Search for:
RINDU

Rindu,,,
Sudah terpupuk dari dulu,,,
Semenjak ku tahu akan keberkahanmu,,,
Ribuan jejak kaki Auliya telah berpijak di tanahmu,,,
Darimu Ulama tersebar di seluruh penjuru,,,
Rindu,,,,
Sudah tak terbendung tuk bertemu,,,
Untaian doa telah merajut di setiap waktu,,,
Walau raga jauh darimu,,,
Tapi hati kan selalu melekat denganmu,,,
Tarim al-Ghonnaau,,,,
*Oleh: Muhammad Sirojul Munir.

Terus ikuti kami di akun-akun media sosial kami :
Instagram : @ppihadhramaut
Tarim Sepanjang Hari

Tarim dini hari
Saat surya hendak buka tirai
Sepuluh, ujar siri di gawai
Manusia di surau telah ramai

Tarim siang hari
Saat surya jengkel tak dihirau
Siri sebut empat puluh terlampau
Menampar manusia pencari surau

Tarim malam hari
Saat surya muak dengan manusia
Siri mati tak lagi bersuara
Hanya di surau, manusia mesra dengan-Nya

Tarim setiap hari
Meski buffering kudapan setiap hari
Surya jadi musuh paling berarti
Tapi manusia masih kuat hati
Menjawab panggilan dari ilahi

*Oleh: Muhammad Syifaul Karim Mahasiswa al-Ahgaff Mustawa II

Untaian Fatamorgana

By : M. Mulyono*

Kawan,
Masih ingatkah ketika kita berada di pelabuhan
Jauh-jauh mengumpulkan perbekalan
Mulai dari jiwa, raga, dan sandangan
Agar bisa sampai ke tujuan
Atau jangan-jangan bekalmu telah tenggelam
Tenggelam ditelan oase keduniawian
Yang kau kira sebuah kesenangan
Ternyata hanya fatamorgana belaka
Hanya bayangan air di tengah gurun pasir

Kawan,
Lupakah kau dengan sebuah pesan
Yang tersulam dari kasih sayang
Ketika itu orangtuamu menyampaikan
“Nak, yang sabar ya. Biar sampai tujuan”
Sebuah pesan dengan penuh harapan
Dan saat itu kau hanya mengangguk dengan sopan
Tapi, sekarang sudah tak terbukti lagi
Dimana tapak kaki yang gagah nan berani
Dimana doa mentari yang katanya sakti

Kawan,
Sudah hilangkah memori cerminanmu
Lenyapkan pahatan para kyaimu
Ketika itu kau sudah tau
Inti pesan para guru-gurumu
Sekarang mana hasil pahatan itu
Mana hasil mondok bertahun-tahunm

u
Mungkinkah artis TV menggantikan memorimu
Dan pelawak menghaluskan pahatan itu
Hanya tersisa hati yang kaku

Kawan,
Sekarang memang masih pagi
Dan perang baru dimulai
Namun senja pasti menghampiri
Dan pemenang akan duduk di tahta yang tinggi
Tak ingin kah kau menjadi pemenang
Yang membawa piala emas, perak, dan logam
Jika kau mau, silahkan
Tapi dengan sebuah persyaratan
Tinggalkan kesenangan dan PS an
Susun kembali harapan yang terbuang
Rangkai lagi memori cerminan
Lakukan apa yang guru perintahkan
Dengan kehendak Allah yang maha mengabulkan
Kau akan beruntung dan menang

(coretan tangan untuk Tholibul ilmi yang kehilangan tujuan)

*Penulis seorang Pelajar di Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman berasal dari Jawa Tengah.

Dzikir Sang Penakut
 
 
Oleh: Ahmad Nizar Syamwil*

Aku ini seorang penakut!

Aku ini takut gila,

Aku ini takut mati,

Aku ini takut tuli,

      Aku takut gila, aku takut mati, aku takut tuli…

      Aku takut gila, aku takut mati, aku takut tuli…

      Aku takut gila, aku takut mati, aku takut tuli…

      Aku takut gila, aku takut mati, aku takut tuli…

      Aku takut gila, aku takut mati, aku takut tuli…  (33X)

Tuhan…!!!

Aku takut gila, meski diriku telah gila

Aku takut mati, meski hatiku telah mati

Aku takut tuli, meskit telingaku telah tuli

      Diriku telah gila dan tergila-gila,

      Aku telah gila terhadap keindahan,

      Aku telah gila terhadap kecantikan,

      Aku telah gila terhadap kenikmatan,

      Namun aku takut,

      Akan siksa-Mu bagi orang yang tergila-gila dengan kefanaan..

Nuraniku telah mati,

Tak ada lagi rasa kasih sayang,

Tak ada lagi rasa tolong menolong,

Tak ada lagi rasa peduli bagi orang lain..

Namun aku takut,

Jika kematian hatiku Engkau kubur didalam Neraka-Mu..

     Telingaku telah tuli,

     Telingaku telah tersumbat untuk mendengarkan nasehat,

     Telingaku telah rusak untuk mendengarkan petunjuk,

     Telingaku bahkan telah kaku untuk mendengarkan firman-Mu..

     Namun aku takut,

     Akan ancaman bagi orang-orang yang tak patuh pada firman-Mu..

Ya, Hayyu! Ya, Qayyum!

Sadarkanlah diri ini dari penyakit gila yang tersembunyi.

Ya, Hayyu! Ya, Qayyum!

Hidupkanlah hati ini, untuk bisa bersujud di hadirat-Mu yang suci.

Ya, Hayyu! Ya, Qayyum!

Bukalah hijab dari telingaku, untuk kembali mendengar panggilan-Mu.

 

Ya, Hayyu! Ya, Qayyum!

Perbaikilah diri ini, selama ruh masih tersembunyi dalam diri.

Ya, Hayyu! Ya, Qayyum!

Terimalah do’aku, dan ampunilah dosaku.

*Penulis berinisial N, atau biasa dipanggil Nizar dan lebih jelasnya adalah Ahmad Nizar Syamwil. Ia berasal dari Pamekasan Madura dan sekarang sedang menempuh pendidikan tingkat akhir di Fakultas Syariah Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman. Jika ingin berkenalan lebih lanjut, bisa menghubungi akun Facebooknya: Ahmad Nizar Syamwil, atau mem-follow twitternya: @NizarSyamwil. Selebihnya do’akan saja, semoga orang ini menjadi orang yang sukses didunia dan diakhirat. Amin.

Mencintainya Karena-MU

Oleh : Zian Andifa 

***

Jangan hina karena cinta

Namun, mulialah karenanya

Jangan binasa kerana cinta

Namun, hiduplah karena perasaanku juga perasaanmu

Saat hati mulai bergejolak

Dalam sujud aku mengingatmu dalam do’a

Harap engkau pun merasakan getaranya

Ketika jarak memisahkan

Biarkan aku tetap istiqamah dalam kesucian cinta kerena-Mu

Saat rindu mulai mengusik,

Biarkan hamba tetap menyesap rasa itu

Mencintaimu dalam diamku adalah momen berharga hidup ini

Yaa Rabbi …

Ku titipkan rindu ini untuknya kepada-Mu

Jaga ragaku dan raganya

Jaga hatiku dengan hatinya

Aku hanya ingin mencintainya kerana-Mu.

***

KEMBALI

Oleh : Rizky Danil Fatahillah*

Jalan terjal mulai bergagah diri

Bertolak pinggang menunggu tuk ku lewati

Kerikil-kerikil garang menatapmu lapar

Air liurnya menetes melihat Aku kembali

Tiada cepat walaupun harus berlari

Secuil sabar merintih terus ditampar

            Tapi sekarang inilah jalan yang Ku pilih

            Untuk pulang ke kampong penuh kasih

            Adapun coretan ini bukanlah penyesalan atau keluhan

            Harga seruan yang dibumbui keindahan

Ku campakkan jamban berhias nikmat

Sebab tersadar kalau rasa semakin membusuk

Lebih baik keluar membawa hati yang berkarat

Disbanding mati karena bau yang menusuk

            Mati…

            Ya sudah sejak lama memang dia memanggil-manggilku

            Hanya Aku saja yang dahulu sering pura-pura tuli darinya

            Sebab takut akan rupanya yang orang bilang mengerikan itu

            Tapi sekarang Aku tersadar

            Bahwa ternyata ia manis dan cantik

            Dengan setia Ia berdiri dikejauhan

            Memanggil-manggil dan menungguku

            Di depan gapura kampung halamanku

Ya Rabb…

Patrilah kuat-kuat rindu ini di dinding hatiku

Sehingga kerikil pun halus menjadi debu

Dan liurpun kering tak sanggup lagi hujani borokku

Pasunglah hasrat hatiku dimasa kelam

Jangan beri ia makan

Biar kurus lapar dan tak berdaya

Agar tak lagi Aku menengok ke belakang

Ke Jamban itu….

*Penulis adalah mahasiswa tingkat dua  Universitas al-Ahgaff yang aktif dalam Forom Lingkar Pena (FLP) Hadhramaut, menjabat sebagai anggota PSDM.

RSS
Follow by Email
YouTube
Instagram
Telegram
WhatsApp