Search for:
Menelisik Sejarah Masjid Wa’al; Masjid yang Pertama Berdiri di Bumi Sejuta Wali

Kota Tarim selain dikenal dengan kota wali, juga dikenal dengan kota ratusan masjid, bahkan hampir bisa dipastikan di setiap jarak lima puliuh meter akan kita jumpai masjid. Masjid-masjid ini umumnya sudah berusia berabad-abad. Diantara masjid tersebut adalah Masjid Wa’al. Sekilas saat mendengar namanya tidak bisa dipungkiri pasti terasa janggal di telinga, terlebih bagi yang mengerti bahasa arab. bagaimana tidak, kebanyakan masjid di dunia menggunakan nama-nama yang disandingkan dengan Nama Allah SAW., Asmaul Husna, nama Nabi ataupun nama pendirinya. Tidak demikian dengan masjid ini. Ya, masjid ini masyhur dengan nama masjid “Wa’al”, yang dalam bahasa arab berarti kambing hutan. Tentunya penamaan masjid ini tidak luput dari sejarah menarik di dalamnya.

Secara geografis masjid ini terletak tepat di tengah-tengah kota Tarim, di dusun Khulaif tepatnya di tepi jalan kecil yang menuju pasar tradisional dari arah pemakaman Furait. Arsitekturnya yang klasik seperti halnya masjid-masjid tua lainnya menjadi ciri khas yang msih trendy di kota ini.

kerangka masjid


Tidak ada yang istimewa masjid ini jika sekilas dilihat dari fisik dan gaya arsitekturnya, luasnya hanya berkisar 231 M persegi dengan 22 tiang kokoh yang berbalut kapur putih di bagian serambi luarnya, dan 115 M persegi di bagian dalamnya.Temboknya juga berwarna putih,bahkan ada sebagian yang sudah lusuh termakan usia.


Serambinya tidak beratap, hanya berpagar tembok yang tidak begitu tinggi yang berbordir celah-celah kecil di bagian atasnya. Di situ juga terdapat dua jendela kaca di bagian depan sebelah kanan. Masjid ini memiliki dua pintu utama dari kayu tebal berwarna coklat tua tanpa ukiran, mirip pintu-pintu masjid klasik lainnya yang ada di Hadhramaut. Tepatnya dari sebelah timur dan utara yang keduanya menuju serambi masjid. Ada juga pintu dari sebelah kiri yang tidak langsung menuju masjid, tapi harus  melewati toilet dan tempat wudhu’.

Dari serambi masjid akan kita dapati empat pintu yang menuju bagian dalam, tapi yang biasa digunakan hanya dua, di antara dua pintu itu ada mihrab kedua selain yang digunakan di bagian dalam, biasanya digunakan untuk shlata berjamaah oleh orang-orang yang tertinggal jamaah pertama. Bagian dalam masjid juga nampak sederhana, terdapat 12 tiang besar di sela-selanya sebagai pondasi masjid, dan tiga jendela di sebelah kanan sekedar untuk ventilasi udara dan sisnar mathari. Di bagian dalam ini hanya terdapat 3 shaf yang mampu menampung kurang lebih 40 jamaah. Dulunya bangunan asli masjid ini adalah serambi luar, sementara bagian dalam ini ditambahkakn pada saat renovasi masjid.

Dari sebelah kanan ada pintu yang mengarah ke kamar mandi, ada enam kamar mandi yang baknya berbentuk seperti kolam, untuk buang air kecil dan mandi saat musim panas, di sebelah timurnya enpat kran untuk berwudhu’. Sementara toilet untuk buang air besar dibangun terpisah di luar masjid sebelah selatan. 

Sejarah pembangunan

Menurut berbagai sumber, masjid ini dipercaya dibangun pada tahun 40 H. oleh seorang Tabi’in Ahmad bin ‘Abbad bin Bisy al-Anshori RA. Ayahnya Abbad bin Bisyr adalah salah seorang shahabat yang ikut berhijrah bersama Rasulullah SAW. ke Madinah. Beliau dikirim ke daerah Lisk (-+12 KM. dari Tarim) di Hadhramaut oleh Khalifah Abubakar as-Shiddiq RA. Untuk memungut zakat dan berdakwah, dan memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat. Di saat melakukan tugas mulianya tersebut  beliau akhirnya terbunuh. Setelah kematian ayahnya beliau berhijrah ke Tarim dan mendirikan masjid ini, namun kala itu masih belum memiliki nama. Koonon masjid ini adalah masjid yang pertama berdiri di bumi Tarim, meski juga ada yang membentah, namun berdasarkan sumber yang kuat masjid inilah yang pertama kali berdiri. Konon masjid ini telah mengalami tujuh kali renovasi, dan yang terakhir berlangsung satu abad yang lalu.

Semenjak Ahmad bin Abbad bin Bisyr pindah dan mendirikakan masjid di Tarim, masyarakat sekitar menjadikannya tokoh panutan dan menyerahkan segala urusan keagamaan kepada beliau, sebagaimana maklum masyarakat Tarim yang berhati lembut sangat menghormati para ulama, terlebih seorang Tabi’in putra seorang shahabat. Mereka juga patuh pada kebijakan khalifah apapun keputusan yang ditetapkan, sehingga memperoleh tiga doa istimewa dari sang khalfiah Abu Bakar ash-Siddiq RA.

Begitupun setelah beliau wafat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh anak-cucu beliau.  Hal ini berlanjut hingga kedatangan Imam al-Muhajr ke bumi Hadhramaut. Semenjak para Sadah Ba’alawi berhijrah ke Tarim pada abad ke empat Hijriah keluarga ini menyerahkan segala urusan keagamaan kepada mereka karena sikap Ta’zhim dan cinta Ahlul Bait yang tertanam pada diri mereka. Mereka sangat menghormati dan menjaga adab kepada para sadah Alawiyyin. Meski begitu para Sadah tetap menyerahkan urusan minbar kepada keluarga ini, oleh karena itu keluarga ini dikenal dengan marga al-Khatib (Ahli Khutbah), karena semua urusan minbar di kebanyakan masjid di Tarim keluarga ini yang ditunjuk sebagai Khatib.

Penamaan masjid

Di awal pembangunan masjid ini belum memiliki nama, entah sebenarnya ada atau tidak sejarah tidak mencatat nama masjid ini selain dengan sebutan masjid Wa’al. Mungkin karena waktu pertama kali dibangun masjid ini dulu satu-satunya masjid yang ada di Tarim.

Nama Wa’al sendiri berawal dari kisah tokoh dari marga al-Khathib yang mengurus masjid ini menggantikan pendahulunya, yaitu Syaikh Ali bin Muhammad al-Khathib, yang dikenal dengan kealiman, kewalian dan karomahnya yang agung, beliau hidup pada masa al-Faqih al-Muqaddam (abad Keenam H). Dikisahkan pada saat hari raya ketika beliau hendak berangkat ke masjid sebagai khathib, istrinya mengomel kepada beliau:

“Bagaimana bisa kamu meninggalkan keluargamu kelaparan tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, kami ingin makanan. Kami ingin turut merasakan hari raya”
“Kalau begitu biarkan pintu rumah terbuka, siapa tahu dzat yang maha dermawan sang maha pemberi akan memberi kita rejeki”. Jawab beliau singkat seraya meninggalkan istrinya. Istrinya hanya menuruti perintah sang wali.

Setelah selesai malaksanakan shalat Eid beliau mendapati di dalam rumahnya ada sudah ada sekor kambing hutan yang datang dari gunung dengan sukarela. Pada saat itu Tarim masih hutan, masih sedikit ditemukan perumahan. Dipotonglah kambing hutan tersebut dan disantap bersama keluarga kecilnya sebagai hidangan hari raya. Konon menurut cerita salah satu ulama salaf, al-Habib Ali bin Muhammad al-habsyi setelah selesai dikumpulkanlah sisa tulang-belulang dan kulitnya, lalu beliau berkata:

“Bangkitlah dengan idzin Allah, kami sudah selesai dengan hajat kami”, tiba-tiba bangkitlah tumpukan tulang-belulang tersebut menjadi seekor kambing hutan utuh lalu kembali ke gunung. Semenjak  saat itu masjid ini dikenal dengan sebutan “Masjid Wa’al” (Kambing Hutan).

Keistimewaan Masjid

Karena usianya yang begitu tua masjd ini tentunya sudah tidak terhitung berapa banyak para wali dan orang-orang shaleh yang sudah shalat di masjid ini, oleh karenanya tidaklah aneh jika masjid ini banyak memiliki Sirr dari mereka. Bahkan arwah-arwah mereka tidak berpisah dari masjid ini. Banyak cerita dari orang-orang shaleh kalau Nabi Khidhir tidak pernah absen sholat di masjid ini. Konon menurut Ahli Kasyaf (orang yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. bisa melihat rahasia-rahasia) Nabi khidhir AS. setiap hari – terutama di waktu antara Zhuhur dan Ashar – melakukan shalat di dekat tiang sebelah utara serambi luar hingga saat ini tempat itu ditandai dengan sajadah.

Tidak sedikit pula dari mereka yang melihat Rasulullah SAW. di masjid ini dalam keadaan terjaga. Banyak dari mereka yang melihat beliau berada di mihrab luar. Diataranya lagi tidak ada yang berani bermalam sendirian di masjid ini karena dikenal dengan Sirrnya yang begitu kuat, konon bisa menyebabkan kegilaan bagi orang yang tidak mampu melihat Sirr tersebut. Karena pada malam hari Sirr-sirr tersebut akan lebih Nampak.

Seperti yang dialami sendiri oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin umar al-Khathib, imam sekaligus Takmir masjid saat ini yang meneruskun leluhurnya. Beliau sudah ratusan kali melihat hal-hal aneh di masjid ini dengan kasat mata, termasuk juga putra beliau di waktu belum baligh, ketika hendak melakukan shalat malam di masjid ini, beliau melihat sosok manusia yang begitu tinggi sampai melampau tiang masjid, sedang sholat di serambi masjid. Beliau lalu menyapanya, “Apakah anda manusia atau jin?”. Namun makhluk itu tidak bergeming sama sekali. Begitulah, banyak kejadian-kejadian aneh di masjid ini.

Dulu masjid ini menjadi tempat sholat favorit para sadah Alawiyyin. Para salaf juga memadati masjid ini saat bulan puasa untuk takjil karena kehalalan kurma yang dihasilkan dari tanah waqof masjid ini yang sama sekali tidak bercampur Syubhat.

Termasuk diantaranya Habib Alwi, Habib Muhammad dan Habib Abdullah bin Syihab yang ketiganya mendapat gelar Qalbu Tarim sering sholat di masjid ini.

Ala kulli Hal. Masjid ini banyak memiliki keistimewaan dan Sir yang begitu kuat karena jejak para ulama’, Auliya’ dan shalihin yang dulu bermunajat dan bersimpuh kepada sang Rabb mengangisi umat Muhammad SAW. di masjid ini, jejak itu bahkan masih terasa hingga saat ini, begitu juga kebanyakan masjid tua di kota Tarim.

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali
Oleh: Muhammad Rofiqul Firdausi al-Waadi al-Maduri, Mahasiswa tingkat dua Universitas Al-Ahgaff Syari’ah wal-Qanun, Tarim, Yaman*
Di balik hiruk-pikuk jantung kota Tarim, berjejer tempat-tempat ibadah umat Islam yang tak kalah melimpahnya dengan toko-toko dan kios-kos masyarakat yang mengais rezeki yang bertebaran di mana-mana. Umumnya masjid-masjid itu sudah dibangun sejak berabad-abad silam, dan masing-masing memiliki sejarah dan peran penting dalam membentuk karekter ikhlas dan para figur dai’ yang tersebar ke seantero dunia, termasuk diantaranya Indonesia.
            Ya, siapa yang tak mengenal kota Tarim. Kota di mana nenek moyang para Wali Songo berasal, kota yang punya ikon Ilmu amal dan akhlak, kota di mana bersemayam ribuan wali Allah yang tidak mengenal urusan dunia dan tak begitu peduli selain terhadap ibadah belajar dan dakwah.
Karena pada diri masyarakatnya sejak dulu sudah tertanam prinsip mulia tersebut, tak mengherankan jika masjid-masjid tak sanggup menampung mereka untuk shalat dan acara-acara belajar-mengajar, maka didirikanlah masjid-masjid yang menfasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut. Termasuk kegiatan rutin maulid dan lainnya yang sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim. Masjid-masjid itu tak lain dari sumbangsih para ulama dan dermawan dan yang berlomba-lomba menyumbangkan harta dan mewakafkan tanah mereka sebagai tabungan akherat. Mereka lebih mengutamakan keuntungan akherat daripada kesenangan dunia yang semu.
Masjid Ba’alawi
Tidak jauh dari pasar tradisioanal kota tarim, berdiri kokoh masjid yang disegani oleh seluruh penduduk lokal maupun non lokal; Masjid Ba’Alawi. Bukan karena kemegahannya tapi karena sejarah dan bekas tempat di mana para ulama’ dan wali-wali agung bersimpuh, menyentuhkan dahi meraka di tanah itu, mengadu dan bermesra-ria dengan sang pencipta. Bekas-bekas itu masih terasa sampai saat ini. Arsitektur bangunannya yang klasik dan sederhana seakan menambah kewibawaan masjid ini seperti kebanyakan masjid-masjid kota Tarim lainnya yang hanya berstruktur tanah liat dan air sebagaimana ciri khas kota tarim. Meski begitu masjid-masjid di kota ini tetap kokoh berabad-abad usianya.
Fisik masjid
Secara kasat mata tak ada yang istimewa dari masjid ini, dilihat dari arsitekturnya masjid yang berdiameter kurang lebih lima puluh meter persegi, dan ketinggian sekitar empat meter ini jauh lebih megah dan menarik daripada kebanyakan masjid di negara kita kita. Dari arah timur tampak menaranya yang mungil ala klasik dan tiga pintu. Satu pintu menuju ruang utama masjid, dua pintu menuju ruang istirahat, tiga pintu di utara dan barat (satu pintu menuju kamar mandi, dan dua pintu menuju ruang istirahat), dan dua pintu dari arah selatan yang keduanya menuju ruang istirahat.
Bagian dalam masjid
Di bagian dalamnya terdapat tiga ruangan, ruang kanan sisi utara sebelah barat terdapat kamar mandi untuk wudhu’ dan buang air kecil, (untuk toilet ada di sebelah utara masjid dibangun terpisah). Di sebelah timurnya terdapat emperan dalam, dan di sebelah kiri ruang tengah akan kita jumpai emperan luas tempat menginap para tamu Allah SWT untuk beristirahat.
Sedangkan ruang tengah terbagi dua, bagian dalam dan luar, Di bagian luar ruang tengah inilah biasanya shalat berjamaah dilaksanakan. Ruang inti bagian dalam hanya dipakai ketika acara-acara besar. Meski begitu tetap diperkenankan bagi siapa saja yang ingin beriktikaf dan membaca al-quran. Di bagian dalam ini ada tempat-tempat yang sering di duduki para pembesar habaib hingga bagian tersebut terkenal dengan nama para habaib yang biasa menempatinya, di antaranya:
  1. Bagian depan pojok kiri
Dikenal dengan tempat mustajabnya doa. Bagian tersebut dulunya adalah tempat shalat Sayyidina al-Faqihil Muqoddam. Bahkan sampai sekarang banyak orang yang antri bergantian untuk sholat ditempat tersebut karena ingin mengambil barokah
  1. Tiang Ma’surah (berbentuk spiral)
Yaitu tempat bersandarnya al-Faqihil Muqoddam. Bisa juga disebut tiang plintir karena seperti baju yang melintir karena di putar. Konon asal mula tiang tersebut dulu ketika Syekh Umar Muhdhor merobohkan Masjid Ba’alawi, beliau ingin membuat tiang yang di sandari Faqihil Muqoddam dengan corak yang berbeda, tapi beliau ragu sehingga di tunda pembuatannya. Esoknya ketika beliau ke masjid ternyata tiang bangunan tersebut sudah berbentuk melintir seperti spiral, konon karena pada malam harinya tiang tersebut dikelilingi oleh para malaikat sehingga melintir sampai sekarang.
  1. Pintu Khidir
Di dekat tiang ma’suroh ada pintu yang terkenal dengan pintu Nabi Khidir AS. karena seringnya orang sholeh melihat Nabi Khidir AS. lewat pintu di tersebut, terutama pada waktu Ashar hari Jum’at, hingga banyak yang mengatakan :
“Jika ingin bertemu Nabi Khidir tunggu di pintu tersebut, yang pertama kali keluar setelah Sholat Ashar di hari Jum’at itulah Nabi Khidir”. Wallahu A’lam.
  1. Kayu di Shof belakang
Di shof paling belakang tepatnya di bagian tengah ada kayu yang tingginya kurang lebih 35 cm yang tak lain merupakan tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Idrus ketika menjadi pemimpin para Habaib Ba’alawi (Naqib Sadah al-Ba’alawi).
  1. Batu di dinding dekat menara
Dulunya adalah tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Haddad Shohiburrotib (penyusun Ratibul Haddad), beliau duduk di belakang karena beradab dengan orang-orang yang lebih tua yang berada di masjid tersebut.
Pembangunan
            Menurut sejarah masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh marga Sadah Ba ‘Alawi, salah satu marga  Ahli Bait. Didirikan oleh Imam Agung Sayyid ‘Ali bin ‘Alwi Khali’ Qasam, cicit al-Imam Al-Muhajir yang besambung kepada Sayyidina Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatihimah binti Rasulullah SAW. pada tahun529 H. Dengan bahan material yang berkualitas karena diambil dari sebuah desa tempat kakek al-Habib Ali Kholiq Qosam yaitu desa Bait Juber, tak lain karena tanah di desa Bait Juber berwarna merah, sangat kuat dan bagus sekali untuk bahan bangunan di banding tanah di daerah lain. Tanah dari desa Bait Juber ini di angkut dengan dokar (pada saat itu adalah alat paling canggih dan moderen untuk mengangkut barang) karena letaknya kira-kira 13 km dari kota Tarim.
Renovasi
Masjid ini mengalami dua kali renovasi. Pertama; di masa putra al-Habib Ali Kholi’ Qosam yaitu al-Habib Muhammad Shohibul Mirbat, beliau semakin menyempurnakan bangunan dan merpercantik masjid yang dibangun oleh ayah beliau sebelum beliau berpindah ke daerah Dhofar (Oman).
Yang kedua: oleh al-Habib Umar Muhdhor yaitu bangunan yang ada sampai zaman sekarang ini. Al-Habib Umar Muhdhor membangun Masjid Ba’alawi di awal abad ke 9 Hijriyah setelah beliau menjadi Naqib Sadah al-Ba’alawi (ketua marga Ba ‘Alawi) pada tahun 821H. Inisiatif dari Habib Umar Muhdhor ini disebabkan melihat keadaan masjid yang tidak layak lagi karena sudah tua termakan usia dan hampir roboh, dikarenakan telah berdiri sejak 300 tahun yang lalu (bila di hitung dari zaman Habib Umar Muhdhor), maka beliau mengumpulkan para pembesar habaib untuk bermusyawaroh tentang pembangunan masjid tersebut, namun mereka tidak menyetujui.
Meski demikian, dengan melihat kemaslahatan yang lebih besar Habib Umar Muhdhor akhirnya nekat dan memanggil tukang dari daerah Mahro (daerah dekat ibu kota Shan’a) yang terkenal dengan tukang-tukang handal untuk merobohkan Masjid Ba’alawi. Ketika hari Jum’at di saat para habaib berangkat Sholat Jum’at di Masjid Jami’ Tarim (tidak semua masjid di tarim digunakan untuk shalat Jumat, dulu penduduk Tarem kalau Sholat Jum’at jam 8 pagi sudah ada di masjid Jami’ dan pulang kira-kira jam dua siang, karena setelah sholat mereka masih berdzikir, membaca al-Qur’an dan sholawat) dan ketika mereka pulang dari masjid mereka temukan masjid Ba’alawi telah roboh dan rata dengan tanah kecuali tembok bagian depan masjid dan mihrab pengimaman, pada akhirnya mereka pasrah dengan keputusan beliau.
Setelah menyelesaikan pembangunan al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman as-Seggaf naik ke loteng masjid dengan mengangkat kaki kanannya lalu meletakkannya, mengangkat kaki satunya dan meletakkannya kembali. Beliau melakukan ini beberapa kali. Menurut sebagian habaib hal tersebut adalah gerakan kaki yang dilestarikan hingga saat ini dan sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim, yaitu ” ar-Rozih ” tarian kaki yang diiringi senanandung syair berisi pujian dan doa ). Dengan  rasa gembira yang di penuhi doa pada Allah SWT. al-Habib Umar Muhdhor berkata seraya  menghentakkan tongkatnya :
هذا بناي إلى يوم القيامة معاد با يتغير إن شاء الله
Insya Allah bagunanku ini tidak akan pernah berubah dan akan tetap kokoh sampai hari kiamat.
Perluasan masjid
Masjid Ba’alawi mengalami beberapa kali perluasan tanpa merubah substansi dasar bangunan yang telah direnovasai oleh Habib Umar Muhdhor. Diantaranya oleh al-Habib Alwi as-Tsamin bin Abu Bakar al-Khered pada bagian pintu masuknya. Beliau juga menambahkan sebuah menara yang tak begitu tinggi, hanya berukurang sekitar lima meter. Begitu juga al-Habib Ahmad Bajahdab. Beliau menambahkan sebuah tempat untuk belajar mengajar di samping kanan masjid.
Diantara kelebihan masjid Ba ‘Alawi
Hingga saat ini, khusunya pada hari Jumat sore waktu sholat Ashar banyak sekali yang hadir untuk sholat di masjid ini meskipun dalam keadaan sakit mereka tetap berusaha menyempatkan diri sholat Ashar berjamaah di Masjid Ba’alawi. Sampai disebutkan dulu orang-orang yang sakit biasanya mengendarai keladainya menuju Masjid Ba’alawi demi ikut shalat Ashar berjamaah di sana, hingga konon keledai yang ada di luar Masjid Ba’alawi mencapai 80 ekor, karena kehadiran Nabi Khidhir AS. di waktu itu.
Para pendahulu sampai sekarang sangat menjaga adab di Masjid Ba’alawi, bahkan mereka tidak berani memakai habwa (sejenis ikat pinggang yang biasanya dipakai sebagai penahan lutut saat duduk) dan juga menselonjorkan kaki. Masjid Ba’alawi juga sangat terjaga dari perkara khilafiyah (perselisihan ulama’), bahkan dari lintas madzhab sekalipun, mereka sangat menjaga dari melakukan suatu hal yang masih diperselisihkan kebolehannya, bahkan kesunahannya, seperti Shalat Sunnah qabliyah Maghrib, potret-memotret dan rekaman video. Oleh karenanya tak pernah kita jumpai gambar atau foto Masjid ini dari bagian dalam, karena para ulama masih berselisih tentang hukum kamera, hal ini tak lain demi menghomati dan menghargai para pengikut seluruh Madzhab diantara keempat Madzhab.
Ketika malam hari Masjid Ba’alawi sangat makmur, banyak orang datang untuk menghidupkan malam dengan tahajud dan membaca al-Quran. Al-Habib Alwi bin Syihab berkata:
” Lampu di Masjid Ba’alawi tidak di matikan ketika malam hari karena banyaknya orang yang ibadah “. Bahkan para imam-imam Masjid di kota Tarim berangkat ke Masjid Ba’alawi , dan ketika menjelang subuh mereka kembali ke masjid mereka masing-masing. Para jamaah duduk sampai waktu terbitnya matahari, ketika jama’ah sholat subuh pulang, di luar masjid sudah banyak yang antri untuk masuk masjid, begitu juga ketika waktu Dhuha tiba kira kira jam 8 sampai jam 10,  tempat wudu’ masih penuh karena antri untuk melaksanakan Sholat Dhuha.
Tak sedikit yang mendapatkan Sirr (pangkat kewalian) orang Sholeh di masjid ini. Diantaranya Al-Habib Abdullah al-Haddad mendapat maqom al-Habib Abdullah al-Idrus di Masjid Ba’alawi. Bahkan ada seorang habaib mendapatkan “hal” (derajat) para wali di Masjid Ba’alawi lalu ia berkata : “Ya Allah ikutkan teman-temanku yang ada di masjid ini sehingga mereka keluar dari masjid semuanya menjadi wali.”
Konklusi
Segala hal dan suasana yang ada di masjid ini betul-betul membawa kita seolah berada di masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW. Karena suasananya yang hening dan tenang, tak pernah terdengar sekalipun suara obrolan seputar dunia. Tak salah bila salah seorang Arifin mengapresiasi masjid ini: “Aku pernah bermukim di Makkah al-Mukarromah, dan aku menemkan kenyamanan dan ketentraman yang luar biasa serta suasana yang begitu menggugah jiwa. Ketika aku sampai di Tarim dan singgah di masjid Ba ‘alawi, aku dapati ketentraman dan kenyamanan yang seperti itu, begitupula aku mendapatinya di Masjid Syekh Umar Muhdhor, dan Masjid Muhammad Hasan Jamal al-Lail”.
‘Ala Kulli Hal, masih banyak keindahan dan keistimewaan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mengunjunginya. Begitu sulit menguraikannya, apalagi hanya sebatas  ungkapan tulisan. Semua ini tak lepas dari karunia Allah yang dianugrahkan pada masjid ini, yang jarang kita dapati di masjid lain, dengan menjadikannya tempat faforit para Wali-Nya.
Cukuplah kiranya gambaran kecilnya dengan untaian Sya’ir Habib ‘abdullah bin Syihab Rahimahullah:
Mereka adalah para kaum yang dikala malam membentangkan tirainya
menyingkirkan selimut mereka
dan tidak tertipu dengan kenikmatan dan kemegahan tempat tidurnya
Tetapi rindu dengan kehangatan tiang-tiang masjid sebagi tempat untuk bersimpuh dengan bersujud pada Sang Pencipta
melantunkan al-Qur’an dengan penghayatan menjadi irama yang indah
ditengah keheningan malam yang gulita memenuhi seruan Sang Pencipta.
Di masjid Bani Zahro terdapat sirr yang begitu agung
karena telah di pijak oleh kaki Sayyidina Al-Faqihil Muqoddam
begitu kuberharap dikala bersujud di masjid itu
tubuhku menyentuh bagian yang telah mereka duduki
hingga aku mendapat keagungan berkat mereka
Betapa banyak kaki-kaki mulia telah memijakinya
Orang-orang mulia shaleh dan terkemuka
malam harinya bersimpuh berderaian air mata
di tempat sujudnya
betapa banyak hamba yang singgah
mereka adalah pewaris serta penerus Sang Nabi SAW.
Ahad 03/08/1438 H. | 30/04/2017 M.
PPI HADHRAMAUT adakan seminar dan halal bihalal bersama Habib rizieq bin syihab
PPI Hadhramaut, PPI Yaman, PCI Nu yaman, FMI Yaman, AMI Ahgaff dan FLP Hadhramaut adakan Halal bi Halal dan Seminar bersama Habib Muhammad Rizieq Syihab
Sudah menjadi agenda rutinan pelajar Indonesia yang berada di Hadhramaut mengadakan halal bihalal tiap tahunnya. Namun acara halal bihalal tahun ini sedikit berbeda dengan acara halal bihalal ditahun sebelumnya. Pelajar Indonesia di Hadhramaut kedatangan seorang tokoh yang sangat istimewa, beliau Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab, seorang ulama yang terkenal sangat getol melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dan juga seorang ulama yang berkaliber dan berwawasan luas. Tentulah pelajar Indonesia di Hadhramaut tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menimba ilmu dari beliau ini. Maka dengan itu, Asosiasi Mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff bersama dengan Ppi Yaman, Ppi Hadhramaut, FMI Yaman, PCI-NU Yaman, Flp Hadhramaut dan segenap organisasi lainnya berinisiatif menggelar seminar ilmiah yang dinarasumberi oleh beliau.

Acara halal bihalal sekaligus Seminar ilmiah kebangsaan tersebut terlaksana pada hari Rabu 5 juli 2017 bertempat di Convention Hall al-Habib Abdul Qodir As-Segaf, Rubat Imam Al-Muhajir, Husaisah, Hadhramaut. Acara yang berlangsung mulai pukul 8.30 Pagi s/d 11.30KSA berlangsung begitu menarik.
MC pada acara tersebut adalah Syd Hafiz Al-Qodri (Mahasiswa semester 6 Univ. al-Ahgaff) dan dimoderatori oleh Gus Imam Rahmatullah (Mahasiswa semester 10 Univ.Ahgaff yang sekaligus Ketua Umum PCI-NU Yaman periode 2015-2016). Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi dengan seminar kebangsaan dan sesi kedua diisi dengan dialog ilmiah.
Seminar Kebangsaan dan Diskusi Ilmiah tersebut berlangsung begitu menarik dengan dihadiri oleh pelajar Indonesia yang ada di Hadhramaut dari berbagai latar belakang instansi pendidikan, diantaranya: Universitas Al-Ahgaff, Rubat Tarim, Darul Musthafa, Rubat Alfath wal Imdad, Rubat Seiyun, Rubat muhajir, dsbg. Para audiens terlihat sangat antusias mengikuti jalannya seminar dan diskusi.
Beberapa materi yang disampaikan oleh Habib Muhammad Rizieq Syihab diantaranya:
-Sejarah terbentuknya pancasila
-Peran ulama dalam pembentukan NKRI
-Pilar-pilar kebangsaan Indonesia
-Peta dakwah di Indonesia
Beliau juga menaruh harapan besar kepada seluruh pelajar Indonesia di Hadhramaut sebagai penerus estafet dakwah ahlussunnah wal jama’ah kedepannya agar lebih gigih dalam menuntut ilmu dan belajar, mengingat tantangan dakwah kedepan yang sangat kompleks dan beragam.
Acara diakhiri dengan mushafahah atau salam-salaman antar pelajar Indonesia dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah dan makan siang bersama.
(Gamal Abd Nasir)
_____________
*Liputan AhgaffPos

PARA PEMBURU BAROKAH

PARA PEMBURU BAROKAH
[Ramadhan Kedua di Negeri Para Wali]
Oleh : Fuad Syarif (Santri Madrasah Al Aidrus Tarim, Hadhramaut, Yaman)
Beberapa hal yang tidak saya jumpai di negeri kelahiran saya (Indonesia) ketika memasuki bulan suci Ramadhan. Dan ini salah satu alasan membuat saya betah tinggal di Kota Para Wali (Tarim). Ingin rasanya berlama-lama menetap di Kotanya Al Faqih Al Muqaddam. Namun, apa daya…
Pertama, shalat tarawih bisa seratus rakaat. Bahkan lebih. Selain shalat witir, jadwal shalat tarawih diatur antara beberapa masjid besar seperti Masjid Jami’, Masjid Ba Alawi, Masjid as Segaff, Masjid Brum, Masjid Al Muhdhar, Masjid Syekh Aly, dan masjid besar lainnya. Waktunya dirancang bergantian untuk memungkinkan masyarakat shalat tarawih berpindah-pindah dari masjid satu ke masjid yang lain. Shalat tarawih berjalan mulai dari masuk waktu isya sampai hampir subuh. Awal menjalankan shalat seratus rakaat terasa capek dan malas, melihat para jamaah mulai dari anak muda sampai kakek-kakek yang tidak bisa shalat berdiri begitu semangat, rasa capek dan malas saya hilang mengikuti derasnya arus kekhusukan pada jamaah.
Kedua, mengakhirkan shalat dzuhur hingga hampir jam 14:00. Hal ini disebut “Ibrâd” seperti tertulis dalam Kitab Busyrâ al Karîm :
ويسن التأخير عن أول الوقت للإبراد بالظهور دون الجمعة… في الحر الشديد.
“Disunnahkan mengakhirkan Shalat Dzuhur lil ibrad (agar mendapat ke-adem-an) di keadaan yang sangat panas, kesunnahan ini tidak berlaku untuk Shalat Jum’at.”
Juga disebutkan dalam Matan Zubad : 225
وسنّ الإبراد بفعل الظهر # بشدة الحر بقطر الحر
“Disunnahkan Ibrad pada shalat dzuhur, karena panas menyengat di daerah gersang.”
Ibrâd bisa diartikan menunda shalat Dzuhur hingga panas agak reda. Ibrâd hanya bisa dilaksanakan di Negara Arab atau tempat bercuaca panas extreme, dan tidak sunnah diterapkan di Indonesia dengan ciri khas iklim tropis.
Ketiga, istirahat pada awal malam. Setelah shalat maghrib dan shalat tasbih kebanyakan warga Tarim langsung tidur sejenak, kemudian bangun diawal waktu isya dan tidak tidur lagi sampai usai shalat subuh. Tapi sebagian, banyak yang tidak tidur sepanjang malam.
Keren…! Waktu jadi berbalik 180°. Siang jadi malam, malam jadi siang. “Tidur setelah shalat maghrib itu hukumnya makruh karena menyerupai tidurnya orang Yahudi, kecuali di bulan Ramadhan.” (Hb Salim asy Syatiri)
Keempat, semangat para jamaah melaksanakan shalat tarawih “mengalahkan robot”. Pemandangan ini membuat para Thalabah (santri) dari luar negeri khususnya Indonesia “MALU” untuk meninggalkan shalat tarawih seratus rakaat ini, karena puluhan lansia ‘cacat fisik’ saja masih semangat dan belum pernah absen. Ada yang tak bisa berjalan, hingga harus digotong menggunakan sajadah oleh empat anak cucunya. Ada yang menggunakan kursi roda listrik. Ada yang mendesain motornya seperti mobil mini, dan ikut shalat tarawih di dalam mobil mininya. Ada shalat dengan duduk di kursi. Ada yang tidak bisa duduk tahiyat akhir, dsb. Namun, kekurangan mereka tidak menjadi penghalang untuk ikut shalat tarawih.
Jika orang tua dengan beragam “cacat fisik” masih mampu melaksanakan shalat tarawih ini, bagaimana dengan kita orang yang masih segar bugar seperti ini?
Seakan mereka sudah melihat langsung pahala yang dijanjikan Allah pada mereka, hingga kekurangan fisik tidak menghalangi mereka untuk memburu barokah.
*Ziarah Zanbal di Bulan Suci Ramadhan*

*Ziarah Zanbal di Bulan Suci Ramadhan*
Tarim, Jum’at (02/06) telah berlangsung ziarah ke pemakaman Zanbal. Akan tetapi berbeda dari waktu biasanya, ziarah kali ini dilakukan di sore harinya. Iya, ternyata khusus dibulan suci Ramadhan saja.
Kendati demikian, area pemakaman tidak sepi dari para penziarah bahkan bisa dikatakan lebih ramai dari Jum’at biasanya. Dan tertib ziarah sore itu tidak berbeda dengan biasanya.
Dan dalam kesempatan itu, Habib Ali Masyhur memberi asupan gizi untuk rohani para penziarah dengan beberapa petuahnya. Beliau sampaikan saat berziarah kepada Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Berikut beberapa poin yang beliau sampaikan;
1. Kita bisa dapati bulan ini, kita bisa berada dibulan ini, adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa agungnya. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan sebaik mungkin. Kita kerahkan seluruh tenaga kita untuk memaksimalkan ibadah dalam bulan penuh berkah ini.
2. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mempercantik, memperindah, membersihkan dan memperbaiki hati kita. Kita bebaskan dia dari segala belenggu dan penyakitnya. Karena dia adalah segumpal darah yang mana jika dia benar, bersih dan suci, niscaya anggota tubuh lainnya berada dibawah komandonya.
Beliau juga memberi tips kepada para penziarah bagaimana cara kita bisa memaksimalkan Ramadhan kali ini.
” صوموا صوم المودع و صلوا صلاة المودع “
Ujar beliau. Yang artinya, “berpuasalah seperri orang yang sudah tau bahwa puasa kali itu adalah puasa yang terakhir. Begitu pula saat mengerjakan sholat”
Selain itu beliau juga memotivasi kita untuk senantiasa bersabar karena waktu puasa di sini cukup panjang sekitar 14 jam 30 menit dengan suhu udara yang begitu menyengat. Beliau menyemangati kita dengan ujarnya. “الثواب على قدر التعب “
“Besar kecilnya ganjaran pahala itu tergantung lelah letih lesunya dia”.
Terimakasih Habib atas wejangannya. Dan semoga Tarim senantiasa dalam lindungan Allah Swt dan begitu pula ummat islam dimanapun mereka berada. Dan keberkahan senantiasa tercurahkan dan kembali kepada orang-orang kita cintai dan yang mencintai kita karena-Nya. Amien
(Red/noerhoeda)
RSS
Follow by Email
YouTube
Instagram
Telegram
WhatsApp