Search for:
Bedah Skripsi

Bedah skripsi

أثر قاعدة تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة
Hari : Jumat

Tanggal : 20 juli 2018

Tempat : Mushola atas sakan Dakhilie

Pembicara : Ricky Faishol B.Sc


Beberapa Poin acara bedah Skripsi :


Undang-undang pancasila berdasarkan analisis Al-Quran.

1.      الإله الواحد  diambil dari وإلهكم إله واحد

2.      Kemanusiaan yang adil dan beradab. Konsep ini berasal dari ayat: إن الله يأمر بالعدل والإحسان  dan juga sudah diterapkan oleh Rasulullah SAW. di dalam banyak hadisnya, seperti undang-undang IT. yang tidak memperkenankan mencemarkan nama baik. ولا تجسسوا ولا تنابزوا  أي ولا تبحثوا عن عورات المسلمين (syekh Wahbah.)

Syarat imam yang ke delapan yakni:  أن يكون قريشا (harus dari golongan Quraisy) ini hanya berlaku pada masa Sayyidina Abu Bakar dan Umar. Kata sebagian ulama.

Apakah pemerintahan Indonesia sudah sesuai dengan katagori persayaratan pemimpin dalam pengamatan Syariah?

Bukan من حيث الشروط tidak ada yang bisa memenuhi syarat tujuh tersebut dari sisi kinerja. Sebagaimana yang disebutakan oleh al-Imam Mawardi. Diperkuat oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili. Yaitu Menjaga keamanan dan peraturan umum yang ada di negara tersebut.

Ada tiga undang-undang yang masuk pada sisi kinerja tersebut. Kita membela negara dan pimpinan negara menjadi pengawas langsung para mentri-mentrinya, begitupula keadilan umum. الإدارة العامة وتعيين الموظفين  

Seorang pemimpin berhak mendapatkan dua hak dari masyarakat: pertama hak ketaatan dari masarakat. Presiden memegang perundang-undangan selain yang berhubungan dengan kemaksiatan, yang memberi manfaat kepada mayoritas muslimin.

Dua : hak bantuan/pertolongan dari masarakat. Syekh Wahbah az-Zuhaili menyampaikan Ada pertolongan dengan ucapan dan nasehat sebagaimana hadis : الدين النصيحة قلنا لمن؟ قال : لله ولرسوله ولأئمة المسلمين

Apakah hak menolong itu bisa dikategorikan dengan demo, sebagai aspirasi masarakat?

Ulama kontemporer ada dua pendapat meenegenai masalah ini, ada yang mengharamkan dan yang memerbolehkan, yang mengharamkan adalah ulama Saudi berdasarkan: من تشبه بقوم فهو منهم  dan من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Yang memporbelehkan adalah Yusuf Qardhawi, tapi mengharuskan beberapa syarat:
Ada 4 syarat. Yang beliau sampaikan.

Amar makruf nahi munkar bisa melalui politik. Seorang imam bisa mengimplementasikan hal itu dengan menghilangkan kebodohan dan mendirikan sekolah-sekola dan melakukan Penyempurnaan.
Kafir Harbi indo ada 4:

Harbi, Dzimmah at-Ta’min Imam, Murtad dan Musyrik.

Dhobithnya harbi bila mayoritas kuffar menguasai mayoritas suatu daerah.
Apakah Indonesia masuk Negara Islam?

Iya, sebagaiman pernyataan Habib Abdurrahman al-Masyhur di kitabnya Bughyah Mustarsyidin, melihat Indonesia ditaklukkan oleh orang-orang islam, begitupula Imam As-Subki dalam Fatawanya dan Syekh Ismail Zain dalam fatawanya bahwa suatu daerah yang mayoritas penduduknya adalah umat islam termasuk darul Islam.

Untuk saat ini Non Muslimnya masuk dalam Dzimmah at-Ta’min Imam, karena tidak ada yang membayar jizyah.

Bagaimana maksud dari nushrah?

Diterangkan  di al-Wajiz fi Fiqih Khilafah. Nushroh di sini adalah nasehat dan bisa diimplementasikan dengan melalui MUI dan orang-orang yang memiliki otoritas di pemerintahan. kita mengadakan konsulidasi bersama mereka. Lalu mediasi, tapi tidak dengan kekerasan.
Yang kedua menolong imam, membela negara dan melaksanakan program kerja yang dirancang oleh pemrintah. 

Adakah solusi yang menengahi/selain demo?

Penyebab demo ada karena motif ketidakpuasan apa yang dilakukan oleh pemerintah. Kita harus menempuh mediasi duduk bersama terlebih dahulu. Munculnya demo karna mediasi yang tidak membuahkan hasil

Bagaimana posisi ulama untuk Tahkik Murodillah?

Jangan sekali-kali penguasa berada di atas ulama, tapi ulama di atas umara’
Thatbiq syariah Islamiyah itu bagaimana?

Bagaimana menaggulangi islamophobia, seakan2 menjadi penghalang terbesar untuk tahtbiq dan taqnin syariah islamiyah.?

Kita harus terus menyebarkan syariat islam dengan seminar-seminar  dan artikel-artikel internet. Menanggulangi liberalism dan pluralism.

 Menempatkan sdm yang memahami syariat islam dengan benar kita tempatkan di pemerintahan, dan mendukung perda islam yag ada di Indonesia. Di dalam bukunya strategi penerapan syariat islma di Indonesia  Dr. Jj Zainuddin mengatakan kalau  80% syariat islam sudah diterapkan di Indonesia meskipun tidak persis seperti di dalam fiqih tapi secara substansial sama. Ini menunjukkan kalau sebetulnya kita bisa menerapkan undang-undang syariah islam di Indonesia. Menerapkan syariah islam bukan berarti menrjang pancasila.
Maksud dari أفضل جهاد كلمة حق عند سلطان جائر apakah mediasi itu secara mutlak tidak diterima?
Dalil yang kita pakai adalah:

ولتكن منكم  dan كنتم خير أمة أخرجت للناس tidak menggunakan dalil yang di atas. Karena tidak nyata terlihat sisi kefasikan imam.

Menelisik Sejarah Masjid Wa’al; Masjid yang Pertama Berdiri di Bumi Sejuta Wali

Kota Tarim selain dikenal dengan kota wali, juga dikenal dengan kota ratusan masjid, bahkan hampir bisa dipastikan di setiap jarak lima puliuh meter akan kita jumpai masjid. Masjid-masjid ini umumnya sudah berusia berabad-abad. Diantara masjid tersebut adalah Masjid Wa’al. Sekilas saat mendengar namanya tidak bisa dipungkiri pasti terasa janggal di telinga, terlebih bagi yang mengerti bahasa arab. bagaimana tidak, kebanyakan masjid di dunia menggunakan nama-nama yang disandingkan dengan Nama Allah SAW., Asmaul Husna, nama Nabi ataupun nama pendirinya. Tidak demikian dengan masjid ini. Ya, masjid ini masyhur dengan nama masjid “Wa’al”, yang dalam bahasa arab berarti kambing hutan. Tentunya penamaan masjid ini tidak luput dari sejarah menarik di dalamnya.

Secara geografis masjid ini terletak tepat di tengah-tengah kota Tarim, di dusun Khulaif tepatnya di tepi jalan kecil yang menuju pasar tradisional dari arah pemakaman Furait. Arsitekturnya yang klasik seperti halnya masjid-masjid tua lainnya menjadi ciri khas yang msih trendy di kota ini.

kerangka masjid


Tidak ada yang istimewa masjid ini jika sekilas dilihat dari fisik dan gaya arsitekturnya, luasnya hanya berkisar 231 M persegi dengan 22 tiang kokoh yang berbalut kapur putih di bagian serambi luarnya, dan 115 M persegi di bagian dalamnya.Temboknya juga berwarna putih,bahkan ada sebagian yang sudah lusuh termakan usia.


Serambinya tidak beratap, hanya berpagar tembok yang tidak begitu tinggi yang berbordir celah-celah kecil di bagian atasnya. Di situ juga terdapat dua jendela kaca di bagian depan sebelah kanan. Masjid ini memiliki dua pintu utama dari kayu tebal berwarna coklat tua tanpa ukiran, mirip pintu-pintu masjid klasik lainnya yang ada di Hadhramaut. Tepatnya dari sebelah timur dan utara yang keduanya menuju serambi masjid. Ada juga pintu dari sebelah kiri yang tidak langsung menuju masjid, tapi harus  melewati toilet dan tempat wudhu’.

Dari serambi masjid akan kita dapati empat pintu yang menuju bagian dalam, tapi yang biasa digunakan hanya dua, di antara dua pintu itu ada mihrab kedua selain yang digunakan di bagian dalam, biasanya digunakan untuk shlata berjamaah oleh orang-orang yang tertinggal jamaah pertama. Bagian dalam masjid juga nampak sederhana, terdapat 12 tiang besar di sela-selanya sebagai pondasi masjid, dan tiga jendela di sebelah kanan sekedar untuk ventilasi udara dan sisnar mathari. Di bagian dalam ini hanya terdapat 3 shaf yang mampu menampung kurang lebih 40 jamaah. Dulunya bangunan asli masjid ini adalah serambi luar, sementara bagian dalam ini ditambahkakn pada saat renovasi masjid.

Dari sebelah kanan ada pintu yang mengarah ke kamar mandi, ada enam kamar mandi yang baknya berbentuk seperti kolam, untuk buang air kecil dan mandi saat musim panas, di sebelah timurnya enpat kran untuk berwudhu’. Sementara toilet untuk buang air besar dibangun terpisah di luar masjid sebelah selatan. 

Sejarah pembangunan

Menurut berbagai sumber, masjid ini dipercaya dibangun pada tahun 40 H. oleh seorang Tabi’in Ahmad bin ‘Abbad bin Bisy al-Anshori RA. Ayahnya Abbad bin Bisyr adalah salah seorang shahabat yang ikut berhijrah bersama Rasulullah SAW. ke Madinah. Beliau dikirim ke daerah Lisk (-+12 KM. dari Tarim) di Hadhramaut oleh Khalifah Abubakar as-Shiddiq RA. Untuk memungut zakat dan berdakwah, dan memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat. Di saat melakukan tugas mulianya tersebut  beliau akhirnya terbunuh. Setelah kematian ayahnya beliau berhijrah ke Tarim dan mendirikan masjid ini, namun kala itu masih belum memiliki nama. Koonon masjid ini adalah masjid yang pertama berdiri di bumi Tarim, meski juga ada yang membentah, namun berdasarkan sumber yang kuat masjid inilah yang pertama kali berdiri. Konon masjid ini telah mengalami tujuh kali renovasi, dan yang terakhir berlangsung satu abad yang lalu.

Semenjak Ahmad bin Abbad bin Bisyr pindah dan mendirikakan masjid di Tarim, masyarakat sekitar menjadikannya tokoh panutan dan menyerahkan segala urusan keagamaan kepada beliau, sebagaimana maklum masyarakat Tarim yang berhati lembut sangat menghormati para ulama, terlebih seorang Tabi’in putra seorang shahabat. Mereka juga patuh pada kebijakan khalifah apapun keputusan yang ditetapkan, sehingga memperoleh tiga doa istimewa dari sang khalfiah Abu Bakar ash-Siddiq RA.

Begitupun setelah beliau wafat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh anak-cucu beliau.  Hal ini berlanjut hingga kedatangan Imam al-Muhajr ke bumi Hadhramaut. Semenjak para Sadah Ba’alawi berhijrah ke Tarim pada abad ke empat Hijriah keluarga ini menyerahkan segala urusan keagamaan kepada mereka karena sikap Ta’zhim dan cinta Ahlul Bait yang tertanam pada diri mereka. Mereka sangat menghormati dan menjaga adab kepada para sadah Alawiyyin. Meski begitu para Sadah tetap menyerahkan urusan minbar kepada keluarga ini, oleh karena itu keluarga ini dikenal dengan marga al-Khatib (Ahli Khutbah), karena semua urusan minbar di kebanyakan masjid di Tarim keluarga ini yang ditunjuk sebagai Khatib.

Penamaan masjid

Di awal pembangunan masjid ini belum memiliki nama, entah sebenarnya ada atau tidak sejarah tidak mencatat nama masjid ini selain dengan sebutan masjid Wa’al. Mungkin karena waktu pertama kali dibangun masjid ini dulu satu-satunya masjid yang ada di Tarim.

Nama Wa’al sendiri berawal dari kisah tokoh dari marga al-Khathib yang mengurus masjid ini menggantikan pendahulunya, yaitu Syaikh Ali bin Muhammad al-Khathib, yang dikenal dengan kealiman, kewalian dan karomahnya yang agung, beliau hidup pada masa al-Faqih al-Muqaddam (abad Keenam H). Dikisahkan pada saat hari raya ketika beliau hendak berangkat ke masjid sebagai khathib, istrinya mengomel kepada beliau:

“Bagaimana bisa kamu meninggalkan keluargamu kelaparan tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, kami ingin makanan. Kami ingin turut merasakan hari raya”
“Kalau begitu biarkan pintu rumah terbuka, siapa tahu dzat yang maha dermawan sang maha pemberi akan memberi kita rejeki”. Jawab beliau singkat seraya meninggalkan istrinya. Istrinya hanya menuruti perintah sang wali.

Setelah selesai malaksanakan shalat Eid beliau mendapati di dalam rumahnya ada sudah ada sekor kambing hutan yang datang dari gunung dengan sukarela. Pada saat itu Tarim masih hutan, masih sedikit ditemukan perumahan. Dipotonglah kambing hutan tersebut dan disantap bersama keluarga kecilnya sebagai hidangan hari raya. Konon menurut cerita salah satu ulama salaf, al-Habib Ali bin Muhammad al-habsyi setelah selesai dikumpulkanlah sisa tulang-belulang dan kulitnya, lalu beliau berkata:

“Bangkitlah dengan idzin Allah, kami sudah selesai dengan hajat kami”, tiba-tiba bangkitlah tumpukan tulang-belulang tersebut menjadi seekor kambing hutan utuh lalu kembali ke gunung. Semenjak  saat itu masjid ini dikenal dengan sebutan “Masjid Wa’al” (Kambing Hutan).

Keistimewaan Masjid

Karena usianya yang begitu tua masjd ini tentunya sudah tidak terhitung berapa banyak para wali dan orang-orang shaleh yang sudah shalat di masjid ini, oleh karenanya tidaklah aneh jika masjid ini banyak memiliki Sirr dari mereka. Bahkan arwah-arwah mereka tidak berpisah dari masjid ini. Banyak cerita dari orang-orang shaleh kalau Nabi Khidhir tidak pernah absen sholat di masjid ini. Konon menurut Ahli Kasyaf (orang yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. bisa melihat rahasia-rahasia) Nabi khidhir AS. setiap hari – terutama di waktu antara Zhuhur dan Ashar – melakukan shalat di dekat tiang sebelah utara serambi luar hingga saat ini tempat itu ditandai dengan sajadah.

Tidak sedikit pula dari mereka yang melihat Rasulullah SAW. di masjid ini dalam keadaan terjaga. Banyak dari mereka yang melihat beliau berada di mihrab luar. Diataranya lagi tidak ada yang berani bermalam sendirian di masjid ini karena dikenal dengan Sirrnya yang begitu kuat, konon bisa menyebabkan kegilaan bagi orang yang tidak mampu melihat Sirr tersebut. Karena pada malam hari Sirr-sirr tersebut akan lebih Nampak.

Seperti yang dialami sendiri oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin umar al-Khathib, imam sekaligus Takmir masjid saat ini yang meneruskun leluhurnya. Beliau sudah ratusan kali melihat hal-hal aneh di masjid ini dengan kasat mata, termasuk juga putra beliau di waktu belum baligh, ketika hendak melakukan shalat malam di masjid ini, beliau melihat sosok manusia yang begitu tinggi sampai melampau tiang masjid, sedang sholat di serambi masjid. Beliau lalu menyapanya, “Apakah anda manusia atau jin?”. Namun makhluk itu tidak bergeming sama sekali. Begitulah, banyak kejadian-kejadian aneh di masjid ini.

Dulu masjid ini menjadi tempat sholat favorit para sadah Alawiyyin. Para salaf juga memadati masjid ini saat bulan puasa untuk takjil karena kehalalan kurma yang dihasilkan dari tanah waqof masjid ini yang sama sekali tidak bercampur Syubhat.

Termasuk diantaranya Habib Alwi, Habib Muhammad dan Habib Abdullah bin Syihab yang ketiganya mendapat gelar Qalbu Tarim sering sholat di masjid ini.

Ala kulli Hal. Masjid ini banyak memiliki keistimewaan dan Sir yang begitu kuat karena jejak para ulama’, Auliya’ dan shalihin yang dulu bermunajat dan bersimpuh kepada sang Rabb mengangisi umat Muhammad SAW. di masjid ini, jejak itu bahkan masih terasa hingga saat ini, begitu juga kebanyakan masjid tua di kota Tarim.

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali

Masjid Ba’alawi; Singgahan Favorit Para Wali
Oleh: Muhammad Rofiqul Firdausi al-Waadi al-Maduri, Mahasiswa tingkat dua Universitas Al-Ahgaff Syari’ah wal-Qanun, Tarim, Yaman*
Di balik hiruk-pikuk jantung kota Tarim, berjejer tempat-tempat ibadah umat Islam yang tak kalah melimpahnya dengan toko-toko dan kios-kos masyarakat yang mengais rezeki yang bertebaran di mana-mana. Umumnya masjid-masjid itu sudah dibangun sejak berabad-abad silam, dan masing-masing memiliki sejarah dan peran penting dalam membentuk karekter ikhlas dan para figur dai’ yang tersebar ke seantero dunia, termasuk diantaranya Indonesia.
            Ya, siapa yang tak mengenal kota Tarim. Kota di mana nenek moyang para Wali Songo berasal, kota yang punya ikon Ilmu amal dan akhlak, kota di mana bersemayam ribuan wali Allah yang tidak mengenal urusan dunia dan tak begitu peduli selain terhadap ibadah belajar dan dakwah.
Karena pada diri masyarakatnya sejak dulu sudah tertanam prinsip mulia tersebut, tak mengherankan jika masjid-masjid tak sanggup menampung mereka untuk shalat dan acara-acara belajar-mengajar, maka didirikanlah masjid-masjid yang menfasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut. Termasuk kegiatan rutin maulid dan lainnya yang sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim. Masjid-masjid itu tak lain dari sumbangsih para ulama dan dermawan dan yang berlomba-lomba menyumbangkan harta dan mewakafkan tanah mereka sebagai tabungan akherat. Mereka lebih mengutamakan keuntungan akherat daripada kesenangan dunia yang semu.
Masjid Ba’alawi
Tidak jauh dari pasar tradisioanal kota tarim, berdiri kokoh masjid yang disegani oleh seluruh penduduk lokal maupun non lokal; Masjid Ba’Alawi. Bukan karena kemegahannya tapi karena sejarah dan bekas tempat di mana para ulama’ dan wali-wali agung bersimpuh, menyentuhkan dahi meraka di tanah itu, mengadu dan bermesra-ria dengan sang pencipta. Bekas-bekas itu masih terasa sampai saat ini. Arsitektur bangunannya yang klasik dan sederhana seakan menambah kewibawaan masjid ini seperti kebanyakan masjid-masjid kota Tarim lainnya yang hanya berstruktur tanah liat dan air sebagaimana ciri khas kota tarim. Meski begitu masjid-masjid di kota ini tetap kokoh berabad-abad usianya.
Fisik masjid
Secara kasat mata tak ada yang istimewa dari masjid ini, dilihat dari arsitekturnya masjid yang berdiameter kurang lebih lima puluh meter persegi, dan ketinggian sekitar empat meter ini jauh lebih megah dan menarik daripada kebanyakan masjid di negara kita kita. Dari arah timur tampak menaranya yang mungil ala klasik dan tiga pintu. Satu pintu menuju ruang utama masjid, dua pintu menuju ruang istirahat, tiga pintu di utara dan barat (satu pintu menuju kamar mandi, dan dua pintu menuju ruang istirahat), dan dua pintu dari arah selatan yang keduanya menuju ruang istirahat.
Bagian dalam masjid
Di bagian dalamnya terdapat tiga ruangan, ruang kanan sisi utara sebelah barat terdapat kamar mandi untuk wudhu’ dan buang air kecil, (untuk toilet ada di sebelah utara masjid dibangun terpisah). Di sebelah timurnya terdapat emperan dalam, dan di sebelah kiri ruang tengah akan kita jumpai emperan luas tempat menginap para tamu Allah SWT untuk beristirahat.
Sedangkan ruang tengah terbagi dua, bagian dalam dan luar, Di bagian luar ruang tengah inilah biasanya shalat berjamaah dilaksanakan. Ruang inti bagian dalam hanya dipakai ketika acara-acara besar. Meski begitu tetap diperkenankan bagi siapa saja yang ingin beriktikaf dan membaca al-quran. Di bagian dalam ini ada tempat-tempat yang sering di duduki para pembesar habaib hingga bagian tersebut terkenal dengan nama para habaib yang biasa menempatinya, di antaranya:
  1. Bagian depan pojok kiri
Dikenal dengan tempat mustajabnya doa. Bagian tersebut dulunya adalah tempat shalat Sayyidina al-Faqihil Muqoddam. Bahkan sampai sekarang banyak orang yang antri bergantian untuk sholat ditempat tersebut karena ingin mengambil barokah
  1. Tiang Ma’surah (berbentuk spiral)
Yaitu tempat bersandarnya al-Faqihil Muqoddam. Bisa juga disebut tiang plintir karena seperti baju yang melintir karena di putar. Konon asal mula tiang tersebut dulu ketika Syekh Umar Muhdhor merobohkan Masjid Ba’alawi, beliau ingin membuat tiang yang di sandari Faqihil Muqoddam dengan corak yang berbeda, tapi beliau ragu sehingga di tunda pembuatannya. Esoknya ketika beliau ke masjid ternyata tiang bangunan tersebut sudah berbentuk melintir seperti spiral, konon karena pada malam harinya tiang tersebut dikelilingi oleh para malaikat sehingga melintir sampai sekarang.
  1. Pintu Khidir
Di dekat tiang ma’suroh ada pintu yang terkenal dengan pintu Nabi Khidir AS. karena seringnya orang sholeh melihat Nabi Khidir AS. lewat pintu di tersebut, terutama pada waktu Ashar hari Jum’at, hingga banyak yang mengatakan :
“Jika ingin bertemu Nabi Khidir tunggu di pintu tersebut, yang pertama kali keluar setelah Sholat Ashar di hari Jum’at itulah Nabi Khidir”. Wallahu A’lam.
  1. Kayu di Shof belakang
Di shof paling belakang tepatnya di bagian tengah ada kayu yang tingginya kurang lebih 35 cm yang tak lain merupakan tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Idrus ketika menjadi pemimpin para Habaib Ba’alawi (Naqib Sadah al-Ba’alawi).
  1. Batu di dinding dekat menara
Dulunya adalah tempat duduknya al-Habib Abdullah al-Haddad Shohiburrotib (penyusun Ratibul Haddad), beliau duduk di belakang karena beradab dengan orang-orang yang lebih tua yang berada di masjid tersebut.
Pembangunan
            Menurut sejarah masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh marga Sadah Ba ‘Alawi, salah satu marga  Ahli Bait. Didirikan oleh Imam Agung Sayyid ‘Ali bin ‘Alwi Khali’ Qasam, cicit al-Imam Al-Muhajir yang besambung kepada Sayyidina Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatihimah binti Rasulullah SAW. pada tahun529 H. Dengan bahan material yang berkualitas karena diambil dari sebuah desa tempat kakek al-Habib Ali Kholiq Qosam yaitu desa Bait Juber, tak lain karena tanah di desa Bait Juber berwarna merah, sangat kuat dan bagus sekali untuk bahan bangunan di banding tanah di daerah lain. Tanah dari desa Bait Juber ini di angkut dengan dokar (pada saat itu adalah alat paling canggih dan moderen untuk mengangkut barang) karena letaknya kira-kira 13 km dari kota Tarim.
Renovasi
Masjid ini mengalami dua kali renovasi. Pertama; di masa putra al-Habib Ali Kholi’ Qosam yaitu al-Habib Muhammad Shohibul Mirbat, beliau semakin menyempurnakan bangunan dan merpercantik masjid yang dibangun oleh ayah beliau sebelum beliau berpindah ke daerah Dhofar (Oman).
Yang kedua: oleh al-Habib Umar Muhdhor yaitu bangunan yang ada sampai zaman sekarang ini. Al-Habib Umar Muhdhor membangun Masjid Ba’alawi di awal abad ke 9 Hijriyah setelah beliau menjadi Naqib Sadah al-Ba’alawi (ketua marga Ba ‘Alawi) pada tahun 821H. Inisiatif dari Habib Umar Muhdhor ini disebabkan melihat keadaan masjid yang tidak layak lagi karena sudah tua termakan usia dan hampir roboh, dikarenakan telah berdiri sejak 300 tahun yang lalu (bila di hitung dari zaman Habib Umar Muhdhor), maka beliau mengumpulkan para pembesar habaib untuk bermusyawaroh tentang pembangunan masjid tersebut, namun mereka tidak menyetujui.
Meski demikian, dengan melihat kemaslahatan yang lebih besar Habib Umar Muhdhor akhirnya nekat dan memanggil tukang dari daerah Mahro (daerah dekat ibu kota Shan’a) yang terkenal dengan tukang-tukang handal untuk merobohkan Masjid Ba’alawi. Ketika hari Jum’at di saat para habaib berangkat Sholat Jum’at di Masjid Jami’ Tarim (tidak semua masjid di tarim digunakan untuk shalat Jumat, dulu penduduk Tarem kalau Sholat Jum’at jam 8 pagi sudah ada di masjid Jami’ dan pulang kira-kira jam dua siang, karena setelah sholat mereka masih berdzikir, membaca al-Qur’an dan sholawat) dan ketika mereka pulang dari masjid mereka temukan masjid Ba’alawi telah roboh dan rata dengan tanah kecuali tembok bagian depan masjid dan mihrab pengimaman, pada akhirnya mereka pasrah dengan keputusan beliau.
Setelah menyelesaikan pembangunan al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman as-Seggaf naik ke loteng masjid dengan mengangkat kaki kanannya lalu meletakkannya, mengangkat kaki satunya dan meletakkannya kembali. Beliau melakukan ini beberapa kali. Menurut sebagian habaib hal tersebut adalah gerakan kaki yang dilestarikan hingga saat ini dan sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim, yaitu ” ar-Rozih ” tarian kaki yang diiringi senanandung syair berisi pujian dan doa ). Dengan  rasa gembira yang di penuhi doa pada Allah SWT. al-Habib Umar Muhdhor berkata seraya  menghentakkan tongkatnya :
هذا بناي إلى يوم القيامة معاد با يتغير إن شاء الله
Insya Allah bagunanku ini tidak akan pernah berubah dan akan tetap kokoh sampai hari kiamat.
Perluasan masjid
Masjid Ba’alawi mengalami beberapa kali perluasan tanpa merubah substansi dasar bangunan yang telah direnovasai oleh Habib Umar Muhdhor. Diantaranya oleh al-Habib Alwi as-Tsamin bin Abu Bakar al-Khered pada bagian pintu masuknya. Beliau juga menambahkan sebuah menara yang tak begitu tinggi, hanya berukurang sekitar lima meter. Begitu juga al-Habib Ahmad Bajahdab. Beliau menambahkan sebuah tempat untuk belajar mengajar di samping kanan masjid.
Diantara kelebihan masjid Ba ‘Alawi
Hingga saat ini, khusunya pada hari Jumat sore waktu sholat Ashar banyak sekali yang hadir untuk sholat di masjid ini meskipun dalam keadaan sakit mereka tetap berusaha menyempatkan diri sholat Ashar berjamaah di Masjid Ba’alawi. Sampai disebutkan dulu orang-orang yang sakit biasanya mengendarai keladainya menuju Masjid Ba’alawi demi ikut shalat Ashar berjamaah di sana, hingga konon keledai yang ada di luar Masjid Ba’alawi mencapai 80 ekor, karena kehadiran Nabi Khidhir AS. di waktu itu.
Para pendahulu sampai sekarang sangat menjaga adab di Masjid Ba’alawi, bahkan mereka tidak berani memakai habwa (sejenis ikat pinggang yang biasanya dipakai sebagai penahan lutut saat duduk) dan juga menselonjorkan kaki. Masjid Ba’alawi juga sangat terjaga dari perkara khilafiyah (perselisihan ulama’), bahkan dari lintas madzhab sekalipun, mereka sangat menjaga dari melakukan suatu hal yang masih diperselisihkan kebolehannya, bahkan kesunahannya, seperti Shalat Sunnah qabliyah Maghrib, potret-memotret dan rekaman video. Oleh karenanya tak pernah kita jumpai gambar atau foto Masjid ini dari bagian dalam, karena para ulama masih berselisih tentang hukum kamera, hal ini tak lain demi menghomati dan menghargai para pengikut seluruh Madzhab diantara keempat Madzhab.
Ketika malam hari Masjid Ba’alawi sangat makmur, banyak orang datang untuk menghidupkan malam dengan tahajud dan membaca al-Quran. Al-Habib Alwi bin Syihab berkata:
” Lampu di Masjid Ba’alawi tidak di matikan ketika malam hari karena banyaknya orang yang ibadah “. Bahkan para imam-imam Masjid di kota Tarim berangkat ke Masjid Ba’alawi , dan ketika menjelang subuh mereka kembali ke masjid mereka masing-masing. Para jamaah duduk sampai waktu terbitnya matahari, ketika jama’ah sholat subuh pulang, di luar masjid sudah banyak yang antri untuk masuk masjid, begitu juga ketika waktu Dhuha tiba kira kira jam 8 sampai jam 10,  tempat wudu’ masih penuh karena antri untuk melaksanakan Sholat Dhuha.
Tak sedikit yang mendapatkan Sirr (pangkat kewalian) orang Sholeh di masjid ini. Diantaranya Al-Habib Abdullah al-Haddad mendapat maqom al-Habib Abdullah al-Idrus di Masjid Ba’alawi. Bahkan ada seorang habaib mendapatkan “hal” (derajat) para wali di Masjid Ba’alawi lalu ia berkata : “Ya Allah ikutkan teman-temanku yang ada di masjid ini sehingga mereka keluar dari masjid semuanya menjadi wali.”
Konklusi
Segala hal dan suasana yang ada di masjid ini betul-betul membawa kita seolah berada di masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW. Karena suasananya yang hening dan tenang, tak pernah terdengar sekalipun suara obrolan seputar dunia. Tak salah bila salah seorang Arifin mengapresiasi masjid ini: “Aku pernah bermukim di Makkah al-Mukarromah, dan aku menemkan kenyamanan dan ketentraman yang luar biasa serta suasana yang begitu menggugah jiwa. Ketika aku sampai di Tarim dan singgah di masjid Ba ‘alawi, aku dapati ketentraman dan kenyamanan yang seperti itu, begitupula aku mendapatinya di Masjid Syekh Umar Muhdhor, dan Masjid Muhammad Hasan Jamal al-Lail”.
‘Ala Kulli Hal, masih banyak keindahan dan keistimewaan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mengunjunginya. Begitu sulit menguraikannya, apalagi hanya sebatas  ungkapan tulisan. Semua ini tak lepas dari karunia Allah yang dianugrahkan pada masjid ini, yang jarang kita dapati di masjid lain, dengan menjadikannya tempat faforit para Wali-Nya.
Cukuplah kiranya gambaran kecilnya dengan untaian Sya’ir Habib ‘abdullah bin Syihab Rahimahullah:
Mereka adalah para kaum yang dikala malam membentangkan tirainya
menyingkirkan selimut mereka
dan tidak tertipu dengan kenikmatan dan kemegahan tempat tidurnya
Tetapi rindu dengan kehangatan tiang-tiang masjid sebagi tempat untuk bersimpuh dengan bersujud pada Sang Pencipta
melantunkan al-Qur’an dengan penghayatan menjadi irama yang indah
ditengah keheningan malam yang gulita memenuhi seruan Sang Pencipta.
Di masjid Bani Zahro terdapat sirr yang begitu agung
karena telah di pijak oleh kaki Sayyidina Al-Faqihil Muqoddam
begitu kuberharap dikala bersujud di masjid itu
tubuhku menyentuh bagian yang telah mereka duduki
hingga aku mendapat keagungan berkat mereka
Betapa banyak kaki-kaki mulia telah memijakinya
Orang-orang mulia shaleh dan terkemuka
malam harinya bersimpuh berderaian air mata
di tempat sujudnya
betapa banyak hamba yang singgah
mereka adalah pewaris serta penerus Sang Nabi SAW.
Ahad 03/08/1438 H. | 30/04/2017 M.
Sekilas Tentang Kejurnalistikan

1.   Pentingnya Menulis
  • Tampil di era digital mendominasi bentuk tulisan
  •  Dengan tulisan, penulis menjadi guru di berbagai penjuru
  • Menulis adalah bekerja untuk keabadian
  •  Tulisan adalah senjata
  • Meningkatkan daya kritis dan kejelian berfikir 
  • Pemegang senjata musti disegani
2.   Pengertian Jurnalisme
Arti jurnalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar dan sebagainya. Hal-hal yang berkaitan dengan jurnalisme dikatakan jurnalistik.
3.   Pengertian Reportase dan Berita
Reportase dalam KBBI memiliki dua arti, pertama: pemberitaan, pelaporan, kedua: laporan kejadian.
Sedangkan berita adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta yang menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa.
Sebuah berita yang baik ialah berita yang memiliki nilai, dicirikan antara lain:
1. Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
2. Berita itu tidak biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum, menarik.
3. Aktual: terbaru, belum “basi”.
4. Informatif.
5. Berdampak luas.
6. Sesuai fakta tanpa opini.
7. Penting: pengaruh bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
 8. Tulisan tidak terlalu panjang dan bertele-tele. 
 

A.Unsur Berita

    5 W + 1 H
                (1) What – Apa yang terjadi dalam suatu peristiwa?
                (2) Who – siapa yang terlibat di dalamnya?
                (3) Where – di mana terjadinya peristiwa itu?
                (4) When – kapan terjadi, pukul berapa dimulai dan berakhir.
                (5) Why – mengapa peristiwa itu terjadi?
                (6) How – bagaimana terjadinya?
    B. Pendekatan dalam reportase
    – Wawancara narasumber.
    – Observasi ke lapangan
    – Riset dokumentasi, baik melalui buku, majalah maupun media online.
    C. Langkah Sebelum Menulis Reportase atau Berita
    – Hadir langsung saat peristiwa
    – Analisis kejadian
    – Jika kegiatan berupa seminar ilmiah maka pahami dulu tema yang akan dikaji
    – Siapkan alat perekam
    – Jeli pada poin yang disampaikan narasumber
    D. Langkah awal menulis reportase
    1. Membuat judul singkat, padat dan menarik.
    2. Mengumpulkan data 5W 1H.
    3. Membuat kerangka berita.
    4. Memformat dan membentuk tulisan.
    – Biasanya paragraf awal dan terakhir dituliskan hasil dari 5W
    – Isi berita memaparkan 1H
    – Menyuplik perkataan narasumber. 
    Jika cuplikan secara tekstual maka setiap kata yang ditulis harus sesuai dengan apa yang diucapkan narasumber, tanpa tambahan, pengurangan maupun perubahan. Boleh juga menyuplik secara tidak tekstual namun harus sesuai dengan maksud narasumber, dan cuplikan tersebut menjadi tanggung jawab penulis.
    4.   Tips menulis reportase dengan baik
    A. Perhatikan kaidah EYD/PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia)
    salah satu faktor yang memengaruhi kualitas sebuah tulisan adalah kerapian dan kesesuaian tulisan pada kaidah-kaidah yang telah diatur dalam PUEBI. Berikut beberapa aturan singkat sesuai PUEBI yang banyak dijumpai di sebuah tulisan. 
    (a). Huruf kapital.
    Huruf kapital atau huruf besar dipakai untuk:
    – Huruf pertama kata pada awal kalimat.
    – Huruf pertama pada sebuah nama orang, nama tahun, bulan, hari, dan nama wilayah geografis. Huruf kapital tidak dipakai untuk kata bin pada nama orang. Misalnya: Abdullah bin Muhammad.
    – Huruf pertama semua kata di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti, di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
    – Huruf pertama unsur singkatan nama gelar dan pangkat. Misalnya: B.Sc. bachelor of science, S.Pd. sarjana pendidikan.
    (b). Titik-koma
    Tanda titik dipakai pada akhir sebuah kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya: Ayahku tinggal di Surabaya.
    Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian. Misalnya: Saya membeli buku, pena dan tinta. Juga dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimatnya jika anak kalimat mendahulu induk kalimat. Misalnya: Kalau ada undangan, saya akan datang.
    Penulisan titik dan koma tidak boleh dipisahkan spasi dari kata sebelumnya, dan harus diberi spasi untuk kata setelahnya.
    (c). Penulisan kata depan di, ke dan dari.
    Kata depan di yang digunakan pada kata tempat dan waktu berbeda dengan kata di yang digunakan untuk kata pasif. Penggunaan kata di untuk kata tempat dan waktu harus dipisah dengan spasi, karena di tersebut adalah kata tersendiri. Lain halnya dengan di dalam kata pasif, maka harus digandeng dengan kata kerja tersebut.
    Contoh: Zaid dipukul oleh Amar di Masjid.
    Kata depan ke dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepadadan daripada.
    Contoh: Zaid berangkat ke Bandung pagi tadi.
    B. Tidak sembarang menyingkat kata.
    Dalam tulisan resmi atau artikel, penulis tidak diperkenankan menyingkat kata dengan sembarangan. Setiap kata harus ditulis dengan ejaan yang sempurna. Misalnya: Zaid adalah tmnku yg baik. 
    C. Atur panjang paragraf.
    Salah satu hal yang membuat tulisan mempunyai nilai adalah kerapian tulisan dengan panjang tiap paragraf yang selaras dan teratur. Sebagian penulis ada yang membatasi tulisan di setiap paragrafnya dengan berapa puluh kata, sekian baris dan sebagainya.
    D. Atur panjang setiap kalimat.
    Membaca itu seperti maraton. Yang mengatur kecepatan lari dan nafas dalah penulis. Maka sebagai penulis, kita musti atur panjang lintasan dan ritme bacaan. Beri kesempatan pembaca untuk mengatur nafasnya. Sebuah kalimat yang terlalu panjang, atau dengan peletakan titik-koma yang tidak beraturan, akan membuat para pembaca merasa cepat letih, bosan dan ngos-ngosan.
    E. Atur jalannya alur tulisan.
    Agar tulisan berasa mengalir, perlu disajikan dengan alur yang rapi dan runtut. Hal ini bisa diatur sejak penyusunan kerangka tulisan, atau dengan mengulang-ulang kembali membaca tulisan sebelum dipublikasikan.
    F. Tidak banyak mengulang diksi kata yang sama.
    Salah satu hal yang mengurangi kualitas tulisan adalah banyaknya satu diksi kata yang terulang dengan jarak yang berdekatan. Maka, usahakan dalam satu paragraf singkat tidak terjadi satu diksi yang terulang. Perbanyak perbendaharaan kata yang sinonim untuk modal tulisan Anda. Seperti kata adalah, ialah, merupakan, yaitu, yakni dsb. Ketika, saat, pas, sedangkan, sementara dll.
    5. Apa yang harus diperhatikan seorang reporter
    1. Sering baca reportase atau tulisan orang lain.
    2. Kembangkan kualitas baca.
    3. Serap kosakata saat membaca.
    4. Biasakan buka KBBI.
    5. Belajar gaya kepenulisan.
    6. Fahami alur fikir penulis sebuah tulisan.
    7. Belajar cara menyetir pembaca.
    8. Patuhi kode etik jurnalistik.
    9. Gunakan bahasa penyampaian yang sopan.
    6. Contoh Reportase
    Seminar Ilmiah Fikih Kontemporer Angkat Tema Virus HIV/AIDS
    Tarim – Kamis malam (9/3) seminar ilmiah seputar fikih kontemporer digelar di Auditorium Universitas Al-Ahgaff Tarim Yaman. Acara ini digelar atas kerjasama pengurus PPI Hadhramaut-Yaman, PCI NU Yaman, FMI Yaman dan Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Al-Ahgaff. 
    Dua dosen senior Al-Ahgaff hadir mengisi seminar kali ini, Sayyid Dr. Mosthafa bin Smith sebagai narasumber utama, dan Sayyid Dr. Mohammad bin Abdul Qader Al-Aydrus yang juga merupakan Direktur Institut Ilmu Hadits Darul Ghuraba Tarim sebagai narasumber kedua sekaligus pembanding.
    Seminar ini fokus membahas bagaimana sikap seorang ulama fikih mampu menghadapi permasalahan kontemporer yang belum pernah terjadi dan tidak tertulis di kitab-kitab ulama terdahulu. Dalam hal ini, Dr. Mohammad Alaydrus menekankan bahwa seorang ulama seharusnya mampu mengkaji hal-hal baru yang terjadi di masanya, tidak hanya mengeluarkan fatwa halal dan haram, namun juga memberikan sebuah solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
    Sebagai penunjang, disajikan pula sebuah makalah ilmiah berjudul “Faskh an-Nikah bi Fairus al-Aidiz” karya riset narasumber utama Sayyid Dr. Mosthafa bin Smith. Dalam makalah itu, Dr. Mosthafa memaparkan kajian jikalau salah satu dari pasangan suami istri dinyatakan positif mengidap virus HIV/AIDS apakah pasangannya mempunyai hak khiyar untuk memutus akad nikahnya ataukah tidak.
    HIV merupakan sebuah virus berbahaya yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh hingga menyebabkan kondisi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yaitu lemahnya sindrom kekebalan tubuh. Sampai saat ini para ilmuwan belum berhasil menemukan obat yang dapat menyembuhkan pengidapnya secara total. 
    Virus ini oleh Dr. Mosthafa dianalogikan dengan penyakit Judzam (Lepra) dan Barosh (Kusta) dengan titik temu sama-sama virus atau penyakit berbahaya, dapat menular pada pasangan maupun anaknya, serta menjadi faktor terhalanginya hubungan suami istri.
    Dengan demikian, seorang suami atau istri yang dinyatakan positif berpenyakit HIV/AIDS atau baru mengidap virus HIV belum sampai tahap sindrom AIDS, maka pasangannya mempunyai khiyar dan berhak untuk memutus hubungan pernikahan, bahkan jika ia yakin akan tertular maka haram baginya berhubungan badan.
    Seminar ilmiah kali ini berjalan penuh antusias dari ratusan peserta yang terdiri dari para mahasiswa Al-Ahgaff dari berbagai negara, juga para pelajar lain dari luar Al-Ahgaff. Acara dimulai pukul 20.30 sampai 23.30 KSA dan ditutup dengan sesi doa serta penyerahan sertifikat penghargaan kepada kedua narasumber yang diserahkan oleh Taufan Azhari selaku ketua PPI Hadhramaut-Yaman. (Azro)
    Limitasi Pemikiran Ijtihad Dalam Ranah Islam

    Oleh : Musthofa Al Muhdhor

    Prolog.
    Agama Islam menyerukan pemeluknya untuk senantiasa bertafakkur tentang segala ciptaan Allah SWT supaya dapat menghantarkan mereka kepada derajat keimanan yang kuat. Dalam hal berpikir, Islam juga memberikan kebebasan; alasannya ialah supaya seseorang dapat menemukan hingga membedakan mana yang benar dan mana yang salah, baik dan buruk, haq dan bathil, sehingga seseorang bisa menjalani kehidupan sesuai dengan fitrahnya yang sejati, serta sejalan dengan kodratnya sebagai ciptaan Allah.

    Jenis pemikiran jelas beragam dan berbeda-beda. Ada yang disebut “pemikiran politik”, ada juga jenis “pemikiran sosial” dan juga ada yang dinamakan “pemikiran agama” (dalam konteksnya kali ini yaitu Islam). “Pemikiran agama” inilah yang akan menjadi objek utama ulasan yang bersama akan kita bahas apa-apa yang ada di dalamnya.

    Sebagai mana yang dikatakan DR. Amjad Rhosid dalam mendefinisikan pemikiran Islami, : pemikiran Islami tidak lain ialah kumpulan hukum-hukum akidah/aqodiyah dan fiqh/fiqhiyyah yang telah ditetapkan teks-teks (An Nusush) syariat, maupun pengambilan hukum tersebut secara nash (teks) atau istinbath (penggalian hukum) yang melalui jalan para imam-imam mujtahid. Jelasnya dengan dhowabith (batasan-batasan) istidlal (pencarian dalil) dan istinbath (penggalian hukum) yang telah lumrah didalam bidang ilmu usuluddin dan usul fiqh. Maka pemikiran yang keluar dari standar dua bidang ilmu tadi, tidaklah bisa dikatakan dari pemikiran islam. Walau dengan segala upaya apapun seorang pemikir tersebut membungkus pemikirannya dengan baju dan bungkus syariat Islam. Itulah yang disebut akar kesesatan.

    Dhowabit/batasan-batasan dalam pemikiran Islam atau lebih tepatnya pemikiran ijtihad di dalam Islam adalah sebuah pembahasan yang sangat esensial dan krusial untuk digali, terlebih disampaikan isinya untuk golongan pelajar ataupun awam sekalipun. Dari judul makalah ini yang telah kita baca, ada maksud dari kata “pemikiran” setelah diterjemahkan ke arti yang lebih khusus; yaitu “pendapat/ro’yun” yang digagas dalam ranah komando dan otoritas Islam.

    Sudah jelas pemikiran yang tidak dibawah kendali atau kontrol Islam tidaklah mungkin mengadopsi batasan-batasan yang diatur dalam pemikiran Islam. Dan sebaliknya, apabila pemikiran tersebut dibawah kekuasaan/sultah islam, maka wajib kembali kepada dhowabith pemikiran yang ditentukan dan diridhoi Islam. Apalah arti menisbatkan suatu pemikiran kepada Islam bila pada kenyataannya pemikiran tersebut justru mendobrak dan membongkar prinsip-prinsip dasar Islam?

    Seperti yang saya sebutkan tadi, sudah tidak asing lagi bagi seorang muslim bahwasannya Agama Islam, berkenaan dengan universalitas hukum-hukumnya, telah membuka pintu “berfikir” secara luas dan menyerukan – bahkan mewajibkan – kepada umatnya untuk mengetahui Sang Pencipta dan hakikat-hakikat Islam. Islam tidaklah mengekang akal-akal manusia untuk berfikir, namun, di samping itu semua Islam memberikan pagar-pagar di semua lini kehidupan secara umum dalam hal berfikir dan melangkah, yang tidak boleh sedikitpun dilewati. Itu semua karena satu hal yang memang tidak dapat dipungkiri; bahwa esensi manusia condong ingin memuaskan hawa nafsunya. Sehingga kecondongan tersebut dapat menjalar pada perbuatan zalim dan pelanggaran hak-hak yang bukan miliknya. Oleh karena adanya kecenderungan pada hal yang dapat memicu kerusakan, Islam memberi “pagar” yang dapat memberi tanda bagi manusia tentang batasan-batasan melangkah yang tidak boleh dilanggar.

    Makalah ini akan membahas secara parsial mengenai beberapa poin masalah. Pertama mengenai dhowabit/batasan-batasan pemikiran umum (semua jenis pemikiran). Kedua mengenai pembahasan mujtahid dan dowabit ijtihad didalam islam.

    Pembahasan.

    A. Batasan utama untuk semua ilmu dan pemikiran.
    Di zaman melenium ini, kian semarak seruan tentang “kebebasan berfikir” di semua bidang kehidupan. Terlebih di dalam pemikiran agama yang kian melenceng (menurut saya). Bisa jadi hal itu berasal dari faktor kacaunya keadaan umat saat ini, hingga menyebabkan pudarnya personalitas dan jati diri Islam di muka umum. Serta banyaknya fatwa-fatwa melenceng yang beterbangan di tengah masyarakat yang menjadikan wajah Islam kian tercoreng.

    Oleh karena itu saya kira penting untuk mengawali pembahasan ini dengan tiga dhowabit/batasan-batasan esensial, yang pada ketiganya harus terikat semua jenis pemikiran, yaitu :

    Pertama harus berkomitmen dan berpegang dengan kaidah-kaidah ilmu yang dibahas dan dipelajari dengan catatan yang ditentukan oleh para pakar di setiap bidang ilmu. Kemudian yang kedua harus berkomitmen sesuai adab ketika bersama lawan yang berbeda pendapat. Karena kebebasan dalam berpikir bukan berarti bebas untuk berbicara yang tidak layak. Terakhir yang ketiga adalah tidak melampaui yurisdiksi. Karena kebebasan dalam berpikir bukan berarti sama dengan keharusan terlaksananya pendapat pribadi, dan memaksa yang lain untuk mengikuti pendapatnya.

    Tiga batasan diatas bukanlah khusus untuk jenis pemikiran Islam, akan tetapi untuk semua yang berpendapat dalam suatu masalah atau lainnya. Pembahasan tersebut akan lebih dalam dan bercabang apabila kita memasuki kategori “pemikiran ijtihad islami”.

    B. Mujtahid dan dhowabit ijtihad

    i. Latar Belakang

    Ijtihad merupakan sebuah media elementer yang sangat besar peranannya dalam konstruksi hukum-hukum Islam (Fiqh). Tanpa peran ijtihad, mungkin saja konstruksi hukum Islam tidak akan pernah berdiri kokoh seperti sekarang ini dan ajaran Islam tidak akan mampu menjawab tantangan zaman dengan berbagai problematikanya. Dengan demikian, ijtihad adalah sebuah keniscayaan dalam Islam.

    Namun harus pula diakui bahwa ijtihad merupakan faktor utama pemicu perbedaan pendapat dan kontradiksi hukum antar ulama. Pertentangan yang selama ini berlangsung dikalangan fuqaha misalnya, adalah akibat perbedaan metodologi ijtihad yang mereka gunakan. Tapi justru dari situlah khazanah keilmuan Islam terlihat begitu kaya dan anggun di tengah polemik intelektual yang variatif dan semarak. Dan hal itu tidak perlu disesalkan, sebab perbedaan metodologi yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat mendapat legitimasi syariat.

    ii. Definisi
    Para ulama usul fiqh mendefinisikan seorang mujtahid, diantaranya Syaikhul Islam Zakariya Al Anshary didalam kitabnya Lubbul Usul. ialah : seorang yang baligh, aqil, mempunyai kemampuan dalam menggali hukum, faqihunnafsi (sangat memahami maksud-maksud dari perkataan),yang mengetahui dalil-dalil aqli (akal), menguasai standard ilmu-ilmu alat seperti nahwu, shorof, maaniy, dan bayan, mengetahui ilmu Usul Fiqh dan apa-apa yang berhubungan dengan hukum-hukum dari Al Qur’an dan Assunnah walaupun ia tidak hafal secara keseluruhan.

    Syaikhul Islam juga menambahkan kategori lainnya dalam seorang mujtahid : mengetahui ijma-ijma ulama terdahulu, mengetahui nasikh Mansukh, mengetahui sebab-sebab turun ayat, mengetahui khabar mutawatir dan aahad, mengetahui sahih sebuah hadis dan selainnya dari hasan dan dhaif,mengetahui derajat para perawi hadist .

    Barangsiapa yang terkumpul di dalam dirinya kategori di atas ia bisa disebut seorang mujtahid yang mempunyai keahlian dalam menggali dan meneliti hukum-hukum syariat. Bahkan wajib baginya berijtihad dan haram baginya bertaqlid (mengikuti) mujtahid lainnya, walaupun di dalam masalah ini terdapat khilaf ulama. Karena kewajibannya di dalam syariat ialah menggunakan pemikirannya di dalam nushus (teks-teks) dan adillah (dalil-dalil) untuk menggali hukum syariat,oleh karena itu ia dilarang untuk mendudukan dirinya di jajaran awam.

    Dan sebaliknya, barangsiiapa yang tidak memenuhi kategori mujtahid, haram baginya annadzar (meneliti) kepada dalil-dalil dalam segi istinbath (menggali hukum), karena apabila ia tetap menggalinya tanpa dibarengi kategori seorang mujtahid maka hasilnya fasid (rusak) dan tidak dianggap. Al Imam Syatibi mengatakan dalam kitabnya Al Muwafaqat yang membagi kategori ijtihad yang terjadi di dalam syariat7 : ijtihad yang terjadi di dalam syariat ada dua kategori, pertama : ijtihad yang diakui/mu’tabar secara syariat, ialah yang datang dan dibentuk dari ahlinya yang memenuhi syarat-syarat ijtihad. Yang kedua : ijitihad yang tidak diakui/mu’tabar,ialah yang datang dari bukan ahlinya dan tidak memenuhi syarat-syarat ijtihad. Karena pada hakikatnya ia hanya sebuah pendapat/ro’yun yang dilapisi dengan hawa nafsu dan maksud tertentu serta membuta di dalam tujuan. Maka setiap pendapat yang berbentuk seperti ini tidaklah ragu lagi ketidak absahannya di dalam syariat,karena ia telah bertentangan dengan kebenaran/haq yang Allah firmankan didalam AlQur’an:

    وأن احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم

    “dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Maidah ; 49)

    Kelompok kategori yang kedua yang disebutkan oleh Syatibiy di atas adalah kelompok yang menjeratkan diri mereka ke dalam kesesatan dalam mengemban syariat, karena kesembronoan mereka terhadap syariat muthoharo. Kelompok ini juga pernah disinggung oleh Imam Syafii didalam kitab Risalahnya : “orang yang memaksakan dirinya untuk mengatakan atas hal yang ia tidak ketahui dan ia mantapkan,tatkala pendapatnya itu cocok dengan kebenaran tanpa sepengetahuannya, itu semua masih tergolong tidak terpuji (mahmudah), terlebih dengan pendapatnya yang salah, itu sangatlah tidak bisa ditoleran lagi”

    Selain syarat-syarat untuk seorang mujtahid dalam menggali hukum yang telah disebutkan di atas, disana ada beberapa batasan-batasan/dhowabit yang harus dipenuhi tatkala terjun kelautan nushus (teks-teks) yang mulia (baca: alqur’an dan hadis) dalam penggalian hukum. Walaupun, tidak semua dhowabit yang akan disebutkan ini menunjuk untuk seorang mujtahid,akan tetapi itu semua disyaratkan dan harus dipatuhi untuk semua kategori mujtahid, baik itu merupakan mujtahid mutlaq atau yang dibawahnya, bahkan untuk semua yang mendalami ilmu syariat (terlebih fiqh) harus berhenti dihadapan batasan-batasannya tatkala ingin menggali hukum “baru” atau pendapat yang kembali kedalam ranah Islam.

     iii. Batasan-batasan/dhowabit ijtihad
    Banyak orang yang menyerukan ke kancah umum – terlebih pada golongan pelajar – dengan kata “kebebasan berfikir dalam ber-ijtihad” /huriyatul fikri Al ijtihadiy, dan dibarengi dengan kekosongan mereka dari yang dinamakannya dhowabit fikri (batasan-batasan pemikiran) di dalam Islam, sehingga berdampak menimbulkan guncangan yang cukup kuat di ranah Islam dan agama lainnya secara umum. Berikut ini adalah batasan-batasan yang tidak boleh dibobol oleh si-pemikir islam secara umum, terlebih untuk seorang mujtahid (dari berbagai kategorinya) untuk melalaikan batasan-batasan tersebut. Kita akan sebutkan garis-garis besarnya dari batasan-batasan itu, sehingga kedepannya harus ada elaborasi yang lebih luas lagi untuk pembahasan ini.

     Mungkin akan kita sebutkan sepuluh poin/batasan penting untuk pemikiran ijtihad di dalam islam :

    1) Wajibnya mengutarakan dalil dari seseorang yang mencurahkan pendapatnya atau pemikirannya di bidang tertentu. Kalau tidak seperti itu, pendapat dan pemikirannya tidaklah bernilai sedikitpun secara ilmiah. Sebagaimana yang telah tertera didalam bidang ilmu diskusi/munadzarah :

     إن كنت ناقلا فالصحة, أو مدعيا فالدليل

     Kaidah tersebut sudah menjadi sesuatu yang aksioma. Dalil bukanlah hanya semata-mata hawa nafsu yang diikuti, akan tetapi apabila dikaitkan dengan pemikiran beragama, dialah dasar-dasar pemikiran dan keagamaan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam serta disepakati oleh akal yang sehat.

    2) Mengetahui sebab-sebab ilmu. Yang dimaksudkan dengan ilmu disini,ialah ilmu yang pasti (qot’i) yang tidak mungkin berubah. Sebab-sebabnya ada tiga : akal, khabar shadiq,dan panca indra yang sehat (pendengaran, pengelihatan,penciuman,rasa,dan sentuhan). Yang dimaksudkan dari khabar shadiq,ialah khabar yang pasti benarnya,maupun itu khabar yang mutawair (khabar yang diriwayatkan oleh banyak orang) seperti Al-Qur’an dan hadis nabi yang sampai derajat mutawatir, atau juga khabar yang tersebar ditengah-tengah masyarakat sampai ke darajat mustahil mereka sepakat berbohong dalam menukil khabar tersebut. Adapun khabar aahad (yang diriwayatkan oleh satu orang) tidaklah termasuk dari sebab-sebab ilmu (walaupun nantinya wajib mengamalkan khabar tersebut dengan kriteria tertentu).

    Inilah yang dikatakan didalam kitab “Aqoid AnNasafiyah” :

    أسبابه ثلاثة: الحواس السليمة والخبر الصادق ونظر العقل

    “dan sebab-sebabnya (ilmu) ada tiga : panca indra yang sehat, khabar shadiq, akal”

    Imam Al Tiftizaniy juga menerangkan setalah paragraph diatas dalam syarahnya, bahwa ilmu yang di hasilkan dari “ilham” tidaklah bisa disebut dari faktor-faktor ilmu.

    Batasan ini bisa diartikan, tidaklah diterima pemikiran atau pendapat yang bertentangan dengan ilmu yang diperoleh dengan salah satu sebab-sebab ilmu diatas, begitu juga tidak bisa diterima mentah-mentah dari seseorang yang mengutarakan pendapatnya atau pemikirannya yang ia dapat bukan dari salah satu faktor ilmu diatas.

    3) Mengetahui referensi yang mu’tabarah (diakui) untuk menggali hukum syar’i. Serta mengetahui syarat-syarat dan batasan-batasan/dhawabit setiap dari referensinya.
    Referensi yang disepakati didalam Islam,ialah : Al-Qur’an, Assunnah, Al Ijma’, dan Al Qiyas. Walaupun disana ada segelintir kelompok yang mengingkari qiyas, akan tetapi pendapat mereka tidaklah berpengaruh dalam kesepakatan para ulama. Dan untuk mengetahui batasan-batasan/dhowabit disetiap referensi di atas, bisa dikaji didalam bidang ilmu ushul fiqh.

    Di sana juga ada beberapa dalil-dalil yang terdapat khilaf dikalangan ulama islam, dengan begitu siapa yang menganggapnya sebagai dalil,ia harus mengikuti disiplin dari setiap dalil-dalil tersebut.

    Hal ini yang di dendangkan oleh Al Imam Al Izz Bin Abdussalam di dalam kitabnya “Qawaidlul Ahkam fiI Masolihul Anaam” :

    لا حكم إلا له فأحكامه مستفادة من الكتاب والسنة والإجماع والأقيسة الصحيحة والاستدلالات الدعتبرة

    Maksud dari batasan/dhawabit diatas adalah, barang siapa yang menginginkan berijtihad untuk menggali hukum syar’i sedangkan sandaran dari ijtihadnya itu tidak kembali ke dalil-dalil yang disepekati oleh mayoritas orang Islam ataupun ke dalil-dalil yang terdapat perbedaan pendapat didalamnya, maka pendapatnya itu tidak bisa diterima bahkan tidak ditoleh sedikitpun, karena ia mengambil jalan selain jalan yang diambil orang-orang mu’min. sebagaimana yang difirmankan Allah swt :

    ( ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الذدى ويتبع غير سبيل الدؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا )

    “dan barang siapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia kedalam Jahannam,dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (An Nisa ;115)

    Ini juga menjelaskan kepada kita, bahwa ijtihad tidaklah bisa kecuali dari dalil-dalil yang diambil darinya hukum halal dan haram, dan juga seorang yang melakukan ijtihad/mujtahid diharuskan mengetahui dalil-dalil tersebut, tatkala ia tidak menemukan jawaban dari satu hukum yang akan dia tetapkan, maka baginya berhenti dan tidak memaksakan dengan mengatakan perkataan yang tidak ada sandarannya ataupun makna yang serupa dengan dalil tersebut, hal inilah yang disepakati para ulama terdahulu ataupun sekarang.

    Tidak sampai di situ, bahkan siapa yang berijtihad dengan menggunakan dalil-dalil di atas akan tetapi tanpa membarenginya dengan aturan dari setiap dalil tersebut, maka tetaplah pendapatnya itu tidak bisa diterima terlebih diikuti. Dalam lubang inilah seorang alim banyak terpeleset tatkala menggali hukum. Dan yang lebih harus ditegaskan lagi adalah sangat dilarang untuk menciptakan referensi atau kaidah baru dalam menggali hukum,karena semua kaidah dan dhawabit yang tertera di thurats islami tidaklah dibentuk kecuali setelah penelitian yang sangat ekstra, dengan mempertimbangkan segala yang dibutuhkan untuk seorang yang ingin menggali hukum. sebab menciptakan metode baru dalam menggali hukum sangatlah susah dan hampir mustahil.

    4) Mengambil ilmu dengan dalil-dalil di atas, ditangan para ulama yang mahir di dalam bidang ilmu agama, dalam segi mempraktekan kaidah-kaidahnya ataupun menjabarkan masalah-masalah rumitnya. Karena siapapun yang mempelajari ilmu agama tanpa arahan atau ajaran dari seseorang yang mahir didalam bidang ilmu tersebut, tidaklah bisa dipercaya pemahamannya itu, sebagaimana seseorang tidak percaya tatkala berobat kepada seseorang yang mempelajari buku-buku kedokteran sendiri dan tanpa arahan dari dokter yang mahir, maka terlebih tidaklah layak sesorang menerima suatu hukum agama yang akan menentukan perjalanannya di akhirat kelak, dari seseorang yang tidak jelas asal usul atau sanad belajarnya.

    Walaupun di sana terjadi perbedaan pendapat, dalam kemungkinan mendapatkan ilmu tanpa seorang guru. Kita tidak mengingkari dalam segi kemungkinan, akan tetapi dalam segi kebiasaan di alam ini tidaklah didapatkan ilmu kecuali dengan guru, inilah yang disepakati secara global walaupun nantinya terjadi perbedaan pendapat. Dan mereka (para ulama) bersepakat bahwa seorang yang jahil (bodoh) sangatlah membutuhkan guru yang mengajarinya ilmu atau amal. Banyak ulama yang mengatakan : sesungguhnya ilmu di dalam diri para ulama, yang kemudian ilmu itu dipindahkan ke dalam kitab-kitab, dan tetaplah kunci-kunci ilmu tersebut diambil dari tangan-tangan ilmu.

    5) Mengetahui tentang dalil-dalil dan usulnya pun tidak cukup didalam diri mujtahid tatkala ingin menggali hukum syar’i. disana ada yang diharuskan yang disebut dengan “faqihun nafsi” (sangat memahami maksud-maksud dari perkataan). Karena selainnya tidak mampu untuk menggali hukum yang dimaksudkan dari ijtihad.

     Al Imam Haramain berkata didalam kitabnya Al Burhan :

    ثم يشترط وراء ذلك كله فقه النفس فهو رأس مال المجتهد ولا يتأتى كسبه فإن جبل على ذلك فهو الدراد وإلا فلا يتأتى تحصيله بحفظ الكتب

    “dan dibalik itu semua disyaratkan juga “fiqhun nafsi” ialah modalnya seorang mujtahid,dan hal tersebut tidak bisa dicari, apabila ada sesorang yang diberikan tabiat fiqhun nafsi maka itulah yang diinginkan,apabila tidak demikian maka tidak dapat dihasilkan dari kitab-kitab”

    6) Mampu membedakan hukum-hukum yang bisa di diijtihadkan dengan yang tidak bisa diperbuat kecuali tasliim (menerima) atas hukum Allah yang ditetapkan oleh salah satu dalil-dalil yang disepakati diatas. Karena hukum syariat ada yang menerima perbedaan pendapat didalamnya dan ada yang tidak bisa diubah. Maka medan ijtihad hanya di hukum-hukum yang menerima penta’wilan atau perbedaan pendapat, bukanlah medannya di hukum-hukum yang sudah pasti/tsawabit.

    Dengan seperti itu, kita harus mengetahui apa barometer bahwa hukum tersebut menerima ta’wil dan tidaknya. Al Imam Ghozali mendefiniskan al mujtahid fiih (medan ijtihad) :

    كل حكم شرعي ليس له دليل قطع

    “setiap hukum syar’i yang tidak mempunyai dalil qhot’i (pasti)”

    Yang dimaksudkan dari hukum syar’i di dalam definisi adalah; yang bukan hukum aqliyat (ilmu akidah) karena di dalam ilmu akidah tidak diperbolehkan adanya perbedaan pendapat,dan orang yang berijtihad didalam ilmu akidah apabila ijtihadnya salah ia berdosa.
    Adapun dengan kata-kata “hukum yang tidak mempunyai dalil qhot’i” di dalam definisi di atas, guna untuk mengeluarkan hukum-hukum yang diambil dari dalil qhot’i, seperti sholat lima waktu,zakat,dan selainnya dari hukum-hukum yang diketahui oleh ummat islam dengan dharurah (tanpa harus susah payah dan diketahui dengan sendirinya),yang seperti itu bukanlah medan untuk berijtihad.

    Syekh Yusuf Qhardhawi memperluas medan ijtihad di dalam definisinya : setiap mas’alah yang syar’i dan tidak ada dalilnya secara qhot’I di dalam segi tetapnya (tsubut) atau maknanya (dalalah). Maupun itu dari permasalahan tentang ilmu akidah atau far’iyah (sekunder) yang amaliyah.

    Definisi yang dikatakan Syekh Yusuf Qhardhawi senada dengan apa yang diucapkan Syekh Ibn Taimiyah di dalam fatawi-nya (fatwa-fatwa), tatkala menjelaskan seorang mujtahid yang berijtihad di dalam satu masalah dan ijtihadnya salah,maka Allah akan mengampuninya, maupun itu di masalah akidah atau fiqhiyah

    Dalam masalah ini D. Amjad Rhosyid membagi dua bagian dalam mensyarahkan dari referensi medan ijtihad :

    pertama, ada masalah-masalah yang diketahui didalam agama Islam dengan dharurah (tanpa harus susah payah dan diketahui dengan sendirinya),setidaknya masalah itu tidak mungkin samar hukumnya sekalipun itu bagi orang awam terlebih ulama, seperti kewajiban solat lima waktu, puasa ramadhan, keharaman zina, khamer, menyakiti orang tua, semua masalah tersebut apabila ada yang mengingkari hukumnya, maka ia dihukumi kafir (keluar dari islam) walaupun dengan alasan ijtihad, karena ia mendustakan Allah dan RasulNya SAW.

    Kedua, masalah-masalah yang didapat dari dalil-dalil yang disepakati ulama,akan tetapi tidak secara dharurah untuk mengetahuinya, perlu adanya penggalian hukum didalam masalah tersebut,seperti keharaman dalam hukum menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah orang lain, dan juga ada masalah ghaybiyat (metafisika) seperti masalah melihat Allah swt untuk orang-orang mukmin diakhirat kelak, adanya shirat (jembatan diatas api neraka), mizan (timbangan amal), azab kubur dan nikmatnya. Seorang yang mengingkari hukum-hukum tersebut setelah berijtihad dengan dalil-dalinya akan dihukumi mubtadi’ (bid’ah :membuat suatu yang baru didalam islam),akan tetapi tidak dihukumi kafir.

    Walhasil bagi seorang yang ingin menggali hukum dari dalil-dalinya haruslah ekstra dalam melihat semua dalil yang tertuju ke masalah tertentu, tidak menta’wilkan dengan mengikuti hawa nafsunya, karena terkadang seorang mujtahid beranggapan bahwa dalil yang ia pegang harus dita’wilkan dan tidak dibawa kedzohirnya (kulit depannya), akan tetapi realitanya sangatlah berbeda dengan apa yang di sangkanya, sehingga menariknya kedalam bahaya dan bisa dikategorikan tindakan pidana atas teks/nash yang mulia.

    7) Memahami hubungan antara akal dan wahyu (Al Qur’an dan Sunnah). Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada hukum disyariat islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang pasti dan kuat, bertentangan dengan hukum akal sehat yang bersifat pasti. Bahkan syariat islam keseluruhannya sependapat dan cocok dengan hukum akal.
    Para ulama usul menjelaskan bahwa pertentangan dianatara dua hal yang qhoti’ itu mustahil, maupun dari segi kemungkinannya atau terjadinya. Sebagaimana yang dikatakan Syaikhul islam didalam kitabnya Ghayatul Wusul :

    يمتنع تعادل قاطعين , أى تقابلهما بأن يدل كل منهما على منافى ما يدل عليه الآخر اذ لو جاز ذلك لثبت مدلولذما فيجتمع الدتنافيات
    فلا وجود لقاطعين متنافيين عقليين أو نقليين أو عقلي ونقلى والكلام فى النقليين حيث لا نسخ

    “tidak boleh adanya pertentangan diantara dua hal yang qhot’I,yang artinya,pertentangan diantara keduanya dengan mentiadakan dari dua hal tersebut apa yang dikatakan hal satunya, karena apabila itu mungkin maka akan tetap makna dari kedua hal tersebut,sehingga berkumpul lah kedua hal yang saling mentiadakan. Oleh karena itu tidaklah mungkin adanya kedua hal yang qhat’I dan bertentangan,keduanya itu maupun berupa secara hukum akal,atau akal dan nash, ataupun juga dua hal tersebut berupa nash selagi tidak ada nasekh (penghapusan hukum dengan hukum lainnya)”

     Oleh karena itu sangatlah penting untuk seseorang yang menggali hukum untuk mengkoloborasikan antara akal dan teks, apabila terdapat pertentangan diantaranya (dalam segi dzohirnya), maka ia diwajibkan untuk menelitinya lagi,karena pertentangan yang dilihatnya,karena sebab kurangnya teliti didalam menggali hukum hukum tersebut,atau juga yang bertentangan dengan akal tersebut hadis dhaif (lemah) atau maudhu’ (yang bukan perkataan nabi dan dinisbat kepadanya). Walaupun dikeadaan pertentangan akal dan hadis dhaif atau aahad,harus mengedepankan hukum akal yang qhat’i.

    Inti dari masalah diatas, tidaklah dikedepankan hukum akal yang qhat’i atas nash kecuali tatkala bertentangan yang tidak bisa dihindari dan dengan hadits-hadits tertentu yang ada beberapa masalah didalam riwayatnya.

    8) Memahami hubungan/alaqoh diantara Alqur’an dan hadis. Hal yang sudah lumrah sekali bahwasanya Al Qur’an tidak meninggalkan sedikitpun hukum untuk manusia didalam kehidupan mereka,kecuali telah dijelaskan didalamnya,alqur’an juga meletakan dasar-dasar hukum yang sangat luas dalam ilmu akidah ataupun fiqh,sehingga perlunya tafsiran atas dasar-dasar tadi untuk mengetahui maksud dari perkataan sang pencipta alam. Allah swt pun memberikan tugas penjelasan hukum apa yang belum dijelaskan alqur’an atau sudah dijelaskan akan tetapi tidak secara gamblang. Allah swt berfirman dalam hal ini :

    وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون

    “dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an,agar kamu menerangkan pada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (An Nahl ;44)
    Tidak sampai disitu tugas hadits nabawi, akan tetapi ia juga berhak memberikan hukum baru kepada ummat manusia,dan hukum tersebut juga wajib dipatuhi seperti kewajiban mematuhi apa yang datang dari alqur’an, Allah juga menjadikan ta’at kepada nabi saw adalah bentuk ta’at kepadaNya. Sebagaimana juga sebaliknya, menentang untuk tidak mengikutinya adalah maksiat yang sangat besar.

    Dari situ kita memahami kepentingan hadits nabawi untuk diketahui seorang mujtahid,tidak bisa ditoleran tatkala seorang yang ingin menggali hukum dan meninggalkan hadits dengan beranggapan bahwa alqur’an cukup untuk penggalian hukum.

    9) Memahami hubungan/alaqah antara teks-teks syariat dan maslahat. Seorang yang meneliti makna-makna alqur’an dan hadits akan menemukan dasar yang luas, yang dibangun diatasnya hukum islam, yaitu menarik maslahat dan mencegah mafsadah.
    Imam Izzuddin Ibn Abdusalam mengatakan intisari dari memahami alqur’an dan hadits : barang siapa yang memahami maksud-maksud dari alqur’an dan hadis akan mengetahui bahwasanya semua yang diperintahkan didalamnya hanya dengan maksud menarik maslahat dan mencegah mafsadah (keburukan).

    Banyak sekali ayat-ayat alqur’an atau hadis yang menunjukaan bahwa syariat datang dengan membawa maslahat untuk manusia dan mencegah madlorot dari mereka. Seperti firman Allah swt :

    إن هذا القرآن يهدي للتي هي أقوم ويبشر الدؤمنين الذين يعملون الصالحات أن لذم أجرا كبيرا

    “ sesungguhnya Alqur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al-Isra ;9)
    Di ayat lain Allah juga berfirman :

    ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين

    “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-nahl:89)

    Dari ayat-ayat diatas bisa disimpulkan bahwa syariat Islam mengandung apa-apa yang baik untuk ummat manusia, berisi maslahat bagi mereka di dunia maupun di akhirat, serta mencegah kerusakan dan keburukan dari mereka, baik untuk individu maupun secara umum dalam kehidupan mereka.

    Dengan semua itu juga kita memahami bahwa yang menentukan maslahat bukanlah akal manusia semata, karena syariatlah yang lebih mengetahui maslahat bila dijajarkan oleh akal manusia. Allah swt berfirman :

    والله يعلم المفسد من المصلح

    “dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan” (Al-Baqarah ;220)

    Maka tidak mungkin disana terdapat hukum yang bertentangan dengan maslahat manusia. Kaidah besar yang dikutip dari haditspun menguatkan permasalahan ini :

    لاضرر ولا ضرار

    “Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain”
    Apabila disana terdapat hukum yang membawa bahaya untuk manuisa, maka tidak dianggap hukum itu dari syariat, karena syariat dibangun dengan keadilan dan rahmat allah terhadap hamba-hambanya.

    Bisa dikatakan tatkala ada teks/nash yang bertentangan dengan maslahat yang mu’tabarah (dianggap), maka seorang yang mendapatkan hal tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan. Pertama,orang tersebut menerjang teks alqur’an atau hadits tanpa membawa metode yang sah,ia hanya menunggangi hawa nafsunya dalam berinteraksi dengan teks yang mulia. Dalam keadaan seperti ini jelas sekali,bahwa pengakuannya atas pertentangan teks dengan maslahat tidak bisa di terima/mardud.

    Kedua,tidak mengetahui akan maslahat yang diakui dan diterima oleh syariat,bahkan samar untuknya jalan untuk mengetahui maslahat yang diakui syariat tersebut,terlebih dengan mentarjih (memenangkan) diantara dua maslahat dan dua mafsadah (kerusakan). Dalam hal seperti ini wajib baginya untuk mencari akan maslahat dihukum atau masalah tersebut,sudah pasti, dengan jalan yang diakui ulama dalam pengambilan maslahat. Maslahat yang diakui dengan syariat dan cara mendapatkan hal tersebutpun diambil dari dalil-dalil syar’I, ialah alqur’an hadits, ijma’ dan qiyas,serta pengambilan dalil yang benar metodenya. Hal inilah yang dikatakan oleh Imam Ibn Abdussalam didalam qhawaidnya.

    Maka bisa disimpulkan siapa yang melegalkan suatu yang haram atau mengharamkan hal yang halal dengan pengakuan adanya maslahat yang dicomot dari akalnya, maka pendapat tersebut tidak bisa diterima; karena hanyalah syariat yang lebih tau dan lebih berhak untuk maslahat atau kemadharatan manusia.

    10) Wajib mengetahui cara pentartiban dalil-dalil ketika melakukan operasi untuk menghasilkan hukum. Al Imam Ghazali di dalam kitabnya Al Mustashfa mengatakan bahwa seorang yang ingin menggali hukum hendaknya menertibkan dalil-dalil syar’i, maka pertama ia harus melihat di hukum-hukum ijma’ ulama. Apabila ia mendapatkannya, maka baginya untuk meninggalkan melihat ke nash-nash Alqur’an atau hadits,karena kedua itu bisa dinasikh (hapus). Lain halnya dengan ijma’, apabila mendapatkan teks yang bertentangan dengan ijma’, maka hal tersebut adalah dalil bahwa nash tersebut telah dinasikh, dengan alasan ummat tidak akan bersepakat atas kesalahan.

    Kemudian melihat nash Alqur’an dan hadits yang mutawatir,dan mengedepankan kedua dalil tersebut atas dalil lainnya. Setelah itu beranjak ke hadits-hadits aahad sesuai derajatnya,dengan mengedepankan hadits shahih atas hadits hasan atau dhaif. Kemudian barulah ia beranjak kedalil qiyas.

    Pentartiban diatas adalah pentartiban dalam segi derajat dalil-dalil tersebut. Maupun pentertibannya secara maknanya, ia harus mendahulukan nash (yang tidak ada kemungkinan makna selain lafadz tersebut) atas yang zhahir (yang memungkinkan bermakna selain makna lafadz tersebut), hendaknya ia juga melihat kepada nahs-nash yang umum,karena mengamalkan nash yang bersifat umum sebelum mendapatkan yang menkhusukannya diperbolehkan,setelah itu mencari dalil-dalil yang menkhusukan dalil umum tadi.

    Walhasil wajib kepada sorang yang ingin menggali hukum mencari dalil yang paling tinggi derajatnya,dengan memperhatikan khilaf ulama usul terhadap dalil-dalil dari segi kuat dan lemahnya.

    Al Imam Abu Bakar Al Baqilaani menjelaskan diantara kesalahan seorang yang menggali hukum syar’I diantaranya, tidak tepat dalam pentartiban dalil-dalil syar’I,dengan mengedepankan dalil yang harus di akhirkan, dan sebaliknya.

    DAURAH BERSAMA HABIB UMAR; MENYATUKAN UMAT
    TarimDarul Musthafa merupakan salah satu pondok pesantren di Tarim, Yaman. Salah satu program tahunan Ponpes yang dipimpin Al Habib Umar bin Hafidh itu adalah mengadakan Daurah (sejenis pesantren kilat) selama 40 hari. Untuk tahun ini, Daurah resmi dimulai pada 10 Syawal.
    Peserta Daurah (17 tahun ke atas), bukan hanya masyarakat Tarim. Banyak juga peserta dari luar kota, provinsi, bahkan luar negeri. Diantaranya adalah Afrika Selatan, Thailand, Malaysia dan tentunya Indonesia tercinta. Mereka tiba di Pondok dimaksud beberapa hari sebelum Daurah dimulai. Tak hanya mereka, pelajar-pelajar Indonesia yang sedang berdomisili di Yaman pun juga diperkenankan untuk mengikuti Daurah tersebut.
    Seperti dilansir panitia, visi-misi program Daurah tersebut diantaranya adalah Menambah Ilmu Pengetahuan, Pembersihan jiwa serta berakhlak karimah, dan Menjalankan perintah Allah swt serta menebar manfaat kepada sesama. Selain itu, tujuan utama digelar Daurah tersebut adalah “Mempersatukan Umat Islam”. Maka tak ayal, ratusan peserta lintas negara, warna, dan bahasa melebur bersama-bersatu di bawah naungan Islam yang hanif nan agung.
    Di majelis-majelis pengajian dan dakwah, pimpinan Daurah, Al Habib Umar bin Hafidh selalu menekankan untuk mengedepankan rasa ukhuwah, saling tolong-menolong, toleransi dan cinta sesama. Menurutnya, di hari akhirat nanti, seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya. Dan yang paling utama untuk dicintai itu adalah Nabi Besar Muhammad Saw.
    “Melihat begitu besarnya cinta itu, mengingatkanku pada pembahasan muhadhoroh di minggu ini. Dari beberapa narasumber, kebanyakan beliau menerangkan tentang mahabbah atau cinta. Bahkan sekaliber Habib Umar pun membahasnya, walaupun mungkin salah satu faedahnya untuk mempersatukan kita para peserta, dari negara dan ras berbeda-beda.” Tulis Zain Mahfudh, Bendahara Umum PPI Hahdramaut yang juga mengikuti Daurah tersebut, di akun Facebooknya.
    “Minggu ini adalah minggu pembuka untuk empat minggu kedepan. Ternyata Power of Love itu saat ini benar-benar aku rasakan. Dan akhirnya, bantu aku mengejar cinta dari pemberi syafaat (baca: Nabi Muhammad Saw), cinta yang diharapkan oleh semua ummatnya.” Tutup Mahasiswa asal Pacet, Jawa Timur itu. (Aidil Ridhwan/Red)
    Sanad, warisan ulama kebanggaan umat Islam

    *Sanad, warisan ulama kebanggaan umat Islam.*

    Oleh : Muh. Faiq


    Saat mengomentari kitab-kitab klasik Islam dalam cabang ilmu Hadits, para Orientalis Eropa seperti Margoliouth dan Sprenger, tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap metode sanad yang dimiliki umat Islam. Tak pernah terpikirkan oleh umat beragama mana pun, bangsa apa pun, untuk mengecek kebenaran sebuah berita secara kritis seperti dalam metode sanad. Disana terdapat metode dengan kaidah-kaidah detail yang mengagumkan. Itulah mengapa setiap kisah, perkataan, pembenaran dari peristiwa (iqror) Nabi Muhammad s.a.w bisa diteliti kevalidannya secara ilmiah, walaupun itu terjadi 14 abad silam.
    Sanad sendiri terdiri atas para pewarta hadits (perawi) yang menukil sabda Nabi atau kejadian sejarah. Lalu sanad akan membentuk sebuah peta penukilan hadits. Mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut di dalam kitabnya, kemudian bersambung ke generasi sebelumnya, lalu ke generasi sebelumnya hingga sampai kepada orang (pelaku sejarah) yang behadapan langsung dengan Nabi Muhammad s.a.w. Sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Sehingga pada akhirnya kita bisa menentukan, apakah ucapan yang di nukil perawi tersebut shahih (valid) atau dha’if (tidak valid). Dalam prakteknya, sudah jutaan perawi yang ada. Biografi mereka pun terekam oleh kitab-kitab klasik Islam. Di dalam biografi tersebut, terdapat fan ilmu lain yang masih berhubungan dengan sanad, yaitu ilmu jarh wa ta’dil. Ilmu ini berguna untuk meyeleksi hafalan dan kejujuran perawi dalam menyampaikan teks hadits. Berpijak dari sinilah nanti akan ada pengelompokan hadits, seperti hadits mutawatir, ahad (di dalamnya mencakup : sohih, hasan, dloif) atau maudlu’ (hadits palsu).
    Lalu bagaimana penggunaan sanad pada Al Quran? Soal ke-valid-an isinya, Al Quran sudah tidak memerlukan sanad. Karna sejak turunnya, Al Quran langsung dihafal dan ditulis oleh para sahabat. Kemudian dilakukan kodifikasi pasca wafatnya Nabi lewat proses yang sangat ketat. Setelah itu penukilannya pun di lakukan oleh ribuan orang dari generasi ke generasi. Baik melalui hafalan maupun tulisan. Sehingga mustahil secara akal, ribuan orang tersebut bersepakat untuk merubah isi Al Quran. Adapun mengenai tata cara membaca Al Quran metode sanad tetap digunakan.
    Demikianlah, betapa kritis dan selektifnya para sahabat dan ulama terdahulu. Sehingga, berkat usaha mereka, tidak ada celah sedikit pun bagi yang ingin melakukan penyesatan ke dalam ajaran Islam. Betapa berharganya warisan ilmu sanad ini. Karna jika tidak, laqola man syaa ma syaa, akan berkata siapa pun (di dalam masalah agama) apa pun semau dia. Wallahua’lam
    OPEN HOUSE, REKTOR AHGAFF GELAR AKAD DUA PELAJAR INDONESIA
    Hadhramaut – Rabu, (28/06) bertepatan di hari ke-5 bulan Syawal 1438 H Rektor Univ Ahgaff, Prof. Al Habib Abdullah Muhammad Baharun kembali menggelar acara Open House sejak terjadinya peperangan di awal tahun 2015. Acara itu kali ini hanya sedikit sekali yang datang, bahkan tidak ada setengah dari tahun-tahun sebelumnya.
    Seperti biasa, open house yang disertai acara ‘uwwad Al Habib Abu Bakar Abdullah Al Athas kali ini diawali dengan shalat magrib berjamaah di masjid. Namun dikarenakan adanya masalah aliran listrik yang tiba-tiba melemah, acara pembacaan maulid Simtuddurar yang biasanya dilaksanakan di masjid, kali ini dipindah di halaman rumah.
    Setelah beberapa menit berselang kedatangan munsyid Makruf Mukalla, Al Habib Abdul Qadir Al Jufri memberi angin segar kepada para hadirin, yang sejak tadi menunggu lantunan syair-syair khas Mukalla, yang sering dibawakan beliau. Maklum, karena para pelajar Indonesia sering menyebutnya Habib Syekh Mukalla. Alhamdulillah, maulid berjalan lancar seperti biasa, dan setelah doa yang, dikumandangka azan shalat isya oleh M. Ikhsan Ramadhan, salah satu santri Rubat Alawiyyah.
    Tang-tang dung. Gemuruh suara hajer marawes sempat mengejutkan para tamu. Ya, kegaduhan dari arah luar gerbang kediaman Rektor itu arak-arakan yang sengaja dibuat secara tiba-tiba, untuk mengarak Ustad Sigit Widiarto, dan gus Imam Rahmatullah, dua pengantin baru asal Jawa Tengah. Setelah arak-arakan selesai, akad gus Imam Rahmatullah dimulai, dengan diawali pembacaan khutbah nikah oleh sayyid Ahmad bin Hasan Al Jufri. Gus Imam memang belum resmi jadi pengantin, berbeda halnya dengan ustadz Sigit yang sebelumnya telah melaksanakan akad nikah di Indonesia, namun belum dimeriahkan dengan resepsi.
    Setelah akad nikah selesai, para tamu dan santri langsung menuju ke mesjid guna melaksanakan shalat isya berjamaah. Usai shalat, acara dilanjutkan dengan pembacaan kasidah-kasidah Al Ba’alawi kurang lebih selama satu jam setengah. Barulah setelah selesai hadrah acara dilanjutkan dengan ramah tamah seperti biasanya.
    Acarapun ditutup dengan hajir marawes serta silat oleh para pelajar Indonesia, tak terkecuali para seniman-seniman Mukalla yang dipelopori Al Habib Abdul Qodir Al Jufri. Di sela-sela akhir penutupan datang Habib Hanif Al Athas yang kebetulan beliau juga vocal senior hajer marawes. Rektor langsung meminta beliau menyanyikan lagu khusus untuk sang pengantin.
    Acarapun ditutup dengan ritual ala Hadhramaut untuk sang pengantin pria, dan tak lupa berfoto-foto maupun berselfie ria yang sudah menjadi rutinitas orang-orang Indonesia. Alhamdulillah, ratib Al Fatihah mengakhiri segala acara yang telah terlaksana dengan lancar. (Red)


    *Ziarah Zanbal di Bulan Suci Ramadhan*

    *Ziarah Zanbal di Bulan Suci Ramadhan*
    Tarim, Jum’at (02/06) telah berlangsung ziarah ke pemakaman Zanbal. Akan tetapi berbeda dari waktu biasanya, ziarah kali ini dilakukan di sore harinya. Iya, ternyata khusus dibulan suci Ramadhan saja.
    Kendati demikian, area pemakaman tidak sepi dari para penziarah bahkan bisa dikatakan lebih ramai dari Jum’at biasanya. Dan tertib ziarah sore itu tidak berbeda dengan biasanya.
    Dan dalam kesempatan itu, Habib Ali Masyhur memberi asupan gizi untuk rohani para penziarah dengan beberapa petuahnya. Beliau sampaikan saat berziarah kepada Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Berikut beberapa poin yang beliau sampaikan;
    1. Kita bisa dapati bulan ini, kita bisa berada dibulan ini, adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa agungnya. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan sebaik mungkin. Kita kerahkan seluruh tenaga kita untuk memaksimalkan ibadah dalam bulan penuh berkah ini.
    2. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mempercantik, memperindah, membersihkan dan memperbaiki hati kita. Kita bebaskan dia dari segala belenggu dan penyakitnya. Karena dia adalah segumpal darah yang mana jika dia benar, bersih dan suci, niscaya anggota tubuh lainnya berada dibawah komandonya.
    Beliau juga memberi tips kepada para penziarah bagaimana cara kita bisa memaksimalkan Ramadhan kali ini.
    ” صوموا صوم المودع و صلوا صلاة المودع “
    Ujar beliau. Yang artinya, “berpuasalah seperri orang yang sudah tau bahwa puasa kali itu adalah puasa yang terakhir. Begitu pula saat mengerjakan sholat”
    Selain itu beliau juga memotivasi kita untuk senantiasa bersabar karena waktu puasa di sini cukup panjang sekitar 14 jam 30 menit dengan suhu udara yang begitu menyengat. Beliau menyemangati kita dengan ujarnya. “الثواب على قدر التعب “
    “Besar kecilnya ganjaran pahala itu tergantung lelah letih lesunya dia”.
    Terimakasih Habib atas wejangannya. Dan semoga Tarim senantiasa dalam lindungan Allah Swt dan begitu pula ummat islam dimanapun mereka berada. Dan keberkahan senantiasa tercurahkan dan kembali kepada orang-orang kita cintai dan yang mencintai kita karena-Nya. Amien
    (Red/noerhoeda)
    “Wanita di Kehidupan”
    “Wanita di Kehidupan”
    Oleh : Moh Nasirul Haq (mahasiswa Univ Imam Syafi’ie Mukalla Yaman)
    Wanita adalah sebutan yang digunakan untuk homo sapiens berjenis kelamin dan mempunyai alat reproduksi berupa vagina. Lawan jenis dari wanita adalah pria atau laki-laki.
    Dalam hal wanita Allah menyebutnya sebagai perhiasan di dunia ini, sebagaimana Allah Swt berfirman :
    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
    “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allâh-lah tempat kembali yang baik.” [Ali ‘Imrân/3:14].
    Bahkan diakhirat pun kita dijanjikan mendapat bidadari-bidadari yang berjenis kelamin wanita untuk menjadi perhiasan akhirat.
    Wanita merupakan salah satu unsur penting dalam adanya keberlangsungan kehidupan di dunia ini. Oleh karenanya banyak orang menganggap “Wanita sebagai Tiang Negara, suami sukses pasti di baliknya ada sosok wanita hebat, wanita adalah madrasah yang pertama.” Dan lain lain.
    Pria pasti tidak lepas dari wanita, ialah pelipur lara pelengkap jiwa raga.
    ابتسامة المرأة لفظ مشترك يحتمل جميع المعاني وبكاءها كالمصيبة لمحبوبها
    “Senyuman wanita adalah lafadz yang mengandung seluruh makna. Dan tangisannya bagaikan musibah bagi kekasihnya.”
    تهب المرأة قلبها للرجل في المرة الأولى بكل سهولة، ولكن الصعوبة كلها عندما تريد أن ترجع إليه بعد أن خرجت منه .
    “Wanita akan memberikan hatinya bagi laki laki saat pertama kali dengan mudah, akan tetapi susahnya diaaat engkau ingin kembali pada hatinya setelah kau pergi dari hatinya.”
    Wanita itu lemah lembut juga santun perangainya, namun ada beberapa wanita yang di balik wajah manisnya ia bisa menjadi bumerang bagi seorang pria. senyumannya, suaranya, pandangannya bisa membuat pria terpana dan tergila gila. pantas saja jika semua bagian wanita adalah aurat yang menimbulkan daya tarik bagi lawan jenisnya.
    Rasulullah S.A.W bersabda:
    مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
    “Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.”
    Dalam teks lain dikatakan :
    العلم مذبوح بين فخذي المرأة
    “ilmu itu disembelih di antara dua paha wanita”
    Siapa saja yang kurang waspada atas wanita bisa terjebak pada bujuk rayu wanita yang tidak baik.
    Berapa banyak orang besar yang hancur karirnya karena harus bertekuk lutut pada wanita. Semoga kita diselamatkan dari fitnah wanita yang tidak baik. khususnya di akhir zaman yang sudah menjadikan wanita sebagai alat untuk memperbudak pria.
    Amin Ya Robbal Alamin.
    RSS
    Follow by Email
    YouTube
    Instagram
    Telegram
    WhatsApp