Search for:
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut mempersembahkan : “SAYEMBARA CERITA MINI Internasional (SCMI) ke-4

Demi memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,  PPI Hadhramaut menyelenggarakan sayembara cerita mini (SCM). Dengan tema
“1945 KE 2045, SAMPAI INDONESIA EMAS”.
.
Ketentuan Lomba
1. Peserta adalah warga Negara Kesatuan Republik  Indonesia
2. Merupakan karya orisinil penulis, bukan saduran copy paste maupun plagiat dan belum pernah dimuat dalam media massa maupun elektronik, serta tidak dalam proses pengajuan ke media maupun penerbit manapun dan belum pernah memenangkan sayembara serupa
3. Sub tema bebas, namun diharapkan mampu memberikan inspirasi atau pesan moral kepada pembaca
4. Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi
5. Panjang maksimal naskah 2 halaman, kertas A4, font Times New Roman, size 12, spasi 1.25, 6. batas margin atas (top) 3 cm, kanan (right) 3 cm, kiri (left) 3 cm bawah (bottom) 3 cm
7. Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia sesuai kaidah EYD / EBI
8. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan batas pengiriman 31 Juli-30 September 2018
9. Share info sayembara ini di Facebook / IG lengkap beserta posternya, dan meng-tagg minimal 25 teman anda dengan mencantumkan akun FB PPI Yaman, FB Pelajar Hadhramaut & IG ppihadhramaut.
10. Meng-like Fanspage Ppi Hadhramaut
11. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat
.
Kriteria Penulisan
Isi dan Motivasi                 : 60 Poin
Metodologi Penulisan    : 40 Poin
.
Cara Pengiriman Naskah
1. Peserta mengirimkan naskah melalui E-mail scmi4yaman@gmail.com dengan subyek : SCMI4/(judulnaskah)/(nama penulis)/(negaratinggal) contoh : SCMI4/UntukmuIndonesia/Ahmad/Yaman.
2. Naskah yang dikirimkan dilampirkan dalam dua file, satu file berisi Cerita Mini yang dilombakan (tanpa mencantumkan nama penulis dalam tulisan cerita mini) dan satu file berisi Biodata Penulis (teks. 50 kata, No WA, E-mail, dan alamat rumah) file yang dikirimkan dilampirkan dalam attachment, bukan di badan E-mail.
3. Pemenang sayembara akan diumumkan pada hari Senin 05 November 2018, di Fanspage Ppi Hadhramaut dan akun Facebook Tim Pelaksana (PPI Yaman, Pelajar Hadhramaut, dan FLP Hadhramaut)
Hadiah & Apresiasi
1. Juara I              : Rp. 1.250.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
2. Juara II             : Rp. 1.000.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
3. Juara III            : Rp. 750.000
                                  + Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Buku Antologi
4. 50 Nominator Terbaik :
                                  Piagam Penghargaan (.JPEG)
                                  + Naskah Di Bukukan
5. Seluruh Peserta Akan Mendapatkan Sertifikat (.JPEG).
.
Contact Person :
+967 773 626 176
Ulinnuha / Ketua Panitia SCMI4
.
Informasi lengkap kunjungi di :
www.ppihadhramaut.com
Facebook : Pelajar Hadhramaut
E-mail : scmi4yaman@gmail.com

Menelisik Sejarah Masjid Wa’al; Masjid yang Pertama Berdiri di Bumi Sejuta Wali

Kota Tarim selain dikenal dengan kota wali, juga dikenal dengan kota ratusan masjid, bahkan hampir bisa dipastikan di setiap jarak lima puliuh meter akan kita jumpai masjid. Masjid-masjid ini umumnya sudah berusia berabad-abad. Diantara masjid tersebut adalah Masjid Wa’al. Sekilas saat mendengar namanya tidak bisa dipungkiri pasti terasa janggal di telinga, terlebih bagi yang mengerti bahasa arab. bagaimana tidak, kebanyakan masjid di dunia menggunakan nama-nama yang disandingkan dengan Nama Allah SAW., Asmaul Husna, nama Nabi ataupun nama pendirinya. Tidak demikian dengan masjid ini. Ya, masjid ini masyhur dengan nama masjid “Wa’al”, yang dalam bahasa arab berarti kambing hutan. Tentunya penamaan masjid ini tidak luput dari sejarah menarik di dalamnya.

Secara geografis masjid ini terletak tepat di tengah-tengah kota Tarim, di dusun Khulaif tepatnya di tepi jalan kecil yang menuju pasar tradisional dari arah pemakaman Furait. Arsitekturnya yang klasik seperti halnya masjid-masjid tua lainnya menjadi ciri khas yang msih trendy di kota ini.

kerangka masjid


Tidak ada yang istimewa masjid ini jika sekilas dilihat dari fisik dan gaya arsitekturnya, luasnya hanya berkisar 231 M persegi dengan 22 tiang kokoh yang berbalut kapur putih di bagian serambi luarnya, dan 115 M persegi di bagian dalamnya.Temboknya juga berwarna putih,bahkan ada sebagian yang sudah lusuh termakan usia.


Serambinya tidak beratap, hanya berpagar tembok yang tidak begitu tinggi yang berbordir celah-celah kecil di bagian atasnya. Di situ juga terdapat dua jendela kaca di bagian depan sebelah kanan. Masjid ini memiliki dua pintu utama dari kayu tebal berwarna coklat tua tanpa ukiran, mirip pintu-pintu masjid klasik lainnya yang ada di Hadhramaut. Tepatnya dari sebelah timur dan utara yang keduanya menuju serambi masjid. Ada juga pintu dari sebelah kiri yang tidak langsung menuju masjid, tapi harus  melewati toilet dan tempat wudhu’.

Dari serambi masjid akan kita dapati empat pintu yang menuju bagian dalam, tapi yang biasa digunakan hanya dua, di antara dua pintu itu ada mihrab kedua selain yang digunakan di bagian dalam, biasanya digunakan untuk shlata berjamaah oleh orang-orang yang tertinggal jamaah pertama. Bagian dalam masjid juga nampak sederhana, terdapat 12 tiang besar di sela-selanya sebagai pondasi masjid, dan tiga jendela di sebelah kanan sekedar untuk ventilasi udara dan sisnar mathari. Di bagian dalam ini hanya terdapat 3 shaf yang mampu menampung kurang lebih 40 jamaah. Dulunya bangunan asli masjid ini adalah serambi luar, sementara bagian dalam ini ditambahkakn pada saat renovasi masjid.

Dari sebelah kanan ada pintu yang mengarah ke kamar mandi, ada enam kamar mandi yang baknya berbentuk seperti kolam, untuk buang air kecil dan mandi saat musim panas, di sebelah timurnya enpat kran untuk berwudhu’. Sementara toilet untuk buang air besar dibangun terpisah di luar masjid sebelah selatan. 

Sejarah pembangunan

Menurut berbagai sumber, masjid ini dipercaya dibangun pada tahun 40 H. oleh seorang Tabi’in Ahmad bin ‘Abbad bin Bisy al-Anshori RA. Ayahnya Abbad bin Bisyr adalah salah seorang shahabat yang ikut berhijrah bersama Rasulullah SAW. ke Madinah. Beliau dikirim ke daerah Lisk (-+12 KM. dari Tarim) di Hadhramaut oleh Khalifah Abubakar as-Shiddiq RA. Untuk memungut zakat dan berdakwah, dan memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat. Di saat melakukan tugas mulianya tersebut  beliau akhirnya terbunuh. Setelah kematian ayahnya beliau berhijrah ke Tarim dan mendirikan masjid ini, namun kala itu masih belum memiliki nama. Koonon masjid ini adalah masjid yang pertama berdiri di bumi Tarim, meski juga ada yang membentah, namun berdasarkan sumber yang kuat masjid inilah yang pertama kali berdiri. Konon masjid ini telah mengalami tujuh kali renovasi, dan yang terakhir berlangsung satu abad yang lalu.

Semenjak Ahmad bin Abbad bin Bisyr pindah dan mendirikakan masjid di Tarim, masyarakat sekitar menjadikannya tokoh panutan dan menyerahkan segala urusan keagamaan kepada beliau, sebagaimana maklum masyarakat Tarim yang berhati lembut sangat menghormati para ulama, terlebih seorang Tabi’in putra seorang shahabat. Mereka juga patuh pada kebijakan khalifah apapun keputusan yang ditetapkan, sehingga memperoleh tiga doa istimewa dari sang khalfiah Abu Bakar ash-Siddiq RA.

Begitupun setelah beliau wafat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh anak-cucu beliau.  Hal ini berlanjut hingga kedatangan Imam al-Muhajr ke bumi Hadhramaut. Semenjak para Sadah Ba’alawi berhijrah ke Tarim pada abad ke empat Hijriah keluarga ini menyerahkan segala urusan keagamaan kepada mereka karena sikap Ta’zhim dan cinta Ahlul Bait yang tertanam pada diri mereka. Mereka sangat menghormati dan menjaga adab kepada para sadah Alawiyyin. Meski begitu para Sadah tetap menyerahkan urusan minbar kepada keluarga ini, oleh karena itu keluarga ini dikenal dengan marga al-Khatib (Ahli Khutbah), karena semua urusan minbar di kebanyakan masjid di Tarim keluarga ini yang ditunjuk sebagai Khatib.

Penamaan masjid

Di awal pembangunan masjid ini belum memiliki nama, entah sebenarnya ada atau tidak sejarah tidak mencatat nama masjid ini selain dengan sebutan masjid Wa’al. Mungkin karena waktu pertama kali dibangun masjid ini dulu satu-satunya masjid yang ada di Tarim.

Nama Wa’al sendiri berawal dari kisah tokoh dari marga al-Khathib yang mengurus masjid ini menggantikan pendahulunya, yaitu Syaikh Ali bin Muhammad al-Khathib, yang dikenal dengan kealiman, kewalian dan karomahnya yang agung, beliau hidup pada masa al-Faqih al-Muqaddam (abad Keenam H). Dikisahkan pada saat hari raya ketika beliau hendak berangkat ke masjid sebagai khathib, istrinya mengomel kepada beliau:

“Bagaimana bisa kamu meninggalkan keluargamu kelaparan tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, kami ingin makanan. Kami ingin turut merasakan hari raya”
“Kalau begitu biarkan pintu rumah terbuka, siapa tahu dzat yang maha dermawan sang maha pemberi akan memberi kita rejeki”. Jawab beliau singkat seraya meninggalkan istrinya. Istrinya hanya menuruti perintah sang wali.

Setelah selesai malaksanakan shalat Eid beliau mendapati di dalam rumahnya ada sudah ada sekor kambing hutan yang datang dari gunung dengan sukarela. Pada saat itu Tarim masih hutan, masih sedikit ditemukan perumahan. Dipotonglah kambing hutan tersebut dan disantap bersama keluarga kecilnya sebagai hidangan hari raya. Konon menurut cerita salah satu ulama salaf, al-Habib Ali bin Muhammad al-habsyi setelah selesai dikumpulkanlah sisa tulang-belulang dan kulitnya, lalu beliau berkata:

“Bangkitlah dengan idzin Allah, kami sudah selesai dengan hajat kami”, tiba-tiba bangkitlah tumpukan tulang-belulang tersebut menjadi seekor kambing hutan utuh lalu kembali ke gunung. Semenjak  saat itu masjid ini dikenal dengan sebutan “Masjid Wa’al” (Kambing Hutan).

Keistimewaan Masjid

Karena usianya yang begitu tua masjd ini tentunya sudah tidak terhitung berapa banyak para wali dan orang-orang shaleh yang sudah shalat di masjid ini, oleh karenanya tidaklah aneh jika masjid ini banyak memiliki Sirr dari mereka. Bahkan arwah-arwah mereka tidak berpisah dari masjid ini. Banyak cerita dari orang-orang shaleh kalau Nabi Khidhir tidak pernah absen sholat di masjid ini. Konon menurut Ahli Kasyaf (orang yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. bisa melihat rahasia-rahasia) Nabi khidhir AS. setiap hari – terutama di waktu antara Zhuhur dan Ashar – melakukan shalat di dekat tiang sebelah utara serambi luar hingga saat ini tempat itu ditandai dengan sajadah.

Tidak sedikit pula dari mereka yang melihat Rasulullah SAW. di masjid ini dalam keadaan terjaga. Banyak dari mereka yang melihat beliau berada di mihrab luar. Diataranya lagi tidak ada yang berani bermalam sendirian di masjid ini karena dikenal dengan Sirrnya yang begitu kuat, konon bisa menyebabkan kegilaan bagi orang yang tidak mampu melihat Sirr tersebut. Karena pada malam hari Sirr-sirr tersebut akan lebih Nampak.

Seperti yang dialami sendiri oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin umar al-Khathib, imam sekaligus Takmir masjid saat ini yang meneruskun leluhurnya. Beliau sudah ratusan kali melihat hal-hal aneh di masjid ini dengan kasat mata, termasuk juga putra beliau di waktu belum baligh, ketika hendak melakukan shalat malam di masjid ini, beliau melihat sosok manusia yang begitu tinggi sampai melampau tiang masjid, sedang sholat di serambi masjid. Beliau lalu menyapanya, “Apakah anda manusia atau jin?”. Namun makhluk itu tidak bergeming sama sekali. Begitulah, banyak kejadian-kejadian aneh di masjid ini.

Dulu masjid ini menjadi tempat sholat favorit para sadah Alawiyyin. Para salaf juga memadati masjid ini saat bulan puasa untuk takjil karena kehalalan kurma yang dihasilkan dari tanah waqof masjid ini yang sama sekali tidak bercampur Syubhat.

Termasuk diantaranya Habib Alwi, Habib Muhammad dan Habib Abdullah bin Syihab yang ketiganya mendapat gelar Qalbu Tarim sering sholat di masjid ini.

Ala kulli Hal. Masjid ini banyak memiliki keistimewaan dan Sir yang begitu kuat karena jejak para ulama’, Auliya’ dan shalihin yang dulu bermunajat dan bersimpuh kepada sang Rabb mengangisi umat Muhammad SAW. di masjid ini, jejak itu bahkan masih terasa hingga saat ini, begitu juga kebanyakan masjid tua di kota Tarim.

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali
Oleh: Muhammad Rofiqul Firdausi al-Waadi al-Maduri, Mahasiswa tingkat dua Universitas Al-Ahgaff Syari’ah wal-Qanun, Tarim, Yaman*
Di balik hiruk-pikuk jantung kota Tarim, berjejer tempat-tempat ibadah umat Islam yang tak kalah melimpahnya dengan toko-toko dan kios-kos masyarakat yang mengais rezeki yang bertebaran di mana-mana. Umumnya masjid-masjid itu sudah dibangun sejak berabad-abad silam, dan masing-masing memiliki sejarah dan peran penting dalam membentuk karekter ikhlas dan para figur dai’ yang tersebar ke seantero dunia, termasuk diantaranya Indonesia.
            Ya, siapa yang tak mengenal kota Tarim. Kota di mana nenek moyang para Wali Songo berasal, kota yang punya ikon Ilmu amal dan akhlak, kota di mana bersemayam ribuan wali Allah yang tidak mengenal urusan dunia dan tak begitu peduli selain terhadap ibadah belajar dan dakwah.
Karena pada diri masyarakatnya sejak dulu sudah tertanam prinsip mulia tersebut, tak mengherankan jika masjid-masjid tak sanggup menampung mereka untuk shalat dan acara-acara belajar-mengajar, maka didirikanlah masjid-masjid yang menfasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut. Termasuk kegiatan rutin maulid dan lainnya yang sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim. Masjid-masjid itu tak lain dari sumbangsih para ulama dan dermawan dan yang berlomba-lomba menyumbangkan harta dan mewakafkan tanah mereka sebagai tabungan akherat. Mereka lebih mengutamakan keuntungan akherat daripada kesenangan dunia yang semu.
Masjid Ba’alawi
Tidak jauh dari pasar tradisioanal kota tarim, berdiri kokoh masjid yang disegani oleh seluruh penduduk lokal maupun non lokal; Masjid Ba’Alawi. Bukan karena kemegahannya tapi karena sejarah dan bekas tempat di mana para ulama’ dan wali-wali agung bersimpuh, menyentuhkan dahi meraka di tanah itu, mengadu dan bermesra-ria dengan sang pencipta. Bekas-bekas itu masih terasa sampai saat ini. Arsitektur bangunannya yang klasik dan sederhana seakan menambah kewibawaan masjid ini seperti kebanyakan masjid-masjid kota Tarim lainnya yang hanya berstruktur tanah liat dan air sebagaimana ciri khas kota tarim. Meski begitu masjid-masjid di kota ini tetap kokoh berabad-abad usianya.
Fisik masjid
Secara kasat mata tak ada yang istimewa dari masjid ini, dilihat dari arsitekturnya masjid yang berdiameter kurang lebih lima puluh meter persegi, dan ketinggian sekitar empat meter ini jauh lebih megah dan menarik daripada kebanyakan masjid di negara kita kita. Dari arah timur tampak menaranya yang mungil ala klasik dan tiga pintu. Satu pintu menuju ruang utama masjid, dua pintu menuju ruang istirahat, tiga pintu di utara dan barat (satu pintu menuju kamar mandi, dan dua pintu menuju ruang istirahat), dan dua pintu dari arah selatan yang keduanya menuju ruang istirahat.
Bagian dalam masjid
Di bagian dalamnya terdapat tiga ruangan, ruang kanan sisi utara sebelah barat terdapat kamar mandi untuk wudhu’ dan buang air kecil, (untuk toilet ada di sebelah utara masjid dibangun terpisah). Di sebelah timurnya terdapat emperan dalam, dan di sebelah kiri ruang tengah akan kita jumpai emperan luas tempat menginap para tamu Allah SWT untuk beristirahat.
Sedangkan ruang tengah terbagi dua, bagian dalam dan luar, Di bagian luar ruang tengah inilah biasanya shalat berjamaah dilaksanakan. Ruang inti bagian dalam hanya dipakai ketika acara-acara besar. Meski begitu tetap diperkenankan bagi siapa saja yang ingin beriktikaf dan membaca al-quran. Di bagian dalam ini ada tempat-tempat yang sering di duduki para pembesar habaib hingga bagian tersebut terkenal dengan nama para habaib yang biasa menempatinya, di antaranya:
  1. Bagian depan pojok kiri
Dikenal dengan tempat mustajabnya doa. Bagian tersebut dulunya adalah tempat shalat Sayyidina al-Faqihil Muqoddam. Bahkan sampai sekarang banyak orang yang antri bergantian untuk sholat ditempat tersebut karena ingin mengambil barokah
  1. Tiang Ma’surah (berbentuk spiral)
Yaitu tempat bersandarnya al-Faqihil Muqoddam. Bisa juga disebut tiang plintir karena seperti baju yang melintir karena di putar. Konon asal mula tiang tersebut dulu ketika Syekh Umar Muhdhor merobohkan Masjid Ba’alawi, beliau ingin membuat tiang yang di sandari Faqihil Muqoddam dengan corak yang berbeda, tapi beliau ragu sehingga di tunda pembuatannya. Esoknya ketika beliau ke masjid ternyata tiang bangunan tersebut sudah berbentuk melintir seperti spiral, konon karena pada malam harinya tiang tersebut dikelilingi oleh para malaikat sehingga melintir sampai sekarang.
  1. Pintu Khidir
Di dekat tiang ma’suroh ada pintu yang terkenal dengan pintu Nabi Khidir AS. karena seringnya orang sholeh melihat Nabi Khidir AS. lewat pintu di tersebut, terutama pada waktu Ashar hari Jum’at, hingga banyak yang mengatakan :
“Jika ingin bertemu Nabi Khidir tunggu di pintu tersebut, yang pertama kali keluar setelah Sholat Ashar di hari Jum’at itulah Nabi Khidir”. Wallahu A’lam.
  1. Kayu di Shof belakang
Di shof paling belakang tepatnya di bagian tengah ada kayu yang tingginya kurang lebih 35 cm yang tak lain merupakan tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Idrus ketika menjadi pemimpin para Habaib Ba’alawi (Naqib Sadah al-Ba’alawi).
  1. Batu di dinding dekat menara
Dulunya adalah tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Haddad Shohiburrotib (penyusun Ratibul Haddad), beliau duduk di belakang karena beradab dengan orang-orang yang lebih tua yang berada di masjid tersebut.
Pembangunan
            Menurut sejarah masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh marga Sadah Ba ‘Alawi, salah satu marga  Ahli Bait. Didirikan oleh Imam Agung Sayyid ‘Ali bin ‘Alwi Khali’ Qasam, cicit al-Imam Al-Muhajir yang besambung kepada Sayyidina Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatihimah binti Rasulullah SAW. pada tahun529 H. Dengan bahan material yang berkualitas karena diambil dari sebuah desa tempat kakek al-Habib Ali Kholiq Qosam yaitu desa Bait Juber, tak lain karena tanah di desa Bait Juber berwarna merah, sangat kuat dan bagus sekali untuk bahan bangunan di banding tanah di daerah lain. Tanah dari desa Bait Juber ini di angkut dengan dokar (pada saat itu adalah alat paling canggih dan moderen untuk mengangkut barang) karena letaknya kira-kira 13 km dari kota Tarim.
Renovasi
Masjid ini mengalami dua kali renovasi. Pertama; di masa putra al-Habib Ali Kholi’ Qosam yaitu al-Habib Muhammad Shohibul Mirbat, beliau semakin menyempurnakan bangunan dan merpercantik masjid yang dibangun oleh ayah beliau sebelum beliau berpindah ke daerah Dhofar (Oman).
Yang kedua: oleh al-Habib Umar Muhdhor yaitu bangunan yang ada sampai zaman sekarang ini. Al-Habib Umar Muhdhor membangun Masjid Ba’alawi di awal abad ke 9 Hijriyah setelah beliau menjadi Naqib Sadah al-Ba’alawi (ketua marga Ba ‘Alawi) pada tahun 821H. Inisiatif dari Habib Umar Muhdhor ini disebabkan melihat keadaan masjid yang tidak layak lagi karena sudah tua termakan usia dan hampir roboh, dikarenakan telah berdiri sejak 300 tahun yang lalu (bila di hitung dari zaman Habib Umar Muhdhor), maka beliau mengumpulkan para pembesar habaib untuk bermusyawaroh tentang pembangunan masjid tersebut, namun mereka tidak menyetujui.
Meski demikian, dengan melihat kemaslahatan yang lebih besar Habib Umar Muhdhor akhirnya nekat dan memanggil tukang dari daerah Mahro (daerah dekat ibu kota Shan’a) yang terkenal dengan tukang-tukang handal untuk merobohkan Masjid Ba’alawi. Ketika hari Jum’at di saat para habaib berangkat Sholat Jum’at di Masjid Jami’ Tarim (tidak semua masjid di tarim digunakan untuk shalat Jumat, dulu penduduk Tarem kalau Sholat Jum’at jam 8 pagi sudah ada di masjid Jami’ dan pulang kira-kira jam dua siang, karena setelah sholat mereka masih berdzikir, membaca al-Qur’an dan sholawat) dan ketika mereka pulang dari masjid mereka temukan masjid Ba’alawi telah roboh dan rata dengan tanah kecuali tembok bagian depan masjid dan mihrab pengimaman, pada akhirnya mereka pasrah dengan keputusan beliau.
Setelah menyelesaikan pembangunan al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman as-Seggaf naik ke loteng masjid dengan mengangkat kaki kanannya lalu meletakkannya, mengangkat kaki satunya dan meletakkannya kembali. Beliau melakukan ini beberapa kali. Menurut sebagian habaib hal tersebut adalah gerakan kaki yang dilestarikan hingga saat ini dan sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim, yaitu ” ar-Rozih ” tarian kaki yang diiringi senanandung syair berisi pujian dan doa ). Dengan  rasa gembira yang di penuhi doa pada Allah SWT. al-Habib Umar Muhdhor berkata seraya  menghentakkan tongkatnya :
هذا بناي إلى يوم القيامة معاد با يتغير إن شاء الله
Insya Allah bagunanku ini tidak akan pernah berubah dan akan tetap kokoh sampai hari kiamat.
Perluasan masjid
Masjid Ba’alawi mengalami beberapa kali perluasan tanpa merubah substansi dasar bangunan yang telah direnovasai oleh Habib Umar Muhdhor. Diantaranya oleh al-Habib Alwi as-Tsamin bin Abu Bakar al-Khered pada bagian pintu masuknya. Beliau juga menambahkan sebuah menara yang tak begitu tinggi, hanya berukurang sekitar lima meter. Begitu juga al-Habib Ahmad Bajahdab. Beliau menambahkan sebuah tempat untuk belajar mengajar di samping kanan masjid.
Diantara kelebihan masjid Ba ‘Alawi
Hingga saat ini, khusunya pada hari Jumat sore waktu sholat Ashar banyak sekali yang hadir untuk sholat di masjid ini meskipun dalam keadaan sakit mereka tetap berusaha menyempatkan diri sholat Ashar berjamaah di Masjid Ba’alawi. Sampai disebutkan dulu orang-orang yang sakit biasanya mengendarai keladainya menuju Masjid Ba’alawi demi ikut shalat Ashar berjamaah di sana, hingga konon keledai yang ada di luar Masjid Ba’alawi mencapai 80 ekor, karena kehadiran Nabi Khidhir AS. di waktu itu.
Para pendahulu sampai sekarang sangat menjaga adab di Masjid Ba’alawi, bahkan mereka tidak berani memakai habwa (sejenis ikat pinggang yang biasanya dipakai sebagai penahan lutut saat duduk) dan juga menselonjorkan kaki. Masjid Ba’alawi juga sangat terjaga dari perkara khilafiyah (perselisihan ulama’), bahkan dari lintas madzhab sekalipun, mereka sangat menjaga dari melakukan suatu hal yang masih diperselisihkan kebolehannya, bahkan kesunahannya, seperti Shalat Sunnah qabliyah Maghrib, potret-memotret dan rekaman video. Oleh karenanya tak pernah kita jumpai gambar atau foto Masjid ini dari bagian dalam, karena para ulama masih berselisih tentang hukum kamera, hal ini tak lain demi menghomati dan menghargai para pengikut seluruh Madzhab diantara keempat Madzhab.
Ketika malam hari Masjid Ba’alawi sangat makmur, banyak orang datang untuk menghidupkan malam dengan tahajud dan membaca al-Quran. Al-Habib Alwi bin Syihab berkata:
” Lampu di Masjid Ba’alawi tidak di matikan ketika malam hari karena banyaknya orang yang ibadah “. Bahkan para imam-imam Masjid di kota Tarim berangkat ke Masjid Ba’alawi , dan ketika menjelang subuh mereka kembali ke masjid mereka masing-masing. Para jamaah duduk sampai waktu terbitnya matahari, ketika jama’ah sholat subuh pulang, di luar masjid sudah banyak yang antri untuk masuk masjid, begitu juga ketika waktu Dhuha tiba kira kira jam 8 sampai jam 10,  tempat wudu’ masih penuh karena antri untuk melaksanakan Sholat Dhuha.
Tak sedikit yang mendapatkan Sirr (pangkat kewalian) orang Sholeh di masjid ini. Diantaranya Al-Habib Abdullah al-Haddad mendapat maqom al-Habib Abdullah al-Idrus di Masjid Ba’alawi. Bahkan ada seorang habaib mendapatkan “hal” (derajat) para wali di Masjid Ba’alawi lalu ia berkata : “Ya Allah ikutkan teman-temanku yang ada di masjid ini sehingga mereka keluar dari masjid semuanya menjadi wali.”
Konklusi
Segala hal dan suasana yang ada di masjid ini betul-betul membawa kita seolah berada di masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW. Karena suasananya yang hening dan tenang, tak pernah terdengar sekalipun suara obrolan seputar dunia. Tak salah bila salah seorang Arifin mengapresiasi masjid ini: “Aku pernah bermukim di Makkah al-Mukarromah, dan aku menemkan kenyamanan dan ketentraman yang luar biasa serta suasana yang begitu menggugah jiwa. Ketika aku sampai di Tarim dan singgah di masjid Ba ‘alawi, aku dapati ketentraman dan kenyamanan yang seperti itu, begitupula aku mendapatinya di Masjid Syekh Umar Muhdhor, dan Masjid Muhammad Hasan Jamal al-Lail”.
‘Ala Kulli Hal, masih banyak keindahan dan keistimewaan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mengunjunginya. Begitu sulit menguraikannya, apalagi hanya sebatas  ungkapan tulisan. Semua ini tak lepas dari karunia Allah yang dianugrahkan pada masjid ini, yang jarang kita dapati di masjid lain, dengan menjadikannya tempat faforit para Wali-Nya.
Cukuplah kiranya gambaran kecilnya dengan untaian Sya’ir Habib ‘abdullah bin Syihab Rahimahullah:
Mereka adalah para kaum yang dikala malam membentangkan tirainya
menyingkirkan selimut mereka
dan tidak tertipu dengan kenikmatan dan kemegahan tempat tidurnya
Tetapi rindu dengan kehangatan tiang-tiang masjid sebagi tempat untuk bersimpuh dengan bersujud pada Sang Pencipta
melantunkan al-Qur’an dengan penghayatan menjadi irama yang indah
ditengah keheningan malam yang gulita memenuhi seruan Sang Pencipta.
Di masjid Bani Zahro terdapat sirr yang begitu agung
karena telah di pijak oleh kaki Sayyidina Al-Faqihil Muqoddam
begitu kuberharap dikala bersujud di masjid itu
tubuhku menyentuh bagian yang telah mereka duduki
hingga aku mendapat keagungan berkat mereka
Betapa banyak kaki-kaki mulia telah memijakinya
Orang-orang mulia shaleh dan terkemuka
malam harinya bersimpuh berderaian air mata
di tempat sujudnya
betapa banyak hamba yang singgah
mereka adalah pewaris serta penerus Sang Nabi SAW.
Ahad 03/08/1438 H. | 30/04/2017 M.
Istana Peninggalan Kerajaan Al Katirie di Kota Seiyun Hadhramaut Yaman

Keberadaan Istana Qasr/Castle Kerajaan di pusat Kota Seiyun, sebagai bukti yang tak terbantahkan bahwa kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan di zaman dahulu. Dan bahkan, jika berbincang Seiyun sebagai pusat pemerintahan, sejarah Qasr tentunya tidak boleh terlewatkan.
Istana tanah yang memiliki tinggi 34 meter dan luas 5460 meter persegi tersebut, selain dikenal dengan sebutan Istana al-Katiri, nama dinasti yang berkuasa paling lama ini juga dikenal dengan nama Qasr al-Dawil yang berarti istana kuno; Qasr al-Tsawrah yang berarti Istana Revolusi. Dengan bersamaan runtuhnya kolonialisme Inggris sekitar era tahun 60-an, berakhir pula kekuasaan Dinasti al-Katiri.
Pada tahun 1984, istana ini dialih fungsikan menjadi sebuah museum, yakni museum penyimpanan benda-benda purbakala. Selain itu juga menjadi pusat kebudayaan masyarakat Seiyun, yang juga merupakan babakan sejarah panjang dinasti al-Katiri yang telah terekam dalam buku Tarikh al-Dawlah al-Katiriyyah, atas karya Muhammad ibn Hisyam.
Saat memasuki setiap ruangan yang ada di dalam Istana setinggi tujuh lantai ini, para rombongan serasa sedang memasuki dunia lain. Misalnya saja saat berada di lantai dua, para pengunjung dapat menikmati berbagai macam peninggalan yang antik dari peradaban Seiyun sebelum Masehi, seperti mata uang kuno, alat pencaharian serta bebatuan ukir yang antik dan unik dengan usia ribuan tahun. Konon katanya benda-benda tersebut memiliki fungsi istimewa dalam dinamika keseharian masyarakat saat dulu kala.
Di lantai tiga, terdapat alat-alat pertanian yang dipajang, alat untuk bercocok tanam dan peralatan untuk berperang. Kemudian lantai empat dijadikan sebagai museum foto yang merekam dokumentasi masyarakat Seiyun selama puluhan tahun. Begitu pun dengan lantai-lantai lainnya yang juga memiliki kekhususan tersendiri.

Sedangkan bagi para pengunjung yang datang ke Kota Seiyun yang terburu-buru dan tidak memiliki waktu banyak, tidak perlu merasa khawatir. Sebab saat ini telah disediakan bioskop mini di dalam Istana yang dapat memutar film singkat tentang peradaban Negeri Yaman secara umum dan Seiyun secara khusus. (Jihadul Muluk)

Cengkok Khas Habib Syekh Membuat Nostalgia Pelajar Indonesia
“Rasane koyo neng Indonesia yo.” Ucap salah satu pelajar Indonesia yang menghadiri acara Hadhramaut Bershalawat pada Jumat malam, 28 Juli 2017.
Seusai kedatangan tamu besar yang mengisi seminar kebangsaan di bulan Syawal kemarin, warga Indonesia yang berdomisili di wilayah Tarim dan sekitarnya kembali kedatangan tamu agung lainnya pada bulan Dzulqo’dah kali ini. Beliau adalah Habib Syekh Bin Abdul Qodr Assegaf, salah satu Habib yang begitu digandrungi masyarakat Indonesia dengan cengkok suara khas yang dimiliknya.
Kedatangan beliau ke Ribath Imam Muhajir, Husaisah kali ini merupakan suatu bentuk kehormatan bagi persatuan pelajar Indonesia (PPI) Yaman dan persatuan pelajar Indonesia (PPI) wilayah Hadhramaut. Karena, beliau telah berkenan memenuhi undangan untuk mengisi acara Hadhramaut Bershalawat sebagai bentuk sambutan momentum kemerdekaan Indonesia yang ketujuhpuluh dua sekaligus doa bersama untuk keselamatan saudara-saudara seiman kita yang ada di Palestina.
Acara Hadhramaut Bershalawat ini sendiri sukses diselenggarakan atas kerjasama PPI Yaman, PPI Hadhramaut, PCINU Yaman, FMI Yaman, AMI Al-Ahqaff dan organisasi-organisasi daerah pelajar Indonesia yang ada di Yaman. Bahkan, tak segan Habib Syekh memuji kesuksesan acara ini meskipun sebenarnya acara tersebut bisa digolongkan sebagai acara yang begitu mendadak.
Pada pukul 19.20 KSA, Maulana Kamal, mahasiswa Universitas Al-Ahqaff yang berasal dari Banjar membuka acara tersebut dengan runtutan susunan acara sebagai berikut : 1. Pembukaan. 2. Pembacaan ayat suci Al-Quran, 3. Sambutan, 4. Pembacaan Maulid dan Qasidah, 5. Doa, 6. Menyanyikan lagu Indonesia raya dan diakhiri dengan penutup.
Sebelum acara dibuka dengan rotib Al-fatihah oleh habib Muhammad dari Ribath Husaisah, beliau berwasiat kepada segenap hadirin yang ada untuk senantiasa bertakwa kepada Allah.Pun demikian beliau juga berwasiat untuk selalu mengikuti perintah Allah dan juga Rasulillah. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa ulama-ulama Hadhramaut sejak zaman Al-Faqih Al-Muqoddam sudah banyak yang melakukan perjalanan ke Hindia. Lalu ke malaya. Baru setelah itu ke Indenosia. Sehingga mereka punya keturunan di sana.
Setelah pembukaan, seperti biasa pembacaan tilawah Al-Quran dilantunkan oleh Imam Rahmatullah, mahasiswa universitas Al-Ahqaff yang berasal dari Lombok. Sementara itu, Jihad Muluk selaku sekertaris jendral PPI Yaman mewakili segenap panitia menyampaikan sambutannya pada acara tersebut.
Habib Syekh pada akhirnya menyapa para hadirin dengan suara merdunya setelah sambutan tersebut. Beliau menyampaikan perasaan senangnya yang luar biasa karena mampu berjumpa dengan warna negara Indonesia dengan jumlah yang luar biasa banyaknya pada kunjungan beliau ke Hadhramaut kelima kalinya ini. karenanya, beliau meminta hadirin untuk ikut berteriak mendendangan shalawat bersamanya. Karena sebagaimana filosofi orang Jepang, di mana teriakan akan membuat lebih bersemangat, beliau meminta untuk tidak hanya sekedar medengatkan. Karena dalam mendengarkan tersebut, hanya telinga saja yang mendapatkan manfaatnya,
Sebagai tembang pembuka, habib Muhammad bin Hadi, cucu beliau menyanyikan lagu qod kafani robbi dengan suara anak-anaknya. Tentu saja, hal ini membuat decak kagum dari penonton. Karena di usia yang sedemikian kecilnya itu, ia sudah percaya diri bernyanyi di hadapan khalayak ramai. Setelah itu, satu demi satu habib Syekh mendendangkan shalawat dan qosidah-qosidah andalannya. Dan tentu saja, pelajar Indonesia yang ada di convention hall Habib Abdul Qodir Al-Idrus tersebut hanyut dalam susasana sebagaimana wajarnya. Jiwa-jiwa Syekher Mania yang sempat lama terpendam, kembali hidup bergembira bersama sang Habib mendendangkan shalawat-shalawat kepada kakek beliau, nabi Muhammad S.A.W.
Di sela-sela qosidahnya, beliau berpesan kepada segenap pelajar Indonesia yang ada Yaman, untuk terus-menerus menuntut ilmu, terus-menerus mencari keberkaha selagi masih di Yaman, di negeri leluhur beliau. Beliau juga meminta hadirin untuk sering-sering mengunjungi guru dan habaib yang ada di sini juga meminta petunjuk dari mereka.
Pada akhir acara, beliau memuji sound sistem dan grup hadroh mahasiswa universitas Al-Ahqaff atas penampilan mereka. Beliau tak segan memberi mereka julukan Syekher mania kepada mereka.
Beliau juga meminta untuk di doakan agar dapat sering-sering mampir ke Hadhramaut, paling tidak setahun dua kali. Karena beliau sendiri mengatakan “Ruh saya di sini meskipun raga saya di Indonesia. Karena di sinilah tempatnya ruhaniyah.”
Acara ditutup dengan pembacaan doa untuk keselamatan saudara-saudara kita di tanah quds, Yerussalem dan kesuksesan acara penyambutan momentum proklamasi Indonesia ketujuhpuluh dua yang nantinya akan diselenggarakan oleh PPI Yaman dan PPI wilayah Hadhramaut.
Sanad, warisan ulama kebanggaan umat Islam

*Sanad, warisan ulama kebanggaan umat Islam.*

Oleh : Muh. Faiq


Saat mengomentari kitab-kitab klasik Islam dalam cabang ilmu Hadits, para Orientalis Eropa seperti Margoliouth dan Sprenger, tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap metode sanad yang dimiliki umat Islam. Tak pernah terpikirkan oleh umat beragama mana pun, bangsa apa pun, untuk mengecek kebenaran sebuah berita secara kritis seperti dalam metode sanad. Disana terdapat metode dengan kaidah-kaidah detail yang mengagumkan. Itulah mengapa setiap kisah, perkataan, pembenaran dari peristiwa (iqror) Nabi Muhammad s.a.w bisa diteliti kevalidannya secara ilmiah, walaupun itu terjadi 14 abad silam.
Sanad sendiri terdiri atas para pewarta hadits (perawi) yang menukil sabda Nabi atau kejadian sejarah. Lalu sanad akan membentuk sebuah peta penukilan hadits. Mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut di dalam kitabnya, kemudian bersambung ke generasi sebelumnya, lalu ke generasi sebelumnya hingga sampai kepada orang (pelaku sejarah) yang behadapan langsung dengan Nabi Muhammad s.a.w. Sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Sehingga pada akhirnya kita bisa menentukan, apakah ucapan yang di nukil perawi tersebut shahih (valid) atau dha’if (tidak valid). Dalam prakteknya, sudah jutaan perawi yang ada. Biografi mereka pun terekam oleh kitab-kitab klasik Islam. Di dalam biografi tersebut, terdapat fan ilmu lain yang masih berhubungan dengan sanad, yaitu ilmu jarh wa ta’dil. Ilmu ini berguna untuk meyeleksi hafalan dan kejujuran perawi dalam menyampaikan teks hadits. Berpijak dari sinilah nanti akan ada pengelompokan hadits, seperti hadits mutawatir, ahad (di dalamnya mencakup : sohih, hasan, dloif) atau maudlu’ (hadits palsu).
Lalu bagaimana penggunaan sanad pada Al Quran? Soal ke-valid-an isinya, Al Quran sudah tidak memerlukan sanad. Karna sejak turunnya, Al Quran langsung dihafal dan ditulis oleh para sahabat. Kemudian dilakukan kodifikasi pasca wafatnya Nabi lewat proses yang sangat ketat. Setelah itu penukilannya pun di lakukan oleh ribuan orang dari generasi ke generasi. Baik melalui hafalan maupun tulisan. Sehingga mustahil secara akal, ribuan orang tersebut bersepakat untuk merubah isi Al Quran. Adapun mengenai tata cara membaca Al Quran metode sanad tetap digunakan.
Demikianlah, betapa kritis dan selektifnya para sahabat dan ulama terdahulu. Sehingga, berkat usaha mereka, tidak ada celah sedikit pun bagi yang ingin melakukan penyesatan ke dalam ajaran Islam. Betapa berharganya warisan ilmu sanad ini. Karna jika tidak, laqola man syaa ma syaa, akan berkata siapa pun (di dalam masalah agama) apa pun semau dia. Wallahua’lam
MAULA JENGKANG

By: Mohamad Abdurro’uf*
 
Secara cerdas, baru-baru ini, aku telah membentuk persekongkolan ganjil antara diriku dengan logikaku. Persekongkolan tersembunyi. Sehingga, di dunia ini hanya aku yang boleh tahu. Bahkan, aku diam-diam merahasiakannya dari diriku sendiri.
Logikaku berkata bahwa, opini publik yang dibentuk secara struktural dan terarah, akan membentuk suatu pola yang diyakini semua anggota masyarakat. Maka, ketika setiap orang yang kau temui berkata, sarapan akan memenuhi semua kebutuhan nutrisi harian, kau akan meyakininya. Seperti kata orang sebelum masehi, bahwa bumi itu datar.
***
Desa Bet Jubn bukanlah desa yang gemerlap banyak lampu. Melainkan sebuah desa pelosok di tanah tandus Yaman. Bahkan kaktus tak bisa tumbuh. Terputus dari dunia luar. Listrik tak ada. Hei, bagaimana listrik mau ada? Desa ini lahir sebelum listrik ada. Maka, edarkan khayalmu pada abad enam hijriah. Pada saat itulah kisah ini bercerita.
Di Bet Jubn, hanya ada seorang alim. Tiada tanding sebab tak ada yang lain. Semua dakwah keagamaan diembannya semua. Permasalahan sengketa, keluarga, jampi-jampi sampai gumam mantra sakti dilakoninya semua. Masih banyak gangguan jin saat itu di Yaman. Maka tak jarang, setiap empat puluh hari sekali, penduduk desa berkumpul di masjid untuk sedekah keselamatan bersama. Penduduknya masih awam beragama.
Masjid Maula Jengkang menjadi masjid satu-satunya rumah ibadah dan pusat dakwah. Masjid itu sudah tua, tidak diketahui siapa yang membangun dan kapan didirikan. Empat saka penyangganya sudah reot. Sering berdecit ketika datang angin. Kayu luban di dinding dan langit-langitnya sudah lapuk. Seperti orang renta osteoporosis yang akan terjungkal tertiup angin. Menaranya luntur, karena dibangun dari tanah liat dan berulang kali terguyur hujan. Maka hanya perlu menunggu waktu, masjid itu akan runtuh.
Setiap pemilik nyawa akan bertemu ajalnya, begitu juga sang alim satu-satunya. Dia meninggal tanpa seorang pengganti. Kacaulah urusan agama desa itu. Khotbah Jumat kosong. Pengajian libur panjang. Maka penduduk desa berembuk mencari pengganti.
Ada seorang wanita salehah bernama Adawi. Keilmuannya mumpuni, bijaksana, lembut bertutur kata, halus berlaku tingkah. Nyaris disepakati bahwa Adawi akan menjadi pengganti juru dakwah. Namun, salah seorang penduduk mengingatkan, juru dakwah juga harus mengisi khotbah Jumat dan menjadi imam salat. Perkara masygul muncul. Akhirnya, pilihan jatuh pada suami Adawi, namanya Abu Lihyah.
“Maulah engkau memimpin urusan agama kami,” pinta penduduk ramai.
“Tapi aku tak bisa, tak fasih membaca Al-Qur’an dan kurang keilmuan”.
Dengan terpaksa, sebab kepepet tak ada yang lain, Abu Lihyah mau-mau-tempe menyanggupinya. Padahal apa yang dikatakannya benar-benar secara harfiah, dia tak bisa. Bukan tak mau. Juga bukan sebab merendah. Maka, tugas pertamanya, Jumat besok dia akan menjadi imam salat dan berkhotbah di mimbar masjid Maula Jengkang.
Tersebar berita bagai badai pasir musim panas, seperti normalnya berita beruntun, bahwa seorang alim baru telah hadir. Menguasai berbagai keilmuan. Sekarang, nama Abu Lihyah akan terkenal sebagai juru dakwah sakti mandraguna tiada saing.
Abu Lihyah mulai menghafal surat-surat pendek dan belajar berkhotbah dari Adawi. Dengan telaten, Abu Lihyah menguasi retorika khotbah dan hafal surat Al-A’la dan Al-Ghasyiah untuk mengimami salat. Pada saat Jumat tiba, dia naik mimbar. Dengan lancar sedikit gugup berkeringat, kaki gemetar, dia buat para jemaah terpukau.
Namun, setiap borok akan bernanah. Sekarang Abu Lihyah memimpin salat. Dia bertakbir dengan mantap. Suaranya berwibawa seperti kata berita. Rakaat pertama dia baca Al-A’la dengan lancar mendayu-dayu. Namun, saat berdiri di rakaat kedua, saat dia baca surat Al-Ghasyiah, dia lupa lanjutan ayatnya. Nanah pun tercium baunya.
“Alam tara ilal ibili kaifa khuliqat,” senyap. “Kaifa khuliqat,” dia ulang bacaannya. Deg. Dia mulai bingung. Keringat mengguyurnya. Dia berusaha mengingat lanjutan ayat, namun gelap. Nihil tiada hasil. “Wah, bakal gawat. Lebih baik aku kabur sekarang.”
Tiba-tiba, Abu Lihyah angkat gamis lalu berlari keluar sekencang-kencangnya. Kaki-kakinya saling kejar satu sama lain. Dia keluar dari masjid itu. Jemaah kebingungan. Bagaimana hukum salat yang ditinggal kabur imamnya. Salat mulai tak khusyuk. Mereka dibutakan oleh berita, mereka gelap mata. Mereka semua berlari keluar mengejar Abu Lihyah. Sekencang apa dia berlari, sekencang itu pula dia dikejar.
Tak dinyana-nyana, tak diduga-duga, setelah orang terakhir keluar dari masjid itu, angin kencang bertiup membawa butir-butir pasir dan batu. Angin menghantam masjid reot itu. Maka hanya ada satu kemungkinan, masjid itu pun rubuh.
***
Sekarang, aku sering berhati-hati pada berita yang belum kutahu benarnya. Barang kali, itu adalah semacam persekongkolan jahat lain di luar diriku. Maka, aku dan pikiranku akan mencari konfirmasi dengan semangat berjingkrak-jingkrak sebelum aku keliru melemparkan batu bukan pada pelakunya.
***
Semua penduduk terhenyak. Ternyata ini sebab sang imam berlari keluar masjid. Ya, Maula Jengkang runtuh menyatu dengan tanah lusuh. Sekarang, semua penduduk sepakat bahwa Abu Lihyah adalah wali kekasih Tuhan. Dia tahu apa yang belum terjadi. Inilah nanah yang tercium harum. Sambil berlarian, peraturannya berubah menjadi satu: dilarang berlari mendahului imam, barang siapa melakukannya, batal salatnya!
***

______________
*Biodata Penulis:
Nama        : Mohamad Abdurro’uf
Tempat, Tanggal Lahir          : Kudus, 9 Mei 1996
Alamat rumah         : Pasuruhan Lor, Jati, Kudus
Nomor Handphone           : +967 775 294 550
E-mail              : mohamad.abdurrouf@gmail.

Gagal Bukan Berarti Berakhir

By: Imam Abdullah El-Rashied*

Itu semua bermula sejak kelas 4 SD ungkapku padanya. Saat itu Wali Kelas kami menyuruh agar semua siswa menuliskan cita-citanya dalam selembar kertas dilengkapi dengan deskripsi sedetail mungkin. Awalnya aku menuangkan beberapa paragraf akan masa depanku yang cukup fantastis. Kudongkrak gaya imajinasiku dan coba tuk menggambarkan masa depan yang cemerlang. Aku tulis dalam harap besarku kelak aku ingin menjadi seorang Profesor, membuat banyak penemuan termasuk membuat mesin waktu.
Setelah aku membolak-balikkan kertas yang aku corat-coret, ada sedikit keraguan menimpaku. Aku rasa sangatlah mustahil jika suatu saat aku akan mampu membuat “Mesin Waktu,” sebuah mesin untuk menjelajah masa, baik masa yang telah berlalu maupun masa yang akan datang. “Ini adalah efek kebanyakan nonton film,” tegurku dalam hati.
Waktu yang diberikan Pak Guru tinggal 30 menit lagi akan berakhir. Deskripsi masa depanku yang sudah apik aku tuliskan, kata demi kata aku hapus dengan ujung pensilku. Aku sadar itu terlalu jauh panggang dari pada api. Sejenak aku merenung lebih dalam, hingga akhirnya Allah memberikan ilham agar aku menuliskan sesuatu yang bisa ditempuh secara logis.
Kurangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf hingga akhirnya rampung sudah satu halaman aku penuhi dengan deskripsi cita-citaku. Aku ingin menjadi ustadz, ungkapku dalam kertas putih itu. Setelah jadi ustadz aku ingin menjadi kyai besar, biar manfaat buat umat. Hal ini aku pikir tak lain karena aku yang sejak bisa memahami kata-kata, Ibuku selalu membawaku ke pengajian. Membiarkanku bermain atau bahkan tertidur di pangkuannya saat Ibu sibuk mendengarkan kajian yang disampaikan Kyai di mushalla.
Aku harap setelah lulus SD bisa menyantren di luar Madura, mengikuti jejak abang-abangku. Namun sayang, saat itu kondisi ekonomi keluarga tak begitu memungkinkan bila harus mengeluarkan biaya tiap bulan untuk mengirimku di pesantren. Akupun mengurungkan niat baik itu, namun setiap hari aku tetap mengaji di masjid kepada Kyaiku. Tiap maghrib yang mulai gelap dan tiap subuh yang mulai terang, kuhabiskan waktu selama 1-2 jam untuk mempelajari Al-Qur’an, Fiqih, Dasar Aqidah Islam dan Ilmu Gramatika Bahasa Arab beserta Tafsir tekstual dari Kyaiku.
Rasanya sudah berlangsung 7 tahun aku mengaji pada Kyaiku, sejak aku kelas 3 SD hingga kelas 3 SMP dan kini tiba saatnya aku izin ke Kyai untuk menempuh pendidikan di sebuah Pesantren di Kabupaten tetangga. Aku sudah mendaftarkan namaku di pondok itu, termasuk di Madrasah Aliyah yang ada di dalamnya. “Namaku sudah masuk dalam daftar santri dan siswa”, ungkap salah satu teman SMPku yang turut diterima di Pondok yang gratis itu.
Namun sayang, untuk kedua kalinya aku gagal masuk pesantren. Saat itu aku bersama ibu dan abangku bersilaturahmi menemui sang Kyai untuk izin ke pesantren, namun beliau menolak dan menyarankan agar jangan menyantren di pondok tersebut. “Kamu sekolah SMA saja dan tetap ngaji sama saya.” Begitu ungkap Kyaiku.
Aku taati itu, hingga setelah lulus SMA keinginan mondokku sudah sirna. Aku mendaftarkan diri untuk masuk ke salah satu Universitas terkenal di Surabaya, ITS. Selama menunggu pengumuman aku berangkat ke al-Bahjah, Cirebon, guna mengisi waktu luang.
Sebulan berlalu, namun namaku tak kunjung muncul. Hendak pulang sayang, sudah terlanjur betah di al-Bahjah. Akhirnya aku mantapkan untuk menuntut ilmu agama yang sudah lama kandas dalam jiwaku. Kyaiku pun merestui itu. Setahun berlalu Kyaiku yang pertama wafat, aku sangat terpukul akan kepergiannya. Namun amat sayang aku tak bisa mengantar jenazahnya karena posisiku jauh di luar pulau.
Empat tahun aku lalui di al-Bahjah, aku sering curhat pada teman dekatku bahwa aku ingin belajar ke Timur-Tengah. Abangku marah mendengarnya. “Tak usah berkhayal terlalu jauh, belajar di sini juga sudah cukup kalau kamu serius,” tungkasnya saat menasehatiku.
Namun semua itu berubah saat Abang memanggilku dan mengabarkan bahwasannya Kyai baruku ini meminta kepadanya agar diriku belajar ke Univ. al-Ahgaff, Yaman. Aku mencoba untuk mempersiapkan diri, namun Allah berkehendak lain. Entah kenapa aku tak jadi mengikuti tes seleksi saat itu hingga akhirnya aku gagal.
Setahun berlalu, Kyaiku menawarkan agar aku kuliah di Imam Shafie College di Mukalla, Yaman. Aku sampaikan kabar gembira ini pada Abang, Ibu dan Ayahku. Mereka semua setuju. Allah telah mempersiapkan sesuatu yang lebih indah. Aku berangkat dengan beasiswa penuh ke Yaman dari pesantrenku, sedangkan aku sering mendengar dari teman-temanku di Yaman bahwasannya banyak di antara mereka orang tuanya harus menjual sawah, sapi dan emas sebagai biaya meskipun mendapatkan beasiswa pendidikan.
Aku sempat gagal nyantren dua kali, aku juga sempat gagal kuliah dua kali. Namun bagiku kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan dalam sebuah kegagalan aku menemukan banyak hal yang menakjubkan. Setidaknya setahun terakhir di Cirebon aku mengabdi penuh di pesantren menjadi Humas Lembaga Dakwah.
Hampir tiap bulan aku harus ke luar kota, bahkan terkadang harus ke luar negeri guna menemani guruku berdakwah. Selama di Cirebon pula aku berkecimpung dalam dunia Multimedia dan Jurnalis. Sekitar setahun aku menjadi Operator Radio Dakwah, kemudian menjadi seorang Cameraman dan Editor Video serta masuk dalam Tim Pustaka.
Sejumlah pengalaman yang sangat berharga yang aku banyangkan tak akan didapatkan di kuliahan. Penuh syukur kuucapkan pada-Mu, Tuhan. Selesai aku berorasi via telepon bersamanya, ia bertanya: “Lantas, apa rahasiamu menggapai mimpimu?” “Tulus berniat, usaha yang giat, tekad yang kuat dan do’a yang selalu terpanjat,” ungkapku.
Kini dia mulai bertekad untuk mengukir mimpi-mimpinya, akupun senang.
***
 *Biodata Penulis:
Nama : Imam Abdullah El-Rashied
TTL : Sampang, 12 Juni 1993
Pendidikan : TK – SMA (1997-2010) Di Sampang, Madura
Pesantren : Al-Bahjah Cirebon (2010-2014)
Kuliah : Imam Shafie College, Mukalla – Yaman
No. HP : +967 771 439 421
Email : imammahdiyaman@gmail­.com
Alamat :Kampus Utama Ribath Wa Kulliyah Imam
Syafi’i, Distrik Syafi’i – Fuwah – Mukalla, Yaman.
Qubah Murayyim : Langkah Awal Habib Umar Menjadi Da’i Dunia

Oleh : Haidar Assegaf*

   Madrasah Hadramaut, nama yang memiliki sejarah yang panjang dan dalam bahkan hingga hari ini. Madrasah yang menawarkan manhaj yang bukan hanya demi keselamatan individu tapi juga orang banyak. Dengan semangat “tidaklah Kami utus engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta”, para pembesar Madrasah Hadramaut memulai langkah mereka dalam mencetak pribadi-pribadi unggulan untuk kemajuan Islam yang akan datang.

   Jika kita persempit ruang pembahasan kali ini di Kota Tarim, kita dapati banyak sekali tempat-tempat dimana para pembesar Madrasah ini menggembleng anak didik mereka. Ratusan masjid dan zawiyah menjadi saksi bagaimana para ulama besar kota ini mewariskan ilmu dan harapan pada para penerus perjuangan mereka kelak. Sebut saja masjid Aal Ba ‘Alawi, Masjid Al-Wa’l, Masjid As-Seggaf, Zawiyah Asy-Syekh Salim Bafadhl, Zawiyah Asy-Syekh Ali bin Abi Bakar As-Sakran, Mi’lamah´ Abi Murayyim dan masih banyak lagi dan kali ini penulis ingin mengajak pembaca semua untuk mengenal lebih dekat mengenai Mi’lamah Abi Murayyim.

   Kesadaran para ulama hadramaut bahwa sumber utama ilmu pengetahuan adalah Al-Qur’an membuat perhatian mereka terhadap kitab suci ini sangat besar sejak mereka kecil sebagaimana hal itu sudah lumrah jika melihat pada biografi mereka. Demi melestarikan ciri khas Madrasah Hadramaut ini tergeraklah Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin Umar Abi Murayyim (w 822 H) mendirikan tempat menghafal al-Qur’an bagi anak-anak Tarim khususnya dan Hadramaut umumnya. Memadukan antara hafalan Al-Qur’an dengan pengetahuan ilmu syariat atau fiqih menjadi program utama bangunan yang tidak seberapa luas ini. Tujuan mencetak huffazh (penghafal-penghafal Al-Qur’an) sekaligus faqih (ahli fiqih) direalisasikan dengan mewajibkan peserta didiknya untuk menghafal bab ibadah dari kitab At-Tanbih, karya Al-Imam Asy-Syairozi, setelah mereka menyelesaikan hafal Al-Qur’annya, hingga kemudian Asy-Syekh Abdullah bin Abdurrahman Balhaj Bafadhl menulis kitab fiqih khusus untuk mi’lamah yang kemudian dikenal dengan nama Qubbah Abi Murayyim ini.

   Setelah sempat ditutup, Qubbah Abi Murayyim kembali dibuka di bawah pimpinan Al-Habib Sa’ad Al-‘Aydrus (w 1432 H) hingga hari ini. Berkali-kali dibuktikan bahwa hafalan Al-Qur’an menjadi sangat mudah di tempat ini. Ribuan penghafal Al-Qur’an, sebut saja di antaranya Al-Habib Umar bin Hafizh dan masih banyak nama ulama besar lainnya, menjadi bukti keberhasilan tempat yang walaupun tampak sederhana dan sempit, namun memiliki andil yang sangat besar dalam manhaj Madrasah Hadramaut. Keikhlasan pendiri serta para pengajar Qubbah ini menjadikan semakin bertambahnya jumlah calon huffazh yang akan meneruskan perjuang ulama Madrasah Hadramaut hingga dibuka beberapa cabang di berbagai sudut Kota Tarim demi kenyamanan dan kemudahan para peserta didik, seperti di Masjid Al-‘Ibadah di Aidid.

   Pada akhirnya, peran penting Mi’lamah Abi Murayyim tidak bisa dilupakan begitu saja dalam keberhasilan Madrasah Hadramaut, yang berpedoman : “Timbanglah setiap amalmu dengan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah”, dalam penyebaran Islam yang santun dan damai di Indonesia khususnya dan di seluruh penjuru dunia hingga saat ini.

*penulis adalah mahasiswa Universitas Alahgaff  Yaman tingkat 4.

Present by : Departemen Pendidikan dan Dakwah PPI Hadhramaut.

Peran Ulama dalam Membangun Moral Politik Bangsa
Oleh: Hasan Bashri Hayyi
A. Pendahuluan
T
ema keikutsertaan aktifis islam baik dari kalangan ulama’, du’aat dan pemikirnya dalam pertarungan politik hingga kini masih saja menjadi tema yang menarik dan hangat untuk diperbincangkan, hal itu terbukti dengan adanya pro maupun kontra dikalangan mereka yang mengkaji dan mendiskusikannya.
Polemik ini jika diteliti lebih jauh bukanlah polemik yang baru terjadi kali ini, namun sudah sejak dulu bahkan sejak berabad-abad silam, tema keterlibatan para ulama dan cendikiawan muslim secara politis dalam penyelenggaraan Negaram, baik sebagai eksekutif, legislatif, maupun yudikatif selalu menjadi perdebatan yang hangat dikaji.
Dan siapapun yang membeca literatur-literatur zaman itu akan menemukan misalnya bagaimana sebagian ulama mengingatkan bahaya mendekati “Pintu Sultan”, atau bahkan menolak jabatan sebagai seorang qadhi. Tentu saja perdebatan itu tidak dalam kapasitas memvonis haram halalnya “Profesi Politis” tersebut, tetapi hanya sebatas mempersoalkan boleh atau makruhnya hal tersebut, dan tentu saja kemakruhan ini berlandskan sikap wara’ semata, tidak lebih dari itu. Dan sikap wara’sendiri jika ditelisik lebih jauh nampaknya dilandasi oleh dua hal:
Pertama:tingkat resiko pertanggung jawaban yang sangat besar yang terdapat dalam jabatan tersebut.
Kedua: bahwa posisi yudikatif (qodha’) secara khusus memiliki keterkaitan yang begitu kuat dengan posisi imamah kubra (kepemimipinan tinggi) yang dalam hal ini dipegang oleh khalifah yang memiliki sifat keadilan yang berbeda-beda.
B. Hakikat Ulama
Kata ulama merupakan bentuk plural dari kata ‘alim, secara etimologi kata ‘alimberarti orang yang berpengetahuan.
Sedangkan secara terminologi ulama adalah orang yang ilmunya mampu mengantarkan dia kepada khasyyah (yakni rasa takut dan kagum kepada Allah), yang pada gilirannya hal itu akan mendorong orang ’alim yang bersangkutan untuk menerapkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan makhluk.
Allah Swt. berfirman dalam Surat Fathir ayat 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ [فاطر: 28]
Artinya:“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama”. (QS. Fathir (35): 27-28.
Dan Rasulullah Saw. Bersabda:
إن العلماء ورثة الأنبياء … رواه أبوداود, والترمذي, وابن ماجة.
Artinya: “Ulama adalah pewaris para Nabi (Waratsah Al Anbiya’)” HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah.
Hadits ini menjelaskan akan pentingnya ulama dalam meneruskan misi kenabian (nubuwwah) di muka bumi. Ulama berperan menegakkan hukum Allah, memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta selalu mengedepankan kepentingan umat demi perwujudan kemaslahatan umat Islam itu sendiri.
Dari deskripsi sederhana ini, terpikir oleh kita bahwa ulama ada yang baik (yang benar dengan keulamaannnya) dan ada yang tidak baik (‘ulama su’). Ulama yang baik dan benar inilah yang dapat membangun bangsa ini ke depan menjadi lebih baik. Inilah yang disebut “Politik Ulama”. Sedangkan, ulama yang tidak baik (ulama su’) justru akan semakin merusak kondisi bangsa ke depan, inilah yang disebut “Ulama Politik”.
C. Peran Ulama dalam Masyarakat
Ulama dalam masyarakat islam begitu terhormat, hal ini berkaitan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. bahwa ulama adalah warasah al ‘anbiya (pewaris para nabi). Ulama mewarisi tugas para nabi dalam berdakwah menyampaikan yang hak, dan turut serta memerangi yang bathil, amar ma’ruf nahi munkar,  menyampaikan yang benar kepada masyarakat maupun kepada penguasa. Tugas para ulama tidak melulu dalam mengkaji kitab-kitab para ulama salaf dan khalaf saja, namun mereka harus mengkaji pula berbagai persoalan umat termasuk di dalamnya masalah politik.
Ketika ulama kemudian memutuskan menarik diri dari persoalan dunia termasuk politik, kemudian memfokuskan diri hanya pada hubungannya dengan Allah, maka hal ini sangat bertentangan dengan syariat. Adakah akhirat dituju tanpa melalui dunia? jawabannya tidak. 
Sungguh setiap muslim tidak hanya dituntut kesalehan individual, tapi juga kesalehan sosial, adakah sosial itu tidak membahas politik sedang politik itu kemudian berhubungan dengan siapa yang akan memerintah umat. Meninggalkkan politik secara keseluruhan bagi seorang ulama adalah kiamat bagi umat, ketika tidak ada lagi pencerahan politik dengan haluan-haluan dan rambu-rambu syariat maka umatlah yang akan mengalami kerugian besar.
D. Pengertian Politik dalam Islam
Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah As-Siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama dikenal istilah As-Siyasah As-Syar’iyyah. Dalam Kamus Al-Muhith, Siyasah berakar kata sâsa-yasûsu. Dalam kalimat Sasa ad-dawaba yasusuha siyasatan berarti Qama ‘alaiha wa radlaha wa adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya).
As-siyasah juga memiliki arti mengatur, mengendalikan, mengurus, atau membuat keputusan, mengatur kaum, memerintah, dan memimpinya. Secara tersirat dalam pengertian Al-siyasahterkandung dua dimensi yang berkaitan satu sama lain, yaitu:
1)      Tujuan yang hendak di capai melalui proses pengendalian.
2)      Cara pengendalian menuju tujuan tersebut.
Secara istilah politik (menurut islam) adalah pengurusan kemaslahatan umat manusia  sesuai dengan syara’. Pengertian siyasah  lainya menurut Ibn A’qil sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Qayyim sebagai berikut:
قال ابن عقيل: السياسة ما كان فعلا يكون معه الناس أقرب إلى الصلاح، وأبعد عن الفساد، وإن لم يضعه الرسول – صلى الله عليه وسلم -، ولا نزل به وحي.
Artinya:politik adalah segala perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari kemafsadatan, sekalipun Rasulullah Saw. tidak menetapkannya dan (bahkan) Allah Swt. tidak menentukanya dengan perantara wahyu(1).
Pandangan politik menurut syara’, realitanya pasti berhubungan dengan masalah mengatur urusan rakyat, baik oleh negara maupun rakyat. Sehingga definisi dasar menurut realita dasar ini adalah netral. Hanya saja tiap ideologi (kapitalisme, sosialisme, dan Islam) punya pandangan tersendiri tentang aturan dan hukum mengatur sistem politik mereka. Dari sinilah muncul pengertian politik yang mengandung pandangan hidup tertentu dan tidak lagi netral.
E. DalilBerpolitik dalam Islam
Rasulullah Saw. sendiri melafalkan kata siyasah (politik) dalam sabda beliau:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء، كلما هلك نبي خلفه نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون خلفاء »  رواه البخاري و المسلم.
Artinya: Bani Israil dulunya (urusan mereka) diatur oleh para nabi. Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantikannya. Dan sesungguhnhya tidak ada nabi setelahku, (tetapi) yang akan ada adalah para khalifah. (HR. Bukhari dan Muslim).
Melalui hadis tersebut jelaslah bahawa politik atau siyasah itu bermakna mengatur urusan masyarakat.
Rasulullah Saw. Bersabda dalam hadisnya:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم، ومن لم يصبح ويمس ناصحا لله ولرسوله ولكتابه ولإمامه ولعامة المسلمين فليس منهم» رواه الطبراني.
Artinya: “Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan Kaum Muslimin maka ia bukan termasuk dari golongan mereka, dan barang siapa yang terjaga di pagi hari dan di sore hari dan tidak memberikan nasehat karena Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, dan semua kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin)”. (HR. Thabrani). (2)
F. Politik dalam Persepektif Ulama
Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Wajib diketahui bahwa mengurusi dan melayani kepentingan manusia merupakan kewajiban terbesar agama, dimana agama dan dunia tidak bisa tegak tanpanya. Sungguh Bani Adam tidak akan lengkap kemaslahatannya dalam agama tanpa adanya jamaah, dan tidak akan ada jamaah tanpa adanya kepemimpinan.
Nabi Saw. bersabda dalam haditsnya:
قال النبي صلى الله عليه وسلم: «إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدهم» . رواه أبو داود
 Artinya: “Jika tiga orang keluar untuk bepergian maka hendaklah mereka mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin”. (HR. Abu Dawud).
Nabi mewajibkan umatnya mengangkat pemimpin bahkan dalam kelompok kecil sekalipun, dalam rangka melakukan amar ma’ruf nahi munkar, melaksanakan jihad, menegakkan keadilan, menunaikan haji, mengumpulkan zakat, mengadakan salat hari raya, menolong orang yang dizalimi, dan menerapkan hukum hudud.(1)
Lebih jauh Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa “Kedudukan Agama dan Negara ”saling berkelindan, tanpa kekuasaan negara yang bersifat memaksa, agama berada dalam bahaya, sementara tanpa wahyu, negara pasti menjadi sebuah organisasi yang tiranik”. Sebab kekuasaan penguasa merupakan tanggung jawab yang harus dipenuhi dengan baik. Penguasa harus  mengurusi rakyatnya seperti  yang dilakukan pengembala kepada  gembalaanya. Penguasa disewa rakyatnya agar bekarja untuk kepentingan meraka, kewajiban timbal balik kepada kedua belah pihak tersebut menjadikan perjanjian dalam bentuk  kemitraan.
Imam Al-Mawardi menjelaskan dalam kitabnya bahwa as-siyasah as-syar’iyah sebagai: Kewajiban yang dilakukan kepala negara pasca kenabian dalam rangka menjaga kemurnian agama dan mengatur urusan dunia (hirosah ad din wa raiyyah ad dunya)(2).
Imam Ghazali menulis dalam kitabnya (Ihya’ Ulumuddin) bahwasanya politik ataupun al-siyasah dalam memperbaiki Makhluk Allah dan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus yang menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat terurutkan ke dalam empat tingkatan:
Pertama: yaitu martabat tertinggi adalah siyasah para nabi, dan hukum mereka berlaku kepada semua golongan baik khas maupun awwam, zahir maupun batin.
Kedua: siyasah para khalifah, raja dan sultan, dan hukum mereka juga berlaku kepada semua golongan baik khas maupun awwam,akan tetapi terbatas dalam hukum zahir saja bukan batin.
Ketiga: siyasah al-ulama billah azza wajal wa bi dinihi yang merupakan pewaris para nabi (Ulama Tasawuf yang menggabungkan antara hakikat dan syariat), dan hukum mereka hanya berlaku kepada golongan khassaja serta terbatas pada hukum batin, kerana golongan awam tidak mampu untuk mengambil faedah dari mereka.
Keempat: siyasah para da’i, dan hukum mereka hanya berlaku pada golongan awwam dan terbatas pada hukum batin saja.
Dan siyasah yang paling mulia selepas nubuwwah adalah mengutamakan peyebaran ilmu yang bermanfaat serta memperelok jiwa manusia daripada akhlak mazmumahyang membinasakan, dan juga menunjuki manusia untuk berakhlak mahmudahyang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan di akhirat kelak. (3)
G. Tugas-Tugas Ulama dalam berpolitik
Aktivitas para ulama dalam politik sebenarnya dapat dikutubkan dalam beberapa hal, berikut diantaranya:
1)      Menjaga kejernihan pemikiran umat
Pemikiran umat dalam bidang politik haruslah dijaga dan dituntun, tidak bisa dibiarkan liar mengikuti hawa nafsu serta mengikuti pemikiran-pemikiran menyimpang yang bertentangan dengan syariat. Ulama yang faham mana yang bertentangan dengan syariat dan mana yang tidak harus segera bertindak ketika mengetahui adanya gejala-gejala politik berbahaya yang akan dihadapi umat ke depannya. Dengan begitu kejernihan pemikiran umat dapat dipertahankan.
2)      Melakukan fungsi kontrol terhadap penguasa
Ketika penguasa menerobos lampu merah, maka ulama harus segera memberlakukan surat tilang, memperingatkan penguasa agar tidak berbuat hal yang demikian di kemudian hari. Jika para penguasa bertahan dengan kesalahan-kesalahannya, dan ulama hanya sibuk di perpustakaannya, maka umat lah yang akan dirugikan. Dan kedudukan ulama sebagai warasah al ‘anbiya menjadi tidak relevan dalam kehidupan umat.
Kita ingat bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal dipenjara oleh penguasa kala itu sebab tidak sepaham dengan pernyataan penguasa yang menyatakan bahwa Al Quran adalah makhluk, tanpa ada rasa takut atau sungkan, yang ada adalah prinsip bahwa sesuatu yang hak itu harus disampaikan dan yang batil itu mesti dilenyapkan apapun resikonya.
3)      Melakukan perang pemikiran
Di masa sekarang ini perang pemikiran antar faham dan ideologi tidak dapat dihindarkan. Pemikiran islam diserang bertubi-tubi dari samping kanan dan samping kiri, dari belakang juga dari depan. Peran ulama dalam melakukan perang pemikiran dengan orang-orang yang telah terkontaminasi dengan pemikiran pluralisme, liberalisme, dan juga sekulerisme amat sangat dibutuhkan pada saat-saat ini. jika kemudian ulama abai, pemikiran umatlah yang rusak, sehingga berkonsekuensi terhadap pengacuhan syariat dan berkiblat kepada pemikiran-pemikiran sesat. Sekali lagi bahwa peran ulama sangat vital.
4)      Memberikan solusi politik
Ketika politik dihadapkan kepada masyarakat dalam bentuk pemilihan umum misalnya adalah sah-sah saja jika ulama kemudian mengeluarkan pendapatnya di hadapan jamaah dan umat, manakah yang layak untuk dipilih dan mana yang tidak?. Asalkan ulama dapat berhujjah sesuai dengan syariat tanpa melakukan hal-hal yang menyimpang dari syariat semisal fitnah dan lainnya, maka ini adalah termasuk peran politik ulama. Jadi tidak benar jika kemudian meminta ulama untuk tidak memberikan solusi politik ketika sebagian pihak hendak menabrak hukum syariat dengan dalih kebebasan dan alam demokrasi.
5)      Menggerakkan masyarakat untuk berjihad politik
Berjihad politik dengan menegakkan kesadaran politik yang santun dan bersih, meninggalkan hal-hal kotor. Tetapi sekali lagi, dewasa ini banyak orang yang menyampaikan sesuatu berlandaskan syariat dianggap melakukan politik kotor dengan berdalil bahwa negara ini tidak berlandaskan hukum kelompok tertentu. Hal-hal seperti inilah yang menjadi sasaran jihad para ulama, agar tiang kebenaran syariat berdiri pada tempatnya.Ulama tidak boleh tinggal diam ketika melihat umat abai terhadap syariat padahal mereka masih menganggap syariat itu sebagai bagian dari agamanya, dan juga ketika umat lalai dan mengambil syariat yang sesuai dengan nafsunya serta meninggalkan bagian syariat yang lainnya. Sungguh syariat haruslah diambil keseluruhan dan tidak bisa dipilah-pilah berdasarkan hawa nafsu.
H. Kesimpulan dan Penutup
Jadi peran ulama dalam pemerintahan sangat dibutuhkan. Ulama harus dilibatkan  Dalam setiap perumusan dan juga pengambilan kebijakan yang menyangkut persoalan umat. Ulama sebagai salah satu komponen sosial harus mulai memainkan peranan penting dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan umat. Maka dari itu harus dibentuk sebuah institusi ulama yang strategis dan mempunyai wewenang yang lebih daripada sekedar hanya menentukan hari pertama Bulan Ramadhan atau Hari Idul Fitri saja. Ulama misalnya harus dilibatkan dalam pembahasan anggaran, sehingga mereka dapat memberikan masukan-masukan agar anggaran tersebut benar-benar bisa dinikmati oleh umat.
Dengan kata lain untuk mengidealkan tercapainya cita-cita dalam siyasah, negara mutlak memerlukan peran ulama dalam upayanya mewujudkan masyarakat beragama yang adil dan makmur. Selama politik masih dihadapkan pada umat, selam politik masih berkaitan dengan hidup umat, maka disitulah ulama hadir mengamalkan fungsinya sebagai warasah al ‘anbiya. Dan di sisi lain bahwa stabilitas nasional mustahil akan terwujud jika setiap elemen bangsa tidak berjalan secara sinergis dengan satu tekad dan cita-cita untuk membangun bangsa dan Negara yang tercinta ini menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.
Wallahu ‘alam.



(1) Lihat as-Siyasah as-Shar’iyah fi Syu’un al-Dusturuyah al-Khorijiyah wa al-Maliyah, karya Abdul Wahab Kholaf, hal: 22/ Vol:1
(2) Lihat al-Mu’jam al-Aushath karya al-Thabrani, hal: 270/ vol: 7.
(1) Lihat as-Siyasah as-Syar’iyyah fi ishlahi ar-Ra’I war-Ra’iyah karya Ibnu Taimiyah, hal 168
(2) Lihat: al-Ahkam al-Sultaniyyah Wa al-Wilayah al-Diniyah karya al-Mawardi, hal: 15/ vol:1.
(3) Lihat Ihya’ Ulumiddin, karya al-Ghazali hal 13/ vol: 1
RSS
Follow by Email
YouTube
Instagram
Telegram
WhatsApp