengan ujung pensilku. Aku sadar itu terlalu jauh panggang dari pada api. Sejenak aku merenung lebih dalam, hingga akhirnya Allah memberikan ilham agar aku menuliskan sesuatu yang bisa ditempuh secara logis.
Kurangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf hingga akhirnya rampung sudah satu halaman aku penuhi dengan deskripsi cita-citaku. Aku ingin menjadi ustadz, ungkapku dalam kertas putih itu. Setelah jadi ustadz aku ingin menjadi kyai besar, biar manfaat buat umat. Hal ini aku pikir tak lain karena aku yang sejak bisa memahami kata-kata, Ibuku selalu membawaku ke pengajian. Membiarkanku bermain atau bahkan tertidur di pangkuannya saat Ibu sibuk mendengarkan kajian yang disampaikan Kyai di mushalla.
Aku harap setelah lulus SD bisa menyantren di luar Madura, mengikuti jejak abang-abangku. Namun sayang, saat itu kondisi ekonomi keluarga tak begitu memungkinkan bila harus mengeluarkan biaya tiap bulan untuk mengirimku di pesantren. Akupun mengurungkan niat baik itu, namun setiap hari aku tetap mengaji di masjid kepada Kyaiku. Tiap maghrib yang mulai gelap dan tiap subuh yang mulai terang, kuhabiskan waktu selama 1-2 jam untuk mempelajari Al-Qur’an, Fiqih, Dasar Aqidah Islam dan Ilmu Gramatika Bahasa Arab beserta Tafsir tekstual dari Kyaiku.
Rasanya sudah berlangsung 7 tahun aku mengaji pada Kyaiku, sejak aku kelas 3 SD hingga kelas 3 SMP dan kini tiba saatnya aku izin ke Kyai untuk menempuh pendidikan di sebuah Pesantren di Kabupaten tetangga. Aku sudah mendaftarkan namaku di pondok itu, termasuk di Madrasah Aliyah yang ada di dalamnya. “Namaku sudah masuk dalam daftar santri dan siswa”, ungkap salah satu teman SMPku yang turut diterima di Pondok yang gratis itu.
Namun sayang, untuk kedua kalinya aku gagal masuk pesantren. Saat itu aku bersama ibu dan abangku bersilaturahmi menemui sang Kyai untuk izin ke pesantren, namun beliau menolak dan menyarankan agar jangan menyantren di pondok tersebut. Kamu sekolah SMA saja dan tetap ngaji sama saya.” Begitu ungkap Kyaiku.
Aku taati itu, hingga setelah lulus SMA keinginan mondokku sudah sirna. Aku mendaftarkan diri untuk masuk ke salah satu Universitas terkenal di Surabaya, ITS. Selama menunggu pengumuman aku berangkat ke al-Bahjah, Cirebon, guna mengisi waktu luang.
Sebulan berlalu, namun namaku tak kunjung muncul. Hendak pulang sayang, sudah terlanjur betah di al-Bahjah. Akhirnya aku mantapkan untuk menuntut ilmu agama yang sudah lama kandas dalam jiwaku. Kyaiku pun merestui itu. Setahun berlalu Kyaiku yang pertama wafat, aku sangat terpukul akan kepergiannya. Namun amat sayang aku tak bisa mengantar jenazahnya karena posisiku jauh di luar pulau.
Empat tahun aku lalui di al-Bahjah, aku sering curhat pada teman dekatku bahwa aku ingin belajar ke TimurTengah. Abangku marah mendengarnya. “Tak usah berkhayal terlalu jauh, belajar di sini juga sudah cukup kalau kamu serius,” tungkasnya saat menasehatiku.
Namun semua itu berubah saat Abang memanggilku dan mengabarkan bahwasannya Kyai baruku ini meminta kepadanya agar diriku belajar ke Univ. al-Ahgaff, Yaman. Aku mencoba untuk mempersiapkan diri, namun Allah berkehendak lain. Entah kenapa aku tak jadi mengikuti tes seleksi saat itu hingga akhirnya aku gagal.
Setahun berlalu, Kyaiku menawarkan agar aku kuliah di Imam Shafie College di Mukalla, Yaman. Aku sampaikan kabar gembira ini pada Abang, Ibu dan Ayahku. Mereka semua setuju. Allah telah mempersiapkan sesuatu yang lebih indah. Aku berangkat dengan beasiswa penuh ke Yaman dari pesantrenku, sedangkan aku sering mendengar dari teman-temanku di Yaman bahwasannya banyak di antara mereka orang tuanya harus menjual sawah, sapi dan emas sebagai biaya meskipun mendapatkan beasiswa pendidikan.
Aku sempat gagal nyantren dua kali, aku juga sempat gagal kuliah dua kali. Namun bagiku kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan dalam sebuah kegagalan aku menemukan banyak hal yang menakjubkan. Setidaknya setahun terakhir di Cirebon aku mengabdi penuh di pesantren menjadi Humas Lembaga Dakwah.
Hampir tiap bulan aku harus ke luar kota, bahkan terkadang harus ke luar negeri guna menemani guruku berdakwah. Selama di Cirebon pula aku berkecimpung dalam dunia Multimedia dan Jurnalis. Sekitar setahun aku menjadi Operator Radio Dakwah, kemudian menjadi seorang Cameraman dan Editor Video serta masuk dalam Tim Pustaka.
Sejumlah pengalaman yang sangat berharga yang aku banyangkan tak akan didapatkan di kuliahan. Penuh syukur kuucapkan padaMu, Tuhan. Selesai aku berorasi via telepon bersamanya, ia bertanya: Lantas, apa rahasiamu menggapai mimpimu? Tulus berniat, usaha yang giat, tekad yang kuat dan do’a yang selalu terpanjat, ungkapku.
Kini dia mulai bertekad untuk mengukir mimpi-mimpinya, akupun senang.
***
_______________
*Biodata Penulis:
Nama                : Imam Abdullah El-Rashied
TTL                  : Sampang, 12 Juni 1993
Pendidikan        : TK – SMA (1997-2010) Di Sampang, Madura
Pesantren         : Al-Bahjah Cirebon (2010-2014)
Kuliah               : Imam Shafie College, Mukalla – Yaman
No. HP              : +967 771 439 421
Email                : imammahdiyaman@gmail.com
Alamat             :Kampus Utama Ribath Wa Kulliyah Imam
                         Syafi’i, Distrik Syafi’i – Fuwah – Mukalla,
                         Yaman.
Menceraikan Angin dari Awan

By: Mohamad Abdurro’uf*

Diam-diam, sejak masih kecil dulu telah kuhukumi, setiap ada layangan putus dari pantai Gaza dan angin berhembus ke timur, layangan akan jatuh tidak jauh dari Gaza Square. Untuk memperkirakan titik jatuh layangan dengan pasti, aku harus jadi juru hitung. Arah angin, kecepatan hembus, tinggi layangan dan yang paling penting, ketajaman insting. Bahkan kalau perlu, perhatikan kecepatan rotasi bumi!
Di Gaza, zamanku, setiap sore musim panas. Anak penduduk kota pergi beramai-ramai ke pantai. Walaupun masih panas, pantai sore musim panas tetaplah tempat terbaik untuk bertanding layangan. Tiupan anginnya pas. Bahkan anak amatiran akan bisa menerbangkan layangan hanya dengan sekali coba. Namun aku kurang begitu suka bermain layangan, kurang gerak. Hanya mendongakkan kepala ke atas. Dan bahkan selalu membuat leherku kebas. Permainanku adalah mengejar layangan.
Sudah ada belasan layangan yang mengangkasa dari berbagai ukuran dan warna. Bahkan burung punai pun bingung mau terbang ke mana. Harus hati-hati. Kalau-kalau salah belok dan menabrak layangan yang lebih besar dari badannya. Layangan itu saling beradu tangkas. Mereka meliuk-liuk bak pilot angkatan udara Israel. Saling membenturkan benang dan menyerang. Pemandangan yang seru. Seperti drama kebebasan di Gaza Square pertengahan musim dingin.
Sementara itu, aku masih duduk di ujung dermaga bersama teman-temanku yang kekurangan modal membeli layangan, sambil menunggu layangan yang kalah dan putus. Kami duduk saling berpeluk pundak. Kaki-kaki kecil ini, dengan gemas menyepak-nyepak
air. Dan di atas sana, ratusan burung punai terbang di langit. Kami masih saja suka berdebat menentukan siapakah sang punai paling hebat seperti pesawat Israel. Tangan kami saling tunjuk jagoan masing-masing. Dan sang raja punai, yang terbang paling depan, pamer kedigdayaan. Dia menukik tajam ke laut. Serentak, kompi punai di belakangnya terjun menukik mengikuti. Dialah raja diraja di angkasa raya.
Setelah menunggu, satu layangan gugur dan putus. Permainan dimulai. Begini cara bermainnya: layangan putus dikejar beramai-ramai. Siapa yang paling cepat mengangkap layangan atau benangnya, dialah sang juara. Sederhana. Tapi bagiku, ini bukan sekedar mengejar layangan. Anak-anak mulai berlari. “Ayo kejar!”
Aku harus jadi yang tercepat memerkirakan letak jatuhnya. Gaza Square! Ya. Tapi harus lebih detail. Sekarang angin tidak terlalu kencang. Tapi layangannya sangat tinggi. Berarti benang yang digunakan sangat panjang. Layangan akan jatuh di sebelah timur Gaza Square. Aku harus memanfaatkan panjang benang. Aku bisa memotong jarak dengan menaiki bangunan yang lebih tinggi, lalu menangkap benangnya. Itu dia. Masjid raya! Aku akan menaiki atapnya. Mumpung takmir masjid belum datang.
Kulihat dari atas masjid, anak-anak beramai-ramai mengejar layangan. Itu kesalahan mereka: beramai-ramai. Kemungkinan mandapatkan layangan akan sulit kalau begitu. Jika cerdas, mereka akan menggunakan akal. Walaupun kurang ajar dengan menaiki masjid. Layangan semakin rendah. Benang panjangnya begitu dekat denganku. Dengan mudah, bingo, aku tangkap benangnya. Lalu bersorak kegirangan di atap masjid. Mereka melihatku dari bawah. Dan salah satunya adalah: takmir masjid!
***
Zaman bertukar. Aku telah besar. Dan semua itu berubah semenjak bom Israel menjatuhi tanah kami. Bangunan kota runtuh bercampur tanah. Rumah-rumah kami kocar-kacir. Pantai kotor. Mayat kami berserakan dengan gagak. Nyaris laut kami berubah merah darah. Perempuan Gaza diculik. Sebagian diperkosa di depan suaminya sendiri. Orang renta dikejar ketakutan luar biasa. Bahkan ketakutan itu membuat tulang kerangka berlari lebih cepat dari dagingnya. Anak-anak meringkus di kamp-kamp penampungan. Kehilangan tempat belajar dan bermain. Dihantui Dark Lord Israel.
Semenjak itu pula, konsepku dalam mengejar layangan berubah menjadi logika untuk menghidari bom pesawat yang setiap waktu jatuh dari angkasa. Burung punai yang dulu selalu aku lihat dengan bangga di pantai sore, sekarang menjadi pesawat penguasa angkasa yang galak. Begini cara bermainnya: pesawat datang, perkirakan daerah sasarnya, hindari bomnya. Kalau salah, kaulah daerah sasarnya! Bom!
Begitulah permainanku sekarang, setiap hari, menyelamatkan warga kota yang masih terjebak di rumahnya, sambil menghindari bom misil. Apalagi tentara infanteri Israel akan segera masuk kota. Gaza sangat menyedihkan. Hidup segan, mati tak mau.
Jika aku masih hidup nanti, aku ingin menyampaikan pesan kepada dunia. Isinya: biarlah Israel menghancurkan kota kami. Tapi mereka tak akan pernah bisa merampas harapan kami. Tidak akan kami tinggalkan tanah ini. Walaupun sejengkal, akan kami jaga walau dengan bertumpuk-tumpuk mayat berjatuhan. Inilah tanah lahir kami. Kalaupun Israel dan dunia bersekutu dengan bumi, langit, laut dan badai untuk merebutnya, kami bersekutu dengan Tuhan untuk mempertahankannya. Karena mereka tidak akan bisa menceraikan kami dari tanah ini. Sebab memisahkan angin dari awan adalah seperti memisahkan Tuhan dari takhtanya!
***
Pesawat itu datang lagi. Kali ini bergerombol. Sang raja diraja memimpin paling depan. Mereka menyebar bermanuver. Tidak bisa ditebak daerah sasarnya. Aku terus berlari menghindar. Namun aku salah. Tidak ada arah angin atau panjang benang kali ini. Sebuah pesawat mencegatku dari depan. Dia meluncurkan misilnya. Mengenai apartemen lalu rubuh menimbun tubuhku dan langsung hancur. Sinar mataku meredup. Lalu menutup. Akan kuadukan semuanya pada Tuhan di surga!

***

_______________
*Biodata Penulis:
Nama : Mohamad Abdurro’uf
Tempat, Tanggal Lahir : Kudus, 9 Mei 1996
Alamat rumah : Pasuruhan Lor, Jati, Kudus
Nomor Handphone : +967 775 294 550
E-mail : mohamad.abdurrouf@gmail.com
Lembaga : Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut.

Baju Koko untuk Ayah
Juara 1 Sayembara Cerita Mini Internasional PPI Yaman
Baju Koko untuk Ayah
By: Yoni Elviandri*

                Suara adzan telah menggema dari surau yang terletak di ujung desa. Gerimis pagi cukup mesra membuat orang-orang sekitar masih terbuai manja dalam peraduan mim-pinya. Dari rumah yang berdinding kayu ini, aku menyelinap bak seorang pencuri kecil yang sedang tergopoh-gopoh melarikan diri. Dengan sarung biru yang kuleletkan di ping-gang, aku melangkah pelan-pelan. Tak akan kubiarkan bunyi langkahku ini membuat segala rencanaku gagal.
             -Mau kemana Ari? Suara ayah cukup mengejutkan dan membuatku panik seketika.
             -Ah, ti..tidak, Yah. Mau ke belakang, meletakan cucian jawabku terbata-bata.
             -Hmm ketahuan bohong nih. Mana cuciannya? Tanya ayah lagi.
             -Ahh..hmm! Aku tak tahu harus menjawab apa lagi. Pastilah kebohongan hari ini terbongkar sudah. Aku takut sekaligus malu. Bukan karena takut Ayah akan memarahiku, sungguh bukan. Karena tak pernah sekalipun amarah keluar dari dirinya, aku takut karena kebohongan ini entah yang keberapa kalinya aku lakukan. Aku takut jika nanti ditanya malaikat tentang semua kebohongan ini.
              -Sudahlah, Bapak tahu kok. Kamu istirahat dulu saja, ya. Jangan terlalu banyak aktivitas, ingat pesan dokter, kan, kemarin? Nanti kalau sudah sembuh, kamu bisa ke surau lagi.
               Oke anakku? Tos dulu lah!! Lanjut Ayah, sambil memeluk tubuhku. Erat sekali. Aku hanya bisa terdiam tak menjawab apa-apa.
               Setelah divonis mengidap kanker beberapa waktu lalu, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Ayah tak membiarkanku dengan secara bebas kemana-mana, bahkan untuk sekolah pun aku selalu dalam pengawasannya. Pekerjaannya yang hanya seorang pemulung pun ditinggalkan demi aku. Ibuku telah meninggal dua tahun yang lalu, penyakit yang sama juga menimpa ibuku. Sehingga saat ini ayah merangkap menjadi seorang ayah bahkan menjadi seorang ibu untukku. Terperangkap lah aku dalam penjara kasih sayangnya. Walau hidup serba tak berkecukupan, namun ayah sangatlah mengajariku arti kehidupan.
             Ia tak pernah memperhatikan dirinya. Yang ia tahu hanya aku harus bisa hidup semestinya. Kesederhanaannya membuatku takjub luar biasa, ia tak pernah ingin tahu bagaimana bajunya yang sangat lusuh itu masih saja hinggap di tubuhnya. Yang ia punya hanya tiga potong celana jeans bekas dengan dua sarung, serta satu baju koko yang telah sangat kumal. Aku berjanji suatu hari akan membelikan sesuatu untuk ayahku.
             Rumah kami memang agak sedikit jauh dari pemu-kiman. Di desaku, rumahku menempati tempat paling ujung. Paling tinggi. Terletak di atas sebuah bukit berbatu. Sehingga kala malam menjelang, kerdip lampu sangat indah terpancar dari sini. Termasuk juga surau itu. Surau tempatku mengaji. Letaknya yang cukup jauh di ujung desa bawah sana mem-buat ayah untuk sementara waktu tidak mengijinkan aku untuk mengaji. Bukan karena ia ingin anaknya tak paham agama, namun lebih karena kasih sayangnya yang tidak menginginkan sesuatu terjadi lagi pada anaknya.
             Hari ini lomba Musabaqah Tilawatil Qur‘an tingkat anak-anak sekabupaten Kerinci sedang di laksanakan di desa-ku. Secara diam-diam aku telah memohon pada guru ngajiku untuk mendaftarkan aku. Karena yang kutahu ada beberapa hadiah yang sangat kuincar menjadi milikku, dan itu hanya akan didapatkan oleh sang juara satu. Beruntungnya, guruku adalah seseorang yang memperhatikan anak didiknya. Ia tahu kemampuanku, dan ia pun tak ragu ketika kuucapkan niat untuk ikut berlomba.
            Ayah sedang tidak di rumah. Tadi pagi beliau berang-kat mengelilingi penjuru desa untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik. Hari minggu yang membebaskan aku, karena tidak ada jadwal sekolah, maka akupun bisa sedikit terlepas dari pengawasan ayah.
            Lima jam telah berlalu dan giliranku pun telah usai. Rasa was-was tentunya menjadi plong seketika. Aku optimis saja walau sebenarnya tidak terlalu yakin. Jarang mengaji di surau bukan berarti aku tak pernah lagi membuka Al-Qur‘an di rumah. Bahkan ayah selalu mengingatkanku untuk itu.
            Hujan deras mengguyuri desaku. Jalan yang berlubang membentuk danau-danau kecil tampungan air hujan. Gelap, langit tak bersahabat. Sebentar lagi Ayah akan pulang, dan dia akan kecewa jika aku tidak berada di rumah. Aku meng-ingkari janji. Namun tak mungkin pula jika harus menerjang hujan ini, kakiku sudah tidak selincah dulu. Beberapa tulang penyangga patah akibat terjatuh tempo hari, bersamaan de-ngan vonis kanker itu ditemukan dokter menjalar di tubuhku.
           Sekarang saatnya pengumuman juara. Satu persatu nominasi telah dibacakan. Aku mengikuti cabang syahril Al-Qur‘an dan tilawah Al-Qur‘an. Cabang syahril Al-Qur‘an jelas aku tak memenangkan apapun. Hanya tinggal satu yang terakhir.
           -Dan juara pertama untuk lomba cabang Tilawah Al-Qur‘an adalah… MC membacakan nominasi terakhir yang membuat semua orang penasaran.
           -Fahri Abdullah!! Teriak MC. Aku tak dapat menyem-bunyikan bahagiaku, langsung bersujud menghadap Allah. Kemenangan ini juga membawa kecamatanku menjadi juara umum untuk pertama kalinya. Suara sorak takbir pun meng-gema. Allahuakbar!
             Belum selesai air mata ini tertahan, di balik hujan kulihat sesosok luar biasa berada di baliknya. Aku langsung menghampirinya. Kupeluk ia erat. Kulihat air matanya pun tak terbendung. Anak cacatnya ini pun ternyata masih bisa berprestasi layaknya anak normal.
            -Ayah, maaf Fahri tidak menepati janji. Fahri berlom-ba hari ini untuk Ayah. Ini baju koko yang Fahri janjikan untuk ayah. Untuk Ayah lanjutku. Ayahku memeluk erat. Tak ada satu kata pun yang terucap darinya, namun sekali lagi kulihat air mata yang mengalir di pipinya sudah mewakili rasa bahagia itu.
            -Ayah, Fahri sayang Ayah bisikku.

* Penulis  beralamatkan di Kerinci, Jambi, Indonesia.
Logika Masuk Surga


Juara 3 Sayembara Cerita Mini Internasional PPI Yaman
Logika Masuk Surga
By: Epi Suhaepi*
Di suatu Sekolah Menengah Atas (SMA), seorang guru agama tak biasanya menyampaikan materi. Materi yang disampaikan biasanya dengan metode ceramah yang membuat kelas seperti majelis taklim ibu-ibu pengajian, kali ini diisi dengan berdiskusi, melibatkan para siswa sekelas. Materinya pun cukup menarik, tentang  surga.
Anak-anak, siapa di kelas ini yang ingin masuk surga ? Tanya Pak Ahmad, Guru Pendidikan Agama Islam.
Dengan semangat semua siswa sekelas berteriak, Saya pak! Saya pak! Saya pak!.
Baik, baik. Kalau mau berbicara, angkat tangan dulu baru saya tunjuk dan silahkan bicara, perintah Pak Ahmad sambil menenangkan siswa.
Kalau kalian ingin masuk surga, tentu tahu kan, apa yang membuat kita masuk surga, ada yang tahu?  Lanjut Pak Ahmad.
Beberapa siswa mengangkat tangan dan Pak Ahmad menunjuk mereka satu persatu.
Faris, apa jawabanmu?  Tanya pak Ahmad sambil mengambil spidol untuk menulis jawaban Faris.
Shalat, zakat, puasa, dan berdoa, Pak  jawab faris dengan PD-nya.
Sambil menulis jawaban Faris di papan tulis, Pak Ahmad mempersilahkan Budi yang sedari tadi ingin memberikan jawabannya.
***
Dengan semangat, Budi menjawab dengan bantuan lima jari tangannya, Satu sering shalat tahajud, dua berbakti pada orangtua, tiga tidak mencontek, empat tidak menggosip, lima…
Sudah-sudah, sudah cukup Budi. Jawabanmu kepanja-ngan seperti kereta,  perintah Pak Ahmad sambil memotong jawaban Budi yang diiringi tawa teman-temannya. Budi pun hanya bisa diam.
Setelah mencatat jawaban Faris dan Budi, Pak Ahmad meminta semua siswa berdiri.
Baiklah anak-anak, Bapak meminta kalian semua berdiri sebentar , perintah Pak Ahmad sambil duduk di kursinya. Tanpa bertanya, semua siswa langsung berdiri.
Bapak akan memberikan beberapa pertanyaan yang mana pertanyaan ini menentukan kalian tetep berdiri atau duduk. Bagi yang nanti tetap berdiri dia lolos sebagai pemenang dan yang nanti duduk, dialah yang kalah.  Jelas Pak Ahmad.
Apakah semuanya paham?  Lanjutnya,
Paham Paaaaak!  Jawab serentak semua siswa.
Pak Ahmad pun mengajukan pertanyaan satu-persatu.
Pertama, hari ini yang shalat subuhnya kesiangan silah-kan duduk.  Dengan muka malu, lima orang siswa duduk. Siswa yang lain mentertawakan mereka.
Kedua, yang hari ini sudah menggosip atau membicara-kan aib orang, duduk! Sepuluh siswa duduk. Para siswa yang berdiri pun berteriak,
Huuuuuuuuuuuuuh .
Ketiga, yang mencontek ulangan harian kemarin, silahkan duduk!!  Sontak semua siswa yang masih berdiri duduk. Tidak ada satu pun yang tersisa. Mereka pun senyum malu, termasuk Budi dan Faris.
Sambil tersenyum, Pak Ahmad menjelaskan maksud simulasi tadi.
Anak-anak, apa yang disampaikan teman kalian tadi seperti shalat, tidak menggosip, tidak mencontek, dan lain-lain, itu merupakan kebaikan. Lantas apakah kita masih ber-pendapat bisa masuk surga sedangkan kebaikan kita sedikit?Tanya Pak Ahmad.
Sambil mengangkat tangan, Budi menjawab,
Bisa saja Pak, tadi kan kebaikan kita sedikit, kalau banyak bisa masuk surga donk?  
Sekarang Bapak tanya, Surga itu milik siapa?  Tanya Pak Ahmad.
Milik Allah, Pak,  jawab siswa serentak.
Kalau pun kebaikan kita banyak tapi kalau pemilik surga tidak mengizinkan kita masuk surga apakah kita masih bisa masuk surga?  Tanya lagi Pak Ahmad.
Semua siswa terdiam, merenungi pertanyaan Pak Ahmad yang memang masuk akal.
Akhirnya, Pak Ahmad menjelaskan logika masuk surga
Amal kebaikan ternyata tidak membuat kita masuk surga. Kalau kita berpikir bahwa amal kita yang membuat kita masuk surga, betapa sombongnya manusia, sedangkan surga itu milik Allah. Maka dari itu, masuk tidaknya manusia ke surga karena kehendak Allah berupa Rahmat-Nya. Amal ke-baikan kita hanya perantara untuk Allah menurunkan rahmat,  jelas Pak Ahmad.
Semua siswa terpukau dengan jawaban guru agama mereka. Selain jawaban yang masuk akal, kadang manusia terlalu bangga akan segala amal kebaikan yang dilakukan, seolah-olah surga miliknya.
* Penulis beralamatkan di Pandeglang, Banten, Indonesia
Rumah Pasir yang Terhempaskan


Juara 2 Sayembara Cerita Mini Internasional PPI Yaman
Rumah Pasir yang Terhempaskan
By: Noorhani Dyani L.*
Maaf Dara keputusan aku sudah bulat, karena kita bersahabat dari kecil maka aku sudah menganggap kamu sebagai adik, Jaka berkata lembut pada Dara gadis yang sekarang sudah berusia dewasa. Gadis kecil teman bermain di sepanjang pesisir pantai pasir putih dari siang hingga senja menjemput. Bahagia dan kesedihan telah tereguk bersama. Tapi waktu memang tidak bisa dilogika.
Saat sang ayah mereka pergi berhari-hari berlayar mencari ikan-ikan guna menopang hidup yang semakin berat. Selalu Dara dan Jaka menanti dengan berharap sang ayah akan membawa ikan-ikan yang banyak dan mereka bisa tetap sekolah. Sepanjang hari membuat istana pasir dan kadang terbesit cemas tersirat dari sorot Dara kecil karena tiba-tiba tanpa aba-aba rumah istananya harus lenyap terhempas gelombang yang mendadak pasang.
Jaka tahu Dara menangis bukan karena istana Ratu Pelita dia kerap sebut yang sudah di bangun sedari siang hingga sore begitu mewah hancur tanpa bekas. Larut melebur bersama pecahan butiran pasir yang melumer kembali menjadi daratan.
Tenanglah Dara, ayah kita akan pulang dengan sela-mat. Aku akan selalu menjagamu. Jaka lebih tua tiga tahun mendekap Dara dengan sayang.
Kenyataan malam itu dan selanjutnya sang Ayah memang tidak pernah kembali, hancurnya istana Ratu Pelita disuatu senja memuncak bagai isyarat sang penopang hidup harus kembali pada Dzat Penciptanya.
Jaka memeluk Dara erat,
Kita sama-sama kehilangan Ayah. Apapun yang terjadi kita harus berjuang untuk memenangkan pertaruhan hidup, Adikku .
Dara tahu Jaka pun ternyata tidak sanggup mem-bendung air matanya yang mengalir deras. Dara tahu betapa Jaka sangat mencintai ayahnya yang selalu berusaha mem-buatnya dia bahagia dengan berbagai mainan yang dia beli walau sederhana apabila hasil tangkapan ikannya melebihi harapan. Sedikit uang sisa untuk menyenangkan puteranya.
Tujuh belas tahun berlalu, Dara masih menanti Jaka dengan janjinya. Jaka tidak lagi bisa menemaninya bermain istana pasir, mencari kerang, meronce kerang-kerang menjadi kalung atau sekedar berlarian mengejar kepinting-kepinting hingga persinggahan terakhirnya.
Jaka dipungut oleh saudagar kaya, disekolahkan dan kini hadir menawan dengan kulit yang bersih terawat, tidak selegam sewaktu meninggalkan desa pesisir pantai.Tidak lagi tercium bau khas anak pantai yang diam-diam Dara suka semenjak pelukan pertama masa kecil ketika kepergian ayah mereka.
Di depannya pria yang wangi, Dara tidak tahu wangi apakah yang tengah membuat hidungnya gatal. Jaka tujuh belas tahun sudah berubah. Dan Dara tetaplah gadis pantai yang berharap bertemu dengan lelaki masa kecilnya yang akan terus memeluknya.
Dan Dara pun sadar ketika Jaka kembali mengulang perkataannya Maaf, Dara, keputusan aku sudah bulat. Karena kita bersahabat dari kecil maka aku sudah menganggap kamu sebagai adik…
Tanpa engkau berkata maaf aku sudah tahu, Jakaku tujuh belas tahun lalu pun telah hilang… Dara menjawab.
(Nenny Makmun – Bursa Efek Jakarta 02/02/2012)
* Penulis bernama asli Nenny Makmun, beralamatkan di DKI Jakarta
RSS
Follow by Email
YouTube
Instagram
Telegram
WhatsApp