Search for:
Tarim, Kota Kecil Penuh Ilmu dan Amal

Bila disebut nama Tarim, sang pencinta yang asyik tidur akan terbangun.

Bila disebut kalam ulama Tarim, hati yang mati kering kerontang akan tersirami dan kembali hidup segar.

Bila diperdengarkan cerita tentang Tarim, sang pencinta akan berdatangan, duduk khusyuk mendengarkan dengan penuh kekaguman.

Bila disebut hikmah bumi Tarim, orang akan berlarian serasa ingin sekali menginjakkan kaki di sana, di bumi penuh keberkahan tersebut.

Tarim, kota kecil yang besarnya tidak lebih luas dari sebuah kecamatan di Indonesia ini, namanya sangat tersohor di antero alam. Siapa yang tidak kenal Tarim, kota yang masyhur dengan sebutan kota seribu wali ini menjadi kota favorit para penuntut ilmu dari belahan dunia untuk menuntut ilmu di sana.

Tarim Al Ghanna terkenal dengan banyaknya para  wali disana sampai – sampai kota mungil ini digelari dengan sebutan kota seribu wali, mengingat saking banyaknya wali – wali Allah yang ada di sana. Selain itu, kota Tarim juga terkenal dengan kilau cahaya ilmunya, tidak heran,bisa dibilang kota Tarim ini merupakan pabriknya mufti Syafi’iyah (Mufti Madzhab Syafii). Di Tarim sendiri terdapat banyak peninggalan manuskrip – manuskrip kitab karya ulama terdahulu, itu menjadi bukti bahwa sejak dulu kota Tarim memang kaya akan budaya keilmuan.

Sebagai kota kebudayaan Islam dan juga kota ilmu, Tarim memiliki banyak lembaga keilmuan yang siap untuk menjaga dan mengembangkan warisan keilmuan dari para leluhurnya, serta siap untuk mencetak generasi ulama dan mufti (ahli fiqih)  yang akan menyebar keseluruh penjuru alam. Dari banyaknya lembaga pendidikan yang ada di Tarim, di antaranya; Rubat Tarim, Darul Musthofa, Kuliyyah Syariah (Universitas Al Ahgaff), Ma’had Al Idrus, kubbah Muroyyam, Darul Ghuroba, Kuliyyah Al Washothiyah (Universitas Al Washotiyyah), Rubat Al Imam Al Muhajir, Daaruzzahra’ (untuk perempuan), Daarul Faqih Al Muqoddam (untuk perempuan), dll. Bisa dibayangkan betapa menakjubkannya kota kecil yang besarnya tidak lebih dari kecamatan yang ada di Indonesia ini dipadati dengan lembaga – lembaga pendidikan yang berkualitas dan bertaraf internasional.

Di samping itu, kota mungil yang mulia ini juga memiliki adat acara rutinan yang tak kalah padatnya. Mulai dari acara rutinan harian, mingguan, bulanan sampai tahunan.

Sedikit gambaran tentang padatnya kegiatan penduduk tarim setiap harinya, setiap Senin pagi sesudah isyraq mereka biasanya menghadiri pembacaan kitab Ihya ulumiddin oleh para habaib (plural: Habib) dan masyaikh (plural: Syeikh) bertempat di kubah Habib Abdullah Al Aydrus di pemakaman Zanbal, satu jam sebelum Ashar juga ada kegiatan Rouhah yang dipimpin oleh Al Habib  Ahmad bin Abdullah bin Syihab yang bertempat di Zawiyah Syeikh Ali bin Abi Bakar Assakran, sesudah Magribnya juga ada pembacaan maulid  Ad Diba’i, bertempat di masjid As Surur, di waktu yang sama di masjid Jami’ Tarim juga ada pembacaan kumpulan kalam Al Habib Abdullah bin Husein bin Thohir yang dibacakan oleh Grand Mufti Tarim; Al Habib Ali Masyhur, sesudah Isya’nya juga ada pengajian kitab Assunanul Kubro oleh Assyeikh Muhammad bin Ali Ba’udhon di masjid Bin Sahl, di waktu yang sama juga ada pengajian Tafsir Al Quran oleh Al Habib Umar bin Hafidz yang bertempatkan di halaman Darul Musthafa, itu baru hari senin loo.. !

Lanjut ke hari Selasa, sesudah sholat Shubuh, di Tarim, kita bisa langsung memanjakan rohani kita dengan mengikuti pembacaan Hadhrah Basaudan oleh para Habaib dan Masyaikh di Ribat Tarim, sesudah Isyraq juga ada pengajian di Zawiyah Syeikh Salim Bafadhol yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad bin Ali Al Khotib, sesudah Asharnya ada pembacaan Hadhrah Basaudan di rumah Habib Abdurrahman Al Masyhur yang dipimpin oleh Habib Ali Masyhur, di waktu yang sama, di kubah Al Habib Abu Bakr Basymeleih di pemakaman Zanbal juga diadakan pembacaan Hadhrah Basaudan yang dipimpin oleh para Habaib dan Masyaikh Tarim.

Lanjut ke hari Rabu, sesudah Isyraq, kita bisa langsung ikut pelajaran Madras di Ribat Tarim yang di pimpin oleh Al Habib Jailani Assyathiri dan Al Habib Abu Bakar Muhammad Balfaqih, sesudah Dzhuhur jam 2 siang waktu setempat sampai waktu Ashar, ada pembacaan kitab Safinatunnaja dan juga pembacaan Hadis oleh Habib Abu Bakar bin Sumaith di kediaman Beliau, untuk sesudah Asharnya, ada pengajian kitab Yaqutunnafis oleh Habib Ali Masyhur yang bertempatkan di rumah Habib Abdurrahman Al Masyhur, sesudah Isya’ juga ada pembacaan Hadhrah Al Imam Assegaff di Masjid Assegaff, selain itu di tempat lain, tepatnya di Darul Musthafa juga ada Jalsatul Arbi’aa oleh Habib Umar bin Hafidz.

Di hari Kamis, sesudah sholat Shubuh ada Khataman Al Quran di Masjid Ali Ba’alawi, Masjid Al Muhdhor, Darul Musthafa dan di berbagai masjid lainnya yang ada di Tarim, sesudah Isyraqnya ada pembacaan Shahih Bukhori di masjid Ba’alawi, satu jam sebelum Ashar juga ada pengajian oleh Al Habib Ahmad bin Abdullah Bin Syihab di Zawiyahnya Syeikh Ali bin Abi Bakr Assakran, dan setengah jam setelah Ashar juga ada pembacaan kitab Risalah Adab Sulukil Murid dan kitab Attanbih oleh Habib Abu Bakar Muhammad Balfaqih di Zawiyah Masjid Ba’alawi, sesudah Maghrib juga ada pembacaan kitab Arrisalah Al Jami’ah oleh Ustadz Ahmad bin Muhammad Ba’udhon di masjid Sahl, di Darul Musthafa juga ada pembacaan Maulid Addhiya’ullami yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafiz, sedangkan di masjid Jami’ Tarim, juga ada pembacaan maulid Addiba’i yang dipimpin oleh Habib Ali Masyhur, sesudah Isya’nya juga ada pengajian kitab Riyadhusshalihin oleh Syeikh Muhammad bin Ali Ba’udhon di masjid Sahl, untuk sesudah maulid juga ada pembacaan Hadhrah Imam Al Haddad oleh Munshib Al Habib Hasan bin Umar Al Haddad.

Lanjut ke hari Jumat, Sesudah Isyraq hari Jumat orang Tarim biasanya hadir ziarah berjamaah ke pemakaman Zanbal, Furaith, dan Akdar dengan dipimpin oleh para Habaib dan Masyaikh Tarim, sesudah selesai Sholat Jumat, di Bait Al Hadhrah ada pembacaan Hadhrah Imam Al Haddad yang dipimpin oleh Habib Hasan bin Umar Al Haddad, sesudah Ashar di rumah Al Habib Alwi bin Syihab dan juga di Ribat Tarim di adakan Rouhah, untuk Rouhah di Ribat Tarim berlanjut hingga sesudah maghrib. Sesudah Magrib hari Jumat, ada pengajian kitab Muqoddimah Hadhramiyah, Al Arbain Annawawiyyah, dan Ahammul Wajibat wal Mandubat di mesjid  Tashiluttho’ah yang dipimpin oleh Syeikh Thoha, sesudah Isya’nya, Syeikh Toha juga memberikan pengajian kitab Umdatussalik di masjid Babthiynah Ribat Tarim.

Untuk hari Sabtu, sesudah Isyraq ada Madras yang dipimpin oleh Habib Jailani Assyathiri atau Habib Abi Bakar Muhmammad Balfaqih yang bertempat di Ribat Tarim.

Pada hari Ahad, Pagi setelah Isyraq ada pengajian di Zawiyah Syeikh Salim Bafadhol yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad Ali Al Khatib, sesudah Dzuhur sekitar jam 2 siang waktu setempat ada pembacaan hadis dan pengajian kitab Safinatunnaja yang dipimpin oleh Habib Abu Bakar bin Sumaith yang bertempat di rumah beliau, sesudah Isya’nya ada Hadhrah Segaff yang bertempat di masjid Assegaff.

Nah , apa yang telah saya sebutkan di atas hanya sebagian dari majelis serta pengajian yang ada di Tarim, masih banyak majelis – majelis serta pengajian lainnya yang belum saya sebutkan. Bisa kalian bayangkan betapa super menakjubkannya, kota semungil Tarim dengan kegiatan yang super padat itu.

Gelar Tarim sebagai kota kebudayaan Islam, saya rasa sangatlah pantas, kota yang kaya akan keilmuan, budaya, dan masjid, kota yang penuh dengan tata krama dan adab. Maka tidaklah berlebihan kalau Al Imam Ahmad bin Abil Hubb pernah berujar : “Andai saja mereka melihat hakikat kota Tarim, maka mereka akan mengatakan, syurga dunia adalah Tarim”. Selain itu Al imam Al Qutb Abdullah Al Haddad juga pernah mengatakan : ‘’Andai saja engkau mengeluarkan seluruh hartamu untuk mengunjungi kota Tarim, maka apa yang engkau dapatkan akan lebih banyak daripada apa yang engkau keluarkan”.

Jadi, untuk menceritakan tentang kesempurnaan kota Tarim maka tidak akan ada habisnya, walaupun lautan menjadi tintanya dan bumi menjadi kertasnya, maka tidaklah cukup untuk melukiskan tentang kesempurnaan kota Tarim ini. Sungguh betapa sangat sempurnanya kota Tarim ini. Mulai dari para wali – walinya, ulama – ulamanya, lautan ilmunya, lautan hikmahnya, keindahan tata krama penduduknya, dan semua yang berbau tentang Tarim akan membuat para pecintanya terkagum – kagum dan semakin larut dengan cintanya.

(Oleh : Gamal Abdul Nasir)

Terus ikuti kami di akun-akun media sosial kami :

Website : https://ppihadhramaut.com/

Instagram : @ppihadhramaut

Youtube : PPI Hadhramaut Channel

Telegram : PPI Hadhramaut

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut mempersembahkan : “SAYEMBARA CERITA MINI Internasional (SCMI) ke-4

Demi memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,  PPI Hadhramaut menyelenggarakan sayembara cerita mini (SCM). Dengan tema
“1945 KE 2045, SAMPAI INDONESIA EMAS”.
.
Ketentuan Lomba
1. Peserta adalah warga Negara Kesatuan Republik  Indonesia
2. Merupakan karya orisinil penulis, bukan saduran copy paste maupun plagiat dan belum pernah dimuat dalam media massa maupun elektronik, serta tidak dalam proses pengajuan ke media maupun penerbit manapun dan belum pernah memenangkan sayembara serupa
3. Sub tema bebas, namun diharapkan mampu memberikan inspirasi atau pesan moral kepada pembaca
4. Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi
5. Panjang maksimal naskah 2 halaman, kertas A4, font Times New Roman, size 12, spasi 1.25, 6. batas margin atas (top) 3 cm, kanan (right) 3 cm, kiri (left) 3 cm bawah (bottom) 3 cm
7. Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia sesuai kaidah EYD / EBI
8. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan batas pengiriman 31 Juli-30 September 2018
9. Share info sayembara ini di Facebook / IG lengkap beserta posternya, dan meng-tagg minimal 25 teman anda dengan mencantumkan akun FB PPI Yaman, FB Pelajar Hadhramaut & IG ppihadhramaut.
10. Meng-like Fanspage Ppi Hadhramaut
11. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat
.
Kriteria Penulisan
Isi dan Motivasi                 : 60 Poin
Metodologi Penulisan    : 40 Poin
.
Cara Pengiriman Naskah
1. Peserta mengirimkan naskah melalui E-mail scmi4yaman@gmail.com dengan subyek : SCMI4/(judulnaskah)/(nama penulis)/(negaratinggal) contoh : SCMI4/UntukmuIndonesia/Ahmad/Yaman.
2. Naskah yang dikirimkan dilampirkan dalam dua file, satu file berisi Cerita Mini yang dilombakan (tanpa mencantumkan nama penulis dalam tulisan cerita mini) dan satu file berisi Biodata Penulis (teks. 50 kata, No WA, E-mail, dan alamat rumah) file yang dikirimkan dilampirkan dalam attachment, bukan di badan E-mail.
3. Pemenang sayembara akan diumumkan pada hari Senin 05 November 2018, di Fanspage Ppi Hadhramaut dan akun Facebook Tim Pelaksana (PPI Yaman, Pelajar Hadhramaut, dan FLP Hadhramaut)
Hadiah & Apresiasi
1. Juara I              : Rp. 1.250.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
2. Juara II             : Rp. 1.000.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
3. Juara III            : Rp. 750.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
4. 50 Nominator Terbaik :
                                  Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Naskah Di Bukukan
5. Seluruh Peserta Akan Mendapatkan Sertifikat (.JPEG).
.
Contact Person :
+967 773 626 176
Ulinnuha / Ketua Panitia SCMI4
.
Informasi lengkap kunjungi di :
www.ppihadhramaut.com
Facebook : Pelajar Hadhramaut
E-mail : scmi4yaman@gmail.com

KETIKA CINTA BERTAHMID

(Oleh : Ricky Faishal —Ricky Ibnsidiq— Koordinator Dept. Pendidikan dan Dakwah PpiH)
Dahulu kala, ada seorang pemuda, pencinta, dan penyanyang. Tuhan anugerahkan padanya sosok wanita yang baik dan cantik. Ia selalu bermimpi dengan wanita itu akan menggapai semuanya berdua tanpa campurtangan keluarga besarnya.
Hari-harinya diisi dengan canda tawa, senyum si wanita dan perhatian yang mungkin tidak semua orang dapatkan. Rasa syukur terus mengalir, membahasi lidahnya dengan kalimat tahmid. Ia sadar bahwa Tuhan memberinya anugerah yang besar.
Suatu hari ia bertanya, “Sayang, sudikah kau menerima keadaanku?
Sayang dengarkan aku, Jika aku tak sudi aku tidak akan pernah melangkah sejauh ini.”
Lelaki itu menjawab, “Jika benar kau sudi menerimaku, tolong jaga aku, sayangi aku, cintai aku, urusi aku, jangan kau lepas genggaman tanganku! Aku akan menggenggam tanganmu sekuat aku menyanyangimu,” jawab si wanita.
***
Kawan, cinta tak pernah mengenal apa itu rupa. Ketika hati mulai memupuk gunung-gunung rasa, cinta akan menjadi bagian tertinggi gunung itu.
Pemuda itu sadar bahwa dirinya tak bisa berjanji banyak, ia hanya bisa membuktikannya, karena ia yakin janji bisa kita ingkari, tapi bukti tak dapat disangkal. Ia mencintainya dengan bukti, bukan dengan janji.
Sang wanita menangis melihat keluh, rintih sang pemuda memperjuangkannya. Cucuran air mata tak tertahan, hidung memerah seraya hatinya menggerutu, “Bodoh jika aku lepaskan ia, lebih bodoh lagi jika aku menyakitinya. Tuhan! jaga ia untukku.”
Sembahan doa, rangkaian kata berserah padaNya selalu mengalir, harinya tak lepas dari syukur karena dihadiahkannya seorang pemuda baik. Pemuda itu tersenyum, menebar apa yang ia miliki dari kebahagiaan memeluknya, menggenggam tangannya tak terlepaskan.
Sadar, bahwa hati mereka terikat satu dengan lainnya, menyatu, melebur dalam rasa, bercampur bak pasir terhimpit bebatuan.
KISAH PUTRI INGGRIS YANG MELIHAT SAYYIDAH KHADIJAH
Hadhramaut – Alhamdulillah. Setelah berminggu-minggu berada di luar negeri dalam rangka berdakwah, Al Habib Umar bin Hafidh kini telah tiba kembali ke Tarim, Hadhramaut. Kamis malam (16/11), beliau juga bisa ikut hadir ke majelis maulid Baginda Rasulullah saw yang digelar saban malam Jumat di pesantrennya, Darul Musthafa, Tarim.
Seperti biasanya, setelah pembacaan maulid, acara diisi dengan mau’idhah hasanah, atau hanya sekadar berbagi cerita dakwah oleh murid-muridnya habib. Tak hanya murid pribumi, pidato juga diisi oleh murid-muridnya dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Malam Jumat lalu, ada kisah menarik yang diceritakan oleh salah satu pembicara asal Bangladesh. Ia berkisah tentang seorang anak kecil yang melihat langsung Sayyidah Khadijah ra. secara kasatmata. Berikut kisahnya:
Sebuah kisah nyata dari keluarga kecil di Brithania. Dimana hiduplah seorang ayah dengan istri dan dua anaknya yang masih kecil, laki-laki dan perempuan. (Anak perempuannya itu sebut saja namanya Bella. –tambahan Reporter)
Setiap harinya, sang ayah selalu istikamah membacakan kisah sirah Nabi Muhammad saw setiap kali mereka ingin tidur malam. Dan kepada anak gadisnya, ia selalu menceritakan sosok serta kehidupan isteri Rasulullah saw tercinta, Sayyidah Khadijah.
Hingga tiba suatu hari mereka sekeluarga berkesempatan untuk berziarah ke makam Rasulullah saw di Madinah Al Munawwarah. Sang ayah berkata kepada anak gadisnya yang masih kecil itu, “Nak, itu adalah makamnya Sayyidah Khadijah.”
Si gadis kecil itupun berjalan menuju makamnya Sayyidah Khadijah.
Ia berdiri menghadap makam.
Tak dinyana, air mata pun bercucuran mengalir di pipi yang imut itu. Ya, ia menangis terharu.
Sepulangnya ke hotel tempat keluarga itu menginap, si Bella langsung berlari kaget masuk ke kamar orang tuanya, sambil berteriak, ia berkata, “Papa, aku tadi melihat Sayyidah Khadijah di kamarku!” (Wallahu ‘alam)
***
Bulan Rabiul Awal sudah di depan mata. Setiap umat muslim memiliki cara masing-masing untuk menyambutnya dan merayakannya. Secara global, sikap mereka dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan; membolehkan atau tidak membolehkan. Tergantung dari cara pandang dan masyarakat sekitar mereka dalam menanggapi bulan yang mulia ini.
Ada yang sudah mulai menyingsingkan lengan, menyiapkan rentetan planning ini dan itu, lengkap dengan kalkulasi dana, waktu dan tempat. Dan ada juga yang masih belum ngeh, cuek dan belum ingin merasakan kebahagiaan dari datangnya angin bulan Rabiul Awal ini. Namun, apapun itu, tentu sebagai umat muslim, umatnya Nabi Muhammad saw, kita sangat menginginkan beribu kebaikan di bulan ini. Menambah amal kebaikan di dunia, tempat persinggahan untuk menuju akhirat.
Sudah seharusnya kita teliti, apa saja yang bisa kita lakukan dalam event Rabiul Awal ini, tentu diantaranya dengan menjadikan hadirnya bulan mulia ini sebagai alarm pengingat, mengingat bahwa di bulan ini kita perlu merefresh ingatan kita, anak-anak kita tentang sirah kehidupan nabi Muhammad Saw. Dengan harapan kita bisa meneladani perilaku dan akhlak beliau.
***
> Tidakkah kita ingin merasakan manisnya kebahagiaan memiliki anak saleh dan salehah seperti Bella di atas?! Dan tidakkah kita ingin anak-anak kita menjadi anak yang dicintai oleh Nabi Muhammad saw beserta keluarganya? Sudahkah kita mengenalkan siapa itu sosok Nabi Muhammad saw beserta istri, keluarga serta sahabat-sahabatnya kepada anak-anak kita?!
> Di bulan Rabiul Awal ini lah, mari kita jadikan ia sebagai event alarm pengingat untuk kembali mengkaji kisah sirah Rasulullah teragung itu. Semoga Allah tanamkan di setiap hati kita, anak-anak kita rasa bahagia dalam menyambut bulan yang penuh mulia ini; bulan kelahiran serta wafatnya Sayyidil Wujud, Nabi Muhammad saw.
Semoga Allah bekalkan di hati kita, anak-anak kita rasa rindu untuk melihat wajah nabi Muhammad saw di dunia sebelum di akhirat. Amin Allahumma amiin. (Bayu Maulana Edi — El-Bayu Assallaatoh)
MAULA JENGKANG

By: Mohamad Abdurro’uf*
 
Secara cerdas, baru-baru ini, aku telah membentuk persekongkolan ganjil antara diriku dengan logikaku. Persekongkolan tersembunyi. Sehingga, di dunia ini hanya aku yang boleh tahu. Bahkan, aku diam-diam merahasiakannya dari diriku sendiri.
Logikaku berkata bahwa, opini publik yang dibentuk secara struktural dan terarah, akan membentuk suatu pola yang diyakini semua anggota masyarakat. Maka, ketika setiap orang yang kau temui berkata, sarapan akan memenuhi semua kebutuhan nutrisi harian, kau akan meyakininya. Seperti kata orang sebelum masehi, bahwa bumi itu datar.
***
Desa Bet Jubn bukanlah desa yang gemerlap banyak lampu. Melainkan sebuah desa pelosok di tanah tandus Yaman. Bahkan kaktus tak bisa tumbuh. Terputus dari dunia luar. Listrik tak ada. Hei, bagaimana listrik mau ada? Desa ini lahir sebelum listrik ada. Maka, edarkan khayalmu pada abad enam hijriah. Pada saat itulah kisah ini bercerita.
Di Bet Jubn, hanya ada seorang alim. Tiada tanding sebab tak ada yang lain. Semua dakwah keagamaan diembannya semua. Permasalahan sengketa, keluarga, jampi-jampi sampai gumam mantra sakti dilakoninya semua. Masih banyak gangguan jin saat itu di Yaman. Maka tak jarang, setiap empat puluh hari sekali, penduduk desa berkumpul di masjid untuk sedekah keselamatan bersama. Penduduknya masih awam beragama.
Masjid Maula Jengkang menjadi masjid satu-satunya rumah ibadah dan pusat dakwah. Masjid itu sudah tua, tidak diketahui siapa yang membangun dan kapan didirikan. Empat saka penyangganya sudah reot. Sering berdecit ketika datang angin. Kayu luban di dinding dan langit-langitnya sudah lapuk. Seperti orang renta osteoporosis yang akan terjungkal tertiup angin. Menaranya luntur, karena dibangun dari tanah liat dan berulang kali terguyur hujan. Maka hanya perlu menunggu waktu, masjid itu akan runtuh.
Setiap pemilik nyawa akan bertemu ajalnya, begitu juga sang alim satu-satunya. Dia meninggal tanpa seorang pengganti. Kacaulah urusan agama desa itu. Khotbah Jumat kosong. Pengajian libur panjang. Maka penduduk desa berembuk mencari pengganti.
Ada seorang wanita salehah bernama Adawi. Keilmuannya mumpuni, bijaksana, lembut bertutur kata, halus berlaku tingkah. Nyaris disepakati bahwa Adawi akan menjadi pengganti juru dakwah. Namun, salah seorang penduduk mengingatkan, juru dakwah juga harus mengisi khotbah Jumat dan menjadi imam salat. Perkara masygul muncul. Akhirnya, pilihan jatuh pada suami Adawi, namanya Abu Lihyah.
“Maulah engkau memimpin urusan agama kami,” pinta penduduk ramai.
“Tapi aku tak bisa, tak fasih membaca Al-Qur’an dan kurang keilmuan”.
Dengan terpaksa, sebab kepepet tak ada yang lain, Abu Lihyah mau-mau-tempe menyanggupinya. Padahal apa yang dikatakannya benar-benar secara harfiah, dia tak bisa. Bukan tak mau. Juga bukan sebab merendah. Maka, tugas pertamanya, Jumat besok dia akan menjadi imam salat dan berkhotbah di mimbar masjid Maula Jengkang.
Tersebar berita bagai badai pasir musim panas, seperti normalnya berita beruntun, bahwa seorang alim baru telah hadir. Menguasai berbagai keilmuan. Sekarang, nama Abu Lihyah akan terkenal sebagai juru dakwah sakti mandraguna tiada saing.
Abu Lihyah mulai menghafal surat-surat pendek dan belajar berkhotbah dari Adawi. Dengan telaten, Abu Lihyah menguasi retorika khotbah dan hafal surat Al-A’la dan Al-Ghasyiah untuk mengimami salat. Pada saat Jumat tiba, dia naik mimbar. Dengan lancar sedikit gugup berkeringat, kaki gemetar, dia buat para jemaah terpukau.
Namun, setiap borok akan bernanah. Sekarang Abu Lihyah memimpin salat. Dia bertakbir dengan mantap. Suaranya berwibawa seperti kata berita. Rakaat pertama dia baca Al-A’la dengan lancar mendayu-dayu. Namun, saat berdiri di rakaat kedua, saat dia baca surat Al-Ghasyiah, dia lupa lanjutan ayatnya. Nanah pun tercium baunya.
“Alam tara ilal ibili kaifa khuliqat,” senyap. “Kaifa khuliqat,” dia ulang bacaannya. Deg. Dia mulai bingung. Keringat mengguyurnya. Dia berusaha mengingat lanjutan ayat, namun gelap. Nihil tiada hasil. “Wah, bakal gawat. Lebih baik aku kabur sekarang.”
Tiba-tiba, Abu Lihyah angkat gamis lalu berlari keluar sekencang-kencangnya. Kaki-kakinya saling kejar satu sama lain. Dia keluar dari masjid itu. Jemaah kebingungan. Bagaimana hukum salat yang ditinggal kabur imamnya. Salat mulai tak khusyuk. Mereka dibutakan oleh berita, mereka gelap mata. Mereka semua berlari keluar mengejar Abu Lihyah. Sekencang apa dia berlari, sekencang itu pula dia dikejar.
Tak dinyana-nyana, tak diduga-duga, setelah orang terakhir keluar dari masjid itu, angin kencang bertiup membawa butir-butir pasir dan batu. Angin menghantam masjid reot itu. Maka hanya ada satu kemungkinan, masjid itu pun rubuh.
***
Sekarang, aku sering berhati-hati pada berita yang belum kutahu benarnya. Barang kali, itu adalah semacam persekongkolan jahat lain di luar diriku. Maka, aku dan pikiranku akan mencari konfirmasi dengan semangat berjingkrak-jingkrak sebelum aku keliru melemparkan batu bukan pada pelakunya.
***
Semua penduduk terhenyak. Ternyata ini sebab sang imam berlari keluar masjid. Ya, Maula Jengkang runtuh menyatu dengan tanah lusuh. Sekarang, semua penduduk sepakat bahwa Abu Lihyah adalah wali kekasih Tuhan. Dia tahu apa yang belum terjadi. Inilah nanah yang tercium harum. Sambil berlarian, peraturannya berubah menjadi satu: dilarang berlari mendahului imam, barang siapa melakukannya, batal salatnya!
***

______________
*Biodata Penulis:
Nama        : Mohamad Abdurro’uf
Tempat, Tanggal Lahir          : Kudus, 9 Mei 1996
Alamat rumah         : Pasuruhan Lor, Jati, Kudus
Nomor Handphone           : +967 775 294 550
E-mail              : mohamad.abdurrouf@gmail.

Boncengan Itu,,Zina gak ya?!
 
Oleh : AMZ, Sekarbela City

Warna langit memudar dengan bergesernya matahari ke upuk barat. Sore itu Rijal bersama teman-temannya baru usai tadarusan Qur’an di sekolahnya.

Berkisar setengah jam dari waktu berbuka semua kegiatan selesai. Triakkan kenalpot motor dari parkiran terdengar sampai musola sekolah. Tak heran karena panggilan ingin segera berbuka.
Rijal bergegas menelusuri kelas kosong yang berjejer di lorong bangunan, rerumputan liar di taman tak kalah riangnya untuk menyambut waktu berbuka yang segera tiba.
Rijal pun sudah memutar arah motornya, menghadap pintu gerbang sekolah. Dengan pelan tapi pasti dia menjalankan motornya. Tak sengaja matanya melirik gadis berjilbab hijau sedang menunggu di pinggir jalan. Berdiri di pelataran jalan yang tak jauh dari pintu gerbang sekolah. Lalu Rijal mengambil haluan kearahnya seraya menyapa “Sofia, kenapa belum pulang?”.
“Iya nih, nomor rumah gak bisa di hubungi” jawab Sofia dengan wajahnya yang menunduk.
“Terus bagaimana kamu mau pulang. Ini sudah mau azan loh”
“Gak tau juga. Tapi aku sudah kirimkan pesan ke nomor ibu untuk menjemputku”.
Dengan mengkerutkan jidatnya Rijal merasa iba dengan temannya satu kelas itu.
“Hayo sudah, aku antar pulang. Biar gak kemalaman”
“Tapi…”
“Mau gak, ini sudah keburu azan loh”
“Ya sudah, aku kirim pesan lagi biar aku gak di jemput”.
Setelah dari perbincangannya, merekapun beranjak dari gerbang sekolah. Melewati perempatan jalan pendidikan dan terus melaju ke barat seakan beradu cepat dengan matahari yang akan tenggelam. Tapi matahari tetap saja lebih cepat, di persimpangan jalan dia mendapati azan berkumandang.
Rijal pun membuka kaca helmnya dengan menghembuskan nafasnya.
“Kita buka dulu ya. Soalnya nanggung juga nih”.
“Terserah yang ngasi tumpangan aja” dengan senyuman Sofia menjawab.
Tak kalah Rijal juga membalas dengan senyuman.
Setelah berbuka dan mengantar Sofia pulang. Dia pun pulang kerumah dengan riang.
###
Langkah Rijal menuju kamarnya terhenti dengan panggilan ayahnya yang ada di ruang tengah sedang duduk bersama ibunya. Tanpa meneruskan langkah kakinya kekamar, Rijal menemui orangtuanya terlebih dahulu.
Tanpa basa basi bapaknya menegur “tadi pulang sama siapa Jal?”. “Sammmmmmm….a.. teman pak. Kenapa ?”
“Bapak tadi lihat kamu di persimpangan dan sekarang bapak ingin menyita motor dan hp mu dulu”.
“Maaf pak. Saya lupa peraturan”
“Serahkan dulu, nanti jelaskannya”
“Sumpah pak, saya gak ngelakuin apa-apa. Jadi jangan di ambil gitu”
“Walaupun gak ngelakuin apa tapi serahkan dulu. Ini sudah perjanjian kita. Jangan coba ingkar janji kerena Allah selalu tahu”
Astagfirullah.. gumam Rijal dengan berbisik pada dirinya.
Ibu menimpali “anakku, berikan dulu sama bapak. Setelah kamu jelasin mungkin bapak bisa meringankan”
“Bener bu, saya gak ngelakuin apa-apa. Saya hanya ngantar dia pulang”
“Benar cuma itu kalian berduan?”
“Saya buka bareng juga sama dia bu, di warung persimpangan” tampang Rijal yang mulai kecut dengan pertanyakan yang diajukan.
“Anakku, ingat ya. Tak ada yang menjamin mu selamat dari fitnah. Walau menurutmu gak ngelakuin apa-apa, tapi bersentuhan dan gejolak perasaan saat kalian bersama tak mungkin terelakkan. Jangan merasa aman dari perangkapnya setan. Dia yang menjebloskan Nabi Adam, apalagi kita yang bukan nabi. Jadi sekali lagi jangan merasa aman dari fitnah. Jangan lagi mendakati zina dengan berduaan dengan yang bukan muhrimmu. Ingat Allah yang langsung menegakkan larangan ini dalam firmannya, bukan bapak atau ibu”
Rijal hanya mengiyakan sambil menunduk. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Motor dan hp nya disita selama 3 bulan karena melanggar peraturan keluarganya yang di buat. Sambung bapaknya “kami lebih takut kamu tidak merasakan nikmatnya surga, dibanding kamu gak bisa merasakan kemewahan dunia yang sementara ini”.
CINTA DI BALIK TAKDIR

Oleh : Abdul Rahman Malik (Alumni Fak. Syari’ah Univ. Al-ahgaff)

Cerahnya senin pagi mengawali hari aktivitas Irfan, ditemani goesan sepeda palang nyentrik berkekuatan sepeda balap, punggungnya menggendong tas berisi buku-buku kuliah. Jiwa semangat ia pancarkan dari raut muka cerianya, siap berpetualang dalam dunia ilmu di kampusnya. Jam tujuh pagi pas, Irfan meluncur dari sebuah pesantren di kawasan Kanggraksan, Kota Cirebon. Ia mulai menyusuri jalan raya, melewati gang terobosan, mengikuti belokan dan lampu merah. Begitulah rutinitasnya setiap hari guna meraih gelar S1 Ushuluddin di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Dedikasi Irfan bukanlah rahasia umum lagi diantara penghuni kampus. Irfan dinobatkan sebagai mahasiswa teladan dua tahun berturut-turut. Di tahun terakhirnya kini, Irfan ditunjuk kembali memegang asisten dosen di kelas prodi tafsir. Selain itu pula, Irfan aktif di klub basket kampus. Baginya, basket merupakan sarana refreshing pelepas kepenatan yang digemarinya semenjak SMP. Tak khayal, Irfanpun dipasang dalam jajaran pemain inti The Five Brothers bersama kawan-kawannya di Meteor Basketball Club. Sementara job utamanya layer up dengan keahlian terobosan dan jump shoot, tak jarang kemenangan Meteor menjadi  kebanggaan berkat tangan emasnya.
Pagi ini Irfan sudah menyiapkan untuk jadwal kegiatan full hari ini, dari mulai kuliah sampai siang, lalu istirahat sambil shalat dzuhur di masjid kampus, kemudian latihan basket bersama klub kesayangannya.
“Priiiiiittttt…priiiiiittt…!” Terdengar bunyi peluit dan suara lantang Pak Akyas, sudah siap menunggu the meteror players menengah ke lapangan guna warming up. Pelatih terbaik yang selama ini membina Irfan dan kawan-kawan hingga nama klub basket kampusnya sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta basket se-Kota Cirebon. Sambil pemanasan, Pak Akyaspun mulai bicara, Ia memberikan sebuah pengumuman penting. Satu bulan mendatang akan diadakan kompetisi basket antar Universitas se-Kota Cirebon yang juaranya akan diikutsertakan mengikuti National Basketball Tournament of Universities. Terbelalak semua mata mendengarnya, namun Irfan tak terkusik sedikitpun tanda keceriaan dari raut mukanya. Entah kenapa, walaupun Irfan pemain handal, dia selalu bersikap biasa saja. Itulah karakter yang sederhana dari Irfan; Tak banyak bicara, namun cerdik beraksi. 
Setelah tiga minggu latihan optimal, tersisa satu minggu menjelang hari yang ditunggu. Persiapan tim sudah lumayan matang. Latihan dibubarkan jam setengah lima sore. Sebelum pulang ke pesantrennya, Irfan biasa membersihkan badan dan shalat ashar dahulu di masjid kampus. Pribadi Irfan selalu tertata dalam kesehariannya, karenanya Irfan di pesantren juga termasuk santri yang taat pada peraturan. Bisa mengatur waktu kesibukan pesantren, kuliah, dan juga basketnya. Pak Kyaipun senang dengan kepintaran Irfan dalam ilmu agamanya, sampai Irfan sering ditunjuk mengisi pengajian ibu-ibu menggantikan Pak Kyai ketika berhalangan.
Sepeda palangnya sudah siap tuk ditunggangi, kaki kanannya memulai putaran goesan sepeda, tak lupa Irfan melafalkan basmalah demi keselamatan. Keramaian sore kota Cirebon sudah biasa Irfan temui; Kerumunan pejalan kaki, pengendara motor, bahkan mobil-mobil mewah ikut menyemarakkan suasana. Ketika tiba di tikungan, Irfan membelokan stir sepedanya ke arah kiri, tidak dikira mobil sedan silver melesat tepat di depan muka Irfan kencang, seketika Irfan mencoba menghindar, Namun, kecapatan mobil mewah itu sekilas menabrak Irfan. Irfan tidak bisa berbuat, suara benturan besi sepedanya membuming, Irfan sekejap tak sadarkan diri.
****
    Gelap, sunyi. Tak ada yang Irfan rasa. Setelah semalaman pingsan, matanya mulai meraba-raba, lalu meratap. Terlintas tampak seorang perempuan berdiri di sampingnya, mundar-mandir seperti orang kepanikan, khawatir. Rambutnya lurus hitam terurai sepunggung. Tiba-tiba perempuan itu berbalik. Seketika langsung tertunduk memohon maaf; Kemarin sore dia ceroboh sampai menabrak Irfan, sementara Irfan pingsan, dia bawa ke RS. Gunung Ciremai. Dia dengan perasaan bersalahnya siap membayar semua biaya operasional sampai kesembuhan Irfan. Irfan masih diam. Dia masih merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya tertebih kakinya, kakinya di-giv, ada keretakan di tulang betisnya, belum kuat Irfan bergerak. Lalu, Irfan merenung sejenak, berfikir. Ya Allah, ini semata-mata takdir-Mu, tak ada yang bisa hamba perbuat tuk melawan kuasa-Mu. Sedikit-demi Irfan mencoba berkata, “Tak usah terlalu menyalahkan diri, Mba. Mungkin ini bukan sepenuhnya kesalahan mba. Saya juga kurang hati-hati sebelum menikung. Namun, saya merasa, ini salah satu bukti bahwa Allah SWT masih sayang kepada saya, hingga Allah memberikan peringatan dan cobaan. Tak semua cobaan itu buruk, namun saya yakini bahwa Allah menciptakan di balik semua cobaan.”
Perempuan itupun sedikit meneteskan air mata, terenyuh hatinya akan kata-kata sang pemuda ini. Kemudian, dia memperkenalkan diri. Namanya Yohana Ziskiya, sering dipanggil Hana. Dia seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran di Unswagati Cirebon tingkat terakhir, sama dengan Irfan. Namun, dalam perkenalannya, Hana sedikit malu terhadap Irfan. Hana merasa dirinya awam akan kata-kata Irfan. Irfan seolah pemuda taat beragama. Lisannya tak lepas dari dzikir dan dalil Qur’an yang ia lontarkan. Sementara Hana, walau dari kalangan keluarga baik-baik, namun jauh dari ajaran agama. Irfan yang berhati lapang tersenyum, kagum akan tanggung jawab dan kepedulian Hana.
*****
    Keesokan harinya, Pak Kyai bersama Bu Nyai datang menjenguk. Kaget atas kejadian yang menimpa Irfan. Bu Nyai seketika menangis di dada Irfan. Beliau merasa Irfan yang yatim sudah menjadi anaknya semenjak sekolah Aliyah dititipkan ibunya yang kurang mampu. Pak Kyai menasihati untuk bersabar dan berdoa, semoga lekas sembuh. Tidak lama kemudian, Hana tiba dengan mobil silver mewahnya. Irfan memperkenalkan Hana kepada Pak Kyai dan Bu Nyai. Irfan menceritakan kronologi kejadian, Pak Kyaipun menyadari itu memang takdir, sebagai cobaan untuk Irfan. Setelah shalat Isya, Pak Kyai dan Bu Nyai masih di ruang perawatan Irfan, tiba-tiba Hana dengan nada datar meminta Bu Nyai agar sementara Irfan biarlah Hana yang menjaga, kasihan Bu Nyai dan Pak Kyai jika harus menjaga Irfan semalaman. Bu Nyai dengan berat hati menyetujui tawaran Hana.
    Semalaman Hana menjaga Irfan, obrolanpun bergulir dari kedua mulut. Hana yang berwajah putih bermata agak sipit tak habis menanyakan tentang perkuliahan, lalu berlanjut tentang pemahaman ajaran Islam, sampai Hana paham dan kagum akan kepintaran dan pengetahuan Irfan yang luas dan dewasa. Hana dengan rambut terurainya terkadang dibuat tertawa oleh Irfan, wajahnya yang layaknya artis Korea juga membuat Irfan tersenyum sendiri.
    Hari-hari berlalu, Hana selalu menyempatkan untuk menjenguk dan menjaga Irfan bergantian dengan Bu Nyai setiap dua hari sekali. Pada hari kelima Irfan di rumah sakit, kawan-kawan Irfan di Meteor datang menjenguk, dan mengabari Pertandingan antar universitas lusa akan dimulai, Irfan tidak bisa ikut. Hana yang ada disitu, merasa bersalah. Namun, Irfan memberikan kepercayaan pada Rendy, sang kapten. Pertandingan bisa menang tanpa Irfan asalkan kalian kompak.
    Satu bulan berlalu, Irfan sudah pulih. Ia kembali kuliah seperti biasa. The Meteor berhasil menjadi juara. Kini Irfan tidak lagi bergabung dengan basketnya, ia mulai fokus untuk skripsinya. Impian di depan mata, Irfan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, S1-nya cukup cita-cita baginya dan ibunya. Akhirnya, tepat empat bulan Irfan mampu selesaikan skripsinya. Wisuda S1 Fakultas Ushuluddin IAIN Syekh Nurjati digelar, rangkaian acara dimulai satu demi satu. Di akhir acara, ketika pengumuman nilai IPK tertinggi, Irfanuddin Sholih namanya terpanggil. Semarak hadirin menepukkan tangan untuknya, gerak tangis ibunya mencium pipinya. Pak Kyai dan Bu Nyai yang ikut hadir bangga dan bersyukur memiliki anak asuhan seperti Irfan.
    Sorenya, Irfan membawa ibunya ke pesantren. Setelah bertahun-tahun tinggal di pesantren, kini di hari wisudanya, Irfan harus berpisah dengan Pak Kyai dan Bu Nyai. Pulang ke kampung kelahirannya di Tasik. Desir suara mobil sedan hitam tiba di halaman pesantren. Rupanya Hana dan keluarganya keluar tidak diduga. Pembicaraan hangat berlangsung di ruang tamu, besama Pak Yai, Bu Nyai dan Ibu Irfan. Pada satu titik, ayah Hana meminta berbicara sesuatu. Hana baru saja wisuda S1 Kedokteran di Unswagati. Ia ditunjuk untuk melanjutkan S2-nya di Universitas Melbourne, Australia. Namun Hana ragu, karena khawatir kehidupan dan pergaulan disana kalau sendirian. Nah, kedatangan Ayahnya beserta keluarga bermaksud meminta Irfan untuk menjadi pendamping hidup Hana, yang nanti bisa menjaga dan mengajari Hana. Hana sudah cerita semua tentang Irfan, seberapa dalam keilmuan dan kepintaran Irfan, terutama tentang agama. Hana merasa Irfanlah yang cocok untuk menjadi imam dalam hidupnya di Australi. Dan disana juga Irfan bisa memegang usaha restaurant milik ayahnya disana. Ibu Zenab juga bisa ikut disana. Pak Kyai dan Ibu Zenab tidak bisa memberi keputusan, semuanya menyerahkan kepada Irfan.
    Sementara Irfan berfikir dalam, lalu berkata, ia sebenarnya siap menjadi suami Hana, namun, Irfan ingin maharnya tidak berupa materi. Irfan tidak punya apa-apa kecuali hafalan beberapa juz al Qur’an. Dan Irfan memohon jikalau boleh akad nikah cukup dilaksanakan di pesantren dihadiri Pak Kyai dan santri-santri, itu lebih barokah. Pak Kyai akhirnya menyimpulkan. Baiklah, lamaran ini langsung diterima, pernikahan juga langsung dilaksanakan malam ini, cukup yang jadi mahar bacaan tartil surat Ar Rahman dari Irfan didengarkan langsung oleh Hana dan para santri di Mesjid setelah shalat Isya. Hana tersenyum bahagia, cintanya kan mekar disirami alunan al Qur’an Irfan. Irfan merasakan bahagia tak tertuga, seakan mimpi setelah lulus wisuda dengan peredikat terbaik. Dia juga bisa menjadi suami Hana layaknnya si artis Korea. Visinya kini adalah menciptakan kehidupan rumah tangga islami, sakinah mawaddah wa rahmah di tanah Melbourne, Australi.
*****
CAHAYA DI ATAS CAHAYA


Mata kecil itu masih meneteskan airmata. Dari jauh kulihat ia menelungkup sendirian di pojok asrama. Siluet cahaya rembulan membuat sosoknya terlihat lebih jelas, tergugu dikeremangan malam. Pelan-pelan aku mulai menghampirinya

“Iyas . . . kenapa menangis ?” tanyaku sambil menepuk pundak kecil Iyas. Iyas berbalik dan kaget mendapati diriku yang muncul tiba-tiba. Dengan cepat tangan kecilnya menghapus sisa airmata yang masih mengalir mambasahi pipinya. Ia tak menghiraukan hadirku. Ia malah diam dan berbalik membelakangiku

“Iyas . . kak Maula kan cuma bertanya? Kenapa Iyas menangis? Kalau Iyas punya masalah, Iyas bisa cerita sama kak Maula. Insyaallah jika kak Maula mampu, kak Maula pasti membantu Iyas.” Aku mencoba berbicara pelan. Iyas masih tetap pada pendiriannya. Terdiam. Sesekali suara ingusnya terdengar membuat pundaknya bergetar.           

“Iyas . . .” aku memanggilnya lagi
“Iyas sedih kak, Iyas tidak bisa masuk surga.” Suara kanak-kanaknya terdengar serak. Aku kaget dengan perkataan Iyas.
“Maksud Iyas ? semua orang bisa masuk surga termasuk Iyas.”
“Tapi surga ada ditelapak kaki ibu kak.” Aku semakin bingung dengan jawaban Iyas. Aku mencoba mencerna kata-kata Iyas. Belum sempat aku memahami, Iyas kembali menyahut
“Sedangkan Iyas, Iyas tidak memiliki ibu kak. Dari kecil Iyas tak pernah tahu siapa ibu Iyas. Surga hanya ada buat mereka yang memiliki ibu kak. Iyas tak akan bisa masuk surga.” Iyas kembali menangis. Tangisnya semakin deras. Ia masih membelakangiku. Pelan-pelan aku membalikkan badannya.
“Siapa bilang Iyas tidak memiliki ibu? Bunda Rahma kan ibunya Iyas, juga ibunya kak Maula.” Jawabku sambil menggenggam kedua lengan Iyas.
“Tapi bunda Rahma bukan ibu kandung Iyas kak. Kak Maula tahu itu kan? Surga hanya ada di telapak kaki ibu yang melahirkan anaknya. Dari Iyas kecil hingga Iyas berusia sebelas tahun Iyas tak pernah tahu siapa ibu kandung Iyas.Iyas rindu kak!” Iyas berteriak dan berontak dari genggamanku. Dadanya naik turun seiring dengan deru tangisnya. Aku memeluk tubuh kecil Iyas. Kusandarkan kepalanya di dadaku
“Iyas…” aku mengelus kepala Iyas. Pundaknya masih bergetar menahan isak tangis yang sesekali masih ia tahan.
“Iyas tahu tidak? Tuhan itu maha rahman dan maha rahim. Tuhan menciptakan surga tidak hanya dengan satu jalan. Banyak jalan untuk bisa mendapatkan surga. Kalau Iyas rajin sholat, rajin puasa dan rajin berbuat kebaikan, Iyas pasti bisa masuk surga.” Aku menarik bahu Iyas dan menatap matanya dalam-dalam. Kuhapus sisa airmata yang masih mengalir di pipinya. Aku memangku Iyas dan merangkulnya erat.
“Surga memang ada di telapak kaki ibu, tapi bukan berarti itu jalan satu-satunya. Kak Maula dari kecil juga tidak pernah tahu siapa ibu kandung kak Maula. Masa kak Maula tidak bisa masuk surga gara-gara tidak memiliki ibu? Kalau begitu tuhan tidak adil dong? Banyak juga kan yang memiliki ibu tapi durhaka? Masa orang durhaka bisa masuk surga?” pelan-pelan aku menenangkan hati Iyas. Jilbab putihku berkibar diterpa angin malam. Kupererat pelukanku ke tubuh mungil Iyas. Berharap ia merasa tentram berada di sisiku.
“Andai ibu dan ayah Iyas ada disini pasti mereka sayang dan bangga memiliki anak seperti Iyas yang selalu ingin berbakti pada orang tuanya.”
“jika ibu dan ayah Iyas sayang pada Iyas, kenapa mereka tega meninggalkan Iyas sendirian di panti ini?” Iyas mendongak ke arahku, memotong perkataanku. Aku terdiam bingung. Tak tahu harus menjawab apa.
“Kenapa kak Maula diam? Kenapa kak? Kenapa ibu dan ayah Iyas meninggalkan Iyas? Padahal Iyas ingin bersama mereka?”
“mmm, mungkin . .mmm”
“Maula…Iyas… ayo masuk ke dalam, nak! Angin malam tidak baik untuk kesehatan.” Bunda Rahma pemilik panti berteriak dari depan kamar.
“Iya bunda sebentar!” jawabku sambil berteriak
“Iyas, ayo masuk ke dalam!” kataku sambil berdiri tapi tanganku segera ditarik oleh Iyas.
Tapi kak, kak Maula belum menjawab pertanyaan Iyas. Sebentar saja kak!” Iyas menatap mukaku
“Insyaallah besok kak Maula jawab. Sekarang masuk dulu yuk, nanti di marahi sama bunda!” aku menarik tangan Iyas dan menggandengnya menuju kamar. Ku lirik gurat-gurat kekecewaan tergambar di wajah Iyas. Ia tentu kecewa dengan sikapku. Tapi aku sendiri bingung harus menjawab apa. Padahal tanpa disadari seorangpun, hatiku juga merasakan perih yang sama seperti yang dirasakan Iyas. Aku juga merindukan kasih sayang seorang ibu yang selama ini selalu aku damba. Akupun tak tahu siapa ayah dan ibu kandungku. Tapi aku harus bisa melawan rasa itu. Aku harus bisa ikhlas menerima takdir tuhan yang telah tergariskan atasku. Aku juga harus bisa menentramkan hati adik-adik kecilku di panti ini, yang juga merasakan pedih yang sama sepertiku. Kehilangan ayah dan ibu.
# # # #
Kulihat Iyas telah lelap disampingku. Aku beranjak dari tidurku berganti duduk bersandar pada dinding kamar. Aku masih terngiang dengan dengan pertanyaan Iyas barusan. Rasa keingintahuan seorang anak kecil memang sangat besar, karena pada dasarnya masa kanak-kanak adalah masa ingin tahu tentang sesuatu. Jika ia tidak mendapat jawaban, ia pasti akan terus mencarinya hingga ia menemukan jawaban itu.
“Hhhh…” Aku mendesah pelan. Kupandangi langit-langit kamar yang tak berplafon.entah sejak kapan bunda Rahma membangun panti ini. Hampir 18 tahun aku disini. Dari kecil bunda Rahma yang merawatku kala aku tak mempunyai orang tua yang seharusnya mengasuhku. Bunda Rahma orang yang sungguh mulia. Tak pernah beliau pilih-pilih kasih terhadap anak-anak panti yang berjumlah hampir lima puluhan padahal bunda Rahma sendiri mempunyai anak. Oleh bunda kami semua di sekolahkan di sekolahan desa. Bunda Rahma selalu menanamkan rasa kasih sayang pada diri kami. Bunda berharap jika kami sudah besar nanti, kami mampu manyayangi dan menolong sesama.
# # # #
Bunda Rahma sedang menata kitab seusai pengajian malam panti ketika Iyas memeluknya dari belakang.
“Bunda…” Iyas menggelayut manja.
“Ada apa Iyas?” Bunda Rahma menoleh sambil menggenggam kedua tangan Iyas yang melingkar di leher bunda.
“Iyas sayang bunda karena Allah.” Iyas membisiki telinga bunda Rahma.  Bunda Rahma terperanjat. Ia segera menoleh pada Iyas. Mata bunda berkaca-kaca. Dengan penuh sayang bunda Rahma mencium pipi Iyas dan menarik tubuh Iyas ke pangkuannya.
“Bunda juga sayang Iyas karena Allah.” Bisik bunda sambil mencium ubun-ubun Iyas.
“Bunda…” Iyas kembali bersuara.
“Iya, sayang?”
“Bunda mau tidak menjadi cahaya bagi Iyas seperti cahaya rembulan itu.” Kata Iyas sambil menunjuk ke arah rembulan yang bersinar terang.
“Maksud Iyas?”
“Bunda… bunda tahu kan kalau diatas sinar rembulan ada sinar matahari yang menyinarinya?
“hmmm, bunda mengerti. Cahaya rembulan kan berasal dari pantulan cahaya matahari.” Bunda Rahma manggut-manggut.
“Iyas ingin bunda menjadi cahaya bagi Iyas yang bisa mengantarkan Iyas menuju cahaya diatas cahaya bunda. Seperti cahaya matahari di atas cahaya rembulan.”
“Bunda tidak mengerti maksud Iyas?” kening bunda Rahma mengernyit.
“Bunda… Iyas pengen bunda menjadi cahaya bagi Iyas yang mampu mengantarkan Iyas menuju cahaya di atas cahaya bunda yaitu cahayanya Allah. Bukankah ridlonya Allah tergantung ridlonya orang tua. Itu berarti Allah adalah cahaya di atas cahaya. Dan Iyas tidak akan pernah bisa meraih cahaya Allah jika Iyas tidak memiliki cahaya orang tua. Iyas kan tidak punya orang tua, makanya bunda mau kan menjadi orang tua Iyas? Biar Iyas bisa meraih cahaya di atas cahaya itu.” airmata bunda Rahma meleleh. Hatinya begitu tersentuh dengan penuturan Iyas. Ia tak pernah menyangka anak sekecil Iyas mampu berfikir sejauh itu. Bunda Rahma semakin mempererat pelukannya.
“Tentu saja Iyas, bunda pasti mau menjadi orang tua bagi Iyas. Menjadi cahaya sebagai pengantar Iyas menuju cahaya di atas cahaya yang diinginkan Iyas.” Suara bunda Rahma serak. Bunda Rahma terisak. Ia tidak tega melihat anak-anak seperti Iyas yang sangat mendambakan kehadiran orang tua mereka. Ia tahu kalau sebenarnya Iyas sangat merindukan bunda dan ayah kandungnya.
“Bunda kenapa menangis?” Iyas mendongak ke arah bunda Rahma.
“Nggak kok Iyas, bunda hanya terharu dengan ucapan Iyas. Bunda janji akan menjadi cahaya terindah bagi Iyas.” Iyas tersenyum. Matanya berbinar terang seterang cahaya rembulan yang menerangi malam kala itu.
# # # #
“Yazid, Amar, lihat Iyas tidak?” tanyaku pada Yazid dan Amar yang lagi asyik bermain kelereng.
“Nggak tahu kak, coba kak Maula cari di depan asrama dekat kolam. Biasanya Iyas di sana!” jawab Yazid. Aku segera menyusuri koridor asrama menuju tempat yang dimaksud Yazid. Dan benar. Disana Iyas sedang asyik member makan ikan-ikan di kolam.
“Iyas..”
“Eh, kak Maula ngagetin Iyas aja! Ada apa kak?” Iyas menoleh ke arahku.
“Iyas.. kok masih suka menyendiri sih? Padahal baru tadi malam bunda Rahma mengadakan acara syukuran buat ulang tahun Iyas yang ke 18 dan juga dek Fadhil. Bunda Rahma kan berpesan pada Iyas untuk bersikap dewasa dan tak boleh suka menyendiri lagi! Kalau Iyas punya masalah. Kapanpun kak Maula selalu siap untuk membantu Iyas semampu kak Maula.” Iyas terseyum melihat kekhawatiranku.
“Iyas tidak apa-apa kok kak. Iyas Cuma kadang sering merasa aneh sendiri pada diri Iyas. Kenapa Iyas masih cengeng ya kak? Padahal Iyas laki-laki dan telah menginjak usia dewasa.” Iyas mengajakku duduk di tepi kolam.
“Iyas, semua manusia pasti merasakan kesedihan. Dan menangis itu wajar. Itu fitrah seorang manusia. Tapi, manusia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Allah tidak suka pada hamba-Nya yang berlarut-larut dalam kesedihan.” Aku mencoba memberi pengertian pada Iyas.
“Memangnya Iyas mikirin apa? Kok kelihatannya sedih?” tanyaku.
“Iyas masih sering teringat bunda dan ayah kandung Iyas. Kenapa Iyas masih merasa kalau mereka itu ada kak? Iyas sering iri melihat teman-teman Iyas bermanja-manja pada orang tua mereka. Kenapa Iyas tak bisa merasakannya? Iyas rindu dengan ayah dan bunda kandung Iyas.” Mata Iyas menitikkan airmata tapi dengan cepat di hapus oleh punggung tangannya. Aku kembali tersentak untuk kesekian kalinya. Aku selalu bingung jika dihadapkan pada posisi seperti ini. Akankah aku mengatakan yang sebenarnya? Sebenarnya aku tahu kalau Iyas masih memiliki ibu kandung. Ingatanku kembali pada 17 tahun silam. Kala usiaku menginjak 7 tahun. Seorang ibu seusia bunda Rahma menitipkan bayinya yang tak lain adalah Iyas kepada bunda Rahma. Ku ingat bunda Rahma sempat menolak Iyas karena Iyas masih membutuhkan perhatian ibu kandungnya. Tapi entahlah aku tak begitu mengerti waktu itu. Semuanya tiba-tiba telah terjadi seperti sekarang.
“Kak..” aku tersentak dari bayang-bayang masa laluku dan masa lalu Iyas.
“I..iya Iyas?”
“Kak… Iyas butuh bantuan kak Maula. Kak Maula bisa membantu Iyas kan?”
“A..apa yang bisa kakak bantu Yas?” aku semakin kaku dengan keadaan seperti ini. Kulihat Iyas begitu ingin aku bisa melakukan apa yang ia minta. Pandangan matanya bercampur antara kerinduan, kesedihan dan harapan agar aku bisa membantunya.
“Kak, Iyas mohon kakak berkenan mencarikan data diri Iyas. Kak Maula kan lebih dekat dengan bunda. Iyas tak kuat kak jika terus di bayang-bayangi bunda dan ayah kandung Iyas. Iyas tidak kuat jika harus bertahan dalam keadaan seperti ini. Bukan Iyas tidak ikhlas dengan takdir tuhan atas diri Iyas kak. Iyas hanya ingin memastikan prasangka Iyas agar Iyas tak lagi dihantui rasa rindu ini kak. Kak Maula tentu tahu betapa sakitnya terpisah dengan orang tua kandung. Kak Maula sendiri juga merasakannya kan? Iya kan? Itulah yang sekarang dirasakan Iyas kak. Sakit rasanya.” Iyas tak kuat menahan airmatanya. Tangisnya pecah. Ia merasa terombang ambing dengan kenyataan ini. Kupeluk erat tubuh Iyas. Aku tergugu dalam pelukan Iyas. Tangisku tak dapat ku tahan. Aku mengerti apa yang dirasakan Iyas. Rasa yang setiap malam selalu menghampiri mimpi-mimpiku. Sebuah kerinduan yang besar akan hadirnya seseorang yang telah mengalirkan darahnya pada diriku.
“Insyaallah Yas, kakak akan membantu Iyas.” Mataku dan mata Iyas beradu. Sama mengucurkan airmata kerinduan. Kita sama-sama merasakan gelegak kerinduan itu.
“Oh ibu, apakah engkau tak merasakan getar kerinduan anakmu?” Bisikku perih di dalam hati.
# # # #
Iyas telah sampai di depan rumah persis seperti alamat yang aku berikan. Tentunya tanpa sepengetahuan bunda Rahma. Iyas terus menunggu di depan pagar menanti sang empu rumah keluar. Tak berapa lama dari balik pintu muncul seorang perempuan paruh baya seusia bunda Rahma. Hati Iyas bergetar. Apakah sosok di depannya memang ibu kandungnya yang selama ini begitu ia rindu kehadirannya.
“Cari siapa mas?” Perempuan itu bertanya pada Iyas.
“Bunn…da..?” Iyas mendesis lirih dan terbata. Perempuan itu terperanjat. Tubuhnya sedikit limbung seakan slide-slide memory menghampiri alam sadarnya. Matanya berkaca-kaca.
“Bunda..ini Iyas bunda. Bunda mengenali Iyas kan?” Iyas mendekati perempuan itu. Tubuh perempuan itu semakin bergetar. Entah, apa yang ia rasakan. Apakah benar ia ibu kandung Iyas? Iyas semakin mendekat kea rah perempuan itu.
“Tidaakk…kamu bukan anakku. Aku tak mengenalmu.kamu salah. Pergi…pergi.” Perempuan itu terisak dan berlari ke dalam rumah.
“Bunda… Iyas yakin kamu bunda kandung Iyas. Iyas sangat merindukan bunda. Bundaaa” Iyas menggedor pintu rumah. Airmatanya berderai.
“Bundaa, Iyas sangat ingin bersama bunda. Apa salah Iyas hingga bunda meninggalkan Iyas?” bundaa, buka pintunya bunda!” Iyas terisak di depan pintu.
“Bundaaaa…”
# # # #
“Maafkan Maula bunda, Maula tidak tega melihat Iyas selalu menangis. Iyas rindu pada ibu kandungnya.” Aku memeluk bunda.
“Sudahlah Maula, nasi telah menjadi bubur. Bunda hanya takut Iyas semakin depresi dengan kejadian ini. Ibunya memang tak mengharapkan hadirnya.” Mata bunda Rahma berkaca-kaca. Aku menunduk. Aku semakin merasa bersalah.
“Kau hiburlah Iyas! Jangan sampai ia melakukan hal-hal yang bisa membahayakan jiwanya. Syetan selalu membisiki hati-hati yang kosong.” Bunda Rahma berbalik dari hadapanku menghadap jendela. Tangis bunda Rahma semakin deras.
# # # #
Semakin hari, Iyas semakin menjauh dari keramaian. Sering kulihat ia menangis sendirian seakan tak terima dengan kenyataan ini. Beberapa kali aku mencoba menghiburnya tapi tak menunjukkan respon positif hingga suatu hari kulihat bunda Rahma berlari tergopoh-gopoh kebingungan dan menghampiriku.
“Maula, cepat panggil Iyas! Kita ke rumah sakit sekarang!” aku kaget dengan ucapan bunda. Pikiranku mulai menerka-nerka.
“Ada apa bunda?” tanyaku dengan kebingungan.
“Ibunya Iyas masuk rumah sakit. Cepat panggil Iyas!” teriak bunda Rahma cemas.
# # # #
“Setelah kami diagnosa, ibu Afifa mengalami depresi berat hingga membuat penyakit gagal ginjalnya kambuh. Keadaan beliau sekarang sangat kritis. Penyakit gagal ginjalnya telah memasuki stadium akhir. Dan itu sangat berbahaya. Kami tak bisa melakukan apa-apa kecuali menunggu donor ginjal yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk ibu Afifa. Kami juga tidak bisa menentukan sampai kapan ibu Afifa bisa bertahan.” Bunda Rahma menjerit mendengar penjelasan dokter. Telapak tangannya menutupi mulutnya. Aku tertunduk. Kedua sudut mataku berair. Aku tahu ini semua salahku. Akulah yang mengakibatkan ini semua terjadi. Sejenak kami semua terdiam. Hening. Bingung dengan keadaan.
“Saya bersedia dok, saya bersedia mendonorkan ginjal saya untuk bunda Afifa.”  Tiba-tiba Iyas menyahut membuat kami semua terperanjat.
“Iyas…” Bunda Rahma menoleh kepada Iyas. Raut mukanya kaget dan cemas.
“Izinkan Iyas bunda! Iyas ingin menyelamatkan jiwa ibu kandung Iyas.  Iyas ingin mengabdikan diri Iyas untuk bunda kandung Iyas. Tolong jangan halangi niat Iyas bunda!” bunda Rahma terisak. Aku segera memeluk bunda. Hati bunda tentu galau. Bunda pasti takut terjadi apa-apa dengan Iyas, salah satu dari anak-anak yang dibesarkannya.
“Baiklah, mari saudara ikut saya untuk cek darah. Semoga golongan darah saudara sama dengan ibu Afifa. Mari!” ucap dokter sambil berjalan menuju laboratorium. Iyas menatap bunda. Tangisnya pecah. Iyas merangkul bunda Rahma. Aku tak sanggup membayangkan Iyas akan mengorbankan ginjalnya demi ibu kandungnya. Sosok ibu yang selama ini ia damba. Aku dan bunda Rahma mengiringi kepergian Iyas dengan pandangan sendu hingga tubuh Iyas hilang di balik dinding ruangan.
# # # #
Operasi bedah ginjal yang dijalani Iyas dan ibunya berjalan cukup lama. Hampir 8 jam aku dan bunda Rahma menunggu. Kulihat bunda Rahma tak henti-hentinya mendesis memanjatkan doa. Sesekali masih terdengar isak tangisnya. Aku masih dirundung rasa bersalah yang amat sangat. Kenapa semuanya ini harus terjadi.
“Bunda, maafkan Maula bunda. Andai Maula tidak memberitahu Iyas, pasti semua ini tak akan pernah terjadi. Maula merasa sangat bersalah bunda. Maula takut jika terjadi apa-apa dengan Iyas dan ibunya.” Tangisku ambrol. Aku memeluk bunda Rahma.
“Sudahlah Maula, tidak baik terus menerus menyesal. Sekarang kita hanya bisa berdoa. Menyandarkan semuanya di sisi Allah. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Iyas dan ibunya.” Bunda Rahma menghiburku dengan suara serak. Tubuhku semakin dipeluknya erat. Setetes airmata menetes membasahi ubun-ubunku. Aku semakin tergugu dipelukan bunda. Tiba-tiba dokter yang menangani Iyas keluar dari ruang bedah. Serentak aku dan bunda berdiri.
“Bagaimana dok?” Tanya bunda Rahma cemas. Hatiku ketar-ketir.
“Sejauh ini pendonoran ginjal ke tubuh ibu Afifa berjalan lancar. Kita hanya bisa menunggu sampai ibu Afifa tersadar. Semoga tidak ada penolakan dari tubuhnya dengan ginjal yang di donorkan saudara Iyas.
“Lalu, kondisi Iyas bagaimana dok? Dia baik-baik saja kan?” bunda Rahma semakin cemas.
“Itu yang kami sesalkan, bu.” Jawaban dokter membuat bunda Rahma dan aku shock. kurasakan tubuh bunda Rahma bergetar hebat. Airmataku kembali mengucur.
“M..maksud dokter?” Bunda Rahma terbata-bata.
“Kami tak menyangka kemungkinan terburuk itu terjadi. Secara tes medis saudara Iyas memenuhi kriteria pendonor ginjal. Tapi di tengah-tengah operasi pembedahan, kondisi tubuh saudara Iyas drop. Daya tahannya tiba-tiba menurun hingga memicu pendarahan yang keluar semakin banyak. Kami telah menangani sekuat kami. Untuk saat ini kami tak bisa memastikan kondisi Iyas. Sekarang ia tak sadarkan diri. Ibu dan adik teruslah berdoa semoga ada mukjizat yng membuat kesehatan Iyas kembali pulih.” Keterangan dokter terdengar seakan halilintar yang menyambar aku dan bunda Rahma. Bunda Rahma menjerit. Bibirnya bergetar menyebut nama Iyas. Aku semakin tergugu dalam tangisku bercampur rasa bersalahku.
“Iyaaaasss… I..yaaasss” tubuh bunda Rahma limbung. Tiba-tiba bunda Rahma pingsan.
# # # #
Aku dan bunda Rahma masih tetap menunggui Iyas. Iyas masih tak sadarkan diri. Kondisinya masih kritis, sedangkan ibunya telah melewti masa-masa kritisnya. Sampai saat ini ibu Afifa tidak pernah tahu siapa yang mendonorkan ginjal untuknya. Pun ibu Afifa tidak tahu kalau Iyas dirawat di rumah sakit tempat ia juga dirawat.
“Bun…daaa….bunda…” aku dan bunda Rahma kaget dan serentak menoleh.
“Iyas…”  bunda Rahma segera berlari menuju Iyas disusul aku.
“Bund..daa…..Bundaaa..” Iyas mengigau di bawah alam sadarnya,
“Iya sayang, ini bunda. Bunda ada disamping Iyas.” Bunda Rahma terisak. Ia membelai kepala Iyas. Aku menggenggam erat telapak tangan Iyas.
“Bunndaaa… Iyas rindu dengan bundaaa…” tangis bunda Rahma semakin deras. Bunda Rahma tahu siapa yang dimaksud Iyas di bawah alam sadarnya. Hatiku tersentak. Getir. Airmataku tak berhenti menetes. Iyas sangat merindukan ibunya. Aku berlari keluar dengan tersedu-sedu. Hatiku tak kuat melihat betapa tersiksanya Iyas dengan perasaan rindu yang bertahun-tahun dipendamnya. Iyas tentu sangat tersiksa dengan perasaan yang setiap hari selalu muncul membuat tangisnya terpancing keluar. Diam-diam tanpa sepengetahuan bunda Rahma aku berlari menuju kamar tempat bunda Afifa, ibu kandung Iyas dirawat. Aku tidak tega melihat Iyas tersiksa seperti ini. Kenapa ibunya begitu tega meyiksa Iyas dengan perasaan yang maha dahsyat seperti ini? Aku membuka pintu kamar.
“Siapa kamu?” bunda Afifa bertanya padaku. Suaranya masih lemah.
“Ibu…” mataku masih sembab. Sesekali aku menghapus airmataku yang kadang masih menetes. Bunda Afifa heran melihat tingkahku.
“Bu, kenapa ibu tega menyiksa Iyas. Iyas sangat merindukan kehadiran ibu. Bertahun-tahun Iyas menangisi ibu.” Airmataku tak mampu kutahan. Bayang-bayang Iyas yang tergeletak lemah di ranjang muncul dalam fikiranku. Kulihat bunda Afifa memalingkan mukanya.
“Bu, tolong! Aku mohon kasihanilah Iyas! Ibu boleh membenci Iyas, tapi lihatlah Iyas sekarang! Iyas membutuhkan kehadiran ibu.”
“Aku tak pernah membencinya.” Airmata mulai membasahi pipi bunda Afifa.
“Lantas, kenapa ibu tega menyiksa perasaan Iyas seperti itu? Dia sangat merindukan ibu. Ia sering menyendiri hanya untuk menghayalkan ibu kandungnya. Lihat dia sekarang bu!” Aku menarik tangan bunda Afifa.
“Aku tak ingin teringat dengan almarhum suamiku, ayah Iyas. Aku terlalu mencintainya. A..ku … aku tak mau mengingat sosoknyanya. hatiku selalu sedih jika mengingat suamiku. Ia meninggal saat aku mengandung Iyas. Kamu tak tahu perasaanku” Bunda Afifa menatapku. Airmatanya terus mengalir.
“Tegakah ibu mengorbankan Iyas, darah daging ibu hanya karena perasaan itu? Apakah ibu tidak merasa bersalah? Apakah ibu pernah membayangkan terpisah dengan orang tua kandung ibu? Aku pernah merasakannya bu, bahkan sampai sekarang. Sakit rasanya. Itulah yang sellau mendera hati Iyas. Aku yang selalu bersamanya. Aku yang mengerti betapa ia tersiksa dengan perasaannya. Ia sangat rindu dengan ibu.” Aku benci dengan alas an yang dilontarkan bunda Afifa. Kenapa harus ada ibu yang begitu egois dengan perasaannya?
“Jangan kau robek masa laluku. Kamu tak tahu perasaanku. Aku bisa gila jika teringat suamiku.” Bunda Afifa menjawab sengit.
“Tak tahu perasaan ibu? Memangnya ibu tahu perasaan Iyas? Seharusnya ibu yang bisa memahami perasaan Iyas. Iyas yang bisa gila jika memikirkan ibu terus menerus. Ia darah daging ibu, darah ibu mengalir ditubuhnya. Tak pernah sedikitpun aku menyangka ada ibu semacam anda. Dimana naluri kasih sayang ibu?” tangisku semakin deras.
“Sudah…cukup!! Jangan kau campuri urusanku! Kamu tak tahu apa-apa.” Bunda Afifa berteriak. Ia menuding mukaku kasar. Aku menggeleng-geleng shock. Tak kusangka hati bunda Afifa sekeras batu.
“Kalau saja ibu tahu, ibu sangat beruntung memiliki malaikat sebaik Iyas.  Andai saja tak ada Iyas, nasib ibu belum tentu selamat. Sayang jika Iyas harus kehilangan hidupnya hanya demi perempuan yang begitu dirindukannya tapi tak pernah merasa.” Aku memojokkan bunda Afifa. Aku menatapnya sinis. Bunda Afifa tersentak.
“Apa maksud kamu?” bunda Afifa kebingungan.
“Ibu tahu siapa yang mendonorkan ginjalnya demi keselamatan ibu?” aku bergetar. Tangis dan emosiku semakin memuncak.
“Tahukah bu? Siapa yang telah berkorban untuk ibu? Siapa bu? Ibu tidak tahu kan?” emosiku semakin tidak terkontrol. Mulut bunda Afifa menganga tertutupi oleh oleh tangan kanannya. Nafasnya serasa berhenti. Bunda Afifa tak mampu berkata apa-apa.
“Iyaslah orangnya. Iyas rela menorbankan ginjalnya demi ibu. Iyas rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan ibu hingga kini tergeletak tak berdaya karena pendarahan yang tak kunjung berhenti. Hanya karena siapa bu? Hanya karena siapa? Iyaslah yang berkorban itu semua. Iyas yang selalu merindukan ibu. Iyas yang selalu berdoa untuk ibu. Iyas yang selalu mengharapkan kehadiran ibu. Iyaslah orangnya, bu.” Aku semakin tergugu. Nafasku tak beraturan menuntaskan semua emosiku yang memuncak. Aku menyudutkan bunda Afifa yang tak berhati itu.
“A…a..pa? Iy…Iyaas…?” tangis bunda Afifa pecah. Hatinya bergetar. Sedikitpun ia tak menyangka, anak yang dulu dibuangnya kini justru menyelamatkan jiwanya. Bunda Afifa menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Tangis penyesalannya terdengar pilu.
“Iyas anakku…” bunda Afifa menjerit pedih.
# # # #
“Bunda…bunda…..Iyas rindu bunda…bunda…” kesadaran Iyas masih belum kembali. Matanya masih terpejam.
“Iyaass, buka matamu, nak. Ini bunda. Bunda yang selama ini Iyas rindukan.” Bunda Afifa menggigit bibirnya menahan tangis. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala Iyas. Aku dan bunda Rahma terisak disamping kiri Iyas. Kulihat dilayar monitor detak jantungnya berdetak lemah. Bibir Iyas pucat bagaikan mayat. Aku tak tega melihat Iyas.
“Iyas…buka matamu, nak! Bunda rindu dengan Iyas. Maafkan bunda Iyas. Bunda janji akan selalu berada di sisi Iyas. Buka matamu nak!” tangis bunda Afifa semakin menderas. Tetes airmatanya jatuh mengalir di kening Iyas. Tangan kanannya mengenggam erat tangan Iyas. Tiba-tiba jemari Iyas bergerak. Matanya mengerjap-ngerjap.
“Alhamdulillah ya Allah.” Aku dan bunda Rahma serempak menjerit.
“I…Iyas…me..rasakan…rinnddu itu begitu de..kaatt..”Iyas bersuara lemah dan terbata.
“Ini bunda nak…ini bunda kandung Iyas. Bunda yang selalu dirindukan Iyas. Lihat Iyas!” Bunda Afifa semakin erat menggenggam tangan Iyas. Matanya terus mengucurkan airmata.
“Bunn..daa…I..iiyyaass rindu bundaaa…” Iyas memandang bunda Afifa. Tangan kirinya menggapai wajah bunda Afifa seakan memastikan bahwa ini semua nyata.
“Iya Iyas..bunda juga rindu dengan Iyas. Maafkan bunda selama ini yang tak pernah mau mengasuh Iyas. Iyas janji cepat sembuh ya? Bunda ingin bisa hidup disisi Iyas. Iyas juga menginginkan hal itu kan?” Iyas mengangguk lemah. Kedua sudut matanya mulai berair. Tangan kirinya menghapus airmata yang mengalir dipipi bunda Afifa. Aku tak kuat melihat Iyas dan bunda Afifa. Bunda Rahma masih terisak.
“Bunndaa, maukaah..bun..da memel..luuk Iyas? I..yas ingin merasa..kan pelukan hangat bunnda..aa yang tak pernah Iyas rasakan. Selagi Iyas sekarang memi..liki kesem..patan itu.” Air muka Iyas pucat. Aku mulai berprasangka yang tidak-tidak. Bunda Afifa langsung mendekap putranya dengan erat. Iyas merasakan ketenangan yang amat sangat. Kerinduan yang bertahun-tahun ia pendam kini telah terobati. Kedua sudut matanya mengucurkan airmata.
“Iyas, Iyas harus bisa sembuh ya! Iyas akan bisa hidup bersama bunda Iyas. Bunda yang selama ini selalu Iyas rindukan.” Ucap bunda Rahma sambil mencium kening Iyas. Iyas memanndang bunda Rahma sambil tersenyum.
”Bunda Rahhmaa, terimaa ka..sih atas semua kebai..kan bunnd..aa sela..maa ini.Iyas ber…janji tak akaan per..nah meelupakan bunndaa. Bunda Rahhma te..ttap men…nnjadi caha..yaa Iyas. Cahaya dii..atas cahaya itu a..kan Iyy…as raih dengan dua cahaya yaaang ki..ni dimili..ki Iyas. Cahayaa bundaa Raahhma daan bundda A..aafifa”. Nafas Iyas terlihat lemah. Ia tak  bisa berbicara lancar. Iyas berganti menoleh ke arahku.
“Kaak Maaulaa… kakaklah yaa.nng se..lama ini men..dampingiii Iyas. Yang sel..llalu memotiva..si Iyyas. Hhh, Iyyas takkaan bissa me..hhnemukan ca..haya Iyyas tanpaa kak Mauulaaa. Terima kasih kaak.” Aku tersenyum dalam tangisku yang masih berderai. Aku menggenggam jemari Iyas sambil kuanggukkan kepalaku. Iyas berbalik menoleh pada bunda Afifa.
“Bunn…d..daaa…hhhh….hhhhh…hhhhh” belum sempat Iyas menyelesaikan perkataannya tiba-tiba tubuh Iyas mengejang. Nafasnya makin tak karuan. Bulatan hitam di matanya hampir tertutup tergantikan warna putih pucat. Iyas terlihat sangat kesakitan. Bunda Afifa dan bunda Rahma menjerit panik. Bunda Afifa menggoyang-goyang tubuh Iyas. Kulihat dilayar monitor gambar detak jantung Iyas telah lurus menandakan tak ada detaknya.
“Dokter…dokter…Iyas anfal dok….!” Aku berlari keluar memanggil dokter. Bunda Afifa menggenggam erat tangan kanan Iyas. Bunda Rahma membisik ke telinga Iyas sambil menggenggam tangan kirinya. Keduanya tak dapat menahan isak tangisnya melihat keadaan Iyas.
“Buunn….dhhhaaa…..hhhhhh.” tiba-tiba Iyas tersentak. Seolah telah terlepas dari berton-ton beban yang menindihnya. Ia seperti mendapatkan kekuatan untuk kembali sadar. Kekuatan seorang bunda mampu menjadi spirit batin bagi darah dagingnya. Nafasnya semakin lemah. Dadanya berdetak tak karuan. Sentakan dadanya membuat ia tak bisa menghirup nafas banyak. Bibirnya semakin pucat. Ia masih berusaha untuk berkata.
“Buunn…daaa…. Iiiyyyaas mennc…ciuum w..angi ssurgaa. Ssurgaa yyang a..dda dii..telaapaak ka..ki bbunndaa. Bbboleehkah Iyyaass meenciium teelapak kkaaki bunnddaa. IIyaas inngiiin mmennja…diii pppeengg..huuni ssurgaa ddeng..aan menggengg…aam riidloo bunddaa.” Bunda Afifa semakin tergugu. Tangisnya semakin deras membasahi pipinya. Dadanya bergetar dengan ucapan Iyas. Ia mengangguk mengiyakan permintaan Iyas. Dengan dibantu bunda Rahma Iyas menunduk mencium telapak kaki bunda Afifa. Tangis bunda Afifa dan bunda Rahma semakin berderai. Bunda Afifa memeluk kepala Iyas dan membenamkan dalam dadanya. Airmatanya berjatuhan diwajah Iyas.
“Bunn…daaa…” Iyas menoleh lemah ke arah bunda Afifa dan bunda Rahma bergantian.
“Keerriindu..an Iyyass tel..aah teroobati. Iyyaass aakkan mmmenjemputt caahaaya di aataas cahhaya ittuu. Iyyaass jaanjji aakaan mennjadi caahhayya bbunnda kelaak. Rridlloi Iyyass bunndaa. Maafkaan see…ggalaa keesaalaahn Iyyass…” suara Iyas semakin melemah. Matanya separuh tertutup. Nadinya hampir tak terasa denyutnya. Bunda Afifa menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Tangisnya semakin memuncak. Berbagai rasa bercampur aduk di dalam hatinya. Ia menyesal telah menelantarkan malaikat yang dikirim tuhan padanya yang seharusnya ia jaga.
“Iyas.. I…yas harus bertahan, nak! Bunda janji akan terus berada di sisi Iyas…Iyas harus bisa sembuh… maafkan kesalahan bunda selama ini!” bunda Afifa meraung-raung di sisi Iyas. Iyas tersenyum. Nafasnya semakin melemah. Iyas semakin kesulitan mencari oksigen. Dadanya naik turun tak karuan.
“Iyas…Iyasss….” Bunda Rahma dan bunda Afifa menjerit. Mulut Iyas megap-megap
“Assyyy…haduu…alllaaa ilaaaha ….illaa…allaaahhh……” Iyas menguatkan untuk mencari udara. Kepalanya ia dongakkan berharap ada udara yang masuk dalam paru-parunya yang semakin lemah. Nafasnya semakin putus-putus.
“Waa…asy….hadu….annaaaa……hhhhhh……..muhammmadaaan…..raa….suuu…luuullaa….aaaahhhh…hhhhh” suaranya makin lirih. Genggaman Iyas ditangan bunda Afifa mengendur bersamaan dengan menutupnya kedua mata Iyas. Bunda Afifa menjerit histeris. Aku telah sampai di sisi ranjang Iyas bersama dokter ketika kulihat bunda Rahma jatuh pingsan.
“Iiiiyaaaaaasssss…..” jerit bunda Afifa. Derai tangisnya begitu pilu. Bunda Afifa memeluk erat jasad Iyas.
“Tuhan, kini aku mengerti, kasih ibu memang sangat tulus. Kasih sayang seorang anak juga sangat besar. Keduanya memang tak dapat dipisahkan karena telah terikat oleh darah yang meyatukan batin keduanya. Sampai kapanpun seorang anak tak akan mampu untuk terpisah dengan orang tuanya. Bersyukurlah mereka yang memiliki ayah ibu. Sedangkan aku? Tak berayah dan tak beribu.” Lirihku. Aku menatap nanar jasad Iyas. Tetes airmataku kembali jatuh entah untuk keberapa kalinya. Seperti rinduku yang berkali-kali jatuh mengalir tak ada bekasnya.
The End
I MISS U BUNDA
Semoga tuhan berkenan mempertemukan kita kembali,
berkumpul dalam kasih sayang yang selalu bunda curahkan untuk ananda
Mukalla, 1 Maret 2012
(23.43)
Oleh : Adly Al-Fadlly, Mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, Yaman
KEAJAIBAN CINTA


`Ufuk mulai tercelup darah, dihiasi cahaya kuning keemasan seakan menyempurnakan pesona langit sore kala itu. Beberapa mahasiswa terlihat masih berkeliaran di kampus mereka. Al-Ihsan. Ya, itulah nama Universitas itu. Salah satu Universitas tertua di Mesir yang sistem pendidikannya telah diacungi jempol oleh seluruh Universitas di belahan dunia, hingga tak heran jika dapat menghasilkan jebolan-jebolan yang telah banyak meraih kesuksesan.
“Ukhti Aini…!” teriak seorang pemuda kepada gadis berjilbab yang ada di depannya. Sontak gadis yang dipanggil itu menoleh
“Ng..ng…..” jawab gadis itu dengan isyarat. Gadis itu ternyata tuna wicara. Sejenak kemudian ia mengambil secarik kertas dari dalam tasnya lalu menuliskan sesuatu. Gerakan jari lentiknya begitu cepat menari di atas kertas putih yang dipegangnya. Sesaat setelah menulis, segera ia balikkan kertas itu dihadapan pemuda tadi.
            “Ada yang bisa sanya Bantu?” isi kertas itu. Sang pemuda sedikit kikuk mau menjawab.
“Ya, sedikit pemberitahuan mengejutkan. Karya anda telah termuat di media massa! Nih, silahkan anda baca!” kata pemuda itu seraya menyodorkan sebuah majalah Al-Fikrah. Aini menerima majalah itu dengan mata berbinar. Ia mulai menyisir baris demi baris halaman pertama majalah itu  dan menemukan sederet kata bercetak tebal dengan judul ‘Al-Adhimu fil-Islam’ (keagungan dalam Islam), di bawah karya itu tertampang jelas sebuah nama “Syarifah Nur Aini”. Sesaat lamanya ia serius dengan majalah yang ada di genggamannya. Sebentar kemudian ia di kejutkan dengan suara pemuda tadi.
“Kalau mau, Ukhti Aini  boleh ambil majalah itu”. Ucap si pemuda. Aini seketika langsung menolak dengan sopan. Ia merasa tidak berhak memiliki sesuatu yang menjadi hak milik orang lain. Bisa jadi pemuda yang ada di hadapannya belum sempat membaca seluruh isi majalah yang dipegangnya. Aini mengulangi penolakannya dengan isyarat tangan. Tapi, si pemuda tetap memaksa untuk tetap memberikannya.
“Sudahlah ukhti Aini, bawa saja! mungkin bisa dijadikan referensi untuk menyebarkan dakwah lagi” seru pemuda itu sambil tersenyum. Mau tak mau Aini menerimanya. Cepat-cepat ia mengeluarkan kertas kembali, lalu menulis di atasnya. Entah apa. Tapi sejurus kemudian ia membalikkan lagi kertas itu  di hadapan si pemuda “Terima kasih, semoga Allah membalas kebaikan Akhi.” Sang pemuda mengucapkan Amin sambil tersenyum.
“Amiinn” balas sang pemuda sambil tersenyum.
“Sudah hampir Maghrib, saya pulang dulu. Mari ukhti Aini!” ucap pemuda itu menutup pembicaraan. Aini menyilakan dengan isyarat tangan sambil tersenyum. Aini pulang dengan kebahagiaan yang memuncak. Tak sabar ia ingin segera memberitahu Umminya. Meski ia tak memiliki mulut untuk berbicara, tapi ia masih mempunyai tangan untuk berkarya. Itulah prinsip yang mendarah daging pada dirinya.
***
Syarifah Nur Aini. Yah, nama yang sangat indah meski tak seindah hidupnya. Paras cantik, semangat juang yang tinggi meskipun ia terlahir dengan kekurangan. Ia tuna wicara. Ia  dilahirkan ditengah keluarga yang berekonomi rendah. Abinya telah lama meninggal. Kini ia tinggal di daerah kumuh di kawasan Sayyeda Zaenab dengan Ummi dan dua adiknya. Meskipun ia bisu, itu tak pernah meyurutkan semangatnya untuk mengais ilmu. Berkat kecerdasan yang dikaruniakan oleh Allah itulah ia mampu meraih beasiswa hingga sekarang ia mampu mengenyam ilmu di Universitas terfavorit negeri kinanah, Mesir. Saat ini ia telah duduk di bangku semester akhir. Tinggal menunggu ujian, maka gelar licencenya akan turun. Meskipun begitu ia tetap merasa bersyukur atas karunia yang diberikan Allah padanya. Tiap pagi ia harus pergi menjual dagangan sayuran umminya. Tak jarang ia dicemooh oleh para pembeli. Orang bisu, cacat. Aah, begitu banyak hingga ia lupa kata-kata apa yang pernah terlontar untuk dirinya.  Bukanlah sifat Aini jika ia menganggap kata-kata itu ada.  Ia tak pernah menghiraukan ucapan-ucapan itu. Dalam hati ia hanya bisa berdoa agar hatinya dikuatkan oleh Allah. Baginya hidup harus ada usaha. Selagi usaha itu halal, kenapa harus mundur? Setelah siang ia kembali pulang untuk kuliah. Begitulah kegiatanya sehari-hari. Ia tak merasa malu atau risih meskipun di universitas tak jarang ejekan itu kembali muncul. Di samping bekerja, Aini tak lupa tugasnya sebagai makhluk Allah untuk mengingatkan sesama. Dengan tangannya ia berusaha untuk berdakwah menyebarkan pengetahuan yang didapatnya  ke sekelilingnya. Meskipun ia tak punya mulut untuk berbicara tapi ia punya tangan untuk berkarya. Cacat bukanlah penghalang dirinya untuk meraih kesuksesan.
***
“Woy, bintal khodrowat (anak sayuran), tergesa-gesa kemana?” sapa seorang gadis berjilbab. Pandangannya begitu sinis. Yang disapa cuma menoleh dan melemparkan senyum kepada gadis berjilbab sambil terus melanjutkan jalannya menyusuri koridor-koridor universitas. Langkahnya terlihat begitu tenang, baginya buat apa marah, buat apa jengkel, toh, kenyataannya memang begitu, ia memang anak penjual sayuran. Ia tidak sadar sedari tadi sepasang mata mengawasinya  dari depan papan pengumuman. Telah lama ia mengerti tentang pribadi Aini. Aini yang katanya cantik tapi bisu, penjual sayur di pasar Sayeda Zaenab, gadis yang cerdas dan sering berkarya. Yah, seperti itulah yang sering ia dengar dan baru kali ini ia bisa menatap wajahnya. Wajah ayu dibalut jilbab cantik berwarna biru serta ketegaran hatinya itu menyisipkan rasa kagum dihatinya.
***
Aini terus melangkah menuju kantor administrasi universitas. Tak disadarinya mata yang sedari tadi mengawasinya masih terus membuntutinya. Sesampainya di ruang administrasi, Aini langsung disambut wajah teduh guru yang bertugas. Segera saja, ia mengeluarkan kertas lalu menulis di atasnya “Nama saya Syarifah Nur Aini, jumlah pembayaran ujiannya berapa ustadzah?” kertas itu disodorkan kepada guru bagian administrasi  yang duduk di depan meja kerjanya. Guru tersebut melihat sebentar lalu menjawab,
“Untuk mahasiswa tingkat akhir bayarnya 700 dollar sekaligus biaya wisuda. Sengaja kami crushkan dollar agar proses dengan sponsor lebih lancar” Aini terhenyak. Bagaimana mungkin ia mendapatkan sebegitu banyak, padahal kebutuhan ekonominya pun bisa dikatakan sedang parah-parahnya, ditambah lagi dagangan sayurannya yang kian hari makin jarang pembeli.
“ Mau bayar kapan ukhti? ” suara guru administrasi mengagetkan Aini. Aini geragapan, bingung apa yang harus ia lakukan. Cepat-cepat ia ambil kertas itu lagi lalu menulis di atasnya “boleh dicicil ustadzah?”
“Boleh tapi sesuai persyaratan harus lunas satu hari sebelum ujian, jadi kurang enam hari lagi” jawab guru administrasi. Kembali Aini terhenyak, ia bingung, ia segera memutuskan untuk berusaha terlebih dahulu. “Saya usahakan dulu, terimakasih” tulis Aini pada akhirnya. senyumnya hambar. ia lalu berbalik menuju ruangnya dengan membawa sejuta kebingungan.
Gyratan wajah kesedihan di wajah Aini ditangkap oleh mata yang sedari tadi membuntutinya, sepertinya ia mengetahui penyebebnya. Bergegas ia masuk ke ruang tempat Aini keluar tadi. Di sana ia menjumpai guru administrasi. Langsung saja ia bertanya
“Ada apa dengan gadis tadi, ustadzah?”
“Oh gadis tadi,  ia kelihatannya bingung dengan administrasi ujian akhir sekaligus biaya wisuda.” jawab guru itu. Pemuda itu tersadar, Aini hanya seorang penjual sayur. Uang 700 dollar terlalu besar baginya “kasihan kalau sampai wisudanya di tunda” batin pemuda tersebut, segera ia merogoh sakunya. Di dalam dompetnya ia keluarkan kartu ATM miliknya.
”Ustadzah, ini uang pembayaran biaya gadis tadi. Kasihan kalau gadis secerdas itu tidak wisuda. Negara membutuhkan dirinya untuk dakwah. Tolong samarkan nama saya jika ia bertanya”
“Insya Allah”
***
Enam hari berlalu. Saat itulah Aini dilanda kebingungan, uang yang telah lama ia kumpulkan terpaksa harus ia gunakan untuk  biaya perobatan umminya yang dua hari lalu penyakit jantungnya kambuh. Ia kembali bingung. Harus dengan apa ia membayar ujian?! seharusnya dalam waktu dekat ini ia bisa meraih gelar Licencenya, tapi bagaimana ia bisa melewati rintangan ini? Mungkin, salah satu jalan keluarnya adalah menunggu satu tahun lagi untuk meraih gelar tersebut.
Aini menghela nafas panjang, butiran kristal bening mulai membasahi pipinya yang halus.  Ia kembali mendesah.
            “Gelar bukanlah suatu yang sangat berharga kak, gelar bukanlah segalanya, tapi ilmu yang selama ini kita dapatkanlah yang harus kita jaga dan amalkan. Mala tahu kebingungan yang kini melanda kakak”. Mala, adik perempuannya tiba-tiba muncul dibelakangnya. Aini menoleh. Hatinya tersentak. Mala benar tak seharusnya ia merasa sesedih ini. Ia merangkul erat adiknya. Hatinya telah mantap, ia akan mengambil langkah dan harus mengambil keputusan. Segera Aini mengambil tasnya dan langsung berangkat ke kampus, ia sempatkan dulu pamit pada umminya yang tergeletak lemas tak berdaya di ranjang.
“Iya, Nak!  hati-hati di jalan!”. Kata umminya serak. Sepeninggal Aini, tetesan hangat membasahi pipi umminya. Ia mengerti dilema yang kini sedang menimpa putri tertuanya. Sebab dirinyalah, Aini tak bisa menyempurnakan kuliahnya.
“Mudahkanlah jalan bagi anakku, Robbi!” lirih ummi Aini disela-sela tangisnya
***
Aini menyusuri koridor universitas dengan langkah cepat. Ia harus segera menjelaskan. Kalau tidak, namanya bisa dicoret tanpa sebab. Kini ia berdiri di sebuah ruangan yang beginya begitu berat, Aini menata hatinya terlebih dahulu. setelah dirasa cukup, dengan langkah yang mantap, ia memasuki ruangan itu, Aini segera membuka tas kecilnya dan mencari kertasnya. Setelah menemukan kertas itu. Aini langsung menulis diatasnya “Ustadzah saya bermaksud menunda ujian licence tahun depan karena masih belum punya biaya. Mohon dimengerti!” kertas itu disodorkan pada guru penjaga ruang administrasi. Penjaga guru itu membaca sebentar lalu tersenyum simpul.
“Aini,” sang guru mulai bicara
“Kamu bisa mengikuti ujian Licence kali ini” terang guru itu. Aini terbelalak kaget. Ia tak percaya, ia merasa belum membayar. Cepat-cepat Aini menulis dan segera ia balikkan pada guru itu “Maksud ustadzah. Saya belum membayar ujian”
“Kamu sudah membayar, Aini. Sudah tercatat disini. Biaya ujian kamu sudah ditanggung  seseorang” jawab guru itu. Aini penasaran, ia kemudian menulis “Siapa yang membayarnya ustadzah?”
“Dia tidak mau menyebutkan namanya. Maaf, saya hanya menjalankan amanah. “ kata guru itu. Aini menulis lagi “Boleh saya minta kwitansinya?” guru itu melihat sebentar  lalu menjawab. “Maaf kwitansinya telah dimintanya” Aini mendesah pelan, ia kecewa karena ia tak bisa mengetahui orang yang telah berbaik hati padanya. Baginya semua itu adalah pinjaman dan harus dikembalikan.
“Aini,”Aini tergeragap. Suara itu telah mengagetkannya.
“Ust…ust…”jawabnya dengan isyarat disertai anggukan kepala seakan menjawab “Ya ada apa?”sepertinya guru bagian administrasi menyadari kekecewaannya.
“Yang paling penting, sekarang kamu bisa mengikuti ujian dan mengejar gelar Licencemu. Ingat Aini, kamu bisa mengalahkan bisumu untuk berkarya dan berprestasi, maka hal ini pasti lebih kecil untuk kau lewati.” ucap guru tersebut meyakinkan Aini. Seketika itu juga Aini langsung bersujud syukur. Matanya menderas.
“Allah, Sungguh besar karuniamu, Ya Robb, aku patut mengucap syukur padamu. Hadza min fadlli robbi”
Beberapa saat kemudian Aini telah kembali ke posisi semula. Aini menggores isi tasnya lagi, ia mengambil selembar kertas dan menulis di atasnya “Saya kembali dulu ustadzah! Syukron ala al-jami’. jazakillah” guru itu tersenyum sambil menyilahkannya dengan isyarat tangan.
***
Aini keluar dari ruangan dengan hati berbunga-bunga. Berkali-kali hatinya mengucap syukur pada Allah SWT. Karena Dialah dzat yang maha pengasih bagi semua hamba-hambanya yang sedang dalam kesulitan dan ia yakin akan hal itu,
“Inna ma’al ‘usri yusroo”  Allah akan selalu menolong hambaNya yang terjepit dalam kesusahan.
***
Wisuda kali ini sungguh membahagiakan. Aini, memperoleh Cumma Cum Claude atau perdikat mumtaz, sebuah predikat tertinggi mengungguli semua teman seangkatannya yang hanya berpredikat jayyid jiddan. Tapi saying, pada moment terindah yang kini ia genggam sang ummi tak bisa menemaninya. Sakit yang diderita umminya bertambah parah, sedang Aini tak punya uang untuk mengobati umminya. Dagangan sayurannyapun sepi pelanggan, belum lagi ia masih punya tanggungan hutang pada seseorang yang melunasi pembayaran ujiannya. Hatinya begitu sedih. Ia kalut, ia tak ingin umminya menderita. Sebenarnya ia ingin meminjam uang pada tetangganya, tapi ia ingat akan perlakuan kasar tetangganya disertai dengan kata-kata yang merendahkan harga dirinya. Sulit menjadi orang tak berada ditambah keadaan dirinya yang kurang dari sempurna. Sering ia harus menangis sendirian dan menelan pahit makian sekelilingnya tentang kekurangan yang ia miliki. Memang ia bisu. Dan itu bisa berpengaruh besar pada masa depannya. Tapi ia yakin bisa mengatasi itu. Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kini ia termangu di bangku depan bertemankan thropy dan sertifikat serta toga yang menutupinya.
“Aini,” Aini menoleh kaget.
”Eh…” ia menoleh pada orang yang memanggilnya. Ia lihat Nisa’ dan Syifa’ dua orang teman sekelasnya.
“Kok murung? Harusnya kan bahagia?” Aini hanya menggelengkan kepalanya sambil sesekali mencoba tersenyum tapi sungguh berat merubah bibirnya tuk menyunggingkan sebuah senyuman.
“Ada apa? Ada masalah?” Tanya Nisa. Yang kemudian duduk di sebelah kirinya. Aini hanya menggelengkan kepala tapi kedua sudut matanya tak mampu berbohong. Butiran kristal mulai turun di pipinya, menetes membasahi kerudung putihnya. Aini segera tanggap dan menyeka air matanya dengan sapu tangan yang dibawa. Ia tak mungkin bisa membohongi dirinya sendiri.
“Aini, kalau memang ada masalah, ceritakanlah! mungkin kita berdua bisa membantu ?” Syifa’ memegang pundak Aini.
“Iya Aini. Mungkin dengan menceritakan kepada kami bebanmu bisa berkurang. Insya Allah kita akan membantu semampu kita” sahut Nisa. Aini mulai memandangi wajah kedua temannya bergantian. Ia masih ragu untuk bercerita.
“Aini, jujur kami salut dan kagum akan perjuangan kamu. Tak sedikitpun cobaan ini menghapus senyummu. Tapi kali ini ketika tak kami jumpai senyum manismu kami merasa kekaguman kami sedikit pudar. Kamu nggak akan kalah dengan semua ini, Aini. Cobaan dan cacat yang kau derita justru membuat kami termotivasi untuk bisa sepertimu. Selalu semangat. Ceritakanlah jika kau memiliki masalah.” Mata Aini basah. Pelan-pelan ia menulis duka yang kini menyelimuti hatinya. Tapi di akhir cerita ia menuliskan “Tolong nggak usah repot-repot membantu aku, aku takut merepotkan kalian. Bagiku kehadiran kalian sudah sangat membantu menguatkan hatiku” kertas tersebut lalu disodorkan kepada kedua temannya tadi. Mereka segera membaca isi cerita Aini. Seusai membaca keduanya memandang Aini. Mata keduanya berkaca-kaca
“Aini yang sabar ya!” ucap Syifa’
“Iya Aini.Kamu nggak boleh merasa merepotkan kita. Sudah menjadi kewajiban kita  sebagai sahabat untuk saling memmbantu ” sahut Nisa’ yang berada di sebelah kirinya.
Keduanya langsung membuka tas kecilnya. Syifa’ mengambil uang seratus dollar sedang Nisa’ mengambil uang delapan puluh dollar sisa pembayaran ujian. keduanya memberikan uang tersebut kepada Aini. Aini beringsut. Dengan cepat ia langsung menolaknya
“Aini,tegakah kau mengorbankan sakit yang diderita  ibumu hanya dengan rasa malumu pada kami berdua, kami ini sahabat kamu. Kami saudaramu ” Aini hanya terdiam. Air matanya kembali membasahi pipinya. dalam hati ia membenarkan ucapan kedua sahabatnya
“Aini, kamu sedang membutuhkan uang itu untuk mengobati ibumu, kasihan ibumu ” Aini langsung merangkul keduanya, tangisnya makin deras.
“Syafaha allah Aini. Segeralah pulang! Ibumu membutuhkanmu.” Aini mengangguk. Air matanya terus mengucur deras . Aini melepaskan pelukannya lalu segera menulis diatas kertas yang sama “Syukron semoga Allah membalas  kebaikan kalian. Allah yubarik fiikuma” Syifa’ dan Nisa’ mengangguk sambil sesekali mengusap air mata yang menetes membasahi kedua pipi mereka.
Segera Aini berlari menuju gerbang universitas. ia ingin sampai di rumahnya, ia berencana akan membawa uminya ke rumah sakit. ia begitu bahagia sampai ia menyeberang tanpa melihat arah jalan. Tiba-tiba
“CIIIIT……. BRUAK “
***
Di rumah aini.
“Ummi, jangan tinggalkan Mala dan Aufal ummi …!” jerit kedua adik Aini.
“Ya Allah, kenapa engkau tega memisahkan kami! dulu kau pisahkan kami dengan abi, kenapa sekarang kau ambil satu-satunya orang  yang kami cintai. Tak cukupkah derita kami selama ini. Engkau sungguh jahat. Jahat. Jahat…!” jerit  Mala. Para pelayat menunduk semakin duka. Aufal terduduk lemas di pojokan, Tangannya memeluk erat kedua lututnya sambil sesunggukan. Sesekali terdengar isak tangis diiringi jeritan-jeritan. Tak lama kemudian, Mala pingsan. Tiba-tiba seorang polisi berbadan kekar masuk ke dalam rumah Aini.
            “Selamat siang, apa benar ini rumahnya saudari Syarifah Nur Aini ?“
            “I…iya ! “Jawab tetangga Aini. Aufal terlihat diam sambil menerka-nerka ada masalah apa lagi. Mala perlahan mulai sadar.
“Ukhti Aini…. “Kalimat pak Polisi terdengar menggantung. Ia tak tega memberitahukan kabar itu. Pak polisi menyadari di rumah itu kini sedang dalam keadaan duka. Tapi, ia harus bersikap tegas.
            “Ukhti Aini …. sekarang di rumah sakit, ia tertabrak mobil setelah pulang dari Universitas ! “ Ucap pak polisi sambil menunduk. Seketika itu Mala menceracau hebat. Tak lama, kemudian pingsan. Aufal langsung berlari ke arah jenazah Umminya dan memeluk erat seakan tak ingin ditinggalkannya.
            “Ummi…. kenapa cobaan ini harus menimpa kita Ummi. Kita orang miskin tapi mengapa Allah masih menurunkan cobaannya pada kita Ummi…. apa memang benar Allah itu jahat Ummi …, Ummi …. Jawab Ummi…. ! lihat ummi! kasihan kak Aini. Allah sudah menakdirkan dirinya bisu dan kini Allah tambah lagi cobaan ini. Seakan kita diciptakan hanya sebagai bahan ujian. Apa ini adil ummi. Jawab ummi..jawab!“ Teriak Aufal sambil terus berlinang air mata.
            “ Allah jahat ….. Alllah jahat…. Allah jahat … ! “ tiba-tiba Mala bangun dari pingsannya dan langsung berteriak-teriak. Semua orang di dalam rumah Aini menitikkan air mata tak tega. Semua orang yang pernah merendahkan keluarga Aini seketika itu tersadar, betapa berat cobaan yang di alami oleh keluarga ini. Orang-orang yang selalu menghina ketidak mampuan serta ketidak sempurnaan keluarga kecil ini.
            “ Mala,Aufa,. kalian tak boleh mengucapkan kata-kata seperti itu, ingatlah Allah itu maha Rahman dan Rahiim. Sini, dek! “ Suara lembut Safa, sahabat Aini terdengar begitu menyentuh. Ia mendekati Mala dan Aufal yang terlihat masih shock.
            “Apakah dengan cara seperti ini Allah dikatakan maha Rahman dan Rahiim ? “ tanya Mala dengan nada penuh kebencian.
            “Bukan begitu maksudnya, Mala ! Kita semua mengetahui bahwa Allah itu sang Khaliq yang menciptakan kita semua, dan Allah berhak untuk mengambil ciptaan-Nya kapan pun dan dimana pun orang itu berada. orang yang sering kali mendapatkan cobaan, berarti kita tengah di perhatikan Allah. “ Jawab sahabat Aini dengan senyum mengembang meski matanya terlihat berkaca-kaca.
            “Dengan maksud Allah sedang menguji kesabaran dan ketabahan hambanya, apakah ia mampu melaluinya ? kakak yakin dibalik ini semua pasti Allah menyiapkan sebuah kejutan besar buat kita. “ Sambungnya.
            Mala dan Aufal terdiam. Matanya kelihatan membengkak akibat kebanyakan menangis. Serentak mereka berdua berlari ke arah sahabat Aini. Mereka langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.
“Sekarang kita urus jenazah ummi baru kita ke rumah sakit mengunjungi kakakmu!” keduanya hanya mengangguk lemah.
***
Mata Aini mengerjap-ngerjap. Silau. Ia mencoba berinteraksi dengan keadaan sekitarnya, ruangan serba putih, ranjang beserta selimut putih dan di sampingnya terdapat obat-obatan. Tak salah lagi, ia kini berada di rumah sakit. Di sisi ranjangnya tampak mala tidur menelungkup dengan memegangi tangannya. Tiba-tiba tangan Mala bergerak.
“Ka….kak!” sapa Mala sambil mengerjap-ngerjap matanya. Matanya masih bengkak.
“Kakak sudah siuman!” Aini hanya mengangguk lemah. Matanya yang bening mencari-cari sosok sang ummi, tapi nihil umminya tidak ada di ruang itu. Aini memberi isyarat kepada mala untuk mengambilkan kertas dan bolpoint. Malapun mengambilkan kertas dan bolpoint lalu diserahkan pada sang kakak. Aini langsung menulis “ummi dimana? Bagaimana keadaannya?” mala membaca sesaat. Butiran-butiran bening mulai mengambang di pelupuk mata mala tapi sanggup ia tahan.
“Ummi…. ummi… sudah tenang kak…!” Aini tersenyum lega. Iapun menulis lagi “Alhamdulillah berarti ummi sudah sembuh, sekarang beliau dimana?” kali ini Mala tak sanggup menahan air matanya. Air matanya ambrol. Butiran-butiran bening itu sangat deras turun melewati pipinya. Ia tak tega memberi tahu kakaknya perihal wafatnya sang ummi. Sang kakak tambah bingung. Apa yang sebenarnya terjadi. Aini langsung menulis, “Ada apa gerangan ukhti shoghiroh, apa yang membuatmu menangis, adakah tangisan ini tangisan keharuan atau…” Aini tak sanggup melanjutkan tulisannya. Ia tak mau berprasangka buruk. Kertas itu lalu diberikan kepada sang adik.
“Nggak apa-apa kak! Mala Cuma terharu melihat kakak sudah siuman! Umi sekarang sudah tenang kok.” ucap Mala berbohong. Ada rasa perih meneusup di hati Mala saat mengucapkan kata-kata itu. Tapi harus bagaimana lagi, ia tak ingin kakaknya lebih menderita. Tiba-tiba ia disodori kertas oleh Aini, “sekarang Ummi dimana?” Mala bingung harus menjawab apa, ia berpikir sesaat.
“Ummi… ummi.. ada kok di rumah!” Aini tersenyum lega.
*** 
Sepuluh hari telah berlalu. Aini sudah diperbolehkan pulang. Ia dijemput Safa sahabatnya.
Di tengah perjalanan Mala berbisik kepada Safa.
“Bagaimana kalau kak Aini tahu perihal wafatnya ummi, Kak? Mala nggak ingin membuat kak Aini sedih” Safa tanggap akan kegelisahan Mala. Ia mengangguk pelan seakan menjawab kesanggupannya untuk menyelesaikan masalah ini. Ia lalu mendekati pak sopir dan membisikinya. Sang sopir mengangguk-angguk pelan. Lalu iapun mendekati Aini dan berbicara pelan.
“Aini yang tabah ya! aku yakin Aini orang yang tegar!” Aini mulai berprasangka seperti dulu di rumah sakit. Ia langsung menatap Mala. Mala langsung memalingkan mukanya ke arah luar jendela mobil. Butiran-butiran bening terus menetes dari dua kelopak mata mala. Aini semakin gelisah, ia menatap aufal. Aufal langsung menempis dan menutupi mukanya dengan tangannya. Aini kembali menatap sahabatnya. Safa menunduk. Matanya menitikkan kristal bening hangat.
Tak lama berselang, terjawablah sudah prasangka Aini ketika mobil yang ditumpanginya turun di depan padang. Di depannya terdapat palang kayu bertuliskan “Maqbaroh Sayyeda Zaenab”. Sontak Aini langsung menangis. ia mencoba menegarkan hatinya dengan terus berkeyakinan bahwa prasangkanya salah.
Semuanya turun dan masuk ke pemakaman. Air mata Aini terus menderas turun. Ia berharap prasangkanya salah. Tapi, kegelisahan itu terjawab sudah kala mereka  berhenti tepat di samping sebuah makam yang bertuliskan “Maryam binti Abdulloh”. Aini langsung terduduk lemas di samping makam umminya. Tangisnya makin deras sedang tangannya menggenggam tanah bercampur bunga-bunga yang ada di atas makam umminya. Mala dan Aufalpun tak dapat menahan tangisnya, tangis keduanya makin kembali mengucur. Mereka langsung berangkulan bersimbah air mata. Sungguh memilukan. Sahabat Aini hanya bisa menangis sedih melihat kejadian memilukan yang ada di hadapannya. Matanya nanar menatap mereka bertiga.
*** 
Sesampainya di rumah Aini hanya menangis dan menangis. Terbersit dalam hatinya untuk berontak terhadap takdir yang menimpanya. Kunjungan para pelayat tak ia hiraukan. Hatinya masih kacau hingga akhirnya ia kelelahan dan tertidur. Di dalam tidurnya, tak dinyana ia bermimpi bertemu umminya. Umminya tersenyum bahagia dengan memakai pakaian putih yang berkilau dan bermahkota, di belakanganya terdapat suatu pemandangan yang ia sendiri belum pernah melihatnya. Menakjubkan.
Aini mengulurkan tangannya pertanda ingin ikut tapi umminya hanya berucap, “ummi mersetuimu Aini…” dan suara itu semakin mengecil dan menghilang bersamaan menghilangnya sang ummi ditelan kabut putih tebal.
Aini terbangun  dengan keringat bercucuran. di tengah kesendiriannya, ia menangis, “Apa maksud perkataan ummi?” hatinya terus bertanya. Semalaman Aini tak dapat memejamkan matanya.
*** 
Pagi harinya Aini merasa lebih baik meski fikirannya masih tergantung dengan perkataan umminya semalam. Tiba-tiba ia dikejutkan suara Mala
            “Kak.. ada guru dari universitas!” Aini mengangguk lalu berjalan ke arah ruang tamu. Di sana, ia melihat guru administrasi bersama dua orang laki-laki. Ia sama sekali tak mengenalnya. Yang satu sebaya dengannya dan satunya kelihatan sudah tua dengan jenggot yang menghiasi dagunya.
“Gimana kabarnya Aini? Ibu turut berduka cita atas wafatnya ummimu” guru administrasi membuka percakapan sambil tersenyum. Aini hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum serupa.
“Aini, disini saya mau menjawab pertanyaanmu kemarin! Orang yang melunasi pembayaran ujianmu kemarin adalah pemuda ini!” kata guru administrasi sambil menunjuk pemuda yang ada di sampingnya.
“Pemuda ini anak seorang syaikh di daerah Aswan sana. Mereka kesini berniat mengkhitbahmu!” lanjut guru administrasi.
Aini terbelalak kaget. Rahasia apa yang tengah Allah siapkan untuk dirinya. Bagaimana ia harus menjawabnya. Disini ia anak yang tertua, ia harus memutuskannya. Ia melirik Mala dan Aufal, keduanya tersenyum. Sepertinya mereka telah mengetahui hal ini lebih dulu. Di tengah kegalauannya ia teringat ucapan umminya, tapi ia tidak begitu yakin.
“Apa saya kufu dengannya ustadzah. Aku hanya gadis cacat yang tak punya apa-apa. Hal ini tentu merugikan mereka.” Tulisnya pada guru didepannya. Sang guru tersenyum dan memebrrikan kertas itu kepada pemuda dan ayahnya.
“Ukhti Aini, saya berniat mengkhitbah ukhti bukan karena materi. Tapi hanya semata-mata mencari ridlo Allah. Dengan adanya Ukhti Aini saya berharap bisa bersinergi dalam berdakwah menyebarkan ilmu yang kita punya. Aku salut dengan kegigihan ukhti. Meskipun dalam keadaan seperti ini Ukhti masih mampu berkarya demi jalan dakwah. Seakan menjadi pelecut semangat manusia yang sempurna karena banyak orang sempurna yang tak bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Insyaallah jika ukhti mantap. Dengan mengucap bismillah saya siap melangsungkan niat suci ini.”
Mata Aini berkaca-kaca. Ia segera mengambil kertas dan menulis sesuatu di atasnya.
“Beri saya waktu tiga hari untuk mempertimbangkannya. Menikah adalah sesuatu yang suci. Aku tak ingin terjerat dalam tali syetan dengan terbiri-buru menjawabnya.” Pemuda itu tersenyum menyilahkan.
***
Di dalam istikhorohnya, kembali ia mendengar suara umminya, “ummi merestuimu Aini… ummi merestuimu  Aini…” ucapan tersebut terdengar berkali-kali. Ia meminta pendapat Mala, Aufal dan Safa. Mereka menyetujui keputusan Aini untuk menerima lamaran itu.
***
Pesta it sungguh meriah. Aini duduk di pelaminan bersama Ridwan suaminya. ia terlihat begitu bahagia meski di hatinya masih menyimpan duka. Dalam hati ia berkata,”ya Allah, terima kasih atas segala karuniamu. wujud keajaiban cintamu begitu agung. Tak seorangpun yang mengetahui rencana yang telah engkau gariskan terhadap hamba-hambamu! Kekurangan ini tak akan menyurutkan semangatku untuk berdakwah demi penuhi risalah-Mu”./end
Created by : Adly Al-Fadlly (kutulis saat usiaku genap menginjak 15 tahun)
Alhamdulillah, “Keajaiban Cinta” mendapatan barokah dari Allah Swt.dan mampu meraih beberapa penghargaan :
         Juara Favorit lomba cerpen dalam rangka HUT majalah Al-Fikrah
         Dipublikasikan di majalah Al-Fikrah edisi 61
         Juara 1 lomba cerpen versi blog FLP Hadhramaut
         Diterbitkan dalam buku antologi kumpulan cerpen “Opera Langit” di Indonesia
         Dibedah oleh bunda Pipiet Senja di bilik sastra, radio streaming internasional RRI Jakarta
RSS
Follow by Email
YouTube
Instagram
Telegram
WhatsApp